Keluarga Nara

Abadikan lewat tulisan agar jadi kisah klasik di masa depan



Home / Senin Pagi Penuh Tangis


Senin Pagi Penuh Tangis

0 thoughts on “Senin Pagi Penuh Tangis”

  1. waduuuh…seru dan hebohnya. sampaibesok masih di Jkt ya Mbk? kalau ada waktu kita bisa ketemu sebenarnya ya?

  2. Berat banget ya bun ninggalin anak-anak… :'(
    Tapi, tetap semangat ya~ πŸ™‚

  3. penuh perjuangan..

  4. saya sangat merasakan apa yang mba rasakan. apalagi saat anak sakit dan rewel itu luar binasa perang batinnya ya mba πŸ˜€ salam kenal…

    • salam kenal kembali mbak, makasih dah mampir.
      saya pernah memilih untuk tetap tingga dirumah dan membatalkan keluar kota saat anak sakit. Tapi saya juga pernah memilih tetap keluar kota saat anak sakit. Tergantung kondisi anak dan juga beban kerja

  5. Haiii Mak, salam kenal. Hiks sedih juga ya kudu meninggalkan anak dalam keadaan merajuk seperti itu. Hiks, jadi melow dan panas mataku.

    Alhamdulillah, jarang sih ketika anakku kutinggal dalam keadaan seperti itu. jurus cerita jauh-jauh hari ketika hendak ke luar kota, lalu aku buat afirmasi ke Faiz, kalau semua akan baik-baik saja. Kalau ummi juga harus kerja, untuk belajar Faiz, hihiii…pokoknya sebelum ke luar kota, aku ajak dia ngobrol terus, memang ada kata “tidak boleh” tapi aku enggak bahas yang tidak bolehnya.

    Memang sich setiap anak dan setiap moment berbeda…tapi kalau sudah anak merajuk ketika kita hendak pergi *apalagi waktu lama..rassanya nyesek.

    Ayo Mba, makan ice cream..kadang aku juga getuh untuk menggerakkan hati ke anak, contohnya ummi bawa bunga ini ya..padahal mah cuma ilalang..tapi, rasanya kalau tidak menyimpan dengan baik, kasihan anakku..hiks…jadi mewek.

    Mak…panjang kali komentarku, everythink is okay Mom. Kalian hebat, kok. Salam untuk babang dan dd ya…

    • makasih koment dan sharingnya.
      pernah dicoba, ceritanya jauh-jauh hari, maksudnya biar mereka lebih siap untuk ditinggal. Tapi malah tiap hari menuju hari H kerjaannya merajuk terus :).
      alhamdulillah semuanya baik-baik saja. babang di rumah nggak pernah nanyain mamanya, dd masih sering tanya kapan mama pulang

  6. uh susah juga ya, jadi ibu sekaligus abdi negara. tetapi semoga semuanya lancar… lancar tanpa halangan ya mbak. kalau sudah besar, nanti anak-anaknya juga gak mau ikut. lebih memilih main sma teman-temannya. contohnya saya. hihihi.. dulu ngintill kemana ja bunda pergi sekrang enggak. πŸ˜€

    • nah itu, kadang saya juga mikir ntar makin besar, mereka bakal milih sama teman-temannya. Jadi mumpung sekarang masih kecil, kenapa tak saya puas-puasin bersama mereka?
      Tapi ya… kan nggak mungkinlah sama-sama terus ya, ada saatnya bermanfaat buat keluarga, saatnya berguna untuk masyarakat, saatnya buat mengabdi pada negara. yang penting berimbanglah.
      ieh, kok jadi sok dewasa gini πŸ™‚

  7. begitu kangennya anak anak sama kamu ya mbak πŸ™‚

  8. ayoo..semangat, mbak Nanik.. tinggal sehari lagi, hbs itu bisa puas2in meluk anak-anak lagi πŸ™‚

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis

%d bloggers like this: