Catatan Kecil Keluarga Nara

Abadikan lewat tulisan agar jadi kisah klasik di masa depan



Home / Anak "Pintar" jadi Rebutan


Anak "Pintar" jadi Rebutan

0 thoughts on “Anak "Pintar" jadi Rebutan”

  1. Tapi bener sih mbak, anak-anak bukan harus pintar dalam hal pelajaran saja, tapi bersosialisasi itu juga penting 😀

  2. Setuju bangeeet Mba Nanik. sedih

  3. Kalau gurunya pilih-pilih, gimana nasib anak2 yang lamban itu kelak? Apa lagi masih TK, masih jauh banget untuk menilai kemampuan mereka. Semoga semua guru berprinsip seperti Mbak Nanik. Amin 🙂

  4. Sedih ngedengernya, dulu ketika saya masih SD saya salah satu murid yang lamban dalam belajar. Toh hingga kini kuliah S2 tetap saja saya memang seorang yang lamban belajar. bagaimana nasib pendidikan kami jika semua sekolah menolak murid seperti saya…?

    Semoga semakin banyak bu guru seperti anda mbak…

  5. membaca artikel ini saya jadi miris…kenapa ada sekolah..sekelas TK sudah mulai bersikap diskriminasi…membeda-bedakan anak yang mereka anggap pintar dengan anak yang lambat dalam menerima pelajaran,,,, setahu saya guru-guru tidak ada yang diajarkan untuk bersikap demikian, berhenti saja jadi guru bila tidak mau repot mengajar anak yang lamban menerima pelajaran,
    keep happy blogging always,,,salam dari Makassar 🙂

    • terimakasih sudah mampir, salam juga dari Malang.
      Memang tidak diajarkan bagi guru untuk pilih-pilih siswa, kadang tuntutan sistem yang berlaku disekolah juga, mengejar “prestasi” ini itu sehingga merasa bakal lebih cepat mendapatkannya kalau anak-anak sudah pintar dari awalnya, guru bisa lebih santai dalam mengajar

  6. Hehehe… bukan GR kok 🙂
    Saya setuju, anak seusia TK mestinya belajar bersosialisasi, bermain, mengenal ini dan itu 🙂

  7. ada sekolah tingkat SMP yg terang2an hanya mau terima siswa berprestasi alias rankjng sekian2..
    tapi nyatanya UN nggak lulus 100%

  8. Anakku sekolah di SMP favorit tanpa nunggu UN, pake tes tersendiri (sekarang nggak boleh) supaya yg pinter2 di kota ini terjaring kesana dulu. Tapi kemudian aku nggak puas karena gurunya bilang sendiri, “Enak murid2nya pinter, ngajar jadi santai, anak2 bisa belajar sendiri.” Dalam pemikiranku seharusnya guru gak boleh santai, dia harus memaksimalkan bibit yg sudah bagus itu. Sama kayak universitas2 negeri yang terkenal. mentang2 mahasiswanya pinter2, cuma dikasih tugas disuruh nyari sendiri jawabannya. Sementara dosennya makan gaji buta karena tidak pernah masuk ngejar proyek. Sayang kalau anak pintar jadi rebutan untuk alasan yang salah ya mak 🙁

    • jadi ingat jaman kuliah, dosennya masuk dua kali aja, ujian nggak bisa ngerjakan, tapi kok ya bisa dapat nilai A. Dosennya takut kasih nilai jelek, karena pasti bakal di protes mahasiswa “lha wong nggak pernah masuk kelas kok, gimana mahasiswanya bisa ngerjakan ujian”

  9. Akan lebih baik kalau dalam wawancara itu bertujuan untuk mengenali bakat dan potensi masing-masing anak

  10. nice sahre..!!! salam kenal

  11. Klo sekolah2 ‘berkualitas’ hanya mau menerima anak pinter…bagaimana nasib anak yg ‘lamban’? bukannya menjadikan setiap anak maju sesuai kemampuannya adalah tantangan buat guru / sekolah? yaah, semoga tak semua sekolah begitu…

    • akan ditampung oleh sekolah-sekolah pinggiran, yang gurunya sabar membimbing, tapi sering dilanda rasa minder, dan sering berucap “ya harap dimaklumi, input siswa kami….”

  12. Sikap dan keputusan yang saya rasa tepat, prioritas anak TK adalah bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

  13. mba tulisannya napok bngt (?) sama realita sekarang..
    saya jd ingat waktu dulu ambil matkul PAUD.. dosen sy menceritakan kenyataan miris hampir sama kyk cerita mba cm bedanya d anak SD. Dulu pas zaman sy SD mash inget bngt belajar bareng2 membaca..
    Ini Budi
    Ini Ani
    tapi sekarang untuk masuk SD ada seleksi yg mengharuskan siswa sudah mampu membaca dan menulis dengan lancar. (di SD yang diceritakan oleh dosen saya)..

    • padahal ada aturannya bahwa masuk SD tidak boleh ada tes calistung. tapi tak banyak orang tua yang tahu, ada yang tahu pun tak banyak yang berani komplain ke pihak sekolah

  14. setiap tahun berubah rubah sistemnya pengajarannya. tinggal bagai mana caranya guru yang membimbing anak muritnya.

  15. pinter dalam segala hal .

  16. Saya termasuk orang yang dulu di SD pinggiran, dapat teman bermacam macam dari kaya sampai miskin, dari yang cerdas sampai yang lamban, guru2nya memang termasuk sabar, kalo mengajar jarang mangkir, saat SMA masuk sekolah unggulan, saya ingat guru MTK nya ngajar asal asalan supaya kita bisa ngeles sama dia…

    • repot ya kalau dapat guru yang suka ngambil kesempatan gitu, apalagi kalau ditambah ancaman “kalau ingin dapat nilai baik, ikut les privat di rumah saya” baik yang diucapkan secara langsung maupun yang disampaikan secara terselubung

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis

%d bloggers like this: