3 Hari 2 Malam di Yogyakarta, Kemana Aja?




Tanggal 17-19 Desember 2019, saya mendapat tugas untuk bepergian selama 3 hari 2 malam ke Yogyakarta. Bagaimana kisah saya selama 3 hari 2 malam di Yogyakarta dan kemana aja saya? Yuk langsung aja simak penuturan  saya berikut ini.

Menempuh Perjalanan Malang – Yogyakarta dengan Bus Handoyo

Kami berenam berangkat ke Yogyakarta menggunakan bus malam Handoyo. Karena perginya mendadak, jam 10 an baru pesan tiket, jadinya kami mendapat tempat duduk di barisan belakang. Saya mendapat kursi no 31, sementara teman-teman ada di kursi di belakang saya.

Pukul 18.30 kami berkumpul di depan loket bus Handoyo di terminal Arjosari, setelah melakukan pembayaran, kami lalu masuk ke area terminal. Ketemu bus Handoyo yang sudah terparkir di dalam menunggu penumpang. Kami pun segera naik. Tepat pukul 19.00 bus berangkat meninggalkan terminal Arjosari.

Bus mengarah ke Utara, menjemput beberapa penumpang lagi di agen. Setelah bus penuh, kondektur menanyakan dimana para penumpang akan turun sambil membagikan kupon makan. Saya dan teman-teman bilang, turun di Bandara. Tadinya mau turun Janti terus cari penginapan, tapi kalau di Janti banyak taksi yang mangkal, jadi pasti susah mau cari taksi online.

Setelah itu saya tertidur. Bus terus melaju.

Saya terbangun dan melihat ke luar, rupanya lewat jalan Tol. Dan posisi sudah ada di Ngawi. Bus pun keluar tol dan menuju rumah makan. Menunya hanya ada 2 pilihan, yaitu nasi rawon dan nasi soto, minumnya teh panas.

Makan Sambil Cari Penginapan

Di rumah makan, kami berkumpul dan berdiskusi, bakal menginap di mana sesampai di Yogyakarta nanti. Transit aja sih sebenarnya, buat tidur sejenak, mandi dan sarapan sebelum menuju ke lokasi kegiatan kami bertugas. Jadi, kami akan bertugas di Jalan Kaliurang, perkiraan jam 3 atau 4 dini hari sudah sampai Yogyakarta, sementara waktu bertugas jam 8. Nggak mungkin juga kami langsung menuju lokasi.

Mulailah kami asyik dengan handphone, mencari informasi hotel yang dekat bandara. Setelah melihat perbandingan harga beberapa hotel, disesuaikan dengan budget kami, terpilihlah University Hotel. Langsung deh cari-cari nomor telponnya. Alhamdulillah dapat. Telpon dan bisa tersambung ke resepsionis.

Kami pesan 3 kamar. Tadinya di harga 400 ribu, tapi karena kami masuknya udah dini hari dapat potongan 50 ribu, jadi per kamar 350 ribu.

Kenapa pesannya nggak lewat aplikasi online travel agent aja?

Kalau lewat OTA, kuitansi hotelnya nggak bisa perkamar pakai dua nama. Padahal kami butuh SPJ untuk ke kantor itu per kamar ada 2 nama.

Jangan salah sangka dulu ya, maksudnya per kamar 2 nama itu bukan kamar 1 nama A seharga 350 ribu dan kamar 1 nama B seharga 350 ribu. Tapi kamar 1 atas nama A/B seharga 350 ribu. Jadi A dan B sharing kamar seharga 350 ribu, sehingga hitungannya biaya kamar per orang adalah 175 ribu.

Urusan kamar hotel beres. Kami juga sudah selesa1 makan. Perjalanan pun dilanjutkan.

Pengalaman Tak Enak Duduk di Bus Bagian Belakang

Sedikit tips dari saya, kalau mau naik bus malam, jangan mau deh kalau dapat tempat duduk di belakang. Kalau memungkinkan cari armada bus lain aja. Ini pengalaman pertama kami dapat tempat duduk di belakang.

Nah saat ada penumpang berjalan ke belakang dan masuk toilet, langsung deh bau pesing menyerang penciuman saya. Lumayan bikin mual juga. Jadi setiap ada yang jalan ke belakang, saya segera menutup hidung dengan selimut.

Menginap di University Hotel

Sekitar pukul setengah 3 dini hari, kami dibangunkan oleh kondektur. Rupanya sudah dekat dengan bandara. Kamipun bersiap turun.

Turun dari bus, tengok kanan, tengok kiri. Sepi sekali. Iyalah ini kan dini hari. Posisi hotelnya saya sendiri belum tahu ada di sebelah mana.

Saat menengok ke kiri, tampak papan nama bakpia pathuk 25. Lalu salah satu teman saya memberi komando untuk berjalan ke arah sana. Jadi University Hotel itu letaknya tidak di tepi jalan raya Jogja-Solo, tapi masuk gang. Gang masuknya ada di samping toko bakpia itu.

bakpia pathuk 25

Sampai hotel, setelah membayar kamipun lalu masuk kamar masing-masing dan melanjutkan tidur.

Pukul 6 pagi, saya menuju ruang sarapan. Dan oleh petugas, kami mendapat informasi bahwa tamu yang menginap malam tadi hanya kami berenam saja, sehingga menu sarapan di sajikan berdasar permintaan kami. Ada tiga pilihan menu yang ditawarkan, yaitu nasi goreng, nasi sop ayam dan roti bakar. Teman-teman saya memilih nasi goreng, sementara saya memilih nasi sop ayam.

ruang makan university hotel
Ruang makan luas dan sepi

Makan Sambil Cari Penginapan (Lagi)

Sambil menunggu pesanan kami dihidangkan, kami pun lalu membahas akan menginap di mana nanti malam. Haha… kami ini memang perginya mendadak dan tanpa perencanaan yang matang.

Mulailah kami kembali menekuni handphone, mencari hotel di dekat malioboro. Ada beberapa alternatif, namun pilihan kami jatuh pada hotel Unisi. Harganya relatif lebih rendah dan pastinya ada 3 kamar kosong. Alternatif hotel yang lain penuh semua.

Satu persatu pesanan kami datang. Pesanan saya nasi sop + ayam goreng ditambah sepiring kecil buah. Kamipun lalu mulai makan. Sementara pramusaji menaruh cangkir di sisi setiap orang, tak lama dia datang lagi menenteng dua teko. Teh di kanan dan kopi di kiri. Saya memilih kopi.

Belum juga makanan habis dan kopi di minum, petugas itu datang lagi, kali ini membawa gelas berisi cairan warna merah. Isinya jus semangka. Dan kami pun kekenyangan. Kopi saya akhirnya tak terminum.

Menjelang pukul 7.30 kami memesan taksi online untuk menuju tempat bertugas, yaitu di Jalan Kaliurang

Menginap di Unisi Hotel

Siang harinya, jalan Kaliurang di guyur hujan lebat, bahkan hingga sore saat kami menyelesaikan tugas di hari pertama. Pekerjaan selesai, kami pun memesan taksi online dan meluncur menuju hotel Unisi. Menjelang magrib kami sampai di hotel. Menyelesaikan administrasi lalu masuk kamar.

Kamarnya lumayan luas, harga per malamnya 700 ribu. Ada lemari untuk menaruh tas dan menggantung pakaian. Ada kulkas mini. Meja dan satu kursi serta televisi. Ada Al Quran dan sajadah pula di kamar. Koneksi wifi lancar, akses internet wus wus…

kamar hotel unisi

Yang kami rasakan kurang adalah kamar mandinya, sempit banget. Bahkan untuk perlengkapan mandi pun di taruhnya di lemari di kamar, bukan di dalam kamar mandi, karena di kamar mandi nggak ada tempat.

Saya mendapat kamar di lantai 5. Dari dalam kamar, melalui dinding kaca, saya bisa melihat kesibukan di Stasiun Tugu.

Kekurangan lain hotel ini adalah, ruang makannya kecil. Saat pagi hari saya turun untuk sarapan, ternyata kursi penuh. Oleh petugas hotel di sarankan untuk membawa makanannya ke kamar, atau menunggu beberapa saat.

Ruang makan ada di lantai 2, sementara kamar saya ada di lantai 5. Kalau bawa ke kamar, kan saya nggak bisa menikmati semua menunya hehehe…. akhirnya saya memilih menunggu saja.

Pilihan menu sarapannya adalah nasi beserta sayur dan lauk pauknya. Bubur kacang hijau, roti tawar, pudding. Sementara untuk minumnya ada teh dan kopi, susu, aneka macam jus. Lumayan lah. Dan karena padatnya tamu yang ingin sarapan, saya tak leluasa mengambil gambar. Akhirnya tak ada gambar di ruang makan hotel Unisi di handphone saya.

Menikmati Kopi Joss

Malam pertama di Yogyakarta, kami makan di angkringan dekat Stasiun Tugu. Nostalgia ceritanya, cari menu sego kucing. Tahun 1997 kebetulan kan saya kuliahnya di Jogja, dan sego kucing itu menu makanan favorit. Nasinya sedikit, pilihan lauknya banyak.

Sego kucing adalah nasi sekepal, diatasnya ada kering tempe, ikan asin, kadang juga irisan telur goreng, dibungkus daun. Pilihan lauk tambahannya banyak, ada sate telur puyuh, sate kerang, sate bakso, tahu tempe bacem dan lain-lain. Pilihan minumannya, ada teh, jeruk dan juga kopi joss yang lagi hits.

angkringan kopi joss

Kopi joss adalah segelas kopi panas, yang di cemplungi arang yang membara, sehingga berbunyi josss… Bagaimana rasanya? Kamu harus coba sendiri kalau pas ke Jogja

Jalan-Jalan di Malioboro

Ke Yogyakarta tak lengkap rasanya kalau nggak ke Malioboro. Karena hotel tempat kami menginap dekat banget dengan Malioboro, tentu saja usai makan malam, kami pun menelusuri sepanjang jalan Malioboro.

Pedagang aneka souvernir di kiri kanan jalan. Baju batik, sandal, gantungan kunci, tas, dompet, kaos. Aneka pilihan untuk dijadikan oleh-oleh. Harganya pun tak terlalu mahal, ada yang sudah menuliskan harga pas, ada pula yang masih bisa ditawar.

Perjalanan kami berakhir di pasar Beringharjo. Ternyata sampai malam juga masih banyak kios baju batik yang masih buka. Saya sih nggak beli baju batik, tapi beli pecel di depan pasar Beringharjo. Berhubung tadi sudah makan sego kucing, beli pecelnya tanpa nasi dan di bungkus saja, ntar di makan di kamar hotel.

Dari pasar Beringharjo, kami naik andong kembali ke hotel. Tapi sebelum ke hotel mampir dulu di bakpia pathuk 25. Kami berenam, berdesakan dalam andong. Ongkosnya 70 ribu.

naik andong malioboro

Itulah beberapa tempat yang sempat saya singgahi saat 3 hari 2 malam berada di Jogja. Kami nggak sempat mengunjungi lokasi wisata yang ada di Jogja, karena memang ini perginya bukan dalam rangka liburan, melainkan dalam rangka urusan pekerjaan. Jam 8.00 sampai 16.00 kami ada pekerjaan, jadi ya sempatnya jalan-jalan saat malam saja.

53 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *