5 Perubahan Hidupku setelah Sebulan Bekerja Dari Rumah




Hampir sebulan saya mematuhi instruksi dari pimpinan untuk bekerja dari rumah saja. Info terakhir sih, kami bekerja dari rumah sampai tanggal 21 April, dengan catatan bisa diperpanjang atau dipersingkat dengan melihat kondisi di kota Malang. Ada 5 perubahan yang saya rasakan setelah sebulan bekerja bekerja dari rumah

1. Berat Badan

Kemarin saya keluarkan timbangan dari tempat penyimpanan, terus gantian kami menimbang badan. Di mulai dari anak-anak, lalu saya dan suami.

Saya sudah memperkirakan kalau berat badan bakal naik, karena baju rumahan saya sudah terasa nggak longgar lagi, bahkan ada yang terasa ketat saat saya pakai.

Habis gimana ya, kalau di rumah bawaannya pengen ngemil terus. Banyak godaannya kalau ke dapur, baik camilan bikinan sendiri maupun jajanan di minimarket dekat rumah.

camilan sehat
Camilan sehat dan mengenyangkan

Benar saja, berat saya naik 5 kilo dong. Nggak usah nanya awalnya berapa dan sekarang jadi berapa. Semoga cukup 5 kilo ini aja, jangan nambah lagi. Kan berabe nanti kalau saatnya udah masuk kerja lagi dan baju-baju kerja nggak muat di badan.

2. Mulai Hapal Acara televisi

Hiburan murah meriah kala di rumah adalah televisi. Karena punya balita, yang paling sering di tonton adalah serial Upin dan Ipin. Jadi hapal jam berapa aja kartun itu tayang di TV.

Sejak belum menikah, sampai punya anak 3, saya kok nggak bosan nonton Upin Ipin. Padahal ada beberapa yang sudah hapal jalan ceritanya, karena seringnya diulang, tapi ya tetap aja di tonton.

asyik nonton TV
Makan pun sambil nonton TV

Habis gimana lagi, saat lagi nemani Toto nonton, kalau mata saya nggak melihat ke arah TV, pasti Toto akan protes. Kadang juga Toto bertanya atau mengomentari tingkah Upin Ipin, kalau saya nggak menanggapi, dia pasti bakal protes.

Inilah namanya keterlibatan. Kata psikolog, jangan cuma raga kita yang ada di samping anak, sementara pikiran kita ada di tempat lain. Duduk disampingnya sih, tapi mata lihat ke layar hp terus. Makanya saya berusaha untuk “menikmati” menemani dia nonton TV.

Selain Upin Ipin, saya juga jadi tahu lebih detail serial kartun yang di tonton anak-anak. Jadi kalau mereka ngobrolin soal film kartun, saya bisa nimbrung. Biasanya kan saya diam aja menyimak obrolan mereka.

3. Sering Begadang

Karena susah untuk pegang laptop di siang hari, saya jadi sering begadang untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Jam 9 an saya temani Toto tidur, sekalian saya juga biasanya ikut tertidur. Padahal niatnya kalau Toto sudah lelap, saya bakal hidupin laptop. Tapi niat tinggallah niat, kalah oleh rasa kantuk.

Menjelang tengah malam saya biasanya terbangun. Terus susah buat tidur lagi. Mulai deh scroll medsos. Kalau ada kerjaan yang harus diselesaikan, akhirnya ya hidupkan laptop. Terus kerja sampai menjelang subuh.

bekerja dari rumah
Si bocah lelap, emaknya bisa kerja

Usai subuh tidur, Toto biasanya udah bangun. Ngajak main, padahal mata sudah berat. Tapi demi anak, mesti kuat nahan kantuk.

Karena malamnya begadang, saya jadi punya kebiasaan baru lagi, yaitu tidur siang. Biasanya jam 9 an, saya sudah mulai ngantuk. Mumpung ada ART di rumah yang bisa menemani Toto, saya manfaatkan waktu buat tidur.

4. Boros Kuota Internet

Kerja di rumah, handphone sering dipakai tethering, sering rapat online pakai Zoom ataupun webex, jadinya boros kuota internet. Belum lagi kalau Toto pengen nonton youtube.

Walau belinya paket yang unlimited tapi tetap aja kalau sudah sore, kecepatannya menurun, jadi lelet. Makanya harus ada backup paket internet dari provider lain.

Untungnya ya, hp jaman sekarang bisa pakai 2 kartu. Jadi saya bisa pakai smartfren dan kartu simpati dari telkomsel. Alhamdulillah keduanya memiliki sinyal yang kuat di area rumah yang saya tempati.

5. Hubungan dengan Anak

Saya lihat di jaringan pertemanan saya di media sosial, banyak yang menuliskan bahwa aktivitas di rumah saja ini memperbaiki bonding dengan anak-anak. Saya pun merasakan demikian.

Seneng juga bisa punya lebih banyak waktu bermain bersama anak-anak, terutama Toto. Mengikuti perkembangannya setiap hari, bersamanya mempelajari hal-hal baru.

bonding ibu dan anak
Jadi punya banyak waktu untuk mereka bertiga

Saya juga jadi bisa punya lebih banyak waktu ngobrol dengan kakak dan babang, jadi guru ngaji buat mereka berdua. Biasanya mereka ngaji di Masjid dekat rumah, tapi untuk sementara ini kegiatan mengaji di Masjid diliburkan.

Jangan Mengeluh, Ambil Hikmahnya

Selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa di kehidupan kita, termasuk pandemi Corona ini. Mengeluh saja tak akan memperbaiki keadaan, jadi ya nikmati saja, sambil melihat sekeliling hingga dapat mengambil hikmahnya.

Kita pasti bisa melalui semua ini. Mengeluh di awal, tak apa, boleh saja. tapi jangan terus mengeluh sampai akhir. Alangkah baiknya jika kita mampu mengubah keluhan itu menjadi rasa syukur.

Tetap semangat beraktivitas dari rumah, semoga pandemi Corona ini segera berlalu dan kita bisa berkegiatan lagi di luar rumah.

63 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *