NaylaKu, Oktoku, Parenting, SatriaKu

Anak-Anakku, Apakah Selama Ini Kalian Bahagia?

Suatu kali saya mengikuti kuliah parenting via group wa, materinya membahas tentang mengenali karakter anak agar orang tua bisa memberikan yang terbaik bagi anak. Pemateri mengawali materinya dengan mengajukan pertanyaan “Pernahkah Bapak/Ibu menanyakan pada anak-anak, apakah mereka merasa bahagia selama ini?”.

Bahagiakah kalian, Nak?

Langsung jleb deh dapat pertanyaan seperti ini, jujur saja, saya selama ini tak pernah menanyakan pada anak-anak, apakah selama ini mereka berbahagia, apa yang membuat mereka bahagia.

Usai sesi kuliah parenting tersebut, saya mulai mencari waktu untuk bicara berdua dengan babang dan kakak, pengen menggali tentang bahagia yang ada dalam diri mereka. Dan inilah hasil pembicaraan saya dengan mereka.

Babang, 8 tahun

“Bang, selama ini abang merasa bahagia nggak?”

“Hemmm” si bocah seperti biasanya, berlagak berpikir. Kepala agak mendongak, pandangan ke atas, jari telunjuk di pipi.

“Aku itu kadang bahagia, Ma. Tapi kadang-kadang aku juga sedih”

“Abang bahagia kalau lagi apa?”

“Kalau kita ke Togamas, terus beli buku baru. Kalau makan es krim. Kalau Mama nggak pergi pergi kerja sampai nginep di hotel”

“Udah? itu aja?” Saya mencoba memancingnya untuk mengungkapkan lebih banyak hal lagi.

“Ya… ada lagi sih. Tapi masa harus disebutkan semua? Kan banyak yang bikin aku seneng. Emang kenapa sih, Mama tanya tanya gitu”

“Nggak apa apa. Cuma pengen tahu aja, babang bahagia nggak jadi anaknya Mama”

“Ya bahagia lah, Ma. Kalau nggak bahagia, pasti aku sering nangis”

Es krim 5 ribuan sudah membuat babang bahagia

Kakak, 7 tahun

“Kak, selama ini Kakak bahagia nggak jadi anaknya Mama?”

“Bahagia itu apa, Ma?” Duh, apa ya definisi bahagia. Tuh kan, mau nanya nggak antisipasi kalau bakal ditanya balik.

“Bahagia itu perasaan senang, jadinya kita bisa senyum, bisa tertawa”

“Ooo… kalau begitu, aku bahagia”

“Apa yang membuat Kakak bahagia?”

“Hmm… kalau mama di rumah, nggak usah kerja”

“Itu aja?” Satu ini udah bikin nyesek, padahal sudah sering dikasih pengertian kenapa Mamanya harus bekerja, tapi ternyata sampai sekarang, dia ingin Mamanya selalu ada di rumah saja.

“Kalau Mama nggak marah-marah. Kalau Mama marah, aku sedih” Satu PR lagi ni, kalau sedang capek plus ngantuk, biasanya nada bicara saya akan naik kalau merasa terganggu dengan ulah anak-anak. Padahal saya yakin mereka tak bermaksud menganggu, cuma meminta perhatian saja.

“Terus apa lagi?”

“Makan es krim, jalan-jalan … banyak deh pokoknya”

“Iya, banyak itu apa saja?”

“Ih, Mama ini kepo!” haha… duh bocah ini, mulai tahu aneka istilah masa kini.

Jalan-jalan + makan es krim, bahagianya berlipat ganda

Okto, 16 Bulan

Bocah kecil ini, tentu saja belum bisa ditanya apa saja yang membuatnya bahagia. Tapi kalau melihat ekspresi wajahnya sih, dia ini paling suka kalau mamanya ada di rumah. Apalagi kalau mamanya mau menemaninya main-main atau jalan-jalan di luar rumah.

Jalan-jalan di sore hari bisa membuat senyumnya mengembang

****

Definisi bahagia ini bisa jadi akan berubah dalam 2 atau 5 tahun ke depan. Kebutuhan dan keinginan mereka tentunya akan berubah. Jadi memang secara berkala, sebagai orang tua, kita harus menggali informasi ini pada anak-anak.

Bahagia itu memang relatif. Ketika anak mendefinisikan kebahagiaannya, maka disitulah kebutuhannya diketahui. Jika anak berbahagia, maka dia akan mudah mencapai titik kompetensi, prestasi yang optimal dalam hidupnya.

Dengan mengetahui apa saja yang membuat mereka bahagia, sebagai orang tua, tentunya saya akan berusaha untuk memenuhinya, semampu saya. Hal-hal sederhana saja sebenarnya yang mereka minta. Mereka nggak minta dibelikan ini itu, mereka hanya minta diperhatikan. Minta mamanya selalu ada untuk mereka.

10 thoughts on “Anak-Anakku, Apakah Selama Ini Kalian Bahagia?

  1. Bahagia dan syukurnya Mama dan Ayah atas karunia Satriya, Nayla dan Okto. Pintaarrr minta mama di rumah dan menemani, bikin kita terharu ya Jeng. Hai Okto..budhe belum jumpa ya…

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis