PengalamanKu

Andragogi, Teknik Mengajar Orang Dewasa

Kepala sekolah dan madrasah propinsi Riau

Tak pernah terbayang sebelumnya, bahwa pekerjaan saya harus berhadapan dengan dengan orang-orang yang usianya di atas saya. Berhadapan di dalam kelas, saya berdiri di depan kelas, dan mereka duduk di hadapan saya, menantikan setiap kata yang akan saya ucapkan.

Baca juga : Inilah pekerjaanku

Bagaimana rasanya?

Pas awal-awal dulu sih deg-deg an banget, nervous luar biasa. Saya, yang baru saja lulus kuliah, harus mengajar orang-orang yang sudah puluhan tahun mengajar di sekolah. Orang-orang yang sudah puluhan tahun berhadapan dengan anak didik. Saya, yang sehari-harinya pendiam, tiba-tiba harus bisa “ngoceh” panjang lebar di depan kelas, harus bisa menarik perhatian para peserta pelatihan.

Malam sebelum mengajar, menjadi malam yang sangat panjang dan sibuk buat saya. Menyiapkan slide presentasi, menyiapkan skenario pembelajaran, menyiapkan mental dan jawaban untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

Demo di depan kelas

Alah bisa karena biasa. Seiring makin seringnya berbicara di depan kelas, kini saya tak pernah nervous lagi kala harus mengajar para guru.

Kok, mengajar para guru?

Iya, instansi tempat saya bekerja itu punya tugas utama untuk memberikan pelatihan bagi guru. Bisa gurunya yang datang ke instansi saya, atau kami yang datang ke lokasi mereka. Karena saya di bagian teknologi informasi, maka materi yang saya ajarkan juga berkaitan dengan pemanfaatan teknologi informasi untuk pembelajaran.

Kelompok kecil membuat pembelajaran lebih efektif 

Baca juga : Belajar dan mengajar, itulah hidupku

Bedanya dengan mengajar anak-anak?

Saya belum pernah mengajar anak-anak, paling anak TPA aja. Kalau anak remaja, SMP-SMA gitu belum pernah. Tapi tentunya berbeda lah mengajar anak-anak dan orang dewasa, sampai ada ilmunya sendiri buat mengajar orang dewasa, namanya andragogi.

Andragogi adalah seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar. Dalam andragogi peranan pengajar adalah penyelenggara teknis, nara sumber, dan rekan dalam evaluasi hasil belajar. Pengajar lebih merupakan fasilitator daripada instruktur, lebih merupakan pembimbing daripada pengajar. Dalam andragogi diasumsikan bahwa pengajar itu tidak dapat “mengajar” dalam arti membuat seseorang belajar, tetapi pengajar itu hanyalah dapat membantu orang lain belajar. Pengajar dan Pelajar berbagi tanggung jawab untuk saling menolong dalam belajar.

Karena faktor usia, dan juga materi yang saya sampaikan berkaitan dengan penggunaan komputer, maka saya harus pelan-pelan dalam menyampaikan materi. Harus sabar mendemokan berulang-ulang di depan kelas, membuat video tutorial, dan juga catatan setiap langkah yang saya lakukan. Catatan biasanya saya tulis di notepad sambil mendemokan. Modul sebenarnya sudah ada, sudah ada langkah-langkah membuat sesuatu, lengkap dengan capture gambarnya, tapi biasanya banyak peserta yang tak sempat membaca modul sebelum masuk kelas.

Agar tak jenuh, harus diselingi dengan ice breaking. Berdiri sejenak, gantian memijat, atau melakukan senam ringan bisa membuat suasana kelas menjadi fresh lagi. Ngantuk dan jenuh pun hilang dan semangat belajar muncul lagi.

Senam otak, biar fresh lagi

Baca juga : Pentingnya ice breaking dalam pembelajaran

Ada kejadian lucu?

Banyak. Kejadian yang mungkin bagi sebagian orang lucu, tapi inilah namanya proses belajar. Bagi yang mengalami, saat itu tidak lucu, akan jadi lucu nanti kala dia sudah mahir dan mengenang kembali bagaimana dia dulu belajar.

Kejadian lucu pertama. Ini biasanya terjadi pada guru senior, yang jarang (atau bahkan tak pernah) menggunakan komputer sebelumnya. Saat saya bilang “coba kursornya ditempatkan di sebelah kanan, di geser saja” maka yang dilakukan adalah menggeser mouse ke kanan. Saat mouse sudah sampai di ujung meja, barulah protes “geser ke mana lagi, Bu. Ini mouse sudah mau jatuh, tak ada tempat lagi”

Kejadian lucu (dan menggemaskan) ke dua. Banyak peserta yang sering lupa di folder apa dia menyimpan filenya. Alhasil, banyak yang sering “merasa” kehilangan file. Satu dua kali, masih di maklumi. Saya tunjukkan bagaimana cara mencarinya, saya ajari lagi cara menyimpan file di folder kerja. Saya selalu meminta peserta membuat satu folder baru, khusus menyimpan hasil pekerjaan selama pelatihan. Di hari ketiga, jika masih ada peserta yang kehilangan file, maka saya akan mengatakan “Saya tidak menerima lagi laporan kehilangan. Silakan lapor pada satpam di depan”

Kejadian lucu (dan menggemaskan) ketiga. Saat menjelaskan, menuntun langkah-langkah pengerjaan, saya sering mengatakan “klik gambar/simbol…” Kadang masih ada peserta yang bertanya “Klik kanan atau kiri bu?” Padahal sebelumnya sudah (dan berulang kali) saya sampaikan, kalau saya bilang klik, itu artinya klik kiri mouse, kalau saya bilang klik kanan, barulah klik kanan mouse yang dilakukan. Kadang juga ada yang bertanya, “klik sekali atau dua kali”. Menghela nafas lagi, sambil tepok jidat. Menunggu mereka tenang, lalu mengatakan “Kalau saya bilang klik, artinya klik sekali saja. Kalau saya bilang double klik, artinya klik dua kali”

Itulah beberapa kejadian lucu (dan menggemaskan) kala mengajar orang dewasa yang pernah saya alami. Sampai kini, saya tetap menikmati pekerjaan saya. Menikmati bisa berbagi ilmu dengan mereka. Merasa bahagia dan puas jika mereka bisa menerapkan ilmu yang sudah saya bagikan.

Foto bersama, menandai pelatihan telah usai

11 thoughts on “Andragogi, Teknik Mengajar Orang Dewasa

  1. Wkwk apalagi kalau muridnya seperti budhe, mama Babang Okto tambah pusing lah lelet nangkep info tekno kekinian.
    Yup Jeng, kuncinya senang berbagi dan rasa lega saat peserta mampu menerapkan pengalaman barunya. Salam hangat

  2. Semoga berkah ya Bun ilmunya 🙏. Saya seringnya ngajar anak-anak umum sama ABK. Sekarang sudah 2,5 tahun belum mengajar lagi karena sekarang lagi fokus di rumah dulu. Tetapi allhamdulillah masih bisa berbagi ilmu saya dengan menulis di blog dan jadi narasumber. Dulu saya bercita-cita menjadi dosen. Doakan ya bun nanti bisa trcapai 😃

    1. Supaya tidak “mengganggu” yang lain, biasanya saya kasih kerjaan. Diberdayakan buat ngajari temannya yang belum paham, sambil tetap dipantau dan diawasi.

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis