Begini Rasanya Bekerja dari Rumah Sambil Mengasuh Balita




Kota Malang masih berada di zona merah penyebaran Covid-19, sehingga minggu ini masih diberlakukan working from home (bekerja dari rumah) di instansi tempat saya bekerja. Bagaimana rasanya bekerja dari rumah sementara ada balita yang terus nempel? Simak terus ya tulisan saya ini, kali aja apa yang saya rasakan ini sama dengan yang Anda rasakan. Ternyata begini rasanya bekerja dari rumah sambil mengasuh balita.

Rebutan Handphone

Walau bekerja dari rumah, saya harus selalu update info pekerjaan kantor. Dalam edaran dari pimpinan soal pemberlakuan bekerja dari rumah, ada beberapa poin penting yang saya catat :

  • Harus memantau WAG institusi, siapa tahu ada info mendadak dan harus segera ditindaklanjuti
  • Harus siap kalau sewaktu-waktu ada vicon, atau bahkan dibutuhkan kehadirannya di kantor. Untungnya jarak rumah dengan kantor cuma 3 km, jadi nggak masalah kalau sewaktu-waktu harus ke kantor
  • Harus mengisi log harian dan membuat laporan mingguan

Poin pertama membuat saya harus rajin nengok handphone, kali aja ada info penting.

Ah, cuma nengok handphone dan buka WA, apa susahnya?

Masalahnya, si Toto ini selalu saja “marah” kalau mamanya ini megang hp saat lagi nungguin dia main.

Padahal kan dia itu lagi asyik main, sesekali nanya dan ngajak saya ngobrol. Kadang saya didiamkan aja, cuma duduk dan nungguin. Saya pikir, daripada saya duduk bengong, saya buka saja hp dan baca sekilas info di beberapa WAG, cek email, update status.

Baca juga : 5 Perubahan Hidupku Setelah Bekerja dari Rumah

Lha, kok si Toto tahu aja kalau perhatian mamanya sudah beralih ke hp. Langsung dia protes “Mama jangan mainan hp terus”

“Mama lagi ada pekerjaan, Nak. Sebentar aja, 5 menit ya”

“Nggak boleh. Mama taruh hpnya”

Saat saya tetap nekad dan lanjut membaca/mengetik, Toto akan berusaha merebut hp saya. Saya berusaha mempertahankan sambil mengetik membalas pesan, Toto pun makin marah dan mulai memukul. Akhirnya saya pun mengalah, memberikan hp padanya. Kalau sudah ditangan, hp langsung di lempar. Untung lemparnya ke kasur, jadi aman deh.

Awal-awalnya saya sempat jengkel dan marah juga. Lalu keluar deh kata-kata dengan nada tinggi. Terus dia mulai merajuk pasang muka mau nangis dan bilang “Mama temani Toto”. Bisa menebak kan endingnya, saya pun dihinggapi rasa bersalah dan menyesal udah bentak-bentak Toto. Adegan ini di tutup dengan kami berpelukan.

ibu memeluk anak balita
Berpelukan

Padahal ada kakak dan babang yang juga menemani dia main, tapi rupanya nggak cukup mereka berdua. Maunya ditemani mamanya.

balita belajar menulis
Lagi asyik, Mamanya bisa curi waktu nengok hp

Akhirnya, saya nggak memaksakan diri lagi buat nengok hp saat lagi nemeni Toto. Sejam sekali saya minta tolong kakak untuk cek handphone, apakah ada pesan penting atau tidak. Kalau ada pesan penting, saya akan bilang ke Toto mau pipis. Sambil saya bawa hp ke kamar mandi.

Hore… Mama Hidupin Laptop!

Ada beberapa kali saya harus menghidupkan laptop di siang hari. Saya fokus ke hp saja, Toto udah protes, apalagi kalau saya hidupkan laptop. Kalau laptop direbut dan di lempar juga kan bahaya.

Jadinya kalau ada info mau ada vicon, saya coba negosiasi sama Toto. Saya bilang jam sekian Mamanya ini harus ngobrol dengan teman-teman kantor pakai laptop. Jadi Toto nggak boleh ganggu.

Walau sudah bilang “Oke, Mama” tapi ya tetap saja ada insiden rebutan laptop. Kalau laptop hidup, Toto pasti pengen lihat foto dan videonya yang ada di laptop.

belajar dari rumah
Laptop dikuasai anak-anak

Kalau jadwal vicon jam 10, maka jam 9 saya sudah ngidupin laptop. Saya kasih kesempatan 1 jam buat Toto main laptop. Setelah itu, terpaksa handphone saya kasih, dan dia pun nonton youtube. Biar saya bisa tenang menyimak vicon.

bekerja dari rumah
Mamanya vicon, Toto nonton youtube

Salut pada Blogger/Freelancer yang Memiliki Balita

Dari pengalaman bekerja dari rumah selama 2 minggu ini, saya jadi makin salut pada para blogger maupun freelancer yang memiliki anak balita, namun tetap produktif. Blogger yang tetap rajin update konten maupun freelancer yang tetap bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.

Bagaimana cara mereka mengatur waktu, antara nulis dan juga ngurus rumah dan anak?

Bagaimana mereka mengkondisikan anak-anaknya supaya tetap anteng sementara dia juga asyik di depan laptop/hp nya?

Anda, blogger/freelancer yang punya anak balita, bagi tipsnya dong. Kali aja bisa saya terapkan. Jadinya saya juga bisa kerja dari rumah. Bisa ngidupin laptop di siang hari.

31 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *