Belajar Ikhlas dari Lika Liku Kehidupan Petani

Ikhlas.

Satu kata yang mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk diamalkan. Banyak nasehat supaya kita selalu bekerja dengan ikhlas agar hidup lebih tenang dan bahagia. 

“Petani itu manusia paling ikhlas. Lihat saja dia beli pupuk mahal, kadang nyarinya juga susah, eh begitu dapat, pupuknya malah dibuang, dihambur-hamburkan ke tanah.”

Begitulah gurauan suami setiap kali kami berbincang masalah ikhlas. Jadi pengen nulis tentang kehidupan petani nih. Saya anak petani. Saya kini jadi petani. Dan dari bertani, saya terus belajar untuk ikhlas.

Makna Ikhlas

Bagi yang beragama Islam, pasti tahu ya kalau salah satu surat dalam AL Quran dinamai Al Ikhlas. Walaupun dinamakan dengan al-Ikhlas tapi tidak ada satu pun penyebutan kata al-ikhlas pada keseluruhan ayatnya. Begitulah ikhlas yang sesungguhnya yaitu melakukan sesuatu tanpa mengharapkan sesuatu yang lain. Dalam hal ini melakukan sesuatu semata-mata hanya karena Allah Swt.

Menurut Hamka, ikhlas adalah bersih dan tidak adanya campur tangan suatu apapun. Sedangkan menurut Abu Thalib al-Makki, ikhlas adalah pemurnian agama dari hawa nafsu dan perilaku menyimpang, pemurnian amal dari bermacam-macam penyakit dan noda yang tersembunyi, pemurnian ucapan dari kata-kata yang tidak berguna, dan pemurnian budi pekerti dengan mengikuti apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Salah satu ciri orang yang ikhlas adalah ia akan tetap beramal meskipun ada atau tidak ada orang lain yang melihat.

Ciri lain orang yang ikhlas adalah jarang kecewa terhadap makhluk, karena yang diharapkannya hanyalah penilaian dan keridhoan Allah Swt. Orang yang banyak kecewa terhadap makhluk yaitu orang yang banyak berharap dan bergantung kepada makhluk.

Belajar Ikhlas dari Kehidupan Petani

Setelah mengetahui makna ikhlas, kini mari kita lihat kehidupan para petani. Petani yang dimaksudkan di sini petani tradisional ya, petani yang menggarap lahan berupa sawah maupun ladang.

Benih yang Ditanam Tidak Tumbuh dengan Baik

Seneng rasanya jika masa tanam telah tiba. Hamparan tanah yang semula di dominasi warna coklat kehitaman, kini mulai ada rona hijau di beberapa bagian. Harapan pun terlambung ke angkasa, semoga bibit ini kelak tumbuh sehat dan menghasilkan buah yang melimpah.

ikhlas kehidupan petani
Para buruh tani sedang menanam bibit kubis

Bahagia bila bibit yang ditanam ini bisa tumbuh dengan baik. Tanaman yang tumbuh subur tentu saja menyenangkan untuk di pandang. Rasa lelah menanam, memelihara dan menjaganya dari serangan hama seolah hilang semua.

tanaman kubis
Seneng kalau lihat hijau segar begini

Namun ada kalanya, karena cuaca yang panas, tanaman ini akhirnya banyak yang layu, kemudian mati. Kalau sudah begini, berarti butuh tenaga dan waktu lagi untuk menyulami tanaman yang mati tadi. Mencabutnya, kemudian mengganti dengan yang baru.

Tanaman yang layu ini harus dicabut dan dibuang

Menyalahkan cuaca? Emang siapa kita ini. Segala kondisi dan perubahan cuaca sudah diatur oleh Allah, tak ada yang bisa mengubahnya.

Menyalahkan hama yang menyerang? Emang hama itu bisa baca pengumuman kalau misalnya kita kasih tulisan untuk tak menyerang tanaman kita?

Petani sudah berusaha menjaga tanamannya. Menyemprot pestisida maupun herbisida agar tanamannya bisa tumbuh optimal tanpa gangguan.

Menjelang Panen, Malah Diserang Hama

Jika tanaman sudah berbuah, hati pun senang. Tinggal menunggu beberapa saat lagi untuk bisa memetik hasilnya.

Tanaman tomat
Tinggal nunggu merahnya

Namun, harapan kadang tak seindah kenyataan. Saat buah mulai menguning, tiba-tiba hujan turun seharian tanpa henti. Tanaman tomat pun mulai tak tahan, terserang penyakit. Daun dan buah mulai membusuk. Buah berjatuhan dan tak layak jual.

hama tanaman tomat
Buahnya tak bisa diharapkan lagi

Buahnya pun di biarkan saja jatuh berguguran. Mau dikasihkan cuma-cuma ke tetangga juga nggak tega, masa ngasihnya buah yang jelek-jelek begini. Kadang ada juga tetangga yang main ke sawah lalu bilang eman-eman terbuang percuma. Lalu kami tawari, kalau memang mau silakan aja ambil sesukanya.

Kalau sudah begini, apalagi yang bisa kami lakukan selain menghela nafas, menahan sedih dan kecewa, lalu pelan-pelan mengikhlaskan? Waktu, biaya dan tenaga hilang percuma, hanya lelah yang di dapat.

Pas Panen, Harga Jual Nyungsep

Benih yang ditanam tumbuh bagus, mulai berbuah dan terhindar dari serangan hama maupun perubahan cuaca. Buahnya bagus, merah merona. Bakal panen besar nih. Insyaallah panen kali ini bisa untung jika harga jual tinggi.

Merah merona siap dipetik

Tiga hari sebelum panen, sudah survey ke tengkulak yang biasa membeli hasil panen, harga tomat mencapai 8000 ribu per kilo. Alhamdulillah, jika terus bertahan, maka kami akan memperoleh keuntungan dalam masa panen ini.

Selain ke tengkulak, survey juga ke pasar. Biasanya selisih harga tengkulak dengan harga di pasar itu antara 2 sampai 3 ribu per kilo. Selisih harga ini adalah biaya angkut dan juga keuntungan yang diambil oleh tengkulak maupun pedagang.

panen tomat

Dan apa yang terjadi kala kami panen? Harganya turun. Tinggal 2000 per kilo!

Yah, mau bagaimana lagi, kita kan nggak bisa ngatur harga di pasar. Bahkan pernah cuma dapat harga 800 per kilo. Akhirnya nggak kami petik. Upah buat metiknya lebih besar dibanding uang hasil penjualannya.

Ini sih bukan turun harga, tapi ganti harga. Begitulah kami sering mengeluh. Dan yang lebih membuat gemes adalah, disaat buah menjelang habis, eh harganya kembali merangkak naik.

Jadi kalau kamu pernah baca ada petani yang membuang hasil panen tomatnya, bisa jadi dia mengalami hal seperti kami ini.

Kalau saya sih nggak sampai membuang-buang tomat itu. Biasanya kalau harganya sedang jatuh gitu, kami biarkan aja para buruh tani yang biasa bekerja di sawah memetik secukupnya. Sekemampuan mereka memetik. Kemudian menyuruh mereka membawa, menjualnya dan uang hasil penjualannya untuk mereka saja.

Upah buruh tani itu biasanya 35 ribu per hari. Kerja setengah hari aja. Kalau pas harga tomat cuma 800 rupiah per kilo, hitung aja sendiri deh berapa kilo yang mereka butuhkan untuk bisa memperoleh uang 35 ribu.

Nggak rugi kalau duitnya buat mereka semua?

Nggak lah. Kan sedekah.

Sekali lagi, kami tak bisa berbuat apa-apa selain berusaha mengikhlaskan. Sambil berharap semoga lain kali bisa dapat harga yang lebih bagus.

Susah Menembus “Benteng” para Tengkulak

Kenapa nggak dijual langsung ke pasar saja?

Kalau cuma 1 peti sih bisa lah, dijual eceran gitu. Tapi kalau puluhan peti? Keburu busuk kalau mengandalkan jual eceran. Jadi di pasar itu sudah ada “penguasa”, para tengkulak. Orang baru, susah buat menembusnya.

Kami pernah coba bawa sendiri hasil panen ke pasar Gadang, pusatnya pasar hasil bumi di Malang. Tempat bertemunya para tengkulak dan pedagang besar. Satu pick up penuh berisi bertumpuk-tumpuk peti berisi tomat.

Sampai di pasar, langsung banyak yang menyambut dan menawar. Tawarannya sadis banget. Kalau di tengkulak yang biasa beli hasil panen kami dia kasih harga 2 ribu per kilo, di sini ada yang nawar seribu per kilo. Paling tinggi ada yang sanggup membeli seharga 1.500 per kilo.

Sudahlah capek mengangkat peti-peti besar berisi tomat ke atas pick up, menyusunnya rapi. Membawa ke pasar, lha malah harganya di bawah harga beli tengkulak langganan. Rugi waktu, tenaga dan juga uang.

Jadi kalau jual di tengkulak langganan, kami cuma mengeluarkan biaya untuk tenaga yang memetik buah saja. Yang menata dalam peti, menyortir berdasar ukuran buah, mengangkat dan mengangkut adalah orang-orangnya para tengkulak itu. Tengkulaknya yang membayar mereka.

Memupuk Semangat, Jangan Menyerah

Patah semangat, pastinya pernah kami alami. Kalau dalam bahasa jawa, kami menyebutnya nglokro. Untungnya tak perlu waktu lama, kami bisa saling menguatkan untuk bangkit kembali. Memupuk semangat dan harapan, bahwa hasil tak akan mengkhianati usaha. Asalnya dari uang, maka akan kembali menjadi uang. Tanah yang subur ini tak boleh dianggurkan. Yakin, suatu saat Allah akan mengalirkan rejeki melalui tanaman di sawah kami.

Biar nggak galau mikir, pak taninya piknik dulu. Nggak jauh-jauh kok. Cukup ke warung bakso, pesan bakso mercon super pedas

kehidupan petani
petaninya jajan bakso buat melepas galau

33 comments

  1. Masya Allah. Dari perjuangan petani dalam bertanam ada makna ikhlas yang benar-benar harus tertanam kuat dalam diri. Saya merasa tertampar baca “Ciri lain orang yang ikhlas adalah jarang kecewa terhadap makhluk”. Hiks diri ini masih suka kecewa sama mahluk, walau nggak dibiarkan larut. Tulisan ini reminder lagi buat saya mbak. terima kasih ya mbak.

  2. Ciri lain orang yang ikhlas adalah jarang kecewa terhadap makhluk, karena yang diharapkannya hanyalah penilaian dan keridhoan Allah Swt.

    Wadidawww, makjlebb banget Mbaaa
    Makasii ya, udah bikin artikel bergizi.
    beneran friendly reminder banget buat diriquuu
    makasi makasiii

  3. Kota Malang ya Mbak Nanik?
    Di Bandung saya sering ke Lembang, kawasan petani sayuran

    dan bener banget semua yang ditulis Mbak Nanik,

    hasil pertanian sering terpaksa dibuang, mau dijual sendiri juga gak mudah

    sedih lihatnya

  4. MasyaAllah … Jadi ingat, kemarin belanja ke mamang sayur dan katanya harga tomat sedang naik-naiknya. Padahal saat harga hasil panen naik, belum tentu petani jadi kaya raya, ya. Saya menanam dalam pot, mati, rasanya sudah mau nyerah. Apalagi Kak Nanik yang lahannya memang diperuntukkan pertanian.

    Semoga keikhlasan para petani ikut menular kepada kami melalui hasil panen yang masuk ke dalam perut-perut kami ini.

  5. Bener banget mbak, kadang saya itu masih susah untuk ikhlas bahkan untuk hal sepele. Ya Allah apa kabar petani yang sering mendapat ujian ketika memanen tidak sesuai dengan yang diharapkan

  6. Ya Allah, ya Rohman ya Rohim. Kehidupan petani kecil di pelosok desa di negeri ini emang cukup memprihatinkan. Saya mencontohkan harga singkong di Lampung saja rendah, pernah menyentuh 450 rupiah/kilonya. Miris karena dalam perawatannya juga petani pasti melakukan kegiatan pendangiran, penyiangan, pemupukan, dll. Itu tentunya tidak murah biaya dan tenaga yang dikeluarkan. Memang petani tempatnya sabar ihklas, mudah2an rezekinya selalu diperlancar untuk petani di Indonesia.

  7. Aku sukaaaaa baca tulisan ini mba. Soalnya bapakku petani. Hehehe. Aduh, jadi nostalgia. Article of the week-nya aku ini.

    Pas panen harga nyungsep ini kayaknya udah sering banget dialami ayah aku dulu. Sedih banget. Tapi alhamdulillah, walau pun ayah ibu petani, beliau tetap bisa menyekolahkanku sampai perguruan tinggi.

  8. Sedih baca ceritanya ini, sungguh pekerjaan yang tidak mudah bagi petani dari mulai menanam benih sampai panennya. Keikhlasan hati petani bisa menjadi contoh bagi kami semua. Semoga semakin dilancarkan rezeki para petani.

  9. Obat galaunya samaaa kayak diriquuu mbaa
    Maem bakso super pedashhh 😀

    Memang, beginilah hidup ya Mba
    Tetep semangat buat kita semua!

  10. Bener ini, Kak. Ibu mertua juga gagal panen karena tanaman jagung patah kena angin. Dia sampaikan ke kami dengan nada biasa sambil senyum, “Ya ngene iki, harus siap nanti kan bisa nanam lagi.”
    Salut sama para petani🥰

  11. Ya Allah mbak aku pernah ni ngerasain kek gini. Kami sempet punya lahan dulu ditanami sayur2an. Udah hasilnya bagus eh harga jual anjlog sejadi2nya. Sedih pake banget tapi gimana lagi pasar di Indonesia ni emang harganya ga jelas dan seringkali ga berpihak sama petani. Suami aku sekarang punya usaha ayam potong mbak. Kebayang ga semenjak pandemi harga naik turun ga jelas. Kadang biaya operasional jauh di atas hasil. Giliran ayam sehat2 n siap panen harga nyungsep karena PPKM. Cuma bisa bersandar sama Allah minta dikasih ikhlas dan sabar seluas samudra. Semangat ya mbak

  12. Ya Allah, ujian banget ya Mbak Nanik.
    Saya sering mikir juga yang seperti ini, tentang harga yang tidak stabil dan bagaimana usaha para petani.

    Pernah dengar petani membuang2 tomatnya karena harga jatuh. Kebayang andai ada kami, sudah kami tadah juga hehe. Soalnya kami mesti stok tomat buah. Nah, di kami harganya bisa 10 ribu sekilo sampai 15.000. Kasihan ya kalau dari petaninya dibeli murah.

    Mbak, apakah gak ada dari pengelola aplikasi yang bisa membeli langsung? Kan sudah ada beberapa aplikasi yang membantu menjualkan hasil pertanian?

  13. Salut banget dengan daya juang dan kegigihan para petani. Merekalah pahlawan yang sesungguhnya, yang rela berjuang menyediakan pangan untuk semua orang. Sehat-sehat selalu ya mba..

  14. Meski harga nyungsep dan dihajar hama..petani pasti tetap menanam lagi..Karena bagi petani ya namanya rejeki dari Allah..diterima apa pun kondisinya.. Kalo pas harga bagus hasil panen bagus ya disyukuri..

  15. Sebagai anak petani, memang kondisi hama dan gagal panen itu udah jadi makanan rutin. Mau bagaimana lagi jika tidak ikhlas, karena tidak akan menyelesaikan masalah juga dengan kecewa yang berlebih. Saat gagal, maka menanam lagi terus seperti itu hingga sekarang. Saya setuju, akan ada hari di mana hasil kerja keras akan terbayarkan. Terpenting ikhlas dan pantang menyerah.

  16. Ikhlas dan tetap semangat ya mba..pernah di pasar aku dicurhati pedagang cabe persis apa yang mba ceritakan sedih karena harga pupuk dll tapi saat dijual ga sebanding..pantes ya mba ada petani dulu yg buang2 sayurannya tapi kok eman salut sama mba semoga terus semangat ya mba makasih ceritanya ini.

  17. ah iya, menjadi petani memang kadang banyak cobaannya ya mbak
    tapi memang para petani itu selalu menghadapi dengan sabar dan ikhlas
    keluarga besar ibu mertuaku banyak yang jadi petani mbak
    dan memang orangnya sabar sabar

  18. jadi petani itu memang berat ya, mbak. kayak saudara-saudara ibuku rata-rata petani nanam padinya 6 bulan panennya cuma sekali jadi pastinya pemasukan cuma setahun 2 kali. ini juga suamiku lagi memulai usaha berkebun belum ada kelihatan hasilnya malah banyak yang belum tumbuh bibitnya

  19. Aku sedih bacanya jadi inget ayah mertuaku yang petani jeruk, kadang harga yang ditawarkan tengkulak ngak masuk hitungan tapi mau gimana lagi, kalo ngak lekas terjual bisa busuk atau rusak. Dari petani kita belajar keikhlasan.

  20. Masya Allah.. setuju sekali mba.. ilmu ikhlas memang paling berat. Kita bisa banyak belajar dari orang lain termasuk petani ini. Bahwa dengan ikhlas hari menjadi tenang dan bahagia.

  21. Kak Naniiik…kami sekarang juga sedang jadi petani. Suami investasi ilmu di bidang pertanian di Lembang melalui sawah bertingkat. Rasanya kalau panen itu yaa..bahagia tak terkira sampai lebai.
    Allahu Akbar.
    Allah yang menumbuhkan dan manusia yang menikmati hasilnya. Jadi ikhlas untuk merawat sehingga bisa menikmati hasilnya karena keberkahan dari Allah.

    Senang sekali…kak Nanik.
    Tetap bersabar dan terus memupuk semangat ikhtiar.

  22. Ya ampun… Enggak pandemi aja pentani mah suka susah, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini…
    Pernah liat berita petani membuang hasil panennya, hiks…

  23. Yaaah … menurut saya ini nih yang paling sulit dilakukan. Butuh perjuangan super berat dalam menetapi ikhlas, apalagi kalau kita berada di posisi terzalimi.
    Semoga makin sukses usaha petani Indonesia ya.

  24. sekarang aku juga lagi suka bertanam mba, jadi kerasa perjuangannya petani yaa. pengen panen raya dengan bahagia, tapi tiba-tiba tanaman kena hama huhu aku pernah nanam pepaya, udah berbuah eh mati mendadak, ternyata diserang sama hama putih. kebayang ikhlasnya petani yaa. masyaallah.

  25. ujian memag berat ya mbak. tapi percaya deh Allah maha tahu dan melihat. jadi kelak ladangnya akan dijadikan ladang yg baik jg sama Allah. Dengan begini selain melatih sabar danikhlas, mbak Nanik dan para petani lain jugajadi menginformasikan kepada banyak orang tentang hal yang terjadi di pertanian yang gak banyak orang tau ceritanya ya mbak..

  26. Dari dulu aku juga mikir tentang betapa tangguhnya para petani itu. Kebayang ketika hal-hal buruk seperti yang ditulis di atas itu terjadi, mau apa lagi kaaann… ga bisa apa-apa. Hanya bisa ikhlas saja. Huhuhuuu… berat banget tentu rasanya. Makanya salut dengan para petani yang selalu tekun bercocok tanam dengan segala resiko yang harus dipikulnya itu.

  27. Di masa sulit begini emang susah banget ya mak buat ikhlas. Ikhlas walaupun mudah diucapkan tapi sulit untuk dijalan ya maak

  28. Banyak contoh yang kita dapat jadikan pelajaran dalam kehidupan ini. Dari petani kita belajar ikhlas, telaten dan bersabar. Sementara dari nelayan kita berusaha untuk senantiasa bekerja keras.

  29. MasyaAllah Mbak… Sabarnya petani memang luar biasa, sayapun anak petani mbak, pengen jadi petani juga tapi belum punya tanahnya ehehhee.. InsyaAllah Ikhlas akan berbuah manis ya mbak.. dan.. kadang memang kalau berurusan sama tengkulak harganya jauh banget, belum ada pengalaman tapi sedih bacanya. Semoga bakso bisa mengobati hiihihihi

  30. Masha Allah mak tulisannya bikin kita merenung. Jd orang ikhlas itu susah bangett. Yg namanya manusia kadang suka khilap. Semoga para petani diberikan rejeki berlimpah halal dan barokah, aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *