PengalamanKu

Belajar Ikhlas dari Petani

Ikhlas.

Satu kata yang mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk diamalkan.

“Petani itu manusia paling ikhlas. Lihat saja dia beli pupuk mahal, kadang nyarinya juga susah, eh begitu dapat malah dibuang, dihambur-hamburkan ke tanah.”

Begitulah gurauan suami setiap kali kami berbincang masalah ikhlas. Jadi pengen nulis tentang kehidupan petani nih. Saya anak petani. Saya kini jadi petani. Dan dari bertani, saya terus belajar untuk ikhlas.

Benih yang ditanam tidak tumbuh dengan baik

Seneng rasanya jika masa tanam telah tiba. Hamparan tanah yang semula di dominasi warna coklat kehitaman, kini mulai ada rona hijau di beberapa bagian. Harapan pun terlambung ke angkasa, semoga bibit ini kelak tumbuh sehat dan menghasilkan buah yang melimpah.

Para pekerja sedang menanam bibit

Bahagia bila bibit yang ditanam ini bisa tumbuh dengan baik. Namun ada kalanya, karena cuaca yang panas, tanaman ini akhirnya banyak yang layu, kemudian mati. Kalau sudah begini, berarti butuh tenaga dan waktu lagi untuk menyulami tanaman yang mati tadi. Mencabutnya, kemudian mengganti dengan yang baru.

Seneng kalau lihat hijau segar begini

 

Menjelang panen, malah di serang hama

Jika tanaman sudah berbuah, hati pun senang. Tinggal menunggu beberapa saat lagi untuk bisa memetik hasilnya.

Tinggal nunggu merahnya

Namun, harapan kadang tak seindah kenyataan. Saat buah mulai menguning, tiba-tiba hujan turun seharian tanpa henti. Tanaman tomat pun mulai tak tahan, terserang penyakit. Daun dan buah mulai membusuk. Buah berjatuhan dan tak layak jual.

Buahnya tak bisa diharapkan lagi

Buahnya pun di biarkan saja jatuh berguguran. Mau dikasihkan cuma-cuma ke tetangga juga nggak tega, masa ngasihnya buah yang jelek-jelek begini. Kadang ada juga tetangga yang main ke sawah lalu bilang eman-eman terbuang percuma. Lalu kami tawari, kalau memang mau silakan aja ambil sesukanya.

Kalau sudah begini, apalagi yang bisa kami lakukan selain menghela nafas, menahan sedih dan kecewa, lalu pelan-pelan mengikhlaskan? Waktu, biaya dan tenaga hilang percuma, hanya lelah yang di dapat.

Pas panen, harga jual nyungsep

Tiga hari sebelum panen, harga tomat mencapai 8000 ribu per kilo. Alhamdulillah, jika terus bertahan, maka kami akan memperoleh keuntungan dalam masa panen ini.

Siap diangkut

Dan apa yang terjadi kala kami panen? Harganya turun. Tinggal 2000 per kilo nya. Yah, mau bagaimana lagi, kita kan nggak bisa ngatur harga di pasar. Bahkan pernah cuma dapat harga 800 per kilo. Akhirnya nggak kami petik. Upah buat metiknya lebih besar dibanding uang hasil penjualannya.

Ini sih bukan turun harga, tapi ganti harga. Begitulah kami sering mengeluh. Dan yang lebih membuat gemes adalah, disaat buah menjelang habis, eh harganya kembali merangkak naik.

Sekali lagi, kami tak bisa berbuat apa-apa selain berusaha mengikhlaskan. Sambil berharap semoga lain kali bisa dapat harga yang lebih bagus.

***

Patah semangat, pastinya pernah kami alami. Kalau dalam bahasa jawa, kami menyebutnya nglokro. Untungnya tak perlu waktu lama, kami bisa saling menguatkan untuk bangkit kembali. Memupuk semangat dan harapan, bahwa hasil tak akan mengkhianati usaha. Asalnya dari uang, maka akan kembali menjadi uang. Tanah yang subur ini tak boleh dianggurkan. Yakin, suatu saat Allah akan mengalirkan rejeki melalui tanaman di sawah kami.

Petaninya lagi piknik biar nggak stres mikir hasil panen

9 thoughts on “Belajar Ikhlas dari Petani

  1. Petani di Indonesia memang masih diombang -ambingkan oleh “keadaan” perekonomian Indonesia yg kadang susah dipahami oleh masyarakat petani.
    Ikhtiar yang tiada lelah sdh dilakukan, akhirnya berpasrah pada yang Maha Membuat Hidup

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis