Belajar Mengelola Keuangan di Acara FUNansial Talkshow Bersama Home Credit




“Duh, ATM nya antri banyak nih, Bang?”

“Disebelahnya aja, sepi tuh”

“Tapi nanti kena biaya, itu kan ATM bank lain”

“Gak pa pa lah, paling juga kena 5 ribu, dari pada antri lama”

Baiklah. Dan saya pun menuju ATM bank lain, pencet-pencet tombol, selesai deh transaksi. Gak apa lah kena biaya administrasi, asal urusan bisa cepet.

Ada yang sama dengan saya, males antri dan akhirnya pindah ke ATM sebelah walau kena biaya administrasi? Tosh dulu.

Tapi… tapi itu dulu. Sejak hari ini saya berjanji nggak akan lagi melakukan hal itu. Saya akan pilih tetap mengantri, atau cari ATM bank daya di lokasi lain.

Iya, saya harus mengubah kebiasaan jelek itu, karena saya sudah belajar bahwa hal itu salah. Iya, hari Sabtu, 14 Desember 2019 kemarin, saya banyak belajar tentang pengelolaan keuangan di acara Talkshow #FUNancial bersama Home Credit Indonesia. Acaranya di laksanakan di Boncafe, Gubeng, Surabaya. Tema dalam talkshow ini adalah CEO IN THE MAKING : Financial Tips to Transform Your Passion into Business

FUNancial homecredit

Bersama teman-teman dari ISB

Acara talkshow ini mengusung tagline #YangKamuMau, menghadirkan dua pembicara yaitu : Dipa Andika, seorang Financial planner dan co-founder Hahaha Corp, serta Christie Erin, co-founder Basha Market.

Dipa andika financial planner

Pembicara dan pembawa acara talkshow

Acara talkshow berjalan secara menarik, kedua pembicara saling mengimbangi dalam memberikan tips serta trik dalam bidang keuangan. Membagikan pengalaman mereka merintis usaha, mengelola dan mempertahankan, hingga sekarang usahanya semakin besar. Dari mereka berdua, saya banyak belajar bagaimana mengelola keuangan.

Boleh Resign, Asal…

Bagi para pekerja, macam saya ini kadang kepikiran “nggak enak jadi bawahan terus, pengen juga punya usaha sendiri”. Apalagi yang merasa nggak nyaman dengan tempat kerja maupun jenis pekerjaannya. Atau yang merasa pekerjaan itu bukan passionnya. Seneng kan kalau kerja sesuai passion, hati senang, duitpun lancar datang.

Sukai yang kamu kerjakan, maka uang akan mengikuti (Dipa Andika)

Tapi, jangan karena dapat quote itu terus besok langsung bikin surat mau resign dari pekerjaan. Dipa berpesan, kalau mau resign, boleh-boleh saja, tapi pastikan tempat baru sudah siap dan penghasilan stabil.

Jangan sampai mau resign, pas ditanya setelah resign mau ngapain, malah bingung jawabnya. Kalau masih single sih paling bermasalahnya sama ortu saja, lha kalau sudah berkeluarga, anak istri mau di kasih makan apa?

Saya sendiri merencanakan resign 5 tahun lagi, mau pensiun dini. Karena paling tidak, saya harus bekerja 20 tahun dulu, baru saya berhak untuk mendapat uang pensiun. Ini juga kalau nggak ada perubahan aturan dari pemerintah lho ya. Jadi saat ini, saya sudah mulai merintis usaha. Harapannya dalam 5 tahun ke depan usaha sudah nampak ada hasilnya, uang pensiun setiap bulan tetap ada.

Buat Catatan Keuangan secara Rinci

Nah bagian ini masih PR banget buat saya. Di awal tahun, biasanya saya sudah memantapkan hati, menguatkan niat dan tekad akan membuat catatan pengeluaran. Di bulan Januari catatannya bagus, rinci sekali. Februari, pengeluaran yang kecil-kecil mulai yang di catat. Yang dicatat kalau belanja ke Supermarket aja, yang ada bonnya. Maret, mulai malas.

Nah, yang kayak gini itu nggak boleh. Menurut Dipa, pengeluaran sekecil apa pun harus di catat. Segera di catat begitu transaksi selesai. Bisa di catat dulu aja di note handphone. Nggak repot kan ya sebenarnya, karena kemana-mana pasti bawa handphone.

Nota-nota pembelian, kalau nggak pengen numpuk di dompet, bisa di foto atau scan. Jadi nyimpannya lebih mudah. Sebenarnya, nggak ada alasan kendala ya, perangkat dan kemudahan ada di sekitar kita. Masalahnya cuma 1, MALAS.

Hindari Latte Factor

Latte factor, apaan tuh? Saya tahunya kopi latte. Apakah latte factor ini senikmat kopi latte?

Latte factor adalah pengeluaran kecil, yang kadang diremehkan, sering dilakukan, dan kalau dikumpulkan dalam sebulan itu jumlahnya bisa besar sekali. Dan pengeluaran itu sebenarnya kadang nggak begitu diperlukan.

Ada nggak sih yang suka banget pesan minuman kekinian? Apa itu namanya, bobba yah? atau kopi-kopi kekinian gitu. Segelas harganya katakanlah 20 ribu. Kalau seminggu bisa pesan 3 kali, artinya seminggu 60 ribu. Kalau sebulan bisa jadi 240 ribu. Kalau setahun? Hitung sendiri ya.

Atau ada nggak yang suka memanfaatkan promo di gofood atau grab food? Mumpung promo, diskon sekian persen atau bebas ongkos kirim, lantas jadi sering beli. Padahal di rumah sudah masak. Jadinya dobel pengeluaran kan?

Emang ya, kalau ngikuti lifestyle itu jadi boros banget. Bergaya boleh, tapi jangan memaksakan diri lah. Ingat, nikmatnya minum bobba itu cuma sesaat. Pikirkan masa depan yang masih jauh membentang.

Pisahkan Rekening Pribadi dengan Rekening Usaha

Nah, ini penting juga nih. Jadi antara rekening pribadi dengan rekening buat usaha ini harus dipisahkan. Supaya kelihatan modal masih berapa, untung atau rugi berapa. Jangan gabungkan uang buat urusan pribadi/keluarga dengan uang buat usaha.

Bagi wiraswasta, gajilah diri Anda sendiri pada tanggal yang sama setiap bulannya, dengan besaran yang sama. Misalnya, setiap tanggal 5, pindahkan dari rekening usaha sebesar 4 juta ke rekening pribadi. Jadi 4 juta ini adalah gaji Anda. Anda tidak boleh mengurangi atau menambahi jumlahnya.

Rata-rata kebangkrutan sebuah usaha itu memang karena tak memisahkan antara rekening pribadi dan rekening buat usaha. Saya nih termasuk salah satunya. Modal buat usaha kok makin berkurang. Padahal kadang untung, walau pernah juga rugi. Ternyata karena uang buat usaha sering kepakai buat belanja ke pasar.

Cara Pandang Terhadap Kegagalan

Dalam memulai sebuah usaha, diawalnya biasanya akan rugi. Erin dan juga Dipa pun mengalami hal yang sama. Erin di Basya market, saat mengadakan event pertama kali juga mengalami kerugian, demikian pula dengan Dipa di Hahaha Corp. Cara pandang terhadap kerugian yang berbeda inilah yang membuat mereka bertahan hingga akhirnya mencapai kesuksesan seperti sekarang.

Mereka tak pernah mengatakan usahanya merugi. Rugi itu mereka anggap sebagai investasi. Tentunya setelah mereka mempelajari penyebab kerugian/kegagalan itu. Mereka jadi tahu, oh karena hal ini, karena begitu. Pengetahuan ini lah yang menjadi pijakan untuk langkah selanjutnya, lebih berhati-hati. Akhirnya jadi ilmu kan, jadi investasi.

***

Itulah sebagian ilmu yang saya peroleh dari acara talkshow kemarin. Beruntung sekali saya bisa menghadiri acara ini. Dan salah satu resolusi saya di 2020 adalah, meminimalisir latte factor. Mau buat celengan khusus yang saya peruntukkan saat saya bisa mengerem latte factor ini.

Misalnya kok pengen banget jajan cilok kalau ke pasar. Kami berlima, kalau belinya 5 ribuan sekali jajan bisa habis 25 ribu. Ok lah, kalau masih masa penyesuaian, jajannya dikurangi, jadi 3 ribuan aja. Masih ada sisa 10 ribu kan. Nah 10 ribu ini yang bakal dimasukkan ke dalam celengan. Nanti di akhir tahun, dibongkar deh, biar ketahuan ada berapa jumlahnya.

Di acara ini juga disediakan dinding mimpi. Jadi setiap peserta diberikan kertas, diminta menuliskan mimpinya, terutama yang berkaitan dengan financial. Biar ketahuan financial goalnya apa. Karena kertasnya diberikan sesaat setelah registrasi, dan masih belum dapat ilmu pengelolaan keuangan, saya tulis aja mimpinya adalah umroh sekeluarga. Hehehe, tak apa ya, semoga bisa keturutan.

tembok mimpi

Impian para peserta di tembok mimpi

53 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *