Tetralogi Warisan, Berawal dari Eragon, Berakhir di Inheritance




Tetralogi warisan, Berawal dari Eragon, berakhir di Inheritance. Yes, saya ini suka banget baca novel petualangan klasik. Dan Christopher Paolini mampu menuliskan kisah yang mampu membius saya untuk terus mengikuti bahkan menunggu dengan setia karya-karyanya.

Tetralogi Warisan, Apaan sih?

Tetralogi warisan, terdiri dari 4 buah novel yang semuanya berisi jalinan kisah yang sangat memukau. Ke empat novel itu adalah Eragon, Eldest, Brisingr dan Inheritance. Tetralogi warisan ini di Indonesia diterbitkan oleh Gramedia.

Buku 1; Eragon

novel eragon

Eragon, novel yang mampu membius dan membuat saya tak mau berhenti sejenak kala membacanya. Baru berhenti setelah sampai di halaman akhir. Itu pun masih diliputi penasaran, karena ternyata novelnya masih bersambung.

Eragon, seorang pemuda penduduk desa Carvahal menemukan sebuah batu yang indah saat sedang berburu. Dia lalu membawa batu itu pulang karena dikiranya batu itu dapat dijual. Ternyata, benda yang dikiranya batu itu adalah telur naga. Telur itu kemudian menetas dan sang naga dipelihara oleh Eragon.

Saphira, nama naga itu menggunakan benak untuk berkomunikasi dengan Eragon. Lewat penuturan Brom, sang pendongeng, Eragon mendapatkan banyak kisah tentang naga. Dahulu, naga dan penunggangnya bertugas untuk menjaga ketentraman negeri Alagaesia.

Negeri Alagaesia dihuni oleh berbagai makhluk, manusia, elf, urgal, shade, ra’zac, kurcaci dan juga werecat. Namun seorang penunggang yang berkhianat, bernama Galbatorix menghancurkan klan penunggang serta para naga, dan akhirnya menjadi penguasa Alagaesia.

Brom juga mengajarkan ilmu sihir dan ilmu pedang pada Eragon, karena ternyata dia adalah penerus klan penunggang yang diharapkan dapat memimpin perlawanan melawan raja Galbatorix. Setelah mengetahui sejarah klan penunggang, Eragon pun bertekad untuk melawan raja Galbatorix, apalagi setelah pamannya tewas dibunuh oleh utusan sang raja.

Keren banget buku ini, membacanya rasanya nggak pengen keputus dari awal hingga akhir. Menegangkan saat menggambarkan pertempuran demi pertempuran yang diikuti oleh Eragon. Penggambaran kondisi alam dan setting lokasi kejadian juga sangat detail.

Saya pun turut larut dalam kesedihan kala membaca bagian yang menceritakan kematian Brom, sang pendongeng, yang ternyata adalah ayah kandung Eragon.

Selesai membaca buku ini, rasanya tak sabar untuk lanjut membaca buku kedua.

Oh iya, novel Eragon karya Christopher Paolini ini juga sudah dibuat versi filmnya lho.

Buku 2; Eldest

Buku kedua, lanjutan dari Eragon adalah Eldest yang terbit setahun setelah Eragon, artinya tahun 2004

novel eldest

Buku ini diawali dengan kisah kematian Ajihad, pemimpin kaum Varden, yaitu kelompok yang melakukan perlawanan terhadap Galbatorix.  Ajihad kemudian di gantikan oleh putrinya, Nasuada.

Proses penggantian pun tidak mulus, karena ada orang-orang yang menentang Nasuada. Para penentang itu beranggapan seorang wanita tak pantas untuk memimpin kaum Varden. Nasuada harus melakukan adu pedang dengan raja Orrin. Nasuada memenangkan adu pedang tersebut, dan barulah orang-orang yang meragukan kemampuannya mau menerimanya sebagai pemimpin kaum Varden. Eragon mengucapkan sumpah setia pada Nasuada.

Eragon pergi ke Ellesmere, negeri kaum Elf untuk mematangkan keahliannya sebagai penunggang. Disana dia bertemu dengan Oromis, seorang penunggang yang selamat dari pembantaian Galbatorix, beserta naganya yang bernama Glaedr. Mereka berdua banyak memberikan pelajaran pada Eragon dan Saphira tentang kaum penunggang. Hingga suatu saat ia mendapat kabar bahwa Nasuada sedang memindahkan kaum Varden ke negara Surda, sementara Galbatorix mengerahkan pasukannya menyerang Surda. Mendengar kabar ini, ia langsung berangkat menuju Surda untuk membantu kaum Varden.

Pertempuran akhirnya dimenangkan oleh kaum Varden, terutama berkat pertolongan kaum Kurcaci. Namun perjuangan kaum Varden belum berakhir, sebagaimana perjuangan Eragon juga masih panjang.

Buku 3; Brisingr

Lanjut lagi tulisan tentang tetralogi warisan karya Christopher Paolini. Kali ini membahas tentang buku ketiga yang berjudul Brisingr. Buku ini terbit 4 tahun setelah buku kedua, yaitu tahun 2008. Kalau terjemahan bahasa Indonesianya terbit 2009. Jadi kebayang kan bertahun-tahun penasaran, atau bahkan sudah lupa kisah sebelumnya :). Buku ketiga ini lebih tebal dari buku pertama dan kedua. Jumlah halamannya 800 sekian, lumayanlah buat dijadikan bantal

novel brisingr

Buku ini mengisahkan bagaimana Eragon menepati tujuh janjinya, antara lain :

  1. Menyelamatkan Katrina. Katrina adalah kekasih Roran. Roran sendiri adalah sepupu Eragon. Galbatorix menawan Katrina untuk memancing Eragon agar menyerahkan diri padanya. Eragon dan Roran berhasil menyelamatkan Katrina lewat perjuangan dan pertempuran yang tidak mudah, apalagi ternyata ada pengkhianat yang berpihak pada Galbatorix. Dan secara tak terduga, si pengkhianat itu adalah Sloan, ayah katrina sendiri yang tidak menyetujui hubungan Katrina dengan Roran.
  2. Menghapus kutukan pada Elva, namun tidak sepenuhnya berhasil. Elva adalah seorang anak perempuan, yang semasa bayinya diberkati oleh Eragon. Namun eragon salah merapalkan mantra pada saat memberkati Elva, sehingga ia malah seperti mendapatkan “kutukan”, yaitu merasakan penderitaan dan kesakitan orang-orang disekitarnya. Setiap kali ada pertempuran dan banyak orang yang terluka, maka Elva yang menanggung rasa sakitnya.
  3. Kembali ke Ellesmere untuk bertemu Oromis dan melanjutkan pelajarannya.

Empat janji yang lain, nggak seru klo saya tuliskan semua disini πŸ™‚

Brisingr sendiri sebenarnya adalah nama pedang baru Eragon, setelah pedangnya yang lama yang bernama Zar’oc diambil oleh saudara tirinya. Pedang itu akan memancarkan api setiap kali Eragon menyebutkan namanya, sehingga Eragon harus selalu berhati-hati dalam menyebut pedangnya.

Oromis dan naganya, Glaedr, menjelaskan pada Eragon tentang Eldunari, yaitu jantungnya jantung naga. Eldunari merupakan inti dari seekor naga, didalamnya terhimpun kekuatan dan pengetahuan sang naga. Jadi meskipun sang naga telah tewas, pengetahuan dan kekuatannya tetap tersimpan dalam eldunari. Glaedr memutuskan untuk mengeluarkan eldunarinya dan diberikan pada Eragon dan Saphira.

Pada saat terjadi pertempuran di Gil’ead antara pasukan kerajaan dan kaum Varden, Oromis dan Glaedr memutuskan untuk menampakan diri. Nasib malang, Oromis berhasil dibunuh oleh Murtagh. Murtagh adalah saudara tiri eragon yang dipaksa untuk bersumpah setia pada raja Galbatorix. Murtagh memiliki seekor naga yang diberi nama Thorn.

Dengan kematian oromis, maka Eragon menjadi penunggang terakhir, dan harus sendirian melawan Galbatorix.

Buku 4; Inheritance

Sampailah bahasan kita pada buku keempat. Buku yang terbit di tahun 2011 dinegara asalnya sana, edisi terjemahan bahasa Indonesianya terbit 2012. Buku ini adalah buku yang paling tebal diantara tiga buku yang telah mendahuluinya. Jumlah halamannya ada 900 sekian

novel inheritance

Gambar covernya tetap sama, yaitu kepala naga. Warna sampulnya saja yang berbeda.

Jadi, isinya inheritance apa?

Isinya masih tentang perjuangan kaum Varden yang dipimpin oleh Nasuada yang mulai bergerak merebut kota-kota yang berada di bawah kekuasaan Galbatorix. Satu persatu kota dikuasai, dengan perjuangan berat tentunya. Banyak pejuang yang gugur maupun terluka. Pasukan terus bergerak mengarah ke ibukota yaitu Uruba’en.

Suatu malam, perkemahan kaum Varden diserang oleh pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Murtagh dan Thorn. Mereka berhasil menculik Nasuada! Peristiwa ini tentu saja membuat eragon dan pemimpin pasukan yang lain cemas, mereka takut dengan ketiadaan Nasuada di tengah-tengah pasukan, akan melemahkan semangat para pejuang.

Eragon pun masih belum menemukan cara untuk mengalahkan Galbatorix, padahal pergerakan pasukan makin mendekati ibu kota. Lalu dia teringat sebuah ramalan kuno, yang menyatakan bahwa jika suatu saat dia merasa lemah tak berdaya, dia harus menuju Karang Kuthian untuk menemukan ruang jiwa-jiwa. Tapi dimanakah Karang Kuthian itu?

Bersama Saphira dan eldunari Glaedr, Eragon bertekad untuk mencari dan menemukan Karang Kuthian. Berangkatlah mereka menuju Vroengard. Perjalanan yang tidak mudah karena Saphira harus terbang diatas lautan dan menantang badai. Namun akhirnya mereka tiba juga disana.

Pencarian Karang Kuthian dan ruang jiwa-jiwa pun tak mudah. Mereka butuh waktu berhari-hari, karena pintu menuju ruang jiwa-jiwa hanya dapat dibuka jika Eragon mengetahui nama sejatinya. Berhari-hari dia merenung, bertanya-tanya tentang siapa dirinya sebenarnya. Saat hampir putus asa, barulah dia menemukan nama sejatinya.

Ruang jiwa-jiwa ternyata berisi ratusan eldunari dan telur naga! Mereka disembunyikan jauh dibawah tanah dan dilindungi dengan mantra-mantra Galbatorix agar tak ada orang yang dapat menemukannya. Tentu saja Saphira sangat senang karena ternyata generasinya belum benar-benar punah, dia bukan naga terakhir.

Dari Vroengard, mereka langsung menuju Uruba’en untuk bergabung dengan pasukan Varden. Sementara itu di kerajaan, Nasuada mengalami banyak siksaan dan dipaksa untuk menyatakan sumpah setia pada Galbatorix.

Pertempuran pun akhirnya pecah. Dengan cara yang tak mudah, Galbatorix berhasil dibunuh. Namun setelah itu serasa ada yang hilang dalam diri Eragon, karena merasa tak punya lagi tujuan hidup. Tujuannya selama ini adalah mengalahkan Galbatorix, dan kini setelah berhasil, apa yang harus dia lakukan?

Pada akhirnya, Eragon memang punya tugas lain, yaitu mencari tempat bagi telur-telur naga untuk menetas. Setelah itu, dia dan Saphira harus membimbing dan membesarkan bayi-bayi naga itu.

Pelajaran dari Tetralogi Warisan

Yah, selesailah sudah menuliskan sedikit isi novel tetralogi warisan, Eragon yang ditulis dari 2003 dan berakhir di Inheritance yang ditulis pada 2011. Untungnya si penulis, Christopher Paolini, diawal bukunya memberikan rangkuman kisah-kisah dibuku sebelumnya, jadi bagi yang sudah agak-agak lupa hingga benar-benar lupa, serasa diingatkan kembali.

Membaca buku ini, selain mendapatkan jalinan kisah yang bagus dan mengasyikkan juga bisa memberikan banyak pelajaran. Pelajaran yang saya dapatkan dari membaca tetralogi warisan adalah :

  • Bagaimanapun jalannya, kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Ada kalanya orang yang berbuat baik itu akan mendapat penentangan dari berbagai pihak, tak ada yang mendukung. Sendirian. Namun tetaplah berbuat baik.
  • Bahwa manusia hidup harus memiliki tujuan. Tujuan ini lah yang akan menggerakkannya, memupuk semangatnya untuk terus berupaya mencapai tujuannya. Jadi jangan nyinyir kalau ada yang tiap awal tahun menuliskan resolusinya, ini adalah salah satu cara menyemangati diri untuk mencapai tujuan hidupnya.
  • Menentang kejahatan atau perbuatan tak adil bisa dilakukan dengan perbuatan. Jika tak mampu maka bisa dilakukan dengan ucapan. Jika tak bisa karena ketakutan akan berbagai hal, maka tentanglah dengan hati.
  • Ada kalanya rencana yang sudah disususn dan disiapkan dengan rapi, ternyata tak bisa dilaksanakan sesuai dengan perencanaan. Ada saja penghalangnya. Jangan marah dan putus aja.

Itulah beberapa pelajaran dari novel tetralogi warisan karya Christopher Paolini. Kamu pernah membaca salah satu novel itu?

48 Comments

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan ini, ditunggu komentarnya. Please... jangan meninggalkan link hidup ya