WisataKu

Berburu Jajan Jadul di Tirtomoyo Tempo Doeloe

20-22 September kemarin, mulai sore hingga malam, jalanan depan rumah saya ramai sekali. Banyak orang berjalan lalu lalang, teriakan pedagang menawarkan dagangannya, ada kuda hilir mudik. Tak ada kendaraan yang lewat, karena jalan di tutup. Bahkan juga tak ada penerangan listrik, karena rumah-rumah yang di pinggir jalan sudah di beri edaran untuk tak menyalakan lampu depan selama 3 malam. Iya, di desa tempat saya tinggal sedang berlangsung kegiatan Tirtomoyo Tempo Doeloe.

Tirtomoyo Tempo Doeloe di laksanakan selama 3 hari. Ada pasar rakyat dengan bangunan yang di desain bergaya tempo dulu. Bangunan kerangka warung dari bambu, beratap ilalang. Kain-kain batik (jarik) yang dibentangkan sebagai dindingnya. Ada sekitar 50 an warung yang nantinya akan di gunakan untuk menggelar dagangan. Untuk penerangan, mereka menggunakan lampu teplok, ada juga yang pakai lampu petromax. Jadi nuansa jadulnya dapat.

Saya kebetulan tanggal 20 itu, hari jumat, ada tugas ke Surabaya. Sampai Malang sudah sekitar jam 6 an sore, sudah usai maghrib. Saat pulang jalan di tutup, sepeda motor nggak boleh masuk. Sama penjaga di gerbang, saya di minta menitipkan motor di penitipan yang telah disediakan. Di kiranya saya pengunjung yang mau cari jajajan. Setelah saya bilang kalau saya mau pulang karena rumah saya di area jalan itu, baru deh saya boleh masuk. Dan untungnya tetap boleh mengendarai motor walau harus pelan banget karena jalan ramai dengan pejalan kaki.

Pengennya malam itu juga ikut lihat apa saja yang dijajakan di warung. Tapi karena suasana di sepanjang jalan gelap, dan ramai sekali, Toto nggak mau di ajak keluar. Di tinggal juga nggak mau. Ya sudahlah, malam itu kami berdiam diri aja di rumah.

Sabtu sore, jam 5 an mulai para pedagang menggelar dagangan. Saya pun mengajak anak-anak untuk berkeliling melihat-lihat. Pak Suami sedang di luar pulau, jadilah saya sama anak-anak saja. Ada aneka jajanan jadul yang di jual. Tiwul, gatot, sego jagung, cenil, gethuk, aneka jamu dan masih banyak lagi. Ada juga yang menjual sayur dan buah-buahan, genjer, pakis, ciplukan, duwet. Harganya mulai dari 2 ribuan sampai 5 ribuan. Murah meriah.

jajan jadul

gulali

Berhubung jalannya sama anak jaman now, dan Toto nggak sabaran kalau diajak antri beli jajanan, jadinya saya nggak beli satupun aneka jajanan jadul itu. Cukup melongok sebentara dan ambil gambar saja. Terus nuruti anak-anak cari jajanan yang mereka inginkan. Yang diinginkan anak-anak adalah harum manis dan balon.

harum manis

Jadi ya, memang dimanapun berada, pedagang musiman itu bakal mendatangi keramaian. Jadi kan sudah disediakan tuh bangunan warungnya, udah ada batas gapura juga di sepanjang jalan yang dijadikan area Tirtomoyo Tempo Doeloe, tapi duluar gapura itu banyak banget pedagang dadakan yang muncul. Bisa dibilang ilegal kali ya. Dagangannya juga macam-macam, daster, balon, aneka es, bakso, sandal dan banyak lagi.

Di hari Minggunya, ada acara jabutan, semacam rebutan tumpeng. Tapi tumpeng yang disini bukan tumpeng yang isinya nasi dengan segala sayur dan lauk pelengkapnya. Tumpengnya berisi sayuran, jajanan, perabot dapur, bahkan duit juga. Tumpeng ini dibuat oleh setiap RT, di arak dulu keliling kampung lalu berkumpul di balai desa. Di doakan bersama, lalu jadi rebutan.

Saya nggak ikut rebutan isi tumpengnya, hanya melihat dari depan rumah kala arak-arakan tumpeng lewat. Karena Toto nggak mau di ajak buat ke balai desa. Babang juga nggak mau ke sana. Akhirnya kakak sendiri yang ke balai desa. Pulang-pulang dia tunjukkan hasil jabutannya, seikat kacang panjang. Haha… tau saja dia kalau emaknya ini sudah nggak punya sayur di kulkas.

Begitulah keseruan Tirtomoyo Tempo Doeloe di desa saya. Baru tahun ini diadakan. Ini sebenarnya tradisi untuk mengisi kegiatan di bulan suro (muharram). Jadi kalau di Malang, bulan Suro itu ada tradisi Suroan. Kegiatannya macam-macam, ada acara bersih desa, ruwatan, pawai budaya, karnaval dan banyak lagi, tergantung kreativitas aparat desa.

Bagus juga sih acara Tirtomoyo Tempo Doeloe ini, bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, mendatangkan pengunjung dari luar desa pula. Dan yang saya senang juga, disediakan tempat sampah besar di beberapa titik serta himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya. Malam usai acara ada juga petugas yang membersihkan jalan dan mengangkut sampah. Jadi pagi hari, keluar rumah, jalanan depan rumah saya tetap bersih.

Kalau di tempatmu, ada tradisi Suro an juga kah?

39 Comments

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis

%d bloggers like this: