PengalamanKu

Berhenti Mempermainkan Perasaan Orang Lain

Beberapa waktu kemarin saya diberi tugas untuk menguji para guru. Bentuk ujiannya tertulis dan praktek. Uji tulis selama 100 menit, sementara untuk uji praktek, atau kami menyebutnya observasi demonstrasi berlangsung selama 4 jam. Ada beberapa tugas yang harus diselesaikan oleh peserta dalam waktu 4 jam tersebut, setiap tugas sudah disertai dengan instruksi kerja, yaitu rincian apa saja yang harus dilakukan dan menjadi faktor dalam penilaian. Dalam satu kelompok, ada 3 – 5 peserta yang bersamaan melaksanakan uji praktek. Saya berkeliling mengawasi pekerjaan mereka, terkadang berdiri di belakang peserta, mengamati apakah yang mereka kerjakan sudah sesuai dengan instruksi kerja yang diberikan.

Selesai ujian, mereka dipersilakan menunggu sekitar 1-2 jam, dan hasilnya langsung diumumkan. Untuk pengumuman, biasanya saya panggil satu persatu. Saya review lagi hasil pekerjaannya, kekurangan dan kelebihannya. Biasanya saat seperti ini malah bisa jadi sesi curhat dari peserta, tentang persiapan dan perasaannya menghadapi ujian. Helaan nafas lega saat saya berikan rekomendasi Kompeten. Kepala menunduk, pandangan kosong ke satu titik di lantai, penolakan, janji untuk berbuat lebih baik lagi, kala saya berikan rekomedasi Belum kompeten.

Nah, suatu kali, saya berkeinginan untuk memberikan pengumuman langsung pada satu kelompok yang terdiri dari lima orang. Karena dari hasil pekerjaan mereka, reviewnya hampir mirip, jadi menurut saya lebih efektif waktunya kalau langsung bersama saja dibandingkan satu per satu. Tapi saya tak ingin langsung mengumumkan hasilnya, mau buat mereka deg deg an dulu, di lama-lama in, biar mirip acara di televisi.

Pertama, saya minta masing-masing orang untuk mengungkapkan penilaian diri terhadap pekerjaan mereka, apakah sudah sesuai target, apakah semua instruksi dikerjakan, apakah sudah merasa kompeten. Usai mereka mengungkapkan penilaian diri, sandiwara saya pun dimulai. Saya katakan, bahwa saya masih tak yakin untuk memberikan rekomendasi kompeten, jadi saya butuh pertimbangan orang lain. Yaitu orang yang selama ini memberikan pelatihan pada mereka, yang saat itu juga ada diluar kelas, ikut menunggui mereka ujian. Saya minta mereka keluar kelas, menemui pengajar itu dan minta rekomendasi. Padahal, seandainya peserta tahu, mereka pasti akan langsung menolak. Karena dalam penilaian saya harus independen, tak boleh minta pertimbangan pihak lain. Tapi karena mereka berada di pihak penilai, mereka pasrah saja, menurut apa yang saya perintahkan.

Sebelumnya saya sudah berkirim pesan pada si pengajar. Dan isi pesan itu saya minta ditunjukkan pada para peserta jika peserta mendatanginya untuk minta rekomendasi. Dan isi pesan saya adalah, petunjuk hasil pengumuman ada di hp ketua kelas. Otomatis, setelah menemui si pengajar, mereka lalu beralih mencari ketua kelas. Saat diminta mencari ketua kelas inilah, ada satu peserta yang langsung terduduk dan menangis, tak sanggup lagi dia berdiri. Saya yang saat itu melihat, jadi merasa bersalah. Tapi show must go on.

Akhirnya ketua kelas ditemukan oleh peserta lain. Dan petunjuk yang ada di hp ketua kelas adalah, info hasil pengumuman ada di mobil salah satu peserta, dan kebetulan adalah mobil milik peserta yang menangis tadi. Otomatis, makin histerislah dia. Sebelumnya saya sudah menempelkan tulisan ucapan selamat pada peserta, bahwa mereka diberikan rekomendasi kompeten dan tulisan itu saya tarus di kaca mobil salah satu peserta.

Bergegas salah satu peserta yang masih kuat hatinya menuju mobil yang terparkir dihalaman, sementara ketiga teman yang lain merubungi peserta yang menangis, berusaha menenangkannya. Beberapa saat kemudian, satu peserta yang tadi lari ke parkiran kembali, berteriak kegirangan sambil menunjukkan kertas yang diambilnya pada teman-temannya. Mereka pun langsung tersenyum, saling bersalaman. Saya biarkan mereka menikmati kegembiraan itu. Setelah tenang, barulah mereka saya kumpulkan kembali untuk saya berikan umpan balik.

Selesai sudah pengumumannya. Dilanjutkan dengan obrolan santai, saya menyampaikan permohonan maaf karena tadi mempermainkan mereka. Saya ungkapkan bahwa permainan itu untuk membuat suasana agak cair, karena seharian muka mereka tegang terus kala ujian. Dan mereka bilang, bukannya cair suasananya, malah tambah deg deg an. Panik, nervous, takut dinyatakan belum kompeten.

Dari jawaban peserta itu, saya coba posisikan diri di posisi mereka. Bisa jadi saya pun akan kesal namun tak bisa menentang, kala pengumuman yang saya tunggu-tunggu tak juga diberikan, malah diminta ini itu dan menunggu lagi. Jadi bahan tertawaan teman-teman kala wajah makin pucat.

Berkaca dari kejadian itu, saya tak lagi membuat aneka macam permainan kala pengumuman. Saya langsung review tugas peserta, memberi kesempatan untuk penilaian diri, lalu pengumuman. Dengan demikian, saya meminimalisir mempermainkan perasaan mereka

Ceria semua setelah dinyatakan kompeten

4 thoughts on “Berhenti Mempermainkan Perasaan Orang Lain

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis