• #15HariNgeblogFF

    Menikahlah Denganku

    Menikahlah denganku. Setiap wanita dewasa pasti bahagia jika lelaki yang dicintainya mengucapkan kalimat itu. Pasti akan langsung mengangguk sebagai tanda setuju karena memang kalimat itu telah lama dinantikannya. Pasti akan segera memeluk lelaki pujaannya, menangis didadanya karena haru akhirnya kalimat yang ditunggu-tunggu itu terucap juga. Pasti akan segera mengabarkan ke dunia “aku dilamar” dengan muka sumringah. Menikahlah denganku. Malam itu kau ucapkan kalimat itu. Malam itu, setahun yang lalu, kau inginkan aku menjadi pendamping hidupmu. Satu-satunya. Selamanya. Malam itu juga kau minta ijin pada kedua orang tuaku, melamarku. AKU MAU! Cukup sekali saja kau tanyakan, dan aku sudah akan langsung menjawab dengan mantap. Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu. Aku ingin berada…

  • #15HariNgeblogFF

    Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

    Aku selalu senang saat kita duduk berdua di taman ini. Ditemani semilir angin dan riuh celoteh anak-anak yang asyik bermain. Meski saling diam. Meski aku hanya berani memandangmu. Meski aku tak pernah cukup ksatria untuk menyapamu. Meski kau tak pernah membalas tatapanku. Meski kau tak pernah berikan senyummu padaku. Ah, memandangmu saja sudah mampu menimbulkan debar kencang di dadaku. Sore ini aku bertekad untuk menyapamu. Sore ini kau harus tahu apa yang aku rasakan. Sore ini kau harus tahu kalau kau telah merebut hatiku. Sore ini kau harus tahu kalau aku telah jath cinta padamu. “Hai, sudah lama?” Hiyaaa akhirnya aku bisa menyapamu! Mengambil tempat duduk di sebelahmu seperti biasanya.…

  • #15HariNgeblogFF

    Inilah Aku Tanpamu

    Disini aku sekarang. Berdiri diatas podium, menghadapi ratusan orang. Aku harus berbicara pada mereka. Aku mewakili mereka semua. Mewakili untuk berbicara tentang kesan-kesanku selama mengikuti pendidikan disini. Aku yang terpilih. Aku terpilih dari sekian ratus peserta. Tentu saja aku bangga. Kuedarkan pandangan. Bersitatap dengan banyak mata yang tertuju padaku. Aku mencari tatapan matamu. Dari atas sini, aku berharap dapat beradu pandang denganmu. Namun tak kutemukan sorot matamu. Kau tak mungkin ada disini. Tapi aku yakin, dari atas sana kau pasti dapat memandangku. Aku yakin kau pasti tersenyum. Kau pasti mengucap syukur. Kau pasti bangga. Predikat cum laude. Lulusan termuda. Inilah aku tanpamu, Ibu

  • #15HariNgeblogFF

    Aku Benci Kamu Hari Ini

    “Besok pagi aku mau sarapan ditempatmu, masakanmu” What!? Kamu kan tahu kalau aku tak bisa masak. Masak air ama mie sih aku ahlinya. Tapi masa, aku hidangkan mie goreng sama kopi aja buatmu besok. Nggak asyik banget. “Tak ada tapi. Aku nggak mau tahu gimana caramu. Pokoknya aku ingin masakanmu. Aku kesitu besok pagi, jam 7” Sambungan telpon kau putuskan. Sebelum aku sempat menolak. Hah, ini sih namanya pemaksaan. Sepanjang malam aku tak bisa tidur. Aku browsing resep-resep masakan untuk menu sarapan. Soto, kayaknya pas banget dimusim hujan kayak gini. Pagi yang lembab jadi terasa hangat. Aku dan kamu biasa menikmati semangkok soto berdua di warung Pak Man yang tak…

  • #15HariNgeblogFF

    Sepucuk Surat (Bukan) Dariku

    Aku mencintaimu? Sudah pasti. Kau mencintaiku? Entahlah. Tak pernah ada kata cinta terucap dari mulutmu untukku. Walau kata sayang dan rindu sering terucap, namun aku masih tak tahu apakah kau mencintaiku. Kau selalu berikan perhatian lebih padaku. Kau selalu ceritakan apapun kegiatanmu padaku. Sedang senang ataupun susah, kau selalu bercerita. Apakah aku sekedar tempat curhat bagimu? Tak apalah, aku senang kok. Aku sudah cukup berbahagia kau mau berbagi denganku. Aku sudah cukup bahagia bisa melihat senyummu mengembang. “Abang!” Teriakanmu menghentikan langkahku. Aku berbalik dan mendapatimu mempercepat langkah menuju ke arahku. “Akhirnya kudapatkan ini!” kau berkata girang sambil melambaikan sebuah amplop putih di depan mukaku. Amplop? Ada amplop artinya ada surat.…

  • #15HariNgeblogFF

    Jadilah Milikku, Mau?

    Menulis surat cinta? Huh, makasih dah! Aku tuh bukan tipe lelaki yang bisa nggombal. Merangkai kata-kata indah. Bikin rayuan dengan kalimat muter-muter padahal intinya cuma mau bilang sayang. Menyebut segala macam nama bunga hanya untuk bilang cantik. Aku terbiasa ngomong langsung, apa adanya. Kalau suka, kubilang suka. Kalau tak mau, aku bilang tak mau. Kalau cantik, kubilang cantik. Kalau memang muka jerawatan, kubilang kasih obat. Aku bisa ngomong ceplas-ceplos ke siapapun. Bahkan pada orang yang baru ku kenal sekalipun. Tanpa malu, tanpa rikuh, tanpa perasaan tak enak. Tapi tidak kalau dihadapan dia. Dia, gadis itu. Tinggi semampai. Hitam manis kulitnya. Jika tersenyum tampak lekukan menghiasi sudut bibirnya, lesung pipit yang…

  • #15HariNgeblogFF

    Dag Dig Dug

    “Sebentar lagi aku sampai” membaca tulisan dilayar hp membuat dadaku berdegup makin kencang. Tanganpun bergetar. Sebentar lagi dia sampai. Sebentar lagi kami akan bertemu. Bergegas aku ganti baju, mematut diri didepan cermin. Eh, kenapa aku jadi salah tingkah begini. Dag dig dug. Menghela nafas panjang untuk menenangkan diri sebelum melangkah meninggalkan kamar kostku. Aku berjalan menuju terminal, sambil bersenandung, untuk mengusir rasa gelisah. Mengusir rasa penasaran. Mengusir grogi karena akan bertemu dengannya. Dag dig dug. Dua tahun menjalin hubungan tanpa pernah bertemu. Saling berbincang, bercanda, melepas rindu hanya dari balik layar. Layar monitor dan layar hp. Dan kini kami akan bertemu untuk pertama kalinya. Dag dig dug. Detak jantung semakin…

  • #15HariNgeblogFF

    Halo, Siapa Namamu?

    Deringan hp membuyarkan keasyikanku menekuni novel dihadapanku. Nomor tak dikenal. Biasanya aku malas mengangkat telpon dari nomor-nomor asing, tapi kali ini entah kenapa aku ingin menjawab telponnya. Hening beberapa saat setelah kutekan tombol hijau di keypad hpku. Tak ada suara, akupun tak berinisiatif untuk mengucap halo, karena bukan aku yang hendak memulai pembicaraan. “Halo, siapa ini?” suara seorang wanita menyapa dari seberang sana. “Lho, tadi anda mau telpon siapa?” kujadi heran, dia yang telpon tapi kok masih nanya siapa aku. “Namamu siapa?” kembali suara diseberang menjawab. “Mbak, baiknya anda perkenalkan diri dulu. Mbak yang menghubungi saya dan saya tak merasa kenal nomor dan juga suara mbak” aku masih mencoba bersikap…