Kesehatan

Cegah Antimicrobial Resistance dengan Bijak Menggunakan Antibiotik

“Nan, mampir klinik sebentar yuk, butuh ketemu dokter nih”

Ajakan teman saat kami usai rapat di gedung utama, sepanjang rapat tadi emang dia berulangkali bersin, berulangkali pula ijin keluar ruangan, mungkin ke toilet. Jadi sebelum kembali ke ruangan, dia mengajak mampir ke klinik kantor yang lokasinya tak jauh dari gedung utama.

Saya pun mengiyakan. Daripada flu nya makin parah, lebih baik saya temani dia ke dokter.

Sampai di klinik, kebetulan tak ada pasien antri, jadi kami bisa langsung ketemu dokternya. Teman saya lalu minta amoksisilin tanpa diperiksa dulu sama dokternya. Hebat betul, pikir saya, sudah tahu obatnya sebelum diperiksa. Sudah biasa, katanya. Dokter kantor menuju ke bilik belakang dan tak lama kemudian keluar membawa apa yang diminta teman saya. Tanda tangan dibuku tanda terima, lalu kamipun meninggalkan klinik.

Dalam perjalanan menuju ruangan, teman saya lalu cerita awal mula dia menggunakan amoksisilin. Dulu dia pernah flu berat, lalu periksa ke dokter. Sama dokter di kasih paracetamol dan juga antibiotik, si amoksisilin ini. Tak lama mengkonsumsi obat dari dokter, flunya sembuh. Sejak saat itu, kalau merasa mulai nggak enak badan, maka dia pergi ke klinik minta amoksisilin. Kadang juga beli sendiri ke apotik buat persediaan.

Saya manggut-manggut aja. Alhamdulillah saya jarang sakit. Kalaupun sakit, saya tergolong orang yang susah minum obat. Nggak bisa minum obat kalau nggak pakai pisang. Makanya, kalaupun sakit, saya ini malas minum obat. Biarin aja, asal banyak makan dan banyak istirahat, ntar juga sembuh sendiri. Begitulah keyakinan saya.

Kalau kamu termasuk yang mana? Langsung beli antibiotik atau kayak saya yang susah minum obat?

Berkaitan dengan antibiotik ini, hari Sabtu 30 November kemarin, saya berkesempatan menghadiri seminar dalam rangka perayaan pekan kewaspadaan antibiotik dunia 2019. Acara seminar dilaksanakan di lantai 7 Gedung Pusat Diagnostik Terpadu, RSUD dr Sutomo Surabaya.Seminar kali ini mengambil tema “Masa Depan Antibiotik Seluruhnya Ada pada Tangan Kita”

pekan kewaspadaan antibiotik dunia

 

Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia

Setiap minggu ke tiga di bulan November diperingati sebagai pekan kewaspadaan antibiotik dunia  (World Antibiotic Awareness Week, WAAW) . Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara paling aktif dalam merayakan pekan kewaspadaan antibiotik ini. Demikian diungkapkan oleh dr. Hari Pararaton saat memberikan sambutan dalam acara seminar. dr Hari Pararaton merupakan ketua tim PPRA di RSUD dr Sutomo. PPRA adalah program pengendalian resistensi antimikroba, merupakan salah satu upaya yang dilakukan RSUD dr Sutomo untuk melakukan pencegahan terhadap meluasnya kasus antimicrobial resistance.

dr Hari Pararaton

Latar belakang adanya WAAW ini adalah tingginya angka Antimicrobial Resistance (AMR) di dunia. AMR adalah suatu kondisi dimana bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik karena penggunaan antibiotik yang berlebihan, bahkan kadang tidak diperlukan.

Nggak percuma saya datang jauh dari Malang ke Surabaya, banyak pengetahuan yang saya peroleh dalam seminar ini. Ada dua pembicara dalam seminar ini, yaitu

  1. Dr. dr. Dominicus Husada yang memaparkan tentang penyakit infeksi
  2. dr. Arief Bahtiar yang memaparkan materi cara agar terhindar dari infeksi

 

Mengenal Penyakit Infeksi

Kedua pembicara memaparkan materinya dengan sangat menarik, dengan bahasa yang mudah dimengerti. Bayangan saya sebelumnya, kalau dokter yang mengisi acara seminar, maka akan banyak istilah asing dan baku dibidang kesehatan yang akan disampaikannya. Nyatanya, anggapan saya keliru. Kedua dokter ini mampu memaparkan materi dengan cara yang menarik, bahkan diselingi dengan guyonan juga.

Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh masuknya makhluk hidup kecil (jasad renik) yang menimbulkan gejala dan tanda pada tubuh yang dimasukinya. Penyakit infeksi ini pada umumnya menular lewat perantara bakteri, virus, parasit maupun jamur. Hanya bakteri yang dapat dilumpuhkan dengan antibiotik.

Sejak tadi bicara tentang antibiotik. Sebenarnya antibiotik itu apa sih?

Antibiotik adalah obat untuk membunuh bakteri. Jadi hanya bakteri yang bisa dilawan dengan antibiotik. Sementara virus hanya bisa dibunuh oleh daya tahan tubuh. Jadi batuk pilek itu nggak butuh antibiotik, karena penyebabnya adalah virus. Untuk menyembuhkan batuk pilek, cukup dengan banyak istirahat dan makan makanan bergizi. Agar tak tertular batuk pilek, maka daya tahan tubuh harus dijaga. Daya tahan tubuh akan menurun biasanya disebabkan oleh stress, kerja malam dan makan makanan yang tidak sehat.

 

Bijak Menggunakan Antibiotik

Kondisi saat ini, antibiotik dalam kondisi bahaya. Karena sejak 30 tahun terakhir, tidak ada antibiotik yang benar-benar baru, semuanya produk lama. Sementara itu, bakteri, yang sekian lama digempur dengan antibiotik yang sama, lama-lama menjadi kebal. Kalau bakteri telah kebal (resisten) terhadap antibiotik, maka akan susah menghadang penyebarannya, penyakit pun akan susah untuk disembuhkan.

Untuk itulah, kita harus bijak menggunakan antibiotik. Antibiotik hanya digunakan jika diperlukan, yaitu untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Dalam penggunaannya, harus berpegang pada lima prinsip, yaitu :

  • tepat obat
  • tepat dosis
  • tepat penderita
  • tepat indikasi
  • waspada efek samping

Yuk, kita ikut berpartisipasi dalam gerakan SADAR antibiotik. SADAR (Sikap Arif Dan Bijak Atasi Resistensi) antibiotik, dengan cara menggunakan antibiotik secara bijak. Jangan pernah membeli antibiotik tanpa resep dokter. Jangan pernah memberikan antibiotik yang tidak lagi Anda gunakan pada saudara atau teman, karena antibiotik itu harus dengan resep dokter. Jadi jangan sembarangan membeli dan menggunakan.

Infeksi seberat apapun bisa ditangani dan disembuhkan, tapi tidak demikian dengan antiresitensi antibiotik. Jadi bijaklah menggunakan antibiotik, harus dengan resep dokter

 

Menghindari Kekebalan Obat

Menurut dr Dominicus, salah satu cara menghindari kekebalan obat adalah dengan tidak mengkonsumsi obat, artinya tubuh harus selalu sehat. Cara agar tubuh selalu sehat adalah dengan menerapkan pola hidup sehat. Pola makan diperhatikan, juga olahraga secara teratur.

Cara kedua yang dapat ditempuh adalah dengan menghindari orang sakit. Kalau dekat-dekat dengan orang sakit, bisa jadi penyakit akan menular pada tubuh kita. Beliau mengingatkan kalau anak sakit, jangan sering-sering ada kontak fisik. Anak sakit di gendong-gendong terus, kalau daya tahan tubuh ibu melemah, bisa jadi si ibu juga akan jatuh sakit. Jangan pernah pula punya pikiran ingin menggantikan posisi anak, berharap sakitnya anak akan pindah ke ibu, karena ini mustahil. Yang ada, anak tetap sakit dan ada kemungkinan ibunya juga akan ikut sakit.

Cara ketiga adalah dengan imunisasi. Ada beberapa penyakit yang memang tak ada obatnya, sehingga tubuh harus diberikan kekebalan supaya tak sampai kena penyakit itu. Misalnya sakit campak, campak itu tak ada obatnya.

Harapannya selalu sehat, tapi nggak mungkin ada kan orang yang sehat terus, sesekali pasti pernah sakit juga, minimal pusing batuk pilek lah. Nah kalau terlanjur sakit dan harus mengkonsumsi obat, maka tetaplah berhati-hati, sebaiknya mengikuti petunjuk dokter. Jangan sembarangan beli obat di warung atau apotik.

Semoga pembaca blog ini sehat terus, sehingga tak perlu mengkonsumsi obat

20 Comments

  • retno

    untung aku termasuk yang ga suka minum obat, kalo sakit makan yang banyak sama istirahat. Kadang sampe dimarahin Pak Su hehehe
    Harusnya acara kayak gini sering sering di adakan di masyarakat, biar masyarakat makin aware dan bisa menggunakannya dengan tepat

  • Merry

    Wah, Mbak mirip sama kakakku, nggak bisa makan obat kalo ga ada pisang. Hahaha. Tapi aku setuju nih sama tulisan Mbak. Penggunaan antibiotik ini memang ga boleh sembarangan, ya. Sayangnya masih saja dijual bebas di apotik. Sebaiknya kan pake resep dokter.

  • bundadzakiyyah

    Duh, saya juga punya nih saudara yang konsumsi antibiotik sembarangan. Mungkin dia belum tahu bahayanya kali ya? Terus kalau antibiotik untuk anak-anak saya enggak kasih, hehehe. Saya coba obati dulu dengan selain antibiotik. Makasih sharingnya mbak Nanik

  • Ucig

    Pak suami jg harus pakai pisang mbaa klo minum obat. Batuk pilek aku jg maunya istirahat tapi kadang butuh cepet sembuh. Aku jadi minum obat. Biar fit urus anak2nya.. mama aku termasuk yg nyuruh pakai antibiotik klo sakit. Noted klo bakteri pakai antibiotik..virus nggak yaa

  • Widyanti Yuliandari

    Duhh…jadi ingat derita masa lalu, waktu sering didera(dugaan) alergi. Dokter sering bgt kasih antibiotik, alasannya, “takut ada kuman yg numpang”. Hingga suatu saat aku alergi antibiotik tertentu, sampai gawat bgt dan harus dilarikan ke IGD. Pokoknya kapok. Walau jadi pasien, tetap kudu kritis.

  • Rachmanita AdindaRara

    Acaranya sangat bermanfaat banget ya kak.. Soalnya emang penting banget buat bisa bijak dalam penggunaan antibiotik nya ini..

  • niaharyanto

    Wah, setuju banget dengan ini. Kita, terutama ke anak-anak, harus bijak dalam hal ngasih antibiotik. Kasian jika nanti tubuhnya malah jadi resisten terhadap antibiotik. Aku nih, kalo anak ssakit, jarang sekali ngasih antibiotik. Sebisa2 pake home Remedy.

  • Rohmahdg

    Informasinya sungguh menarik mbak
    Di tempat kerja aku juga tersedia tuh antibiotik Amoxilin tiap kali ada yg flu.
    Aku nih yg tipe ogah minum obat. Ga enak badan truk diperiksa, obatnya cuman buat formalitas di minum di awal2. Abis itu ga diminum wkwkkw. Sulit banget walau hanya caranya dg konsumsi menggunakan air putih aja bisa hehheee
    Yahh tetep harapannya semoga kita diberikan sehat sehat selalu. Aminn

  • Rahmah Chemist

    Wah andai saya di Surabaya juga waktu itu, bisa kopdar deh jadinya di seminar antibiotik
    Soalnya antibiotik ini tidak jauh jauh dari emak yang punga balita

  • Dian Restu Agustina (@dianrestoe)

    Mbak, aku bersyukur dokter anaknya anak-anakku termasuk tipe yang enggak main kasih antibiotik. Kedua anakku oengidap asma, jadi kalau kena flu bisa parah, tapi dokter memilih obat batuk hitam biasa dan multivitamin dan penguapan lewat hidung. Juga kadang fisioterapi kalau perlu.
    Padahal yang kutahu dokter di luar sana ada yang asal meresepkan antibiotik ini. Juga banyak orang yang asal membeli. Duh

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis

%d bloggers like this: