Inilah Pekerjaanku

Awal hari di pertengahan tahun 2013, pengen nulis yang ringan aja. 30 menit menjelang jam pulang kantor. Jadi nggak bisa nulis yang harus pakai banyak mikir.

Lha, biasanya juga kan tulisan ringan?

Hmm… iya juga sih, tapi kali ini kayaknya yang paling ringan diantara yang ringan. Klo ga percaya, ntar coba deh ambil timbangan, trus timbanglah tulisan ini dan bandingkan dengan tulisan2 terdahulu.

Eaaa mulai ngelantur deh.

OK lah, daripada makin ngelantur, kita mulai saja.

***

Ini sekelumit perbincangan diriku dengan beberapa kenalan baru, sesama penumpang kendaraan umum, sesama penunggu di ruang tunggu atau di antrian. Sesama pengguna dunia maya. Dan yang pasti, sesama manusia. Nggak persis kayak yang aku tulis sih, kan aku ambil intinya aja, biar nggak kepanjangan.

“Kerja dimana, mbak?” Ini biasanya pertanyaan orang klo aku bilang aku ini pekerja

“Ngajar” ini biasanya jawabanku.

“Ngajar TK ya?”

“Bukan”

“SD?”

“Bukan”

“Klo gitu SMP atau SMA?”

“Bukan juga”

“Terus ngajar apa dong”

“Guru”

“Lha iya, guru apa?”

“Guru macam-macam”

“Tadi katanya bukan guru TK, SD bukan, SMP dan SMA juga nggak. Terus guru apa dong”

“Guru”

“Lha iya guru apa, mbak?” Sampai sini, biasanya lawan bicara mulai hilang kesabaran. “Oh, saya tahu. Mbak ini dosen ya?” tapi masih mencoba untuk menebak.

“Bukan. Saya ini pengajar”

“Ah, mbak ini membingungkan” Lawan bicara udah mulai frustasi. “Nyerah deh. Sebenarnya mbak ini guru apa sih?”

“Guru”

“Lha iya guru apa? TK, SD, SMP, SMA, SMK atau apa?”

“Gurunya guru”

Sampai sini biasanya lawan bicara langsung diam. Dikiranya saya agak nggak waras kali ya. Tapi kadang ada juga yang minta penjelasan lebih.

***

Jadi, sodara-sodara… saya ini kerjaannya memang mengajar. Tugas utama saya adalah mengajar guru-guru (Kadang juga calon2 guru). Klo nama kerennya sih widyaiswara. Saya kerja di sebuah instansi pemerintah, yang memang tugas utamanya adalah menyelenggarakan pelatihan untuk guru. Pelatihannya sendiri ada yang dibiayai pemerintah pusat, ada juga yang kerja sama dengan pemerintah daerah.

Sekian penjelasannya.

Sudah waktunya pulang kantor.

Anak-anak dan suami dah menunggu di rumah.

Bye… bye…

10 Comments

Add a Comment
  1. Hehe..memang agak aneh terdengar ya mbak, gurunya guru…dengan kata lain masternya guru ::)

    1. Agak gimana gitu rasanya klo mengatakan “gurunya guru”
      Ntar dikira menyombongkan diri

  2. kalau pertanyaan orang-orang itu dijawab “widyaiswara”, mereka tambah bingung kali mbak 🙂

    1. hehehe iya kali.
      itulah makanya saya lebih suka bilang klo pekerjaan saya ini mengajar 🙂

  3. gurunya guru…. ngajar guru mungkin lebih gampang ya mbak Nik ?

    1. hhmmm… kayaknya iya Kang, ngajar guru, lebih enak didengar

  4. Sugeng siang bu guru para guru eh maha guru, [dari pada pengajar tukang ngajar ntar dikira kekerasan dalam pekerjaan] loh Jeng Naniek. Salam

    1. hehehehe…. pengajar ama penghajar memang dekat ya

  5. Ooooh, semacan mentraining gitu ya, Bund.
    Pantesan sering terbang kesana kemari. .. :mrgreen:

    1. iya semacam itu lah 🙂
      alhamdulillah bisa keliling nusantara tanpa mengeluaran biaya dari kocek sendiri

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis