Parenting

Keceriaan Anak-anak Kala Bermain di Sawah

Hari Sabtu, 14 September, saya libur kerja, suami juga sengaja nggak ke sawah, niatnya nemenin anak-anak main di rumah. Pagi saya dan anak-anak ke pasar, belanja mingguan plus cari jajan pasar. Lanjut, suami yang masak, sementara saya menemani anak-anak bermain. Usai masak dan sarapan, gegoleran aja berlima di depan tv. Santai…

Usai dhuhur, si bungsu tidur siang, sementara kedua kakaknya mulai asyik dengan gadgetnya, suami juga demikian. Wah, nggak boleh dibiarkan kelamaan ini mereka bertiga asyik dengan gadget masing-masing. Saya pun mengusulkan, buat jalan-jalan ke sawah aja, nanti setelah di bungsu bangun.

Jam 2 an, si bungsu bangun, dan langsung antusias begitu dibilangin mau di ajak ke Sawah. Usai persiapan bekal baju ganti, karena anak-anak berencana mandi di sawah, kami pun berangkat.

Namun perjalanan ke sawah tidak mulus. Menjelang sampai sawah, tinggal 5 kiloan, jalanan macet. Jalanan kampung gitu, rame banget karena di kampung itu besok mau ada acara gerebek suro, acaranya sih pawai budaya. Di pinggir jalan ada beberapa truk dan juga warga yang memasang sound system di bak truk, penuh di bagian belakang. Ada yang sudah mulai uji coba dan membunyikan musik jedag jedug, pas kami lewat sampingnya, mobil sampai terasa bergetar.

sound system karnaval

Hingga sampai di satu titik, mobil nggak bisa bergerak, sampai lama. Akhirnya suami memilih untuk putar balik. karena arah yang berlawanan, sepi kondisi jalannya. Dengan di bantu beberapa warga yang mengarahkan sepeda motor untuk berhenti, kami bisa berputar balik. Saat berbelok memutar balik inilah, saya sempat melihat, ternyata di depan ada dua truk penuh dengan peralatan sound system, dalam arah berlawanan, terjebak karena masing-masing bagian belakangnya melebar, jadi nggak muat untuk bersimpangan.

Kalau putar balik, nggak jadi ke sawah dong?

Iya, anak-anak sudah kecewa karena dikiranya nggak jadi ke sawah.

Tapi kan kita nggak kurang akal. Akhirnya cari jalan lain, memutar memang dan jadinya lebih jauh. Tapi akhirnya sampai juga di sawah.

Niatnya di sawah, no gadget, tapi kan tetap butuh juga buat foto-foto hehe…. Babang segera asyik dengan pencariannya pada belalang dan aneka serangga, sementara kakak dan si bungsu kompak bikin vlog. Suami bersih-bersih gubuk, sementara saya ngawasi anak-anak.

Senengnya kalau nemu belalang

Emaknya seneng nemu bayam segar

Para penjaga pepaya, jangan coba-coba metik ya…

Mulsa sudah dipasang, tapi belum bisa tanam karena tanahnya kering

Babang sudah pengen pulang, kedua adiknya masih pengen bergaya

Berhubung lama tak turun hujan, saluran irigasi juga sudah tak ada airnya, jadi tanah di sawah ini sudah kering. Ada untungnya juga sih, anak-anak jadi bisa berlarian tanpa kuatir menginjak tanaman, karena memang belum ada yang di tanam. Asal jangan menginjak mulsa, kalau sampai kejadian, bisa kena teriakan papanya.

Menjelang maghrib, kami pulang. Di mobil, saya coba menggali bagaimana perasaan mereka saat beraktivitas di sawah tadi. Mereka bilang seneng, karena sawahnya kering, jadi bisa buat larian-larian.

Memang bukan kali ini saja saya ajak anak-anak ke sawah, pernah saat musim hujan, eh malah asyik mandi hujan. Pernah saat musim tanam, pernah pula saat masa panen. Saya berharap, dengan sering mengajak ke sawah, mereka akan punya rasa empati terhadap para petani. Eh, padahal kedua orang tuanya juga petani. Ya, biar mereka ngerti lah, untuk bisa jadi duit itu prosesnya lama.

Baca Juga Mengajarkan Anak Mencintai Alam dengan Bermain di Sawah

Biar mereka lebih menghargai juga makanan yang selama ini mereka konsumsi. Bahwa makanan itu tidak hadir tiba-tiba, tapi melalui proses yang panjang. Ada keringat petani yang kepanasan, juga keluh kala kehujanan.

Bermain di sawah, tak sekedar bermain. Namun anak-anak juga bisa belajar tentang banyak hal di kehidupan mereka. Semoga saja dengan itu, mereka tumbuh menjadi pribadi yang memegang erat filosofi padi, makin berisi makin merunduk.

19 Comments

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis

%d bloggers like this: