Keluarga, Titik Awal Suksesnya Gerakan Literasi Nasional

Gerakan literasi nasional mulai didengungkan oleh pemerintah sejak tahun 2017. Dulu, saya tahunya gerakan ini diberlakukan di sekolah dengan cara memberikan kesempatan pada siswa untuk membaca buku 15 menit sebelum pelajaran di mulai. Bukunya bebas, tidak harus buku pelajaran sekolah. Namun sekolah banyak memiliki kendala, yaitu terbatasnya bahan bacaan di perpustakaan sekolah.

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti sebuah pelatihan dan salah satu materi yang dibahas adalah masalah gerakan literasi nasional. Ternyata, gerakan literasi nasional itu bukan cuma arahan untuk membaca saja lho, ternyata macamnya ada banyak.

6 literasi dasar gerakan literasi nasional

  1. Literasi baca tulis adalah melek pengetahuan dan kemampuan membaca dan menulis, mencari, menelusuri, mengolah dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan bahasa dan sastra secara cendekia.
  2. Literasi numerasi adalah kemampuan menggunakan berbagai macam angka dan simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari. Literasi numerasi juga berkaitan dengan kemampuan menganalisis informasi dan mampu mengolahnya ke dalam berbagai macam bentuk presentasi numerasi (grafik, tabel, bagan, dan sebagainya).
  3. Literasi sains adalah kemampuan untuk menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, menarik kesimpulan dalam rangka memahami serta membuat keputusan yang berkenaan dengan alam.
  4. Literasi digital adalah kecakapan (life skills) yang tidak hanya melibatkan kemampuan penggunaan perangkat teknologi, informasi dan komunikasi semata, tetapi juga kemampuan bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, maupun memiliki sikap, berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital.
  5. Literasi finansial adalah kemampuan untuk memahami bagaimana uang berpengaruh di dunia (bagaimana seseorang mengatur untuk menghasilkan uang, mengelola uang, menginvestasikan uang dan menyumbangkan uang untuk menolong sesama).
  6. Literasi budaya dan kewargaan adalah kemampuan untuk memahami, menghargai dan berpartisipasi secara mahir dalam budaya.

Apa manfaatnya kalau kita menguasai keenam macam literasi itu? Bisa dilihat di infografis berikut ini

Menjadi literat di abad ke 21

Kesuksesan gerakan literasi nasional ini tentunya tak lepas dari pelaksanaan gerakan literasi dalam keluarga. Sebagai warga negara yang baik, tentunya saya pun ingin ikut mensukseskan gerakan literasi nasional ini. Beberapa hal yang sudah keluarga saya lakukan adalah :

Membiasakan membacakan buku sejak anak-anak masih bayi

Sejak anak-anak masih bayi, selalu saya sempatkan membaca buku kala menemani mereka tidur. Walau belum mengerti apa yang saya baca, tapi saya tetap berusaha membacakan dengan suara keras dan intonasi yang berubah-ubah. Butuh perjuangan memang. Kadang saya yang malah tertidur, sementara di bayi masih melek dan bergulingan ke sana kemari.

Kakak dan babang bergantian membacakan buku untuk adek okto

Baca juga : Menularkan Virus Membaca pada Anak

 

Menyediakan fasilitas berbagai macam bacaan untuk anak-anak

Karena sejak bayi sudah dibiasakan dibacakan buku, akhirnya anak-anak menjadi anak yang gemar membaca. Oleh karena itu, saya pun berusaha memfasilitasi bahan bacaan yang baik isinya dan sesuai dengan usia mereka. Biasanya sebulan sekali saya ajak anak-anak ke tokok buku, saya bebaskan mereka memilih buku yang akan di belinya.

Jika mereka ingin mengetahui sesuatu dan di buku bacaannya tidak ada, maka saya ajarkan mereka untuk mengakses internet dan mencari informasi yang dibutuhkan.

Surga belanja anak-anak

Mengenalkan teknologi sejak dini

Anak-anak harus di didik sesuai dengan jamannya. Jaman milenial ini, tentunya anak-anak harus juga dikenalkan dengan teknologi. Mengoperasikan laptop dan hp tak ada masalah bagi mereka, mereka pun telah mampu memanfaatkan teknologi untuk mencari informasi yang mereka butuhkan. Tentu saja pendampingan dari orang tua pun masih diperlukan karena usia mereka yang masih dini. Jangan sampai mereka mendapatkan informasi yang salah dan menyesatkan.

literasi digital

Memanfaatkan laptop untuk belajar logika pemrograman

Baca Juga : Kala si Bocah Melek Internet

 

Mengenalkan pengelolaan uang

Anak-anak saya ajarkan bahwa mereka tak bisa langsung memiliki sesuatu yang mereka inginkan saat itu juga. Ada proses yang harus di lalui. Misal mereka ingin beli buku atau mainan, saya jelaskan bahwa jika ingin memiliki buku/mainan itu maka harus di beli dengan uang. Uang tak bisa datang sendiri, mama papanya harus bekerja untuk memperoleh uang tersebut. Begitu memperoleh uang, tak boleh langsung dibelanjakan ini itu, ada yang harus ditabung karena kita tak tahu apa yang akan terjadi di hari-hari esok. Siapa tahu tiba-tiba sakit, jadi butuh biaya untuk berobat. Siapa tahu tiba-tiba harus mudik ke rumah kakek neneknya, tentu saja butuh biaya.

Saat hari raya kan biasanya anak-anak dapat angpao, masing-masing saya sediakan dompet untuk menyimpan uangnya. Saya persilakan setengahnya bisa di belikan apa yang mereka mau, setengahnya lagi harus tetap tersimpan di dompet itu.

Menyediakan waktu untuk berdiskusi dan menjawab pertanyaan anak-anak

Saat membaca buku, kalau mereka menemukan sesuatu yang tak di pahami, mereka akan bertanya pada saya. Sedapat mungkin saya akan jawab pertanyaan mereka. Kalau saya sudah lupa, atau tak tahu jawabannya, kami sama-sama mencari jawabannya dengan berselancar di internet. Dan pertanyaan anak-anak itu sering membuat saya terdiam sebelum memberikan jawaban. Misalnya

“Albino itu apa? Kenapa orang bisa albino?

“Kromosom itu apa?”

“Kenapa di Jepang ada salju dan di negara kita tidak ada?”

“Kenapa bunga itu bisa tumbuh dalam botol, kan tidak ada tanahnya?”

Dan masih banyak lagi. Secara tidak langsung kami belajar tentang berbagai fenomena alam.

literasi sains

Mengamati ikan hasil tangkapan di sungai

Baca Juga : Belajar dan Bermain di Sawah

***

Itulah beberapa hal yang biasa keluarga kami lakukan. Membiasakan budaya literasi pada anak-anak. Semoga dengan kemampuan literasi yang baik, akan membuat mereka memiliki pemahaman yang luas dalam berbagai bidang, yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi mereka menjalani kehidupan di masa kini dan masa mendatang

26 Comments

Add a Comment
  1. aku juga sedang mencoba membiasakan membacakan buku buat anakku yg masi kecil.
    semoga bisa jd gemar membaca nantinyaa.. 🙂

    1. Amiin… semoga sukses mbak

  2. Kula nuwun Jeng Naniek…muaaff lama tak berkunjung.
    Yuup Jeng, dimulai dari rumah saat mereka dini. Halo Okto, Nayla dan Satria.

  3. Aku paling suka skrg byk bazaar jual buku murah terutama impor kayak bbw, soalnya gegara buku mahal byk ortu yg malas beliin anaknya buku… padahalbagus bgt kl anak2 diperkenalkan membaca buku dr kecil…

  4. Membiasakan anak gemar membaca itu awal-awal mudah karena memang saya banyak membaca. Namun akhir-akhir ini saya jarang baca jadilah anak pun nggak mau membaca lagi. Mengakalinya dengan ngasih komik.

  5. betul sekali, mesti dimulai dari keluarga. Ada anak di tempat tinggal saya yang berbahasa Indonesia bagus banget, ni anak emang dibiasakan ama ortunya tuk berbahasa yang baik. Sayangnya, para tetangga dengarnya geli-geli gimana gitu, maklum aja gak biasa dengar orang-orang berbahasa Indonesia yang baik.

  6. Betul anak harus melek literasi ya tak hanya baca tulis tapi juga literasi numerasi, digital dan lain-lain sebagai bekal mereka kelak jadi pribadi yang mandiri..

  7. betul kak. runah adalah lingkungan pertama yg dikenal anak. kebiasaan anak pun dimulai dadi rumah. itulah mengapa jadi orang tua kudu wajib doyan baca buku agar anak meniru dg suka hati

  8. aahhh jadi 6 itu termasuk yg penting yaa.. aku untuk sains nih kurang ngajarinnya juga sih karena gak tahu kalau memang sepenting itu, hiks

  9. Bener nih, keluarga adalah pendidikan usia dini yang tepat bagi anak2nya. Seperti mengenal hobi membaca dan menulis, juga dari lingkungan keluarga ya mba.

  10. Setuju banget mbak, keluarga nih yang paling berperan menciptakan kebiasaan soial literasi atau membaca ini. Anak melihat ortu yaa pastinya. Mereka akan mencontoh kebiasaan ortu salah satunya kalau ortu suka baca biasanya anak suka baca jg.

  11. Rach Alida Bahaweres

    Aku juga memulai literasi alias belajar membaca ke anak sejak masuk SD sih pada khusuusnya. Tapi kesukaan dia berinteraksi dengan buku sudah aku ajarkan sejak sebelum SD

  12. wah, aku juga baru tahu mbak, aku kirain literasi itu ya baca buku gitu. Ternyata banyak juga cabangnya ya. Dan emang seh keenamnya sangat erat dengan kehidupan kita dizaman sekarang ini. Kalau gak diajari sejak dini, nanti anak-anak kita bisa ketinggalan jauh.

  13. Setuju sekali mba, keluargalah yang bisa menyukseskan gerakan literasi anak.

  14. Yup setuju. tingkat literasi ini juga sangat bergantung pada keaktifan dan keterlibatan orang tua. Kalau orang tuanya saja malas, gimana anaknya bisa literate.

  15. Membiasakan membaca pada anak itu memang harus dimulai dari kita sendiri dan sejak dini agar terbiasa.

  16. Anakku lagi belajar baca, secara mau masuk sd. Di rumah mau ngajarin kayak mak nanik serasa ga sanggup hikz. Jadi sebisaku dibantu guru.

    Paling skrg lagi beli buku cerita pendek biar dia ngulang2 mak

  17. Itulah kenapa di kitab suci pun kita diperintahkan “iqro” ya, mba.
    Banyak sekali manfaat yang didapat!

    Ternyata literasi itu, pengertiannya sangat luas dan dalam.
    Dulu aku pikir cuma gemar membaca saja lho.

  18. Wah, sama mb… Dulu saya tahunya juga literasi itu hanya berkaitan dengan bahasa dan tulisan saja, ternyata mencakup banyak hal…

  19. Bener banget. Semua hal memang berawal dari keluarga lebih dulu. Dulu di rumahku juga pada suka baca. Tapi begitu internet marak, turun deh semangatnya. Akunya juga kali ya kurang ngasih contoh.

  20. Semoga kemampuan literasi anak-anak tidak luntur dengan adanya teknologi.
    karena banyaknya buku digital, jadi anak-anak tidak terbiasa lagi mencari referensi melalui buku.

    Senang sekali dapat inspirasi cerita keluarga literasi dari kak Nanik.

  21. Keluarga memang selalu menjadi yang utama membentuk anak-anak. Dan paling berperan utama adalah ibunya, ini yang selalu aku ingat dari belajar parengting. Dari sekarang saya sudah membiasakan anak saya belajar membaca, walaupun masih suka dieja.

  22. Aku baru tahu nih Mak kalau ada literasi numerasi. Selama ini persepsiku kalau masalah literasi hanya berhubungan dengan huruf saja. Ternyata ada juga dalam hal angka.

  23. Saya termasuk yang suka baca waktu kecilnya, mungkin karena ortu selalu belikan buku jadi kebiasaan dan kecanduan untuk baca hehehe gerakan literasi nasional ini bagus banget, karena benar-benar bisa menumbuhkan minat baca anak-anak dengan cara pembiasaan 😀

  24. Masalah literasi ini memang bener-bener perlu peran dr ortu. APalagi jaman digital kayak gini, distraksinya banyak banget kalau nggak pandai me-manage dengan baik. Iya sih, anak harus kenal gadget, tapi tetap harus dibatasi dan diarahkan ya, Mbak. Karena sebenarnya banyak hal positif juga dari gadget ini. Ya kita gak bisa denial terus memang jamannya sudah gitu. Tinggal bagaimana mengarahlannya saja.

  25. PR ku masih banyak nih… terutama ngajarin pengelolaan uang.. biar anak2 juga pinter ngatur keuangan.

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis