Lagu yang Membuat Merinding

Padamu negeri kami berjanji

Padamu negeri kami berbakti

Padamu negeri kami mengabdi

Bagimu negeri jiwa raga kami

***

Cuma 4 baris. Singkat sekali lagu ini. Tapi setiap kali menyanyikannya, entah kenapa aku merasakan tubuhku merinding, jantung berdetak lebih cepat, suara bergetar dan mataku jadi berkaca-kaca. Seperti juga pagi ini, kala aku menyanyikannya dalam upacara memperingati hari pendidikan nasional.

Tak hanya lagu ini, setiap kali menyanyikan lagu indonesia raya dan juga syukur, aku selalu merasakan hal yang sama. Entah kekuatan lagunya, atau suasananya.

Salut untuk para pencipta lagu tersebut. Dengan syair yang singkat, namun pesannya dalam, dan bisa menggetarkan jiwa orang yang melantunkannya.

Comments

Add a Comment
  1. Sepakat, mbak. 🙂

  2. Sama bun apalagi kalo musik pengiringya orkestra gitu tambah bikin merinding dan bisa sampe nangis kalo bener2 dihayati beneran niy aku pernah nangis gara2 lagu ini waktu upacara di kantor hehe untung ga ada yg ngeh 😀

    1. bukan nggak ngeh, tapi mereka juga merasakan hal yang sama 🙂 dan saling menyembunyikannya (mungkin)

  3. apakah para penguasa tidak pernah menyanyikan lagu ini mbak Nan ??

    1. pasti pernah.
      Tapi kan sudah terlalu banyak hal negatif yang menutupi hati nuraninya, sehingga tak tersentuh sama sekali. Atau, kalaupun tersentuh, sengaja mengingkarinya 🙂

      1. iya nbak Nik…
        nurani sudah tidak di dengar, hanya ikuti nafsu dan angkara…
        kacau dueh hahaha

      2. padahal sekarang setiap kali mengawali suatu acara kayaknya dah mulai dibiasakan mengumandangkan lagu indonesia raya, sebagai bagian pendidikan karakter bangsa.
        Tapi yah, lagu sekedar lagu mungkin

      3. ya itu tadi mbak, balik lagi ke nurani,,, hehe…

  4. walah mbak hari pendidikan nasional tho…hehehe lali je…dah lama nggak ikut upacara soalnya..
    semoga pendidikan dinegeri tercinta ini makin bagus, dan nggak mahal…:)
    lagu padamu negeri kalo dihayati emang menyentuh banget..semoga para pemimpin negeri ini juga idem kayak gitu yah..jadi bakti kepada negeri lebih diutamakan daripada untuk golongan 🙂
    * udah ah kabor…lama lama komennya kemana mana.:)

    1. Ntar kalau Kinan dah sekolah pasti bakal ingat hari ini terus, soalnya mesti siapin Kinan buat ikut upacara bendera 🙂

  5. Ya ampun Mbak…
    Gara-gara udah jadi kuli pabs, malah ingetnya 1 May melulu alias MayDay Hari Buruh.
    2 Mei hari pendidikannya malah lupa.
    tapi Lagu Bagimu Negeri ini belum lupa dari ingatan kok. Bener maknanya dalem banget

    1. hihihi jaman sekolah 2 Mei upacara bendera
      setelah kerja, 1 mei berdemo *ups

  6. Sebagai pramuka, pendidik, dan pencinta alam lagu ini sangat akrab di telinga saya. Dan setiap kali menyanyikannya selalu membuat darah mendesir-desir aneh. Selain lagu ini, hala sama juga terjadi pada lagu “syukur”-nya Husein Mutahar

    1. kalau lagu syukur, efeknya lebih dahsyat lagi bagi saya. Air mata nggak bisa dibendung lagi, jadi pasti langsung terisak-isak

  7. setujuuuuu…..
    apalagi lagu syukur….
    kalau udh nyanyi lagu wajib begini
    selalu menjadi lbh cinta Indonesia

    1. kalau menyanyikan lagu syukur, dijamin air mata langsung mengalir

  8. Saya juga begitu Mbak, merinding tiap lagu-lagu kebangsaan di kumandangkan. Kayaknya sekolah telah berhasil mengindoktrinasi cinta tanah air kita ya?

    1. sepertinya begitu, dan semoga saat tak duduk dibangku sekolah pun, rasa cinta tanah air ini tetap membara

  9. lagu2 kenangan pas SD,…
    tapi di atas2 lagu2 ini dah jarang kedenger T_T

    1. sekali-sekali harus ikut upacara bendera lagi, paling nggak setahun sekali, 17 agustus

      1. ide yg bgus tuh,..
        ahahaha

  10. apalagi yg tinggal di luar tanah air mbak, denger lagu ini tidak hanya merinding tapi langsung menangis terharu

  11. dalam menyanyikan lagu ini sadar tidak sadar kita tau benar apa maksud dari lagu ini…

    walaupun tanpa iringan apa-apa kl kita melafadzkannya sesuai intonasi yg ditentukan, kita bisa merasakan.

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis