WisataKu

Mengelilingi Lawang Sewu dalam 30 Menit

November 2018, saya mendapat tugas ke Semarang selama 3 hari. Berangkat siang dari Juanda, mendarat sekitar pukul 3 sore di bandara Achmad Yani, Semarang. Dari bandara menuju hotel, saya naik grab menuju hotel tempat kegiatan. Grab nya mau jemput di terminal kedatangan, dengan catatan saya mau menambah 20 ribu sebagai “biaya keamanan”.

Beruntung dapat sopir yang mengerti seluk-beluk kota Semarang. Dia menjelaskan apa saja yang bisa saya lakukan di semarang di sela-sela bertugas, tempat wisata yang layak dikunjungi dan juga aneka kulinernya. Lawang Sewu, Masjid Agung, Klenteng Sam Po Kong adalah tempat-tempat yang direkomendasikan untuk dikunjungi. Sementara untuk kuliner, dia menyarankan untuk mencoba lumpia Mbak Lien.

Berhubung jadwal saya padat, saya tak sempat berkeliling kota Semarang. Pada hari kedua, usai makan siang, saya sempatkan kabur sejenak menuju Lawang Sewu yang letaknya tak begitu jauh dari tempat kegiatan.

Untuk masuk ke Lawang Sewu, saya di kenakan tarif 10 ribu. Tarif untuk umum dewasa 10 ribu, sementara untuk pelajar dan anak-anak 5 ribu. Murah banget menurut saya.

Tiket masuk sudah pakai barcode, jadi setelah dapat tiket, sebelum masuk lokasi, tiket di scan dulu sama petugas. Bagus juga pengelolaannya, supaya terdata dengan baik berapa pengunjung Lawang Sewu setiap harinya

Lawang Sewu dibangun pada tahun 1904, merupakan gedung yang diperuntukkan bagi kantor pusat perusahaan kereta api pertama Hindia Belanda. Pembangunan selesai pada tahun 1907. Bangunan Lawang Sewu di desain oleh Prof Jacob K Klinkhamer dan BJ Oendang.

Karena waktu saya singkat, saya tidak memasuki semua ruangan yang ada. Lagian ruangannya mirip, dan banyak yang kosong. Beberapa ruangan di fungsikan sebagai museum, tempat memajang barang-barang yang berhubungan dengan sejarah perkembangan kereta api di Indonesia. Terdapat pula ruang diorama.

Setiap ruangan, rata-rata memiliki pintu lebih dari 4. Ada pintu masuk dan keluar ke lorong, ada pintu keluar masuk ke ruangan lain. Apakah jumlahnya benar mencapai 1000? Entahlah, saya tak cukup iseng untuk menghitungnya.

Di gedung utama, akses menuju lantai 2 di tutup. Sementara di gedung yang bagian samping, pengunjung diperbolehkan naik ke lantai 2. Di gedung ini juga ada ruang bawah tanah, namun aksesnya di tutup.

Jika lelah berkeliling, atau sudah mulai salah-salah menghitung jumlah pintunya, bisa mampir isi perut dulu. Nggak perlu keluar kompleks, karena di dalam komplek Lawang Sewu sudah tersedia gerai makanan cepat saji.

30 menit, cukup lah buat saya sekedar melihat-lihat beberapa ruangan dan mengambil beberapa gambar. Karena banyak ruangan yang sama dan kondisinya kosong, jadi membosankan menurut saya.

23 Comments

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis

%d bloggers like this: