Menghadiri Pernikahan di Era New Normal

pengantin era new normal

Banyak pasangan yang terpaksa menunda acara pernikahan di masa pandemi Covid-19 karena menghindara acara kerumuman yang berpotensi memperbanyak penyebaran virus Corona. Setelah memasuki era new normal, nyatanya masih banyak juga yang menundanya. Karena walau sudah massuk era new normal, tetap ada pembatasan dan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Minggu, 14 Juni, saya berkesempatan menghadiri acara pernikahan di era new normal.

Maju Mundur Mau Berangkat

Calon pengantin lelaki adalah saudara jauh suami, biar mudah sebut aja keponakan, tinggal di Pasuruan, sendirian. Orang tua dan semua saudara tinggal di Bengkulu. Calon pengantin perempuan tinggal di Malang.

Lamaran telah lama dilakukan, rencana pernikahan adalah bulan April, sebelum puasa. Namun karena pandemi Covid-19, akhirnya di tunda. Menunggu kondisi normal supaya keluarga dari Bengkulu bisa datang.

Memasuki era new normal, pihak perempuan mendesak agar pernikahan segera dilangsungkan, akhirnya disepakati 14 Juni. Namun kondisi belum memungkinkan pihak keluarga calon pengantin lelaki datang ke Malang, sehingga semua dipasrahkan pada suami untuk mengurus.

Tadinya, mengingat acaranya hari Minggu, ART saya libur sehingga nggak ada yang menjaga anak-anak, kami sepakat suami saja yang datang ke acara akad nikah. Tiga hari sebelum hari H, ponakan sudah ada di rumah saya, dan meminta saya untuk bisa hadir juga. Karena ternyata nggak cuma akad nikah, tapi dia bawa barang-barang hantaran juga.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya sanggupi untuk ikut ke acara pernikahan. Rencananya Toto mau dititipkan di rumah ART yang kebetulan jaraknya cuma 3 rumah dari rumah saya. Kalau Kakak dan Babang nggak masalah ditinggal berdua saja di rumah, sudah bisa mengurus dirinya masing-masing.

Tapi Toto nggak mau dititipkan di rumah ART, katanya ada Corona jadi nggak mau pergi ke sana. Dia bilang papa aja yang ke manten, mama di rumah.

Karena sudah menyanggupi untuk datang, dan Toto nggak mau di tinggal, akhirnya Toto kami ajak. Tentu saja dengan persyaratan ketat. Toto pakai masker, disana nggak boleh salim, nggak boleh disentuh orang. Kami juga membawa baju ganti, tissue basah, hand sanitizer serta masker tambahan buat pengganti.

Acara Pernikahan Minim Protokol Kesehatan

Kami berangkat jam 8, sementara acara akad nikah direncanakan jam 10. Harus berangkat awal karena calon pengantin lelaki harus dirias. Tadinya saya suruh dia berangkat duluan aja, tapi nggak mau.

Sampai di rumah calon pengantin wanita, rumahnya sepi. Alhamdulillah. Tak ada tanda-tanda ada acara besar disana. Hanya ada beberapa orang yang menyelenggarakan acara khataman, membaca Al Qur’an. Beginilah tradisinya di Malang, sebelum akad nikah ada acara khataman.

Makin siang, tamu makin banyak. Rumah jadi penuh. Tamu-tamu, yang masih saudara calon pengantin perempuan, nggak pakai masker. Banyak yang bawa anak kecil. Kami jadi terlihat aneh.

Tuan rumah berulang kali mempersilakan Toto untuk bergabung dengan anak-anak lain. Toto nggak mau dan tetap nempel pada saya. Karena rumah semakin penuh, nggak memungkinkan untuk jaga jarak, kami memilih keluar dan duduk di teras.

Di teras, ada kursi pelaminan sederhana, sepi. Katanya sih, walau nggak ada tamu, sengaja tetap ada kursi pelaminan. Buat foto-foto saja, sebagai kenangan. Bapak si calon pengantin perempuan yang mempersiapkannya, sambil berulang kali menangis sedih karena pernikahan putri pertamanya berlangsung dalam suasana sepi.

Toto sudah mulai kegerahan, karena sepi, saya ijinkan dia melepas maskernya.

Menyaksikan Akad Nikah lewat Video Call

Jam 10 lewat 15 menit, penghulu datang. Pakai masker. Begitu melihat kerumunan dan dalam rumah, dia meminta orang-orang untuk keluar. Pak penghulu bilang, kalau nikahnya di rumah cuma boleh 10 orang yang boleh hadir. Kalau dilaksanakan di gedung, yang hadir boleh sampai 30 orang.

Tamu-tamu yang di dalam rumah pun sebagian keluar. Turun ke halaman, sebagian ngobrol dan merokok di tempat parkir motor. Beberapa ada yang pindah duduk ke teras, di dekat saya. Saya pun meminta Toto untuk memasang kembali maskernya, untungnya Toto ngikut dan nggak protes.

Acara pun di mulai. Di awali sambutan oleh perangkat desa, dilanjutkan dengan acara akad nikah. Sebelumnya penghulu mengenakan sarung tangan dan meminta calon pengantin lelaki untuk memakai sarung tangan juga. Pak penghulunya ingin meminimalisir kontak.

Saya kebagian duduk di depan pintu, memegang hp. Hp dari pengantin lelaki.

akad nikah era new normal

Berkat kemajuan teknologi, orang tua pihak lelaki yang nggak bisa datang ke Malang, tetap bisa melihat prosesi akada nikah secara langsung.

Saya nggak sempat mengabadikan acara akad nikah, karena tangan kanan memegang hp untuk video call, sementara tangan kiri dipegangi terus sama Toto.

Usai acara, sebelum berpamitan, penghulu menanyakan tempat untuk mencuci tangan. Beliau lalu diantarkan oleh pemilik rumah menuju kamar mandi.

Selesai acara akad nikah, dilanjutkan acara foto bersama. Saya sebenarnya sudah pengen ngajak pulang, tapi suami meminta foto dulu buat kenang-kenangan. Akhirnya menunggu antrian keluarga yang ingin berfoto habis, barulah kami berfoto bersama pengantin. Buka masker sebentar. Selesai berfoto, masker di pakai lagi. Toto nggak mau diajak berfoto, jadi nungguin aja di depan kami.

pernikahan era new normal

Usai berfoto, kami pulang. Sampai rumah, langsung gantian mandi, terus makan. Di sana tadi kami belum makan. Sebenarnya dipersilakan untuk makan juga sih, tapi karena makannya prasmanan kami memilih untuk tidak makan. Cuma minum dan makan kue saja.

Begitulah pengalaman saya menghadiri pernikahan di era new normal. Ini juga pertana kalinya Toto keluar rumah setelah 3 bulan hanya di rumah saja. Semoga kami tetap sehat semua

37 Comments

  1. Kalau tetanggaku udah ada woro2 bulan Agustus nanti mau menggelar acara nikahan. Semoga nanti situasi udah normal. Aku masih agak takut sih kalau banyak kerumunan orang
    Semoga situasi segera kembali normal & sehat semua ya mba, aamiin

  2. Akhir bulan ini tanteku menikahkan anaknya. Dari tahun kemarin sudah ada persiapan. Keluarga besar juga sudah dikasih tahu. Rencananya akad saja dengan orang terbatas, nggak ada resepsi. Yang jelas keluarga besar tidak bisa datang karena pandemi dan tempatnya juga diluar provinsi sih. Semoga ada videonya, jadi tetap bisa menyaksikan.

  3. Aamiin. Semoga mbak Nanik dan keluarga tetap sehat. Tetap berhati-hati di situasi new normal ini ya mbak. Karena, meski kita sudah hati2, pakai masker dan mengikuti protokol kesehatan, orang lain belum tentu. Yang kena kita juga.

    Selamat berbahagia buat kedua mempelai 🙂

  4. sedih juga ya mbak menikah tanpa dihadiri banyak teman dan kerabat. tapi itulah new normal, kita harus terbiasa dengan ini semua

    semoga penganten sakinah mawadah warahmah amiiin yra

  5. Tentu bukan pernikahan yang diinginkan oleh mempelai manapun di dunia ini. Tapi harus dipatuhi demi keselamatan diri sendiri dan orang banyak.

    Sayangnya, banyak yang masih berkerumun dan nggak pakai masker ya, Mbak dududu …

    Sehat terus Mbak Nanik dan keluarga. Semoga pasangan pengantin menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah. Aamiin.

  6. Karena satu dan lain hal emang di tengah situasi pandemi corona beberapa pernikahan mesti ditunda. Tapi andaipun tak bisa ditunda pastinya keselamatan semua orang tetap mesti diutamakan. Protokol kesehatan wajib dipatuhi.

  7. memang kalau banyak orang agak parno juga ya, kalau aku sih sudah keluar2 tapi ke tempat yang gak banyak kerumunannya, Tp kalau mau mneikah ya mau pakai protokol kesehatan, dan gak usah banyak undangan cukup klg dekat saja ya

  8. Saya belum ada menghadiri pesta pernikahan Mbak, masih parno sm yg namanya kerumunan massa. Soalnya kota kami bener² yg redzone merata gitu jd mesti aware. Barakallah buat ponakannya ya Mbak

  9. Aamiiiin. Aku ikut deg²an bacanya. Orang pada cuek engga jaga jarak. Semoga sehat selalu yaaa. Semoga pengantin baru sakinah mawaddah wa rahmah.

  10. Aamin allahumma aamiin.
    Semoga lekas membaik ya bun dan para calon pengantin yang lain yng hingga skrg menunda semoga di sabar kan. Dan semoga ponakan bunda ini meski tak meriah tapi tak mengurangi barokah dariNya.

  11. Aamiin. Sehat selalu ya semuanya.
    Di Cianjur daerah kami tinggal tidak begitu ketat. Malahan saat bulan puasa saja masih ibadah di masjid, cuma yg mudik dari bodetabek memang harus karantin mandiri

  12. Ya Allah ikut rasain jadi Bapaknya.. Kebetulan temanku juga antara mau rayain rame atau gak. Soalnya secara dia anak bungsu, orang tuanya pengen acara besar-besaran, tapi ntahlah lihat nanti. Yang penting sah sih kalau kita, tapi beda ama keluarga hhe

  13. Amin, sehat-sehat semua keluarganya Mbak. Begitulah, masih banyak yang menyepelekan, karena biasanya banyak masyarakat yang belum benar-benar merasakan betapa berbahayanya penyebaran Virus Covid-19 ini.

  14. Di daerah saya juga minim banget yang gelar pernikahan, bahkan ada yang lagi-lagi ditunda, jadi ikutan sedih. Semoga di acara pernikahan lain bisa lebih aware sama protokol kesehatan, kasihan juga sama tamunya, btw Samawa ya kak untuk keponakannya

  15. Tanggal 20 nanti sepupuku juga nikahan. Sebenernya sudah ragu sekali mau datang, tapi ngga enak banget mau ngga hadir. Perjalanan cuma 1 jam dari rumah. Dilemma banget ya mba

  16. Memang menghadiri acara pernikahan harus mawas diri ya mbak. Mematuhi protokoler kesehatan. Pi masih banyak orang yang g sadar akan penting menjaga jarak.

  17. Ah dilema ya mbak nanik, mau nggak dihadiri keluarga dihadiri ya gitu deh. Kitanya protect maksimal yang lainnya abai. Nyesek ya mbak. Semoga mbak sekeluarga sehat dan pengantinnya slalu diberi kebahagiaan

  18. Membernya bloger Sumut juga ada yg mau married di era new normal lho Mbak, Mbak Muna… insyaallah tgl 20 dia menggelar acara pernikahan hehe

  19. Masyarakat mungkin masih belum sadar ya Mba Nanik bahwa new normal itu bukan berarti bisa bebas kumpul tanpa aturan pengaman kesehatan. Atau mungkin kesadaran masih kurang karena menganggap enteng.

  20. Sepupuku juga model gini nih nikahnya kemarin waktu bulan April. Ya, memang ada harga untuk sebuah kebebasan yah, semoga aja segera benar-benar kembali normal seperti sedia kala

  21. Teman saya malah membatalkan acara resepsi pernikahannya karena corona. Sedih sih, mana dia anak pertama. Gedung sudah disiapkan semua tinggal datang jalan aja. Semoga ada hikmahnya.

  22. Insha Allah gak apa-apa Bu, niat kita baik, Allah akan selalu jaga selama kita ngikutin protokol kesehatan. Kasian ya yang mau hajatan di era new normal ini… Semoga kita semua diberikan kesehatan dan dijauhkan dari penyakit berbahaya aaamiiin

  23. Dimana-mana memang mesti begini ya, sudah protokol. Sebab tempo hari nganter orang nikahan di KUA juga petugasnya marah-marah karena yang masuk di ruangan aula KUA lebih dari 10 orang 😀

  24. Memang serba susah ya mb, menghadiri hajatan di masa pandemi. Nggak datang tidak enak, datang juga kl yg hadir tidak mematuhi prosedur kesehatan berisiko. Semoga kita dan keluarga sehat selalu ya mb..aamiin…

  25. Tidak hanya acara pernikahan yang “kehilangan” euforianya, acara wisuda di kampus pun sekarang tidak bisa dilakukan, padahal itu acara yang sangat membahagiakan juga bagi para orang tua. Mudah-mudahan pandemi bisa segera usai ya Mbak.

  26. Aku sempat di undang kawan ke pernikahan di era new normal life gini… Tapi aku masih gak berani datang hihi… Soalnya di rumah ada orangtua dan makbun… Takut aja kalau terbawa virus

  27. Emang sedih ya yg nikah yg punya acara2 besar harus ditunda atau mengalah bikin acaranyg lebuh kecil dan dibatasi orangnya.

    Yahh harus legowo yang penting khidmat akad nikah nya ttp ada ya kak..

  28. Kebayang deh kalo saya yang ada di sana. Apalagi putri bungsu saya masih batita yang harus diajak. Pasti saya tegang banget. Seolah – olah corona melayang – layang di udara. Semoga sepulang dari sana, keluarg Mbak Nani tetap sehat ya .

Leave a Reply to rozi06 Cancel reply