WisataKu

Menikmati Senja di Pantai Losari

Seminggu kemarin, 29 April – 4 Mei, saya ada tugas untuk mengikuti pelatihan di Gowa, Sulawesi Selatan. Lokasi tempat pelatihan bisa di sebut di pedalaman. Lokasinya ada di tengah perkebunan, jauh dari rumah penduduk. Tak ada sinyal provider, baik telkomsel, Indosat maupun xl. Untungnya sinyal wifi di lokasi lumayan kenceng, jadi walau terisolasi tetap bisa berhubungan dengan dunia maya.

Di hari ketiga pelatihan, peserta udah mulai jenuh. Pagi, siang malam ketemunya laptop aja. Ditambah lagi di kamar tak ada televisi, meja dan kursi. Jadi memang desainnya di kamar itu cuma disuruh buat tidur aja kayaknya. Membosankan banget kan?

Makanya, terjadilah negosiasi antara peserta, panitia, dan juga narasumber, supaya peserta di beri kesempatan buat melihat tempat lain. Karena tak ada sarana transportasi umum yang menjangkau lokasi, jadi kan harus dikoordinir juga kendaraannya. Maka di sepakati lah, hari Rabu, kegiatan pembelajaran hanya sampai jam 16.00 setelah itu acaranya jalan-jalan ke pantai Losari.

Pukul 16.30 berangkatlah para peserta dengan menggunakan 4 mobil yang disediakan oleh panitia. Tujuan utama adalah pantai Losari. Jalanan ramai namun lancar, menjelang pukul 6 sore, sampailah kami di pantai Losari.

Hari Rabu itu bertepatan dengan 1 Mei, hari libur, jadi pantai losari ramai sekali. Pengennya foto-foto di tempat bertuliskan PANTAI LOSARI, namun banyak banget pengunjung yang berseliweran, bahkan juga duduk di antara dua huruf, jadinya nggak dapat angle yang bagus.

Kapan ya tulisan itu bersih dari lalu lalang pengunjung

Masjid Amirul Mukminin di belakang sana

Di belakang sana ada Masjid kubah 99, masih dalam proses pembangunan

Tak lama kami berjalan mencari spot foto, adzan maghrib berkumandang. Saya pun menuju Masjid Amirul Mukminin yang ada di kompleks pantai Losari. Sandal dan sepatu dititipkan lalu menuju tempat berwudhu. Tempat wudhu ada di lantai 1, tempat sholat untuk pria ada di lantai 1 sedangkan untuk wanita ada di lantai 2. Sambil berjalan menaiki tangga saya mengambil beberapa foto dengan handphone dan sampailah di ruangan tempat sholat. Dan saya tak menemukan mukena di sana.

Masjid kubah 99

Beruntung teman-teman ada yang membawa mukena, jadilah kami bergantian sholat. Saya sempat membatin, masjid di kompleks wisata gini kok nggak ada mukena ya.

Saat turun, barulah kami menyadari, ternyata kami kebablasan. Kami tadi sholat di lantai 3, pantesan nggak ada mukena buat umum. Lalu saya coba melongok ke ruangan lantai 2, oh tersedia mukena buat umum.

Usai sholat maghrib, perut sudah menagih minta makan. Saya pun berjalan ke arah para pedagang di luar kawasan pantai. Ketemulah warung 999 yang lokasinya pas di belokan jalan, mudah terlihat kok dari arah pantai. Dan warungnya ini buka 24 jam.

Karena lagi di Makassar, tentunya yang di pesan menu khas Makassar. Saya pesan coto dan es pisang hijau.

Makan cotonya bisa pakai ketupat atau buras. Buras ini kalau di Jawa semacam lontong. Di bungkus juga pakai daun pisang, namun cara membungkusnya seperti membungkus nagasari.

Coto dan ketupat

Seporsi coto Makassar harganya 21 ribu. ketupat dan buras harganya sama yaitu 2 ribu. Semangkuk es pisang ijo harganya 16 ribu. Tak terlalu mahal menurut saya untuk hitungan kuliner di lokasi wisata.

Oh iya, mangkok coto nya kecil, seukuran mangkok soto Kudus. Sementara mangkok untuk es pisang ijonya besar. Pas dihidangkan, saya sama teman saya ternyata punya pikiran yang sama. Makan es pisang ijonya aja udah bisa bikin kenyang.

Bandingkan ukuran mangkoknya

Niat awalnya ke Losari mau mencicipi pisang epe, namun ternyata semangkok coto dan es pisang ijo sudah membuat saya kekenyangan. Jadilah pisang epe dilewatkan saja.

Ini penampakan pisang epe

36 Comments

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis

%d bloggers like this: