Pindang Patin Mbok War, Kuliner di Bantaran Sungai Musi

pindang patin mbok war, kuliner di bantaran sungai musi

Sungai Musi, membelah kota palembang menjadi dua bagian kawasan yaitu Seberang Ilir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sungai Musi tak hanya menarik dengan wisata airnya, namun juga dengan wisata kulinernya, salah satunya adalah Pindang Patin Mbok War. Saat ke Palembang, saya pun mampir ke pindang patin mbok war, kuliner di bantaran sungai musi

Warung makan Mbok War, merupakan sebuah perahu yang ditambatkan di pinggir Sungai Musi dan interiornya diubah menjadi warung. Karena ditambatkan di sungai, tentu saja kala ada gelombang di air, entah karena ada perahu lewat maupun karena hempasan angin, maka perahu pun akan bergoyang. Justru di sinilah sensasinya, bisakah tetap tenang makan kala perahu bergoyang.

Perjuangan Menuju Warung Pindang Patin Mbok War

Untuk masuk ke dalam warung, kita harus meniti jembatan kayu yang menghubungkan dermaga dengan dengan pintu masuk warung. Jembatannya terbuat dari papan kayu yang lebarnya tak sampai 1 meter. Jadi harus jalan satu-satu saat meniti jembatan ini.

Kalau pas sepi, berfoto di tengah jembatan dengan latar belakang warung apung bagus juga lho. Tapi kalau pas rame, aktivitas ini sebaiknya dihindari, supaya nggak mengganggu kenyamanan pengunjung yang lain.

warung apung mbok war Palembang
Warung terapung

Memasuki warung, begitu duduk, saya rasakan kapal bergoyang-goyang. Baru berhenti dan tenang sebentar, tiba-tiba gelombang air datang dan membuat kapal bergoyang lagi. Waduh, bisa membuat pusing ini. Kan nggak enak, lagi mau makan kepala pusing dan disusul perut mual.

Untungnya goyangan ini nggak berlangsung lama. Begitu teman-teman serombongan masuk, warung jadi penuh dan goyangan tak begitu terasa. Rupanya makin banyak penumpangnya, gelombang air tak kuat lagi menggoyang perahu. Malah lama kelamaan kayak duduk didalam warung di darat aja, nggak ada goyangan sama sekali. Tenang….

Menu Makan di Warung Pindang Patin Mbok War

Saat kami sampai di sana, sudah siap menu makan di atas meja. Nasi putih dalam cething, sayur mentah untuk lalapan, semangkok pindang patin, sambal, cobek untuk cuci tangan, serta segelas teh manis. Ini menu untuk setiap orang ya, nasinya banyak sekali, ikannya cuma sepotong. Nasi pindang patin ini harganya cukup murah, 20 ribu saja.

menu pindang patin mbok war
Pindang patin mbok war
pindang patin mbok war palembang
Pindang patin

Dari dalam perahu, sambil makan, kita bisa menikmati pemandangan di luar. Ketek (perahu kecil) yang lalu lalang di sungai musi dan juga jembatan ampera yang melintas diatas sungai musi.

jembatan ampera palembang
Dermaga dibawah jembatan ampera

Selain pindang patin, disini juga tersedia menu lain. Pindang pegagan, gabus. Selain itu juga tersedia ayam bakar dan ayam goreng. Harganya bervariasi, antara 20 ribu hingga 40 ribu per porsi.

Lezatnya Pindang Patin Mbok War Pelembang

Bagaimana rasa pindang patinnya?

Dagingnya lembut banget, Iya sih ikan patin kan kalau di masak tekstur dagingnya memang lembut. Menurut saya, bumbunya kurang meresap ke dalam dagingnya. Jadi masih ada bagian dalam daging yang rasanya tawar. Tak ada rasa bumbunya.

Kuahnya saya suka, perpaduan antara asem dan pedas. Rasa asem dan pedas ini justru membuat kuahnya jadi terasa segar. Saking segernya kuah pindang patin mbok war ini, saya sampai menghabiskan kuahnya.

Yang rekomen disini adalah sambal mangganya, kalau di Malang, saya menyebutnya sambel pencit. Sambal mangga ini, kami sampai berulang kali minta di tambah. Enak sih. Pedes campur asem. Membuat makan jadi tambah lahap.

Namanya rombongan blogger ya, sambil makan pun ada yang foto-foto, ada yang nge vlog, ada yang ngobrol ngomentari makanannya, ada juga yang khusyu’ menikmati makanan

pindang patin mbok war palembang
Selamat makan

Saat kami makan, tidak banyak perahu yang lewat dekat warung, sehingga ombak sungai tak begitu terasa menggoyang kapal. Jadi kami bisa makan dengan tenang

pindang patin mbok war palembang
Foto dulu mumpung meja masih rapi

Jika berkesempatan ke Palembang, jangan lupa mampir makan di warung-warung terapung di bantaran sungai Musi ini. Rasakan sensasi makan di warung yang bergoyang

50 Comments

  1. Ya Allah…
    Lapar liatnya Mba, saya mah pecinta ikan, apalagi patin dan dipindang, agak pedasnya gitu.

    Duh ngiler.

    Noted banget nih, seru makan di warung sambil goyang-goyang hahaha.
    Asal makan ikan patin mah, enak-enak aja 😊

  2. Aku juga pencinta pindang mbak, kadang bikin sendiri di rumah. asam-asam pedas gimana gituh rasanya, hehehehe…. nanti kalau aku ke Palembang akan kucicip lagi masakan khas Palembang ini,. Lebih nikmat lagi kalau mencicipinya di bantaran sungai Musi macam Pindang Patin Mbok War ini ya..

  3. Goyangan di warung ini di bawah ekspektasiku mba. Kukira bakalan goyang banter gitu hehehe… Kan seru ya kalau pas makan riak ombak gara-gara perahu lewat bikin kita kayak terayun-ayun gitu. 🙂

  4. Kebayang serunya makan di bantara sungai musi. ITu pindang patinnya udah kliatan yummy banget mba. Ntar ah sapa tahu kesempatan nyicip langsung 🙂

  5. Penasaran dengan sensasi makan di atas perahu. Saya kira bakalan goyang-goyang terus, ternyata kalau udah banyak orang gak begitu kerasa goyangnya ya …
    Menunya keliatan lezat, porsi nasinya lumayan banyak ya…sayang potongan ikannya kecil hihihi

  6. Wah bikin penasaran dan pengen segera mencicipi rasanya. Khas Palembang banget. Apalagi langsung dimakan di tepi Sungai Musi langsung.

  7. Pindah ke Palembang mba? Klo aku deg deg an mba, makan di atas warung konsepnya perahu…lha aku ga bisa renang..ha..ha. Tpi asyik ya, menikmati kulineran khas luar pulau gitu…lidahnya makin kaya, mencicip bnyk rasa. Klo di sini, pating paling cuma digoreng/dibakar…

  8. Terus terang saya baru tahu mbak kalau di deket sungai musi juga ada warung terapung, kirain selama ini hanya berjualan di pinggiran sungainya aja. Wah moga pas ke Palembang bisa nih ikutan nyicipin pindang patinnya mbok War yang katanya endeus ini hehe

  9. Suamiku tiap minggu ke Palembang tapi kok nggak tahu lokasi ini ya.Coba aku rekomin ke dia,kali aja pengin nyoba secara penggemar sambal pecit. Btw sambalnya bisa dibungkus bawa ke Jakarta gak ya?

  10. Wah.. Pindang patin ya. Disini juga ikan patin ngehits banget. Tp lebih banyak peminat patin yang dipanggang atau dibikin pepes sih. Urang Banjar mah gitu. Padahal aku kangen banget masakan pindang begini.

  11. duuu itu menunya, mana ini pagi & beelum masak haha aseli bikin laper, semoga bisa jalan jalan juga ke sungai musi, pengen nyobain pindang patin nya, apalagi kuahnya enak, edisi saya pecinta kuah ^_^

  12. Saya baru sekali makan ikan patin, itu pun digoreng. Sebelumnya suka takut, soalnya katanya ikan ini amis banget. Tapi mungkin tergantung yang mengolah juga, yaa…

  13. Mendengar nama pindang patin perutku langusng keroncongan. Dan aku langsung bayangin gurihnya lemak ikan patin menyatu dengan kuah yang kaya rempah di mulut huhuhuhu. Di saat banyak orang tidak suka patin karena amis atau karena banyak semacam lemaknya, buat saya justru ikan ini idola banget. Masalahnya di sini jarang yang jual dan saya juga nggak bisa ngolah ikan patin huhuhu. Sedih.

  14. Pas liat foto terakhir baru ngeh kalau ini perjalanan saat fam trip yang lalu 🙂 aku pernah makan di sini. Selain rasanya lumayan, view dan sensasinya yang unik ^^

  15. Masya Allah foto yang paling akhir nya ternyata bareng temans blogger yang sering daku lihat. Daku malah bayanginnya makan di perahu yang ombaknya lumayan, awas piringnya pindah hehe

  16. Wah… seru banget ya, nuansa makannya beda. Saya sendiri enggak terlalu favorit ikan patin larena biasanya berasa kayak tanah gitu. Tapi penasaran ngerasaain makan di atas air gini,hihi. Semoga ada kesempatan ke sana 🙂

  17. MashaAllah. Warung yg wajib dikunjungi pas ke Palembang nih. Sebagai putra daerah SumSel, Pindang Patin, jadi salah satu menu favorit sedari kecil. Dan menikmati panganan ikan jadi kebiasaan sampe saat ini.

    Gek kalo aku ke Plembang, ajak aku ke sini yo hihihi

  18. Ah warung terapung…
    Pasti seru ya mbak, lain dari yg lain soalnya
    Btw ibuku juga sering masak pindang patin, duh jadi kangen masakan ibu nih

  19. Pulau Sumatera dari ujung ke ujung selalu ada makanan khas yang mirip2 ya. Kalau di bantaran Sungai Musi Palembang ini terkenalnya Pindang Patin. Kalau di Medan, khususnya di kalangan suku Melalyu Deli, dikenal juga Pindang Rusuk Lembu (Sapi) dan Pindang Ikan Gembung (Tanjungbalaii, Sumut)

  20. Aku lupa tahun berapa ke warung mbok War ini, tapi jelas masih ingat sekali dengan kenangan makan patin di sana. Suasananya juga dapat banget, di atas Musi yang terkenal sebagai ikon nya Palembang 🙂

  21. Wuih, enak nih kayaknya. Aku suka deh dengan ikan yang diolah dengan cara dipindang. Gurih-gurih gitu ya. Apalagi kalo ditambah cabe rawit, jadi nyooos. Bikin boros nasi deh. 😀

  22. Pertama kali makan menupindang patin ini saat di Banjar Baru. Setelah itu, nyobain dong pengen bikin sendiri di rumah, apalagi di Yogya ada budidaya ikan patin ini. Al hasil, rasanya auto bedaaaa, untung suami gak komplen dan siap menghabiskannya. (kayaknya takut isitrinya ngambek dan gak mau masak lagi deh)

  23. Seorang teman yang suaminya orang Palembang, setiap kali mudik ke kampung halaman suaminya itu, selalu cerita kalau nggak pernah melewatkan makan pindang patin di bantaran sungai musi. Jangan-jangan makan di Warung Mbok War ini ya maksudnya.

    Saya belum pernah sama sekali makan di atas perahu yang bergoyang. Yah, kecuali memang sedang tamasya naik perahu lalu ngemil. Beda ini sih ya, hehehe … Kan jadi penasaran ingin mencoba juga.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan ini, ditunggu komentarnya. Please... jangan meninggalkan link hidup ya