Putri Malu

Jaman saya kecil, kalau ke sawah paling senang bermain-main dengan tanaman putri malu. Menyentuh daun-daunnya, melihatnya menguncup itu sangat menyenangkan. Di taman kompleks rumah, kebetulan juga ada tanaman putri malu. Maka saya ajak anak-anak untuk menyentuh daun-daunnya. Awalnya mereka segera mundur setelah menyentuh, kaget karena daunnya menguncup. Lama-lama mereka tertawa-tawa setiap kali menyentuh (sebenarnya sih memukul) dedaunan itu. Selesai satu rumpun, pindah ke rumpun yang lain.

Jika semua rumpun sudah ‘tidur’ saya ajak ke rumpun pertama yang disentuh. Kali aja daun-daunnya sudah bangun lagi. Jika masih ‘tidur, saya jelaskan ke anak-anak kalau putrinya masih tidur, masih malu. Saya ajak mereka pindah tempat lain, tapi tak mau. Milih nungguin putrinya bangun 🙂

 

7 Comments

Add a Comment
  1. Diteruskan jeng, mengajak anak belajar tentang, dari dan di alam, retensinya lebih kuat kan. salam

    1. iya, anak2 klo musim hujan senang banget di ajak ke taman, karena pagi2 pasti banyak cacing. Di pegang-pegang pula. padahal saya sendiri jijik. tapi bagi mereka itu mainan yang menyenangkan

  2. mbak nik di kampung saya namanya “jukut riut”

    1. di kampung saya “pus meong”

      1. hehe kalo “mpus itu kucing dan meong juga sama kucing” itu kalo di kampung saya…

  3. jadi inget masa kecil dulu mbak, suka juga main main dgn si putri malu
    pasti anak anaknya suka sekali ya masih bisa bersentuhan dengan alam langsung

    1. iya, untung juga tinggal di pinggiran kota. Masih bisa mengenalkan anak pada alam secara langsung

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis