Ramadhanku Kali ini Berjauhan dengan Kedua Anakku




Menjalani puasa tanpa anak-anak, ternyata begini rasanya. Sepi. Sepi kala berbuka maupun kala sahur.

Kala berbuka, tak banyak yang perlu dipersiapkan. Anak-anak tak ada. Jadi cukup masak nasi, sayur dan lauk ala kadarnya. Menu berbuka ini, dipanasi lagi kala waktu makan sahur. Dipanasi lagi waktu buka keesokan harinya. Dipanasi lagi kala waktu sahur. Begitu sampai tiga hari dan saya serta suami mulai bosan dengan menunya. Jadilah selanjutnya saya masak nasi saja, sayur dan lauk beli di pasar takjil dadakan yang letaknya tak jauh dari rumah.

Kala sahur, saya bisa bangun mepet aja dengan waktu imsak. Cukup bangunkan suami dan bikin kopi. Tak repot lagi bolak-balik masuk kamar anak-anak dan berusaha membangunkan mereka. Kamar anak-anak sepi, tinggal ada si bungsu yang berusia 2,5, belum mulai belajar puasa.

Siang hari, tak ada keluhan dari anak-anak, “lemes, Ma…” “haus, Ma…”. Tak ada lagi nasihat panjang lebar buat menyemangati anak-anak untuk sabar dan kuat hingga waktu bedug maghrib tiba.

Tak ada lagi yang rebutan makanan

Emang anak-anak kemana?

Seminggu sebelum Ramdhan, Babang (9 tahun) tiba-tiba bilang kalau puasa tahun ini pengen di Klaten saja, di rumah pakdhenya, dekat dengan kakek neneknya. Sekalian mudik lebih awal, nanti menjelang lebaran Mama papanya nyusul.

Tahu babang mau puasa di Klaten, kakak (8 tahun) pun tak mau ketinggalan, pengen ikut juga ke Klaten. Kedua anak ini memang nggak mau dipisahkan, kemana-mana pengennya berdua.

Yakin, mau melewatkan puasa di Klaten? Jauh dari Mama, Papa dan juga si bungsu Toto? Begitu saya menguji keseriusan mereka. Nanti kalau kangen gimana?

Mereka menyatakan yakin, kalau kangen kan tinggal video call saja.

Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya kami menyepakati untuk mengabulkan permintaan anak-anak. Momen Ramdhan, dimana umat Islam belajar mengendalikan hawa nafsunya, biarlah juga menjadi sarana anak-anak untuk belajar. Biar mereka belajar lebih mandiri, belajar menerima apa saja menu masakan budhenya untuk berbuka maupun makan sahur, belajar mengatur waktu bermainnya supaya tak lemas di siang hari, belajar mengatur waktu tidurnya agar mudah bangun kala waktu sahur, belajar beradaptasi dengan lingkungan dan juga teman-teman barunya di kampung.

Jadilah, anak-anak telpon pakdhenya, minta di jemput ke Malang karena pengen melewatkan Ramadhan di Klaten. Jemput besok atau batal ke Klaten, begitu ancaman anak-anak hehehe…. Kakak saya ini memang sampai sekarang, di usia pernikahan mereka yang sudah menginjak 22 tahun, belum juga dikaruniai anak. Sehingga mereka senang sekali kala anak-anak pengen ke sana. Apalagi dapat ancaman batal, langsung deh keesokan harinya mereka berangkat ke Malang.

Dan begitulah akhirnya, anak-anak menjalani Ramadhan di Klaten. Kenapa nggak di rumah kakek neneknya? Kasihan kedua orang tua saya, mereka sudah sepuh, takutnya anak-anak merepotkan. Anak-anak juga lebih memilih tinggal di rumah pakdhenya. Tapi jarak rumah orang tua dan kakak saya ini dekat kok, jadi kalau siang anak-anak bisa bermain-main juga di rumah kakek neneknya.

Awal-awal puasa, saya selalu telpon menjelang waktu berbuka dan sahur. Memastikan mereka tetap kuat berpuasa hingga waktu berbuka dan juga sudah bangun kala waktu sahur. Siang hari juga kadang saya telpon mengecek kondisi puasa mereka. Lewat 10 hari Ramadhan, ritme tubuh sudah menyesuaikan, jadi saya nggak perlu tiap hari lagi ngecek bagaimana puasa mereka. Kalau telpon, saya tak lagi menanyakan soal puasa, berbuka dan sahur mereka. Bahan pembicaraannya sudah lain.

Bagaimana dengan si bungsu?

Waktu dipamiti, tentu saja dia nangis dan bilang pengen ikut ke Klaten juga. Kakak saya tentu saja seneng kalau si bungsu ikut sekalian, soalnya dia ini sedang lucu-lucunya. Tapi tentu saja kami tak mengijinkan, masih terlalu kecil untuk berjauhan dengan kami dalam waktu yang lama.

Setiap saat si bungsu bertanya “kapan kakak pulang?”, dan selalu kami jawab “masih lama, nanti kita susul mereka kalau papa dan mama sudah libur kerja”

Jadi kalau si bungsu kangen, ya kami telponkan saja kedua kakaknya. Beruntung ya, dengan kemajuan teknologi, video call bisa dilakukan setiap saat, asal ada koneksi internet.

Kadang si bungsu ngambek karena kedua kakaknya nggak pulang-pulang, jadi kalau pas video call dia diam saja, malah menjauh, nggak mau lihat ke arah handphone.

Nggak ada saingan, bisa bermanja sepuasnya sama papa

****

Anak-anak adalah titipan dari Allah. Kita di percaya untuk merawat, mengasuh dan mendidiknya. Siap tak siap, suatu saat kita akan berpisah dengan mereka. Entah demi pendidikannya sehingga mereka harus tinggal berjauhan dengan kita. Entah karena alasan lain.

Kehadiran kedua anak saya di Klaten, memberikan kebahagiaan sendiri bagi kakak saya. Karena sejak awal, mereka ingin sekali mengadopsi anak saya. Dan tentu saja, saya nggak mau, bagaimanapun saya tetap ingin mengasuh dan membesarkan anak-anak sendirian. Kenapa nggak adopsi anak lain saja, yang dari keluarga tak mampu. Kakak ipar saya kekeuh “Kalau bukan anak kalian, aku nggak mau ngadopsi” Sampai segitunya kan ya.

Ayah saya juga kesehatannya membaik setelah kedua cucunya dekat dengan dia. Jadi dari kelima anak orang tua saya, dua orang tinggal di Klaten, berdekatan rumahnya. Dan, kedua kakak yang tinggal di klaten ini belum dikarunia anak. Jadi bisa dibayangkan deh, gimana kesepiannya kedua orang tua saya. Ke enam cucunya tinggal berjauhan. Mereka juga sering sih minta supaya ada anak saya yang tinggal di Klaten saja, biar mereka yang ngasuh. Saya tentu saja menolak dengan tegas. Saya masih mampu membesarkan anak-anak, lagian waktunya mereka menikmati hari tua dengan tenang, bukannya repot ngurusi cucu.

Sudah setahun ini, ayah saya setiap sabtu harus kontrol kesehatan, biasanya masalahnya adalah gula darah dan juga tekanan darah yang tinggi. Tapi sudah dua minggu ini kontrol, kondisi gula darah dan tekanan darah stabil dan normal. Entah karena puasa, atau karena bahagia ditunggui kedua cucunya.

Eh, sudah panjang saja tulisan ini. Asli, ini tulisan curhat, semoga aja yang baca nggak bosan.

Ini kisah Ramadhanku tahun ini, bagaimana kisah Ramadhanmu?

 

 

27 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *