PengalamanKu

Salahnya Perempuan

Barusan baca status temannya teman di fb, isinya bikin pengen ketawa walau bikin sedikit emosi juga.

Ngeliat cowok ganteng banget lagi ngajak main anaknya sambil nyuapin makan, sedangkan istrinya lagi sibuk milih baju. Rasanya pengen gue samperin tuh cowok terus gue bisikin “mas dalam islam poligami itu boleh loh” šŸ™‚ šŸ™‚

Si mbak penulis status ini, menyertakan posisinya saat itu, yaitu di sebuah mall

Saya coba memposisikan diri sebagai si mbak yang menulis status tersebut.

Mungkin dalam bayangan si mbak itu, ada beberapa penafsiran saat melihat adegan suami istri itu :

  1. Enak banget ya kalau punya suami kayak gitu, gue bisa santai mau ngapain aja, toh suami bisa jagain anak
  2. Tega banget sih perempuan itu, masa suami dikasih tugas nyuapin anak, sementara dia enak-enakan aja milih-milih baju. Pasti di lama-lamain tuh. Mas ganteng, mending sama aku aja daripada disuruh jagain anak

Saya coba posisikan diri sebagai si suami yang nyuapin anak

Senin-Jumat aku berangkat pagi, jagoanku masih lelap. Pagi-pagi istriku sudah sibuk membereskan rumah, menyiapkan sarapan. Seharian dia menemani jagoanku bermain.

Pulang kerja sudah malam, jagoanku kadang sudah tidur. Istriku juga terlihat lelah, namun dia tetap berusaha tersenyum menyambutku. Menghangatkan sayur dan lauk serta menemaniku makan. Menemani ngobrol sampai larut.

Mumpung libur, ajak istri ke mall ah. Itung-itung refreshing. Biar dia pilih sesukanya mau beli apa. Sementara aku bisa menikmati waktu berdua dengan jagoan. Istriku butuh Me time, sementara aku bisa menikmati Me time juga bersama anakku.

Perkiraan saya ini mungkin benar, jika terlihat ekspresi si lelaki tampak bahagia saat menemani anaknya bermain. Lain lagi kalau ekspresinya nampak terpaksa dan tertekan. Jika demikian, bisa jadi yang ada dalam benaknya adalah “Huh, enak aja aku disuruh jagain anak, nyuapi pula. Ini kan tugasnya perempuan! Aku juga pengen ngemall, menikmati suasana disini”

***

Sekarang, bagian survey.

Wahai para lelaki yang punya anak kecil. Apakah anda berkeberatan sesekali menemani anak Anda bermain, sesekali menyuapi makan, sesekali memandikan dan mengganti popoknya?

Wahai para perempuan lajang. Apakah anda menganggap mengasuh anak itu hanya tugas perempuan? Apakah anda menganggap jika lelaki mengasuh anak itu akan menurunkan derajatnya?

Wahai para perempuan lajang. Apakah anda ingin suami anda kelak mau membantu segala kerepotan anda dalam mengurus rumah dan anak?

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis