Sego Berkat, Menu Ndeso yang Bikin Kangen Kampung Halaman




Hari ada tetangga yang datang ke rumah mengantar dua bungkusan kotak styrofoam. Satu kotak berisi nasi, satu kotak berisi sayur dan lauk pauk. Katanya ada acara selamatan anaknya yang beberapa waktu lalu menikah.

Alhamdulillah, kok ya pas banget ada yang kirim makanan. Karena seharian saya mager malas masak. Kalau hari minggu, biasanya masak mie instan buat makan siang. Paginya ngemil gorengan. Kebetulan pagi ini tadi saya menggoreng pisang.

Kami menyebut hantaran ini dengan sego berkat. Sego berarti nasi, jadi kalau di bahasa Indonesia kan, bisa lah disebut nasi berkat. Nasi yang biasanya dibagikan ke tetangga saat ada hajatan.

sego berkat

Sego berkat ala Malang itu sayurannya ada urap-urap, trancam, oseng pepaya muda, sayur labu. Lauknya tahu tempe dan ayam. Kadang ada yang ngasih sayur nangka muda juga.

Awal-awal saya tinggal di Malang, hantaran sego berkat gini dibungkus daun pisang, kadang dibungkus daun jati juga. Sekarang lebih praktis karena pakai styrofoam, walau ada yang bilang kalau dibungkus pakai styrofoam ini nggak bagus buat kesehatan.

Makan sego berkat gini, saya jadi ingat jaman kecil dulu. Saya melewatkan masa kecil di Klaten.

Kenangan akan Sego Berkat

Jaman saya kecil dulu, Kalau bapak pergi yasinan atau tahlilan, pasti pulangnya bawa sego berkat. Walau pulangnya larut, saya pasti akan setia menunggui. Saya rela begadang untuk menunggu Bapak pulang. Bukan nungguin orangnya, tapi nungguin bawaannya hehehe…. Kalau Bapak pergi tahlil, pasti pulangnya bawa sego berkat.

Menu sego berkat jaman kecil saya itu adalah sego gurih, semacam nasi uduk lah. Jadi memang istimewa, karena beda dengan masakan sehari-hari. Nasi gurihnya di wadahi pakai besek. Pelengkapnya taburan bawang goreng, kedelai goreng, bihun, kering tempe, ayam goreng, sambel goreng kentang dan hati ayam. Tak pernah ketinggalan adalah satu buah pisang raja.

Baca juga : Kuliner Khas Daerahku Bernama Masakan Ibu

Yang saya incar tentu saja ayam gorengnya, karena kami jarang sekali bisa makan pakai daging ayam. Tiap hari menunya tahu tempe aja, kalau ada telur itu sudah sesuatu yang istimewa.

Makna yang Terkandung dalam Sego Berkat

Berkat dan tahlilan kala saya kecil dulu merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sebab keberadaan berkat menjadi suatu bentuk doa. Doa bagi orang Jawa tidak cukup hanya dalam bentuk kata-kata. Agar lebih mantap, mereka mewujudkannya dalam ragam makanan. Selain itu, makanan juga dianggap sebagai wujud kesungguhan dalam berdoa.

Berkat sendiri bermakna berkah atau barokah. Barokah artinya bertambahnya kebaikan. Sama halnya seperti melakukan sedekah. Sebab tahlilan diselenggarakan dengan mengundang tetangga sekitar. Selesai mengikuti tahlilan, tetangga yang datang merasakan senang dan berterima kasih karena mendapatkan berkat. Tidak hanya itu, sesampainya di rumah, berkat bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.

Sego berkat juga mengandung filosofi yang melekat kuat dalam akar budaya masyarakat desa.. Dalam sebungkus sego berkat tertanam pesan untuk saling berbagi rejeki dan bersedekah. Sego berkat juga mengandung simbol solidaritas antar warga yang merupakan implementasi dari nilai-nilai hasthalaku

Hastha adalah penyebutan untuk angka delapan dalam bahasa Jawa Halus. Hasthalaku adalah delapan tingkah laku yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Jawa.  Sikap ini meliputi : 

  • Tepa Selira (tenggang rasa)
  • Lembah Manah (rendah hati)
  • Andhap Ashor (rendah hati). Lembah manah dan andhap asor memiliki arti yang sama. Diulang dua kali untuk memberikan penekanan bahwa laku ini sangat penting dalam hidup bermasyarakat.
  • Grapyak Semanak (ramah dan mudah bergaul)
  • Gotong Royong,
  • Guyub Rukun (selaras dalam kebersamaan)
  • Ewuh pekewuh (rasa sungkan jika merepotkan orang lain)
  • Pangerten (pengertian). 

Gegar Budaya Sego Berkat di Kota dan di Desa

Saat saya mencari informasi mengenai makna sego berkat, saya menemukan informasi yang mengejutkan. Di kota, Jakarta, banyak perantau yang berjualan sego berkat. Rata-rata dari Wonogiri, sehingga sego berkatnya ala Wonogiri. Nasi dengan lauk kering tempe, bihun, sepotong daging sapi. Pembungkusnya bukan kertas minyak, melainkan daun jati. Khas sego berkat ala Wonogiri.

Walaupun namanya sama, tiap daerah memang memiliki ciri khas tersendiri untuk lauk pelengkap menikmati sego berkat ini.

Sego berkat ala Wonogiri
Sego berkat ala Wonogiri (sumber gambar detik.com)

Ternyata jualannya laris lho. Pelanggannya, tentu saja para perantau yang kangen dengan makanan ndeso ala kampung halamannya. Apalagi sejak tahun kemarin, lebaran di larang mudik. Dan tahun ini juga dilarang mudik. Jadi salah satu cara mengobati rasa kangen kampung halaman, ya menikmati sego berkat.

Sementara di desa?

Kalau di kampung halaman saya, nggak ada lagi sego berkat diwadahi besek beralas daun pisang. Lebih praktis kasih nasi kotak aja, dialasi wadah plastik. Nasinya juga bukan lagi nasi gurih, melainkan nasi putih biasa. Lauknya lebih bervariasi, menyesuaikan keadaan jaman. Pisang raja bisa diganti pisang ijo atau pisang ambon, seadanya aja sesuai yang ditemukan saat belanja ke pasar. Bahkan kadang diganti dengan buah jeruk. Ada kalanya juga tanpa ada buahnya.

Yah, begitulah. Yang di kota kembali ke kenangan masa lalu dan bisa mewujudkannya lewat tangan orang-orang yang pandai menangkap peluang. Rasa rindu suasana dan kuliner ndeso adalah peluang usaha yang sangat bagus. Sementara di desa, yang dengan mudahnya mengakses informasi, mulai meniru gaya orang kota, termasuk dalam urusan makanan.

35 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *