Sepenggal Percakapan antara Surabaya-Malang

Mendarat dengan mulus dibandara Juanda, Surabaya sekitar jam 8 malam. Saya harus melanjutkan perjalanan darat untuk menuju malang. Kami bertiga, saya dan dua teman kantor. Keluar bandara sudah banyak yang menawarkan travel menuju malang. Kami pun mengiyakan ketika salah satu dari mereka menawarkan pada kami. Sudah bertiga, jadi bisa langsung berangkat. Namun rupanya, kami masih disuruh nunggu, satu penumpang lagi katanya. Kami pun menunggu, dan tak lama seorang penumpang wanita menggenapi. Kami bisa segera berangkat. Tapi tidak seperti perkiraan dan keinginan saya untuk bisa segera berangkat, karena sopir travel masih harus cari lembaran kuitansi, karena penumpang terakhir tadi minta kuitansi, kosongan saja.

Dalam perjalanan, saya berkenalan dengan wanita itu. Dan terjadilah percakapan yang membuat dada saya merasa sesak

Wanita itu (W) : Baru pertama kali bertugas keluar kota ya, mbak?

Saya : Nggak juga.

W : Kalau saya sering. Tiket dah diurus sama travel langganan, mau harga berapapun mereka bisa atur.

S : Maksudnya?

W : klo harga aslinya 1 juta, kita bisa minta dituliskan disitu 2 juta. nggak pa pa. Travel/taksi juga, saya minta kuitansi kosong, nanti diisi sesuai keinginan saya.

S : Bukannya harga tiket bisa di cek secara online, gimana memanipulasinya?

W : Travel langganan saya sudah pintar mengaturnya. Lagian nggak mungkinlah sampai mau periksa kebenaran harga ditiket. Sampai sekarang aman saja.

S : Klo gitu kan namanya nipu?

W : Bukan nipu mbak, kita kan pengen juga ada penghasilan lebih. Kalau ngandalkan gaji, mana cukup. Jadi klo ada kesempatan keluar kota, ya itu kesempatan buat mencari uang lebih.

S : oooo gitu ya….

***

Jadi beginilah rupanya. Yang punya jabatan, bisa tergoda untuk korupsi saat pembuatan anggaran. Yang nggak punya jabatan bisa tergoda untuk korupsi dengan melakukan mark up. Yang membuat saya sedih adalah, wanita itu dengan tenang dan bangganya membagi pengalamannya pada saya. Bahkan mengajari saya untuk menirukan apa yang telah dia lakukan, dengan alasan saya pasti butuh uang buat ini itu.

Memang, saya butuh uang buat ini itu. Tapi kalau memperolehnya dengan cara seperti yang dia lakukan, maaf saja, saya nggak mau. Biarlah saya mendapatkan uang yang memang sudah menjadi hak saya, biar saja nominalnya kecil, asal berkah dan membawa manfaat bagi saya. Ngapain juga uangnya banyak, tapi memperolehnya dengan cara tidak benar, membuat hidup tak tenang saja.

Godaan untuk menyeleweng memang akan selalu ada. Semoga saya tetap kuat untuk berjalan lurus, mampu melewati semua godaan itu

Comments

Add a Comment
  1. akan jadi kebiasaan nantinya, dari kecil tahu2 dah jadi besar aja kan.
    terus juga kalau dapat uang seperti itu akan cepat hilangnya…

    1. itulah… awalnya kecil, kok ngerasa aman-aman saja. akhirnya membesar deh

  2. si ibu mengerikan ih…
    kok nggak malu juga cerita sama orang lain ya

    1. itulah mbak, bukannya malu, tapi malah gaya bicaranya menggurui saya

  3. Banyak karyawan dan pejabat yg cari sampingan kayak gini… miris

    1. ini mungkin penyebab pemerintah mulai tahun kemarin menurunkan nominal anggaran untuk perjalanan dinas πŸ™‚

  4. semoga tetap istiqomah.

    1. amiin… makasih mbak

  5. kalau jenjang karir wanitanya naik,
    calon pemimpin ‘pemakan’ juga.

    1. kecil aja dimakan, apalagi yang besar ya…
      parahnya lagi klo mulai ajak-ajak anak buah untuk melakukan hal yang sama

  6. Kalau inget anak-anak jadi mikir mau ikutan yang gituan mbak nanik. Duh, ntu anaknya model apa kalau dikasih yang haram-haram

    1. hiya mbak, puas sementara dapat materi berlebih, tapi batin tersiksa dikejar rasa bersalah

  7. Saking terbiasanya melakukan hal2 kurang baik, dia sudah tidak malu mbak untuk berbagi pengalaman. Bisa jadi waktu dia menjadi pegawai nyogok atau nepotisme jadi dia nyari cara tipu2 seperti itu.
    Semoga mampu melewati semua godaan2 yang menjerumuskan,

    1. amiin… makasih doanya.
      bisa jadi juga karena latar belakang itu, jadinya cari-cari cara supaya modalnya segera balik

  8. Malang lagi hujan abu mbak, sampeyan malangnya dimana ?

    1. saya di malang kota, malah nggak kena abu kelud

  9. ah… semoga Allah menjaga kita dari hal-hal buruk -yang tampaknya sudah biasa, sekalipun… Aamiin.. Pa kabar, mbak Nanik.. sudah berkumpul lagi dg keluarga ya.. πŸ™‚

    1. amiin….
      alhamdulillah sudah berkumpul lagi dengan keluarga, dah puas nguyel-uyel anak-anak πŸ™‚

  10. wah, padahal itu udah termasuk melakukan korupsi ya bun… πŸ™
    semoga kita dijauhkan dari perbuatan seperti itu… πŸ™‚

    1. amiin…
      semoga dijauhkan dan selalu kuat untuk menepis godaannya

  11. Benar sekali, Mbak, rezeki yang penting berkah. Rasanya lebih bahagia menikmatinya. Sungguh.

    1. asyik… asyik… banyak yang setuju

  12. iiih! Kok begitu ya..Dia nggak nyadar bahwa perbuatan itu adalah sebuah kesalahan dan dosa ya..
    Bener Mbak. Yang besar itu mulai dari yang kecil. Jika dari hal kecil ia bisa melakukan korupsi, sudah bisa dipastikan itulah yang akan ia lakukan jika ia mendapatkan kesempatan korupsi yang lebih besar..
    Semoga kita selalu diberi kesadaran untuk tidak memiliki sifat serakah itu

  13. saya sejak kecil selalu diajarkan, uang yang diterima itu harus ada alasannya, alasan yang bisa dipertanggung jawabkan baik kepada pemberi maupun kepada Tuhan.
    Uang-uang manipulasi seperti itu tidak barokah katanya

    1. dan ajaran seperti itu memang benar, harus kita teruskan untuk diajarkan pada anak-anak

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis