Tatap Muka Virtual dalam Diklat Penguatan Kepala Sekolah




Tatap muka virtual dalam diklat penguatan kepala sekolah dilakukan karena walaupun sudah memasuki masa new normal, penyelenggara diklat masih menghindari adanya kerumunan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir penyebaran virus covid-19. Apalagi di Jawa Timur, angka kejadiannya masih tinggi.

Para orang tua sibuk menemani anak-anaknya belajar online. Para guru sibuk mencari cara agar murid-muridnya tetap belajar walau di rumah saja. Sementara itu, para kepala sekolah pun di tuntut untuk belajar lagi dalam kegiatan diklat penguatan kepala sekolah. Mereka tak hanya belajar materi pengelolaan sekolah, tapi juga belajar menggunakan teknologi. Nggak cuma siswa dan guru yang dituntut lancar berdialog lewat zoom, kepala sekolah pun harus bisa.

Diklat Penguatan Kepala Sekolah

Sudah jadi kepala sekolah pun harus tetap ikut diklat juga ya?

Iya dong. Karena mutu pendidikan sangat dipengaruhi oleh kompetensi kepala sekolah.

Salah satu kebijakan prioritas Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah menyiapkan Kepala Sekolah yang kompeten dan mampu berpikir visioner dalam memimpin dan mengelola sekolahnya. Target utama yang ingin dicapai adalah membangun tata kelola dan budaya mutu di sekolah yang berdaya saing tinggi.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah menyatakan bahwa salah satu syarat mengikuti proses pengangkatan menjadi kepala sekolah adalah seorang calon kepala sekolah harus memiliki Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP) Calon Kepala Sekolah.

Bagi Kepala sekolah yang diangkat sebelum diundangkannya Permendikbud tersebut dan belum memiliki STTPP Calon Kepala Sekolah wajib mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan (Diklat) Penguatan Kepala Sekolah.

Oleh karena itulah, sejak tahun 2019, pemerintah secara bertahap telah melakukan diklat penguatan kepala sekolah. Targetnya, dalam 2 tahun semua kepala sekolah dari semua jenjang pendidikan yang diangkat sebelum diundangkannya Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 telah mengikuti diklat penguatan kepala sekolah

Mekanisme Diklat Penguatan Kepala Sekolah di Masa Pandemi Covid-19

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, walau sudah memasuki masa new normal, sudah boleh melakukan perjalanan dinas keluar kota, tapi karena di Jawa Timur masih banyak zona merah, jadi kegiatan diklat penguatan kepala sekolah dilakukan secara daring murni.

Diklat Penguatan Kepala Sekolah ini dirancang dalam 3 (tiga) tahap, yaitu On-the Job Training (OJT) 1, In-Service Training (IST), dan On-the Job Training (OJT) 2, dengan pola 71 (tujuh puluh satu) jam pelajaran (JP) @ 45 menit.

mekanisme diklat penguatan kepala sekolah
Mekanisme diklat penguatan kepala sekolah

On the Job Training 1

On the Job Training (OJT) 1 merupakan tahap awal dari kegiatan Diklat Penguatan Kepala Sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring terbimbing selama 10 (sepuluh) JP setara dengan 5 (lima) hari menggunakan Learning Management System (LMS). Pada tahap ini peserta mengidentifikasi masalah pembelajaran, menyusun praktik baik yang pernah dilakukan selama menjabat sebagai kepala sekolah, dan mempelajari bahan pembelajaran secara mandiri terbimbing.

kegiatan OJT 1
Kegiatan OJT 1

In Service Training

IST dilaksanakan selama 40 (empat puluh) JP atau setara 5 (hari) hari tatap muka langsung atau 8 (delapan) hari tatap muka virtual. Pada tahap IST, dengan difasilitasi pengajar diklat, peserta berdiskusi menyampaikan masalah, pemecahan masalah, dan berbagi praktik baik dalam kelompok yang telah dipetakan oleh pengajar sesuai dengan kesamaan/kemiripan rumpun tema. Setelah diskusi dan berbagi praktik baik selesai, peserta akan dibimbing oleh pengajar untuk menyusun matrik Rencana Pengembangan Sekolah (RPS), merancang instrumen monitoring dan evaluasi (monev), dan membuat jadwal Rencana Tindak Lanjut (RTL). Pada akhir kegiatan IST peserta akan mengerjakan tes akhir melalui SIM Diklat Tendik.

kegiatan in service training
Kegiatan IST

On the Job Training 2

On the Job Training (OJT) 2 merupakan tahap akhir dari pelaksanaan Diklat Penguatan Kepala Sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring selama 11 (sebelas) hari di sekolah asal peserta. Pada kegiatan ini, peserta berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah dan pemangku kepentingan akan melaksanakan pengembangan sekolah yang telah disusun pada IST dan selanjutnya menyusun laporan pengembangan sekolah, melakukan evaluasi hasil pelaksanaan pengembangan sekolah, serta melakukan refleksi.

kegiatan on the job training 2
Kegiatan OJT 2

Serba Serbi Tatap Muka Virtual Bersama Kepala Sekolah TK

Dalam diklat penguatan kepala sekolah ini, peran saya adalah sebagai admin LMS. Platform LMS yang digunakan adalah moodle. Untuk kegiatan vicon, menggunakan zoom.

Saya menangani satu kelas dengan 20 peserta, semuanya kepala sekolah TK. Ada yang masih muda dan sudah akrab dengan teknologi. Ada yang sudah sepuh, bahkan 8 bulan lagi pensiun. Walau berbagai macam usia, mereka semua bersemangat mengikuti diklat penguatan kepala sekolah ini.

 tatap muka virtual diklat penguatan kepala sekolah
Sesi tatap muka virtual diklat penguatan kepala sekolah

Tugas saya adalah setting LMS dan juga menjadi host dan moderator dalam kegiatan vicon. Setting LMS nggak ada masalah, dan saya baru tahu kalau moodle versi terbaru ini sudah ada fasilitas untuk menambahkan aktivitas meeting di zoom. Jadi cukup menjadwalkan meeting di LMS, di akun zoom otomatis akan terjadwal juga. Syaratnya adalah akun di LMS sama dengan akun di zoom.

Bimtek Pengenalan LMS

Sebelum kegiatan OJT 1 dimulai, ada sesi bimtek pengenalan LMS pada peserta, selama 6 JP. 1 JP itu hitungannya 45 menit. Bimtek dilaksanakan dengan menggunakan zoom.

Tadinya, saya pikir pengenalan LMS selama 6 JP itu lamaaa banget. Terlalu lama kalau hanya untuk mengenalkan LMS pada peserta. 2 JP juga cukup.

Tapi setelah di jalani, 6 JP ini kurang sodara-sodara. Mengajari peserta untuk download materi dan tugas, melaksakan diskusi dan chatting di LMS, bergabung dalam zoom, share screen, mengaktifkan/non-aktifkan video dan audio, cara mengirim tugas. Tidak cukup dilaksanakan dalam 6 JP. Saya harus mengulang… mengulang… dan mengulang lagi. Yah, memang dibutuhkan kesabaran mengajari penggunaan LMS jarak jauh begini.

Kegiatan In Service Training

Ujian kesabaran kedua adalah saat kegiatan IST. Selama 8 hari harus online lewat zoom selama 5 JP yang setara dengan 5 x 45 menit. Sabtu dan minggu juga, nggak ada liburnya. Zoomnya nggak cuma saat pemaparan materi, tapi juga saat peserta mengerjakan tugas maupun berdiskusi, semuanya terpantau. Selama sesi zoom, kamera harus selalu ON, sehingga pengajar bisa memantau aktivitas peserta. Benar-benar tatap muka virtual.

Namanya kepala sekolah ya, kan biasanya kepala sekolah itu identik dengan meminta tolong pada anak buah kalau ada pekerjaan berkaitan dengan penggunaan komputer. Lha tapi disini, mereka harus mengerjakan sendiri. dan sesi zoom saat IST yang 5 JP ini bisa molor karena peserta ada yang masih kesulitan dalam memanfaatkan komputer untuk pengerjaan tugas.

Akhirnya, diambil kebijakan, bahwa kepala sekolah boleh meminta bantuan asisten untuk mengoperasikan komputer. Jadinya kalau ngezoom kelihatan deh ada yang duduk di samping peserta, maka itu adalah asistennya. Ada yang anaknya, ada yang menantunya, ada juga guru di sekolahnya yang paham komputer.

Berkat mendampingi kepala sekolah TK ini saya jadi tahu juga keluh kesah mereka yang mengelola TK. Salah satu keluhannya adalah, banyak orang tua yang nggak mau meninggalkan anaknya di sekolah. Orang tua ini nungguin terus anaknya, dari awal sampai akhir. Hihi… hayo pembaca blog ini adakah yang begitu juga?

Begitulah pengalaman saya menjadi admin LMS untuk kegiatan diklat penguatan kepala sekolah secara tatap muka virtual.

72 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *