Berastagi, Pesona diantara Tiga Gunung

Tahun 2020 udah hampir berakhir, tapi masih belum bisa piknik juga. Sebenarnya kalau baca-baca di media, banyak tempat wisata yang sudah buka kembali .Tapi saya kok masih merasa belum bisa nyaman berwisata dimasa pandemi gini. Apalagi punya anak kecil.

Baiklah mengobati kerinduan pada keinginan untuk piknik, kita poles saja tulisan lama mengenai kota Berastagi, pesona diantara tiga gunung. Berastagi merupakan daerah pegunungan di wilayah kabupaten Karo, Sumatera Utara. Sebuah kota kecil yang hawanya sejuk, pemandangannya indah dan penduduknya ramah.

Perjalanan Menuju Berastagi

Saya ke Berastagi pada tahun 2012, karena ada urusan pekerjaan. Bertemu dengan guru-guru SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Saat itu bandara di Medan masih di Polonia. Dari bandara Polonia, saya naik taksi menuju pool angkutan Medan-Berastagi di Padang Bulan. Ongkos taksinya 50 ribu. Saya kesana berdua dengan teman satu kantor.

Kami diturunkan di pool BTN (Bintang Tani Jaya). Mobil yang akan digunakan untuk mengangkut penumpang ke Berastagi adalah L300. Tarif Medan-Berastagi cukup murah, hanya 15 ribu per orang

tiket medan berastagi bintang tani jaya
Tiket minibus

Setelah membeli tiket, kami tidak langsung berangkat. Harus nunggu mobilnya datang dulu. Pantesan kok poolnya sepi, ternyata memang belum ada mobilnya. Sudah ada dua calon penumpang yang sedang menunggu kala kami sampai.

Setelah mobilnya datang, barang-barang dinaikkan ke atas mobil. Ada berkarung-karung barang, kayaknya dagangan. Setelah barang-barang selesai dinaikkan, ditata, ditutup terpal dan diikat kuat-kuat, barulah para penumpang dipersilakan naik.

minibus bintang tani jaya
Barang-barang dinaikkan diatas atap mobil

Dan selanjutnya dimulailah perjalanan menuju Berastagi, yang ditempuh sekitar 2 jam dengan melalui jalanan yang berliku. Di perjalanan saya lihat ada banyak monyet di pinggir jalan. Berulangkali kami berpapasan dengan minibus dengan beberapa penumpang duduk diatapnya. Wah berani sekali mereka, padahal jalannya berliku-liku.

Menurut penumpang disamping saya, emang biasa begitu. Daripada nggak keangkut dan harus nunggu mobil dibelakangnya yang jarak waktunya lama. Entahlah, sekarang apakah masih seperti itu.

Memasuki wilayah berastagi, mulai terasa hawa dingin. Ada banyak kebun strawberry, buahnya merah bergelantungan sangat menggoda. Ada beberapa papan tulisan yang menawarkan wisata petik strawberry. Memasuki pusat kotanya, terdapat tugu perjuangan yang tinggi dan megah juga.

Tugu perjuangan berastagi
Tugu perjuangan berastagi

Sekitar 300 meter dari tugu perjuangan, ada lagi sebuah tugu yang bentuknya mirip bunga kol, dan dinamai tugu kol. Tugu kol ini dibangun karena daerah itu merupakan penghasil kol.

Tugu kol berastagi
Tugu kol berastagi

Oleh panitia, kami disuruh turun di tugu kol tersebut. Disana sudah ada dua orang pejemput. Lalu kami menyeberang jalan dan masuk ke penginapan. Kami menginap di Wisma Sibayak. Bangunan bertingkat 2, saya dapat kamar di lantai 2. Kamarnya kecil. Tapi cukuplah buat saya sendiri.

Wisma sibayak berastagi
Wisma sibayak berastagi

Gunung-gunung di Berastagi yang Mempesona

Setelah semalam tidur lelap berselimut tebal dan pagi-pagi menggigil namun tetap memaksakan mandi, tibalah saatnya sarapan. Turunlah kami ke lobby penginapan. Wah ada banyak bule! Mereka sarapan apa ya?

Tertarik dengan menu yang sedang disantap para bule itu, kami ke bagian resepsionis. Tapi belum sampai menyebutkan menu dah didahului ama mbaknya

“Mau sarapan apa? Klo buat tamu lokal menunya nasi goreng, mi goreng ama mi kuah”

HAH? kok diskriminasi gini sih. Mau protes juga nggak bisa karena aturannya gitu. Akhirnya karena badan masih kedinginan, kami pilih mi kuah saja, sekalian buat penghangat. Dan ternyata mi kuah = indomie rebus!

Usai sarapan, kami ke lokasi, di smk Bersama. Dari penginapan, kami naik angkot, tarifnya cukup murah, 2000 per orang. Di pekarangan rumah penduduk, kami lihat sebagian besar ditanami sayuran. Tomat, buncis dan ada kol juga. Di beberapa halaman rumah, saya lihat ada makam juga di samping/depan rumah.

Gambarnya nggak begitu jelas, karena diambil saat angkot masih berjalan dan posisi duduk uyel-uyelan.

Katanya, memang biasa orang sini memakamkan anggota keluarganya dekat rumah, atau bahkan di kebun/ladang mereka.

Sudah beranjak siang, tapi masih saja hawanya dingin banget. Ini karena Berastagi memang didataran tinggi, dikelilingi deretan bukit barisan, ada tiga gunung juga di dekatnya.

Pertama, adalah gunung sibayak. Yang kedua, gunung sinabung yang sampai sekarang masih sering mengepulkan asap. Yang ketiga, gunung Barus.

Orang suku Karo menyebut gunung Sibayak dengan sebutuan “gunung Raja”. Gunung Sibayak merupakan gunung berapi dan meletus terakhir tahun 1881. Gunung Sibayak memiliki ketinggian 2.172 m

gunung Sibayak
Gunung Sibayak

Gunung Sinabung memiliki ketinggian 2.451 meter. Dikutip dari Wikipedia, gunung Sinabung tidak pernah tercatat meletus sejak tahun 1600, tetapi mendadak aktif kembali dengan meletus pada 27 Agustus 2010. Letusan terakhir gunung ini terjadi sejak 19 Februari 2018 dan berlangsung hingga kini.

Gunung Sinabung
Gunung Sinabung
Gunung Barus
Gunung Barus

Pemandian Air Panas Kaki Gunung Sibayak

Hari terakhir pelatihan, kami sengaja akhiri jam 3, karena peserta mau ngajak mengunjungi pemandian air panas di kaki gunung sibayak. Dari Berastagi perjalanan sekitar 30 menit. Sampai lokasi pemandian, langsung deh foto-foto.

Pemandiannya namanya sibayak view, ada warung makannya juga, ada kolam ikan. Rombongan dipecah jadi dua, sebagian berendam duluan, sebagian lagi bakar-bakar ikan. Saya sih celupin kaki aja ke kolamnya, merasakan hangatnya. Setelah itu bergabung dengan rombongan pembakar ikan.

Kolam untuk berendam ada banyak, tiap kolam ada namanya sendiri. Tiap kolam, suhu airnya berbeda. Dari yang hangat-hangat kuku, sampai yang panas. Pengunjung bebas memilih mau berendam di kolam yang mana. Disediakan juga ruang ganti dan toilet. Sayangnya kamar ganti nggak ada pintunya, dan toilet kotor serta pintunya rusak.

pemandian sibayak view
Kolam air panas

Dari pemandian ini juga, gunung sibayak terlihat dekat sekali. Ya emang aslinya udah dekat, lha wong pemandiannya di kaki gunung kok

Sayangnya kami ke sana sudah menjelang maghrib jadi nggak bisa naik hingga ke puncak gunung sibayak. Katanya, dari perhentian terakhir naik mobil, jalan kaki 20 menitan udah bisa sampai di puncaknya.

Waktu kami sampai di pemandian itu, tak banyak pengunjungnya. Makin malam bukannya makin sepi, malah makin ramai. Dalam perjalanan pulang pun kami berpapasan dengan beberapa bis yang membawa rombongan dengan tujuan pemandian sibayak view ini.

Puas berendam, perut lapar. Disambung menikmati ikan bakar, walau bumbunya hanya kecap manis, tak apalah. Tetap terasa nikmat. Apalagi ikannya memang masih segar, jadi bener-bener gurih.

Mengenal Budaya Karo

Malam terakhir di Berastagi, saya banyak ngobrol dengan pemandu kami disana. Lebih banyak tentang budaya dan tata sosial masyarakat Karo. Menurutnya, orang Karo tidak suka disebut sebagai orang Batak. Batak Karo? bukan, Karo. Katanya, karena image orang kebanyakan adalah klo orang sebut Batak, itu pasti yang terbayang orang yang keras, bahkan terkesan kasar gaya bicaranya. Padahal orang Karo tidak seperti itu, nada bicara mereka datar saja, tidak menghentak-hentak, bahkan saya temui beberapa orang cara berbicaranya bisa saya katakan halus.

Emang bener sih menurut saya, klo denger kata batak, otomatis deh kebayang orang yang bicaranya keras, bahkan suka teriak-teriak. Kata pemandu saya, klo orangnya keras seperti itu, artinya mereka dari batak Toba.

Jadi sebenarnya ada berapa macam batak? Menurutnya ada 5, yaitu batak toba, karo, pakpak, simalungun dan mandailing. Bagaimana membedakan seseorang itu termasuk batak mana, adakah ciri khasnya? Bagi orang luar agak susah membedakan, tapi bagi orang batak sendiri, dapat membedakan kala seseorang berbicara. Dari nada bicaranya akan ketahuan dia dari kelompok batak apa.

Dalam tatanan masyarakat Karo, ada tiga tingkatan status sosial, yaitu Kalimbumbu, sembuyak dan anak beru. Tingkatan sosial ini berbeda dengan kasta yang dikenal di masyarakat Hindu. Dalam tatanan masyarakat karo, tidak selamanya seseorang itu menjadi kalimbumbu. Bisa jadi suatu saat ia kalimbumbu, bisa jadi suatu saat dia jadi anak beru.

Kalimbumbu adalah tingkatan tertinggi, dalam acara-acara adat, orang dengan tingkatan ini bisa jadi penyambut tamu, atau bahkan hanya duduk manis dan dilayani.

Sembuyak, tingkatan menengah, bisa diartikan saudara, atau memiliki hubungan yang setara. Anak beru adalah tingkatan paling bawah. Dia ini bertanggungjawab atas segala urusan dalam acara-acara adat, terutama urusan dapur. Jadi bisa saja seseorang itu diluar berpangkat jendral, namun saat ada acara adat dia berkutat saja di dapur, tidak tampil di depan sebagai penyambut tamu.

Satu lagi tatanan sosial disana yang membuat saya heran, bahkan sampai tertawa-tawa saat diceritakan, yaitu masalah tabu untuk berbicara dengan seseorang karena hubungan tertentu. Misalnya saya dan suami menikah. Maka saya tak boleh berbicara dengan bapak mertua saya. Suami tak boleh berbicara dengan ibu saya. Jangankan berbicara, bertemu pun sebisa mungkin harus dihindari. Bagaimana jika suami saya ada keperluan dengan ibu saya? Bisa minta tolong orang lain untuk menyampaikan. Bagaimana jika saat itu tak ada orang lain, sementara keperluannya sangat mendesak? Maka sampaikan lewat perantaraan dinding, bicaralah dengan dinding hingga, namun isi pembicaraannya ditujukan untuk ibu saya.

Sampai kapan aturan tak boleh bicara bahkan menyapa ini berlaku? Sampai mati. Saya jadi berpikir, bisa saja orang tua itu tadinya kelihatan akrab sekali dengan calon menantunya, tapi setelah anak dan calon menantunya itu menikah, jadi kayak orang bermusuhan, bertemu pun tak boleh.

Tapi namanya adat, tak boleh dipertanyakan apa alasannya. Saya hanya menduga-duga saja, mungkin setelah menikah, pengantin baru harus segera bisa punya rumah sendiri, entah beli atau kontrak, yang penting tidak tinggal serumah dengan orang tuanya. Harapannya mereka segera mandiri.

Satu lagi hal penting dalam tatanan sosial masyarakat karo, yaitu soal marga. Marga ini sangat penting, dan setiap anak sejak kecil sudah dijelaskan silsilah keluarganya. Jika dua orang akan menikah, maka harus ditelusuri marganya. Jika ternyata marganya berdekatan, mereka tak boleh menikah. Mereka boleh menikah tapi harus keluar dari wilayah adatnya. Dengan kata lain, kawin lari.

Jika ada pendatang dari luar karo, agar ia lebih cepat diterima oleh masyarakat, maka ia harus punya marga. Bagaimana caranya? Dia harus mencari bapak angkat. Seseorang yang mau mengangkat dia sebagai anaknya dan otomatis memasukkan dia ke dalam marganya. Si bapak angkat ini, nantinya akan memperkenalkan anak angkatnya pada semua kerabat dan kenalannya, sehingga orang banyak menjadi tahu bahwa dia punya marga, otomatis status sosialnya dimasyarakat menjadi lebih baik. Katanya, banyak juga orang dari etnis china yang punya marga di Karo.

62 Comments

  1. Mie kuah = indomie rebus ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

    He he terlalu ya?

    Brastagi nih impianku banget karena mirip Lembang, bahkan tanaman nya (kol dan strawberry)
    Duh pingin pisan kesana mbak

  2. Wah.. penjabarannya detil sekali mbak. Saya yang orang medan (melayu) aja nggak paham sampai sedetil itu soal adat karo, batak dan jenis2nya. Walau di rumah ortu di medan kami punya tetangga dengan suku batak dan mandaiping.. tapi masih belum terlalu paham.

  3. Saya lahir di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara. Waktu kecil pernah juga nih ke Berastagi dan Danau Toba. Senangnya karena hotel kami kala itu di pinggir danau langsung. Jadi kalau meu berenang ke danau langsung nyemplung. Dan saya baru tahu soal suku lain ingin masuk ke sana ternyata harus mencari bapak angkat ya

  4. suami temenku juga dikasi marga pas nikah sesuai adat karo. jadi temenku punya marga baru.
    penasaran belum pernah nginjek pulau sumatra, semoga kapan2 bisa menjelajah sumatra termasuk ke berastagi ๐Ÿ™‚

  5. Sama Bunsay, aku juga masih takut ikh piknik di masa pandemi gini. Apalagi aku lagu hamil dan ada anak kecil juga. Bahkan di daerahku yang zona merah ini, aku juga belum ngijinin anak aku maen ama temen-temennya. Soalnya serem bun. Bahkan tetangga depanku ada yang positif sampai anak-anaknya juga kena. Yang kasian itu anak yang usianya 3 tahunan juga kena. Gimana nggak sedihnya aku

    Ngomong-ngomong soal berastagi, aku suka denger nama itu. Tapi nggak pernah main ke sana. Aku juga baru tahu kalau ternyata batak itu banyak jenisnya ya. Dan karo itu ternyata orangnya tipe lemah lembut ya bicaranya. Aku juga baru tahu gara-gara kemarin lihat tayangan indonesia idol ada yang berasal dari Karo. Ternyata karo dan batak toba itu berbeda

  6. Bener banget mbak pengen pergi kemana tapi rasanya belum berani aja padahal jiwa ini sudah meronta2 ingin piknik wkwkw.. Btw jadi pengen ke berastagi ๐Ÿ™‚

  7. wah asiknya mbak bisa menikmati pemandangan seindah itu..
    aku blm pernah jalan jalan ke luar pulau jawa ni, baca ini sedikit menghibur…
    krn sekalian jalan jalan virtual ke berastagi

  8. Aiiiih…Mbak Naniiiik bikin saya bernostalgia deeeh. Tahun 2009 – 2010 saya tinggal di Kabanjahe- ibukota Kabupaten Karo (sepelemparan batu dari Berastagi kaaaan,..Mbak Nanik mungkin waktu itu juga sempat ke Kabanjahe). Anak pertama saya lahir di rumah sakit Amanda yang terletak di Berastasi. Makanya di nama panjang anak saya ada Ladika, singkatan dari Lahir Di Karo ^-^.
    Itu mbak Nanik naik BTN brarti bukan naik jurusan Medan- Karo tapi mungkin Medan – Sidikalang atau Medan Subusalam. Kalau naik yg medan – Karo ya memang gituu…penumpang pada di atap kayak punya nyawa serep hahahaha.
    Terlepas dari sekian gegar budaya yang saya alami, pengalaman tinggal setahun di sana sangat berharga. Sampai sekarang saya juga masih menjalin kontak (walau hanya via sosmed) dengan kenalan2 di sana.

  9. Mba, unik juga ya kalau dari luar kota dan mau tinggal di Karo harus ada Bapak Angkat dulu. Ini berlaku bagi yang akan tinggal berapa lama di Karo mba ?

  10. Aku ngikik, Mba pas baca mie kuah = indomie goreng. Sudah kuduga dr awal baca perbedaan menu antara turis lokal, interlokal dan internasional.. xixixi.. mending milih nasi goreng kalau gitu ya.. hahaha..

  11. Lucu banget itu tugu kol nya bener2 dibuat seperti kol raksasa. Kayanya kalo ke berastagi aku wajib foto disana tapi kayanya di tempat lalu lintas ramai ya

  12. Unik juga ya mba budaya di sana, terutama tentang larangan berbicara dengan mertua tadi. Mungkin agar tidak terjadi kontak yang mengundang syahwat mungkin ya, karena bagaimanapun juga bukan muhrim. Heheeโ€ฆ mencoba berhuznudzon ๐Ÿ˜‰

    • Lah.. mertua mah udah jadi mahram, Mba. Ga boleh menikah malah. Mungkin maksudnya biar ga ada konflik antara mertua dan mantu kali yaa.. atau terjadi hal2 yang ga di ridhai. ^_^

  13. Duh..itu penginapannya kok ngebeda-bedain ya, hehehe. Padahal kita kan juga ingin sarapan seperti yang dimakan bule-bule itu, bukan mie rebus yang ternyata indomie rebus ๐Ÿ˜€

    Saya juga heran dengan masalah tabu untuk berbicara dengan seseorang karena hubungan tertentu. Kok ada ya, adat seperti itu, hubungan antar keluarganya malah jadi renggang.
    Eh mungkin juga ya, tujuannya supaya anaknya bisa mandiri dan tinggal terpisah dengan orang tua

  14. masalah tabu untuk berbicara dengan seseorang karena hubungan tertentu. Misalnya saya dan suami menikah. Maka saya tak boleh berbicara dengan bapak mertua saya. Suami tak boleh berbicara dengan ibu saya. –> kok rempong banget ya mbaaa wkwkwkw.
    Tapi mungkin ini tujuannya untuk mengurangi potensi terjadinya friksi kali ya. atau, boleh jadi, zaman dulu banyak insiden affair antara mertua dan menantu hehehehhe. Kadang2 kita ga paham kearifan lokal daerah tertentu.

  15. Aku belum pernah ke Medan, pingin banget ke sana tapi keburu pandemi kemarini ini. Pemandangannya indah pastinya ya Berastagi yang dikellilingi tiga gunung. Ternyata ada pemandian air panas juga di sana ya

  16. Berastagi, satu tempat yang ingin kukunjungi di tanah Karo. Selain ingin bertemu dan menyambang teman lama saya, juga ingin menikmati keindahannya.

    Waduuh.. jadi ketika kita ingin diterima dengan hangat di sana, mesti punya bapak angkat dulu ya? Etnis China banyak yang punya bapak angkat di sana mungkin biar mudah urusan dagang dan koleganya.

  17. Inget Brastagi aku inget pelajaran SD kelas 5 atau 6 gitu yang cerita soal perjalanan anak ke rumah neneknya, kalau gak salah di buku Bahasa Indonesia hehe
    Wah ternyata orang Batak juga masih berbeda susk2nya dan masih ada turunannya pula yaaa.
    Baru tahu soal hal yang tabu2an gitu mbak, wah gak sampek gak boleh berbicara sama metua gitu huhu.
    Yaaa begitulah adat ya tapi aku penasaran sama latar belakangnya knp hehe

  18. Baru tau, ternyata Batak ada 5 macam ya. Aku kira Batak Karo ya orang Batak, sama gitu. Ternyata beda ya. Asik banget bisa explore Brastagi, bisa lihat gunung Sinabung dan Sibayak

  19. Duh, menjelajah pergi ke Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Utara sudah menjadi cita-cita saya. Sebab, saya masih punya saudara di Sumut sana. Eyang saya dari Mandailing. Jadilah saya juga mau jalan-jalan ke sana. Membaca ini semakin menambah besar keinginan untuk bisa ke sana. Bismillah semoga bisa sampai ke tempat-tempat yang ada di tulisan ini, aamiin

  20. Indonesia kaya bgt ya kak. Setiap ada yg bercerita soal traveling pasti bikin pengen mengunjungi langsung. Aku baru tau lho ttg adat unik orang Batak yg katanya tidak membolehkan menantu dan mertua berinteraksi hehe

  21. Wah, dah sampe Brastagi ternyata. Tpt wisata favorit orang Medan nih, soalnya dekat hehe.
    Skrg gak jauh beda sih dama 8 th lalu. Cuma tpt wisatanya tambah banyak, terutama cafe dgn pondok rumah2 yg instagenic.

  22. Yahโ€ฆ Harusnya warga lokal sama turis asing jangan dibedain ya mba,menu sarapan nya.
    Kan kadang kita juga pengen nikmati menu menu yang belum pernah kita coba. Tapi terlepas dari itu semua,,, menyenangkan ya mba bisa melihat langsung pemandangan 3 gunung sekaligus.

  23. Wow.. mba Nanik udah pernah ke Berastagi ya.
    Harus ke sini lagi mba..
    Karena 2020 wisata Berastagi semakin maju mba. Ada banyak spot baru. Katakan saja, ada taman bunga madu Evi, kuil hingga spot pemandian baru dibuka di beberapa titik. Wah saya saja yang di Medan gak sabar pengen ke sana.

  24. Aku sangat suka membaca cerita perjalanan, apalagi jika memuat budaya lokal. Unik dan sangat menarik.

    Ujung-ujungnya pasti punya harapan bisa berkunjung dan menikmati daerah itu. Aku sering dengar Berastagi di televisi dan itu asyik ditonton.

    Oh ya, Kak… Budaya tidak boleh bicara pada anggota keluarga tertentu ada baiknya juga sih. Meminimalisir konflik juga bisa, dan betul, mungkin biar misah dan mandiri.

  25. Duh, aku tuh belum pernah lintas Sumatera nih hihihihihi : Berastagi menarik ya, wisata dan pemadangan alamnya emmesona. Kepengen juga seandainya suatu hari bisa berkunjung tuh mau berendam di kolam panas, trus kulineran dekat Tugu Perjuanagn dll.

  26. Waaah aku setuju dengan larangan berbicara ini, menghindari “cerita tidak enak” di kemudian hari yaaa

    karena kan jaman dulu masih jarang manusia, lah kalo pas mereka serumah, mungkin daripada daripada….

    Berastagi oh berastagi, daku langsung cari di YT iniiii

  27. Dari gunung-gunung tersebut saya paling familiar dengan gunung Sinabung, kalau melihat gunung tuh saya takjub banget akan keindahan alam dan dinginnya cuaca di daerah pegunungan tersebut

  28. Brastagi disebut sebagai puncaknya orang Medan juga Mbak… soalnya udaranya sejuk di kaki pegunungan Sinabung dan Sibayak. Kalau gunung Barus malah gak populer. Btw, yg adat karo gak boleh ngomong antarorang tertentu itu sepertinya zaman sekarang sudah terkikis Mbak… keluarga saya yg nikah sama suku Karo biasa2 aja, kayak kita juga. Kapan ke Brastagi lg kl lewat Medan, kita kopdar kuy Mbak Nanik…

  29. Wah, sarapannya kok dibedakan sih…gitu amat yak, mana mie kuah ternyata indomie rebus…duh
    Saya beberapa kali ke Berastagi, barengan keluarga, gathering kantor suami ataupun ibuk-ibuk pengajian komplek saat tinggal di Sumut dulu…pokoknya orang Sumut wisatanya ke sini deh karena pesona 3 gunung yang disebutkan itu. Dan khasnya adalah sayur dan buah muraaah, pulangnya pasti borong kami

  30. wuaa brastagi memang bikin nagih lagi ya mau ke sana lagi.. pernah ke sana tapi udaah lama 10 tahun dan memang suasananya bikin adem. aniwei itu gunung sinabung masih aktif aja ya mba

  31. Iya terkadang tatanan adat memang tidak bisa dipertanyakan kenapa, hanya tinggal di jalani ya mbak. Pasti ada hikmah baiknya

  32. Sebagai yang pernah menumpang lahir di Sumatera, aku juga selalu merasa orang Batak ini keras.
    Heheheโ€ฆtapi karena kami keturunan Surabaya, jadi uda paham banget.
    Karena mirip-mirip laahโ€ฆ

    Yang asik itu, mereka kalau gak suka, langsung ngomong gak suka.
    Jadi mudah memahami maksud hatinya. Gak menerka-nerka.

  33. Belum pernah sama sekali ke Pulau Sumatera. Semoga kapan-kapan ada kesempatan ke sana, pengen juga nih trip ke Berastagi. Kebayang gimana indahnya pemandangan tiga gunung, yang bisa dinikmati dari satu tempat yang sama.

  34. Tak menyangka, Brastagi seelok itu.waaah….bahkan ada 3 gunung yang memesona. Saya sudah lama tahu Gunung Sinabung yang aktif. Gunung Barus mengingatkan pada perdagangan kuno.
    Ah, luar biasa

  35. Ngomongin Gunung Sibayak, jadi keinget lagu dangdut nostalgia Lanai Aku Lanai ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    Btw unik banget ya adat Karo. Dan Batak Karo ternyata beda ya dengan Batak Toba atau lainnya. Dari membaca ini jadi tau banyak tentang adat Batak dan Berastagi yang mungkin kalau di Jawa sama seperti Bandung yang dingin.

  36. Bagus banget, Mbak pemandangannya. Dikelilingi gunung begitu pasti adem yaaa. Soal adat jadi inget cerita teman kalau dia dan ipar laki-laki, atau suaminya dan kakak perempuannya temen saya itu nggak boleh ngobrol secara langsung.

  37. Brastagi ini macem Malang kali ya mbak, diapit gunung Semeru, Arjuno dan Kawi. Aku tertarik sama tatanan adat masyarakat Karo, unik juga terutama hubungan mertua-menantu. Semoga bisa sambang Brastagi deh someday

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan ini, ditunggu komentarnya. Please... jangan meninggalkan link hidup ya