Berastagi, Pesona diantara Tiga Gunung




Tahun 2020 udah hampir berakhir, tapi masih belum bisa piknik juga. Sebenarnya kalau baca-baca di media, banyak tempat wisata yang sudah buka kembali .Tapi saya kok masih merasa belum bisa nyaman berwisata dimasa pandemi gini. Apalagi punya anak kecil.

Baiklah mengobati kerinduan pada keinginan untuk piknik, kita poles saja tulisan lama mengenai kota Berastagi, pesona diantara tiga gunung. Berastagi merupakan daerah pegunungan di wilayah kabupaten Karo, Sumatera Utara. Sebuah kota kecil yang hawanya sejuk, pemandangannya indah dan penduduknya ramah.

Perjalanan Menuju Berastagi

Saya ke Berastagi pada tahun 2012, karena ada urusan pekerjaan. Bertemu dengan guru-guru SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Saat itu bandara di Medan masih di Polonia. Dari bandara Polonia, saya naik taksi menuju pool angkutan Medan-Berastagi di Padang Bulan. Ongkos taksinya 50 ribu. Saya kesana berdua dengan teman satu kantor.

Kami diturunkan di pool BTN (Bintang Tani Jaya). Mobil yang akan digunakan untuk mengangkut penumpang ke Berastagi adalah L300. Tarif Medan-Berastagi cukup murah, hanya 15 ribu per orang

tiket medan berastagi bintang tani jaya
Tiket minibus

Setelah membeli tiket, kami tidak langsung berangkat. Harus nunggu mobilnya datang dulu. Pantesan kok poolnya sepi, ternyata memang belum ada mobilnya. Sudah ada dua calon penumpang yang sedang menunggu kala kami sampai.

Setelah mobilnya datang, barang-barang dinaikkan ke atas mobil. Ada berkarung-karung barang, kayaknya dagangan. Setelah barang-barang selesai dinaikkan, ditata, ditutup terpal dan diikat kuat-kuat, barulah para penumpang dipersilakan naik.

minibus bintang tani jaya
Barang-barang dinaikkan diatas atap mobil

Pemandangan tak Biasa

Dan selanjutnya dimulailah perjalanan menuju Berastagi, yang ditempuh sekitar 2 jam dengan melalui jalanan yang berliku. Di perjalanan saya lihat ada banyak monyet di pinggir jalan. Berulangkali kami berpapasan dengan minibus dengan beberapa penumpang duduk diatapnya. Wah berani sekali mereka, padahal jalannya berliku-liku.

Menurut penumpang disamping saya, emang biasa begitu. Daripada nggak keangkut dan harus nunggu mobil dibelakangnya yang jarak waktunya lama. Entahlah, sekarang apakah masih seperti itu.

Memasuki wilayah berastagi, mulai terasa hawa dingin. Ada banyak kebun strawberry, buahnya merah bergelantungan sangat menggoda. Ada beberapa papan tulisan yang menawarkan wisata petik strawberry. Memasuki pusat kotanya, terdapat tugu perjuangan yang tinggi dan megah juga.

Tugu perjuangan berastagi
Tugu perjuangan berastagi

Sekitar 300 meter dari tugu perjuangan, ada lagi sebuah tugu yang bentuknya mirip bunga kol, dan dinamai tugu kol. Tugu kol ini dibangun karena daerah itu merupakan penghasil kol.

Tugu kol berastagi
Tugu kol berastagi

Oleh panitia, kami disuruh turun di tugu kol tersebut. Disana sudah ada dua orang pejemput. Lalu kami menyeberang jalan dan masuk ke penginapan. Kami menginap di Wisma Sibayak. Bangunan bertingkat 2, saya dapat kamar di lantai 2. Kamarnya kecil. Tapi cukuplah buat saya sendiri.

Wisma sibayak berastagi
Wisma sibayak berastagi

Gunung-gunung di Berastagi yang Mempesona

Setelah semalam tidur lelap berselimut tebal dan pagi-pagi menggigil namun tetap memaksakan mandi, tibalah saatnya sarapan. Turunlah kami ke lobby penginapan. Wah ada banyak bule! Mereka sarapan apa ya?

Sarapan Tak Sesuai Harapan

Tertarik dengan menu yang sedang disantap para bule itu, kami ke bagian resepsionis. Tapi belum sampai menyebutkan menu dah didahului ama mbaknya

“Mau sarapan apa? Klo buat tamu lokal menunya nasi goreng, mi goreng ama mi kuah”

HAH? kok diskriminasi gini sih. Mau protes juga nggak bisa karena aturannya gitu. Akhirnya karena badan masih kedinginan, kami pilih mi kuah saja, sekalian buat penghangat. Dan ternyata mi kuah = indomie rebus!

Usai sarapan, kami ke lokasi, di smk Bersama. Dari penginapan, kami naik angkot, tarifnya cukup murah, 2000 per orang. Di pekarangan rumah penduduk, kami lihat sebagian besar ditanami sayuran. Tomat, buncis dan ada kol juga. Di beberapa halaman rumah, saya lihat ada makam juga di samping/depan rumah.

Gambarnya nggak begitu jelas, karena diambil saat angkot masih berjalan dan posisi duduk uyel-uyelan.

Katanya, memang biasa orang sini memakamkan anggota keluarganya dekat rumah, atau bahkan di kebun/ladang mereka.

3 Gunung Mengelilingi Berastagi

Sudah beranjak siang, tapi masih saja hawanya dingin banget. Ini karena Berastagi memang didataran tinggi, dikelilingi deretan bukit barisan, ada tiga gunung juga di dekatnya.

Pertama, adalah gunung sibayak. Yang kedua, gunung sinabung yang sampai sekarang masih sering mengepulkan asap. Yang ketiga, gunung Barus.

Orang suku Karo menyebut gunung Sibayak dengan sebutuan “gunung Raja”. Gunung Sibayak merupakan gunung berapi dan meletus terakhir tahun 1881. Gunung Sibayak memiliki ketinggian 2.172 m

gunung Sibayak
Gunung Sibayak

Gunung Sinabung memiliki ketinggian 2.451 meter. Dikutip dari Wikipedia, gunung Sinabung tidak pernah tercatat meletus sejak tahun 1600, tetapi mendadak aktif kembali dengan meletus pada 27 Agustus 2010. Letusan terakhir gunung ini terjadi sejak 19 Februari 2018 dan berlangsung hingga kini.

Gunung Sinabung
Gunung Sinabung
Gunung Barus
Gunung Barus

Pemandian Air Panas Kaki Gunung Sibayak

Hari terakhir pelatihan, kami sengaja akhiri jam 3, karena peserta mau ngajak mengunjungi pemandian air panas di kaki gunung sibayak. Dari Berastagi perjalanan sekitar 30 menit. Sampai lokasi pemandian, langsung deh foto-foto.

Pemandiannya namanya sibayak view, ada warung makannya juga, ada kolam ikan. Rombongan dipecah jadi dua, sebagian berendam duluan, sebagian lagi bakar-bakar ikan. Saya sih celupin kaki aja ke kolamnya, merasakan hangatnya. Setelah itu bergabung dengan rombongan pembakar ikan.

Kolam untuk berendam ada banyak, tiap kolam ada namanya sendiri. Tiap kolam, suhu airnya berbeda. Dari yang hangat-hangat kuku, sampai yang panas. Pengunjung bebas memilih mau berendam di kolam yang mana. Disediakan juga ruang ganti dan toilet. Sayangnya kamar ganti nggak ada pintunya, dan toilet kotor serta pintunya rusak.

pemandian sibayak view
Kolam air panas

Dari pemandian ini juga, gunung sibayak terlihat dekat sekali. Ya emang aslinya udah dekat, lha wong pemandiannya di kaki gunung kok

Sayangnya kami ke sana sudah menjelang maghrib jadi nggak bisa naik hingga ke puncak gunung sibayak. Katanya, dari perhentian terakhir naik mobil, jalan kaki 20 menitan udah bisa sampai di puncaknya.

Waktu kami sampai di pemandian itu, tak banyak pengunjungnya. Makin malam bukannya makin sepi, malah makin ramai. Dalam perjalanan pulang pun kami berpapasan dengan beberapa bis yang membawa rombongan dengan tujuan pemandian sibayak view ini.

Puas berendam, perut lapar. Disambung menikmati ikan bakar, walau bumbunya hanya kecap manis, tak apalah. Tetap terasa nikmat. Apalagi ikannya memang masih segar, jadi bener-bener gurih.

Mengenal Budaya Karo

Malam terakhir di Berastagi, saya banyak ngobrol dengan pemandu kami disana. Lebih banyak tentang budaya dan tata sosial masyarakat Karo. Menurutnya, orang Karo tidak suka disebut sebagai orang Batak. Batak Karo? bukan, Karo. Katanya, karena image orang kebanyakan adalah klo orang sebut Batak, itu pasti yang terbayang orang yang keras, bahkan terkesan kasar gaya bicaranya. Padahal orang Karo tidak seperti itu, nada bicara mereka datar saja, tidak menghentak-hentak, bahkan saya temui beberapa orang cara berbicaranya bisa saya katakan halus.

Emang bener sih menurut saya, klo denger kata batak, otomatis deh kebayang orang yang bicaranya keras, bahkan suka teriak-teriak. Kata pemandu saya, klo orangnya keras seperti itu, artinya mereka dari batak Toba.

Tak Semua Orang Batak itu Sama

Jadi sebenarnya ada berapa macam batak? Menurutnya ada 5, yaitu batak toba, karo, pakpak, simalungun dan mandailing. Bagaimana membedakan seseorang itu termasuk batak mana, adakah ciri khasnya? Bagi orang luar agak susah membedakan, tapi bagi orang batak sendiri, dapat membedakan kala seseorang berbicara. Dari nada bicaranya akan ketahuan dia dari kelompok batak apa.

Dalam tatanan masyarakat Karo, ada tiga tingkatan status sosial, yaitu Kalimbumbu, sembuyak dan anak beru. Tingkatan sosial ini berbeda dengan kasta yang dikenal di masyarakat Hindu. Dalam tatanan masyarakat karo, tidak selamanya seseorang itu menjadi kalimbumbu. Bisa jadi suatu saat ia kalimbumbu, bisa jadi suatu saat dia jadi anak beru.

Kalimbumbu adalah tingkatan tertinggi, dalam acara-acara adat, orang dengan tingkatan ini bisa jadi penyambut tamu, atau bahkan hanya duduk manis dan dilayani.

Sembuyak, tingkatan menengah, bisa diartikan saudara, atau memiliki hubungan yang setara. Anak beru adalah tingkatan paling bawah. Dia ini bertanggungjawab atas segala urusan dalam acara-acara adat, terutama urusan dapur. Jadi bisa saja seseorang itu diluar berpangkat jendral, namun saat ada acara adat dia berkutat saja di dapur, tidak tampil di depan sebagai penyambut tamu.

Tatanan Sosial Masyarakat Batak

Satu lagi tatanan sosial disana yang membuat saya heran, bahkan sampai tertawa-tawa saat diceritakan, yaitu masalah tabu untuk berbicara dengan seseorang karena hubungan tertentu. Misalnya saya dan suami menikah. Maka saya tak boleh berbicara dengan bapak mertua saya. Suami tak boleh berbicara dengan ibu saya. Jangankan berbicara, bertemu pun sebisa mungkin harus dihindari. Bagaimana jika suami saya ada keperluan dengan ibu saya? Bisa minta tolong orang lain untuk menyampaikan. Bagaimana jika saat itu tak ada orang lain, sementara keperluannya sangat mendesak? Maka sampaikan lewat perantaraan dinding, bicaralah dengan dinding hingga, namun isi pembicaraannya ditujukan untuk ibu saya.

Sampai kapan aturan tak boleh bicara bahkan menyapa ini berlaku? Sampai mati. Saya jadi berpikir, bisa saja orang tua itu tadinya kelihatan akrab sekali dengan calon menantunya, tapi setelah anak dan calon menantunya itu menikah, jadi kayak orang bermusuhan, bertemu pun tak boleh.

Tapi namanya adat, tak boleh dipertanyakan apa alasannya. Saya hanya menduga-duga saja, mungkin setelah menikah, pengantin baru harus segera bisa punya rumah sendiri, entah beli atau kontrak, yang penting tidak tinggal serumah dengan orang tuanya. Harapannya mereka segera mandiri.

Satu lagi hal penting dalam tatanan sosial masyarakat karo, yaitu soal marga. Marga ini sangat penting, dan setiap anak sejak kecil sudah dijelaskan silsilah keluarganya. Jika dua orang akan menikah, maka harus ditelusuri marganya. Jika ternyata marganya berdekatan, mereka tak boleh menikah. Mereka boleh menikah tapi harus keluar dari wilayah adatnya. Dengan kata lain, kawin lari.

Jika ada pendatang dari luar karo, agar ia lebih cepat diterima oleh masyarakat, maka ia harus punya marga. Bagaimana caranya? Dia harus mencari bapak angkat. Seseorang yang mau mengangkat dia sebagai anaknya dan otomatis memasukkan dia ke dalam marganya. Si bapak angkat ini, nantinya akan memperkenalkan anak angkatnya pada semua kerabat dan kenalannya, sehingga orang banyak menjadi tahu bahwa dia punya marga, otomatis status sosialnya dimasyarakat menjadi lebih baik. Katanya, banyak juga orang dari etnis china yang punya marga di Karo.

61 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *