[Trip] Mengenal Budaya Karo

Malam terakhir di berastagi, saya banyak ngobrol dengan pemandu kami disana. Lebih banyak tentang budaya dan tata sosial masyarakat Karo. Menurutnya, orang Karo tidak suka disebut sebagai orang Batak. Batak karo? bukan, Karo. Katanya, karena image orang kebanyakan adalah klo orang sebut Batak, itu pasti yang terbayang orang yang keras, bahkan terkesan kasar gaya bicaranya. Padahal orang Karo tidak seperti itu, nada bicara mereka datar saja, tidak menghentak-hentak, bahkan saya temui beberapa orang cara berbicaranya bisa saya katakan halus. Emang bener sih menurut saya, klo denger kata batak, otomatis deh kebayang orang yang bicaranya keras, bahkan suka teriak-teriak. Kata pemandu saya, klo orangnya keras seperti itu, artinya mereka dari batak toba.

Jadi sebenarnya ada berapa macam batak? Menurutnya ada 5, yaitu batak toba, karo, pakpak, simalungun dan mandailing. Bagaimana membedakan seseorang itu termasuk batak mana, adakah ciri khasnya? Bagi orang luar agak susah membedakan, tapi bagi orang batak sendiri, dapat membedakan kala seseorang berbicara. Dari nada bicaranya akan ketahuan dia dari kelompok batak apa.

Dalam tatanan masyarakat Karo, ada tiga tingkatan status sosial, yaitu Kalimbumbu, sembuyak dan anak beru. Tingkatan sosial ini berbeda dengan kasta yang dikenal di masyarakat Hindu. Dalam tatanan masyarakat karo, tidak selamanya seseorang itu menjadi kalimbumbu. Bisa jadi suatu saat ia kalimbumbu, bisa jadi suatu saat dia jadi anak beru. Kalimbumbu adalah tingkatan tertinggi, dalam acara-acara adat, orang dengan tingkatan ini bisa jadi penyambut tamu, atau bahkan hanya duduk manis dan dilayani. Sembuyak, tingkatan menengah, bisa diartikan saudara, atau memiliki hubungan yang setara. Anak beru adalah tingkatan paling bawah. Dia ini bertanggungjawab atas segala urusan dalam acara-acara adat, terutama urusan dapur. Jadi bisa saja seseorang itu diluar berpangkat jendral, namun saat ada acara adat dia berkutat saja di dapur, tidak tampil di depan sebagai penyambut tamu.

Satu lagi tatanan sosial disana yang membuat saya heran, bahkan sampai tertawa-tawa saat diceritakan, yaitu masalah tabu untuk berbicara dengan seseorang karena hubungan tertentu. Misalnya saya dan suami menikah. Maka saya tak boleh berbicara dengan bapak mertua saya. Suami tak boleh berbicara dengan ibu saya. Jangankan berbicara, bertemu pun sebisa mungkin harus dihindari. Bagaimana jika suami saya ada keperluan dengan ibu saya? Bisa minta tolong orang lain untuk menyampaikan. Bagaimana jika saat itu tak ada orang lain, sementara keperluannya sangat mendesak? Maka sampaikan lewat perantaraan dinding, bicaralah dengan dinding hingga, namun isi pembicaraannya ditujukan untuk ibu saya.

Sampai kapan aturan tak boleh bicara bahkan menyapa ini berlaku? Sampai mati. Saya jadi berpikir, bisa saja orang tua itu tadinya kelihatan akrab sekali dengan calon menantunya, tapi setelah anak dan calon menantunya itu menikah, jadi kayak orang bermusuhan, bertemu pun tak boleh.

Tapi namanya adat, tak boleh dipertanyakan apa alasannya. Saya hanya menduga-duga saja, mungkin setelah menikah, pengantin baru harus segera bisa punya rumah sendiri, entah beli atau kontrak, yang penting tidak tinggal serumah dengan orang tuanya. Harapannya mereka segera mandiri.

Satu lagi hal penting dalam tatanan sosial masyarakat karo, yaitu soal marga. Marga ini sangat penting, dan setiap anak sejak kecil sudah dijelaskan silsilah keluarganya. Jika dua orang akan menikah, maka harus ditelusuri marganya. Jika ternyata marganya berdekatan, mereka tak boleh menikah. Mereka boleh menikah tapi harus keluar dari wilayah adatnya. Dengan kata lain, kawin lari.

Jika ada pendatang dari luar karo, agar ia lebih cepat diterima oleh masyarakat, maka ia harus punya marga. Bagaimana caranya? Dia harus mencari bapak angkat. Seseorang yang mau mengangkat dia sebagai anaknya dan otomatis memasukkan dia ke dalam marganya. Si bapak angkat ini, nantinya akan memperkenalkan anak angkatnya pada semua kerabat dan kenalannya, sehingga orang banyak menjadi tahu bahwa dia punya marga, otomatis status sosialnya dimasyarakat menjadi lebih baik. Katanya, banyak juga orang dari etnis china yang punya marga di Karo.

Comments

Add a Comment
  1. Mungkin Anak beru itu kalau di jawa anak baru ya, Bun. Jadinya masih berada dibawah, lha wong baru. πŸ™‚

    Tentang tatanan sosia aneh juga ya, Bun. Bagaimana bisa, kalau yang mau dibicarakan adalah bersifat rahasia gimana tuh? πŸ™‚

    Budaya di karo itu unik. πŸ™‚

    1. nggak lah idah, beda. Bisa jadi kok anak beru itu orangnya udah tua, tapi kedudukan dalam tatanan sosial jadi anak beru

  2. ada Batak Angkola juga …..
    di Tapanuli Selatan …, iya emang ada aturan nggak boleh ngomong langsung
    misalnya suamiku tak boleh ngobrol dengan istri adikku … tapi jaman sekarang sih sudah tak terlalu diikuti lagi

    1. Jadi klo sekarang udah banyak yang bisa dan biasa bercakap-cakap dengan mertua atau ipar ya bun?
      Klo kata pemandu saya itu, klo yang diluar sumatra (diperantauan) emang udah mulai tidak terlalu ketat. Tapi klo yang masih di sumatra, masih tegak aturannya

  3. SElama ini yang saya kenali dan ketahui hanyalah generalisasi, semuanya batak. Meskipun beberapa kali sudah mendengar tentang adanya Batak Karo, Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Sialungun, dan Batak mandailing. Termasuk tentang adanya ketabuah dalam berbicara dengan seseorang adalah sesuatu yang baru saya dengar kali ini.

    1. sama, awalnya juga saya anggap sama saja. Setelah berkunjung kesana dan dapat banyak cerita, baru tahu deh klo ternyata ada banyak macamnya

  4. Belum paham si, tapi menambah wawasanku nih, Mbak Nanik…

    1. hehehe…. saya juga dapat penjelasan dan contoh berkali-kali baru paham πŸ™‚

  5. Senangnya menjalankan tugas sambil belajar budaya suku lain dan berbagi dengan kami.

    1. iya, senang klo pas tugas pemandunya ramah dan antusias menceritakan tentang daerahnya, pengetahuan saya jadi nambah banyak soal budaya tempat-tempat yang saya kunjungi

  6. terima kasih mbak Nik, jadi tambah wawasan ne….

  7. Terakhir blogwalking dua tahun lalu, ternyata sekarang sudah banyak yang berubah.. banyak kaum hawa yang jago ngeblog. hebat!

    1. πŸ™‚ makasih dah mampir
      klo dulu mungkin kebanyakan nulisnya di buku diary

  8. Seru ya, punya kesempatan berkunjung ke daerah orang, berwisata sekaligus belajar budaya.

    1. iya, seru dan menyenangkan
      kadang juga mencengangkan πŸ™‚

  9. Oh saya baru denger perbedaan ini Mbak. Tahu sih ada nama-namanya tapi tidak mengerti apa bedanya secara detail. Terimakasih atas sharingnya..

  10. baru tahu ternyata banyak macamnya ya mbak πŸ™‚

    1. iya mbak, ternyata memang bermacam-macam. jadi makin bangga dengan tanah air kita ini

  11. Wah, jadi kepengen jalan-jalan kesama Mbak…berarti adat Karo mirip sama adat Minang mbak. Kalau di Batak ada marga, di Minang ada suku. Kalau mau nikah, ga boleh antara suku yang sama. Kalau tetap nekad nikah sama orang yang sukunya sama, bakalan diusir juga dari kampung. πŸ™‚

    1. bisa jadi demikian, belum pernah ke minang ataupun dapat cerita detail tentang budaya sana, jadi belum bisa membandingkan

  12. Aku orang Minang mbak, makanya aku rasa Budaya Batak ini mirip sama budaya Minang…:-)

    1. sekilas lihat arsip blognya, ga ada tulisan tentang budaya minang. ayuk tulis dong πŸ™‚

  13. Indonesia memang nedara yang kaya raya ya, tak hanya sumber daya alam yang melimpah, tapi kebudayaan yang beragam, sudah sepatutnya pemerintah memperhatikan dan melestarikan setiap budaya nusantara

    1. yup, klo ga diperhatikan ntar diperhatikan pemerintah negara lain, baru deh ribut

  14. wah, menyenangkan sekali perjalanan ini ya Bu..
    saya jadi tahu banyak hal dari cerita ini. terima kasih ya…

    1. sama-sama
      senang jika tulisan ini ada manfaatnya

  15. marga karo ada berapa ya?

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis