Senja selalu punya cara sendiri untuk memperlambat langkah. Itulah yang saya rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di Sunset Land Lombok, sebuah kawasan tepi pantai yang belakangan menjadi perbincangan para pencinta wisata kuliner dan pemburu matahari terbenam.


Menyambut Senja di Point Sunset Cafe Lombok
Menjelang pukul 16.00 WITA saat saya meninggalkan SMKN 1 Janapria di Lombok Tengah menuju kota Mataram. Selesai sudah tugas dari kantor yang harus saya laksanakan di sana. Malam ini seharusnya saya kembali ke Malang. Namun pagi tadi, mendadak ada tugas susulan untuk ke salah satu SMK di Mataram. Jadi sore ini saya pindah hotel, rencananya akan menginap di Hotel Lombok Raya.
Informasi yang saya peroleh, perjalanan dari SMKN 1 Janapria ke hotel Lombok Raya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Artinya lumayan jauh. Dua rekan dari pihak SMK yang mengantar saya, memberitahu kalau kami tidak akan langsung ke hotel, melainkan mengajak saya makan malam terlebih dahulu. Alasannya, supaya nanti di hotel, saya tak perlu keluar lagi mencari makan malam dan langsung bisa istirahat.
Sudah jam 5 lewat, kami belum sampai. Matahari mulai condong ke barat, Semburat warna oranye di langit sebelah barat mulai terlihat, saya pun mengeluarkan handphone untuk mengabadikannya melalui jendela mobil. Dua rekan saya yang duduk di kursi depan, saya dengar berbincang tentang menambah laju kendaraan, takut kehilangan momen. Entah momen apa yang dimaksud. Saya pun tak menanyakannya.
Sampai di tujuan, di sunset land Lombok, barulah saya paham apa yang dimaksud kehilangan momen. Kami sampai di sini, di sebuah pantai dengan beberapa kafe di pinggirnya. Momen yang dimaksud adalah, suasana senja sebelum matahari terbenam.
Sunset Land Lombok terbentang dengan konsep ruang terbuka, menghadap langsung ke laut lepas. Kawasan ini dirancang sebagai tempat bersantai sekaligus berkumpul. Beberapa bangunan kafe terbuka tanpa dinding, beanbag warna warni tertata menghadap barat, memberi kesempatan setiap pengunjung untuk menikmati momen matahari tenggelam tanpa terhalang.
Begitu kami turun dari mobil, ada beberapa orang menghampiri, membawa lembaran menu, menawarkan supaya kami masuk ke kafe yang menjadi tanggungjawab mereka untuk ditawarkan. Kami menangkupkan tangan, sebagai tanda penolakan untuk menerima lembaran menu.

Selanjutnya setelah mengamati, kami putuskan masuk ke sunset point cafe. Menaiki tangga, memilih tempat duduk di lantai 2. Bean bag warna warni, mengelilingi meja kayu. Sayangnya, tempat duduk yang tepat menghadap ke pantai sudah di isi oleh pengunjung lain, yang sudah lebih dulu datang dibandingkan kami.

Kelezatan Seafood yang Menggoda Selera
Begitu kami memilih tempat duduk, pramusaji membawa lembaran menu. Lalu meninggalkan kami, memberi kesempatan kami agar leluasa memilih. Sementara dia, mengambil jarak dengan berdiri agak jauh, siap sewaktu-waktu kami panggil.

Saya lupa, menu apa yang dipesan oleh tuan rumah. Yang pasti, untuk minumnya saya pesan jeruk hangat, sebagai penyeimbang setelah menyantap seafood.
Sementara menunggu pesanan, kami pun beredar, mencari sudut-sudut menarik untuk berfoto. Puas mengambil gambar, lalu kembali duduk, pandangan mengarah ke barat. Bersiap merekam dalam ingatan, detik-detik matahari terbenam.

Rasanya lama sekali pesanan kami diantarkan. Sudah foto-foto, sudah ngobrol, tapi tak kunjung datang juga. Tapi maklum juga sih, karena memang pengunjungnya banyak.
Dan, akhirnya datang juga nih pesanan kami. Sepiring mix seafood, tiga piring nasi, cah kangkung, tempe goreng. Tak ketinggalan sambalnya.

Inilah saat yang paling ditunggu, menikmati seafood segar di bawah langit senja. Kami pun segera mencuci tangan, lalu menikmati sajian yang terhidang. Ternyata pesanan kami belum datang semua, karena ditengah-tengah makan, ada lagi pramusaji yang datang menghidangkan sepiring lobster. Tangan sudah belepotan, jadi lobsternya tak sempat saya foto.

Langit mulai gelap, lampu-lampu pun sudah dinyalakan. Kami pun lanjut fokus makan. Semua harus dihabiskan, tak boleh ada yang tersisa. Seafoodnya, sudah pasti bisa kami tandaskan, menyisakan kulit kerang dan cangkang kepiting. Demikian juga dengan lobster dan cah kangkungnya.
Saya yang terbiasa makan tempe segar di malang, tidak cocok dengan tempe goreng yang disajikan di sini. Agak besem menurut saya. Mungkin sudah satu atau dua hari tersimpan di kulkas.
Namun, menikmati seafood di Sunset Land Lombok bukan sekadar soal rasa, tetapi juga pengalaman. Duduk santai, menghadap laut, sembari menunggu matahari perlahan tenggelam di garis cakrawala, menghadirkan rasa syukur yang sederhana namun mendalam.
Saat Matahari Tenggelam dan Cerita Mengalir
Usai makan, kami masih lanjut berbincang. Perut masih terlalu kenyang untuk berdiri dan berjalan menuju pulang. Ada mushola di lantai 1, jadi bisa gantian sholat. Masih banyak juga tamu yang duduk di tempat mereka, walau makanan sudah habis dan langit sudah gelap.
Di momen itu, saya menyadari bahwa Sunset Land Lombok bukan hanya destinasi kuliner atau tempat berburu foto, melainkan ruang untuk berhenti sejenak, menikmati hidup dengan cara yang lebih sederhana.
Perbincangan kami, banyak tentang budaya masyarakat lombok, tempat wisata dan tentu saja dunia pendidikan di Lombok.

Saat langit sudah gelap total, kami pun beranjak dari tempat duduk. Menyempatkan lagi mengabadikan momen kebersamaan kami di point sunset cafe di kawasan sunset land lombok.
Dari senja hingga malam, menikmati kelezatan seafood di Point Sunset Cafe kawasan Sunset Land Lombok menjadi pengalaman yang bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menenangkan hati.


Ada Sedikit Sesal, Tapi… ah Sudahlah
Sebelum masuk ke mobil, saya sempatkan melihat-lihat bagaimana tempat duduk di lantai 1. Saat itu, pengunjung sudah sepi. Yah, karena memang sudah gelap, air laut pun tak nampak lagi.

Dan, terbitlah sedikit penyesalan, kenapa tadi kami nggak memilih tempat duduk di area sini saja. Duduk di kursi yang langsung di atas pasir, memandang deburan ombak bahkan bisa juga turun ke pantai jika ingin merasakan ombak menjilati kaki. Bahkan ada ayunan juga di sini, tadi dari atas, tak nampak ada ayunan.
Supaya tak jadi sesal berkepanjangan, baiklah mari berfoto saja di sini. Mumpung pengunjung mulai sepi, jadi bebas bergaya, dan yang pasti bakal bebas dari kebocoran lalu lalang pengunjung lain.


Jadi, sepertinya suatu saat kalau ada tugas ke Mataram lagi, saya harus menyempatkan diri untuk mampir ke sini. Duduk di lantai 1 yang menghadap langsung ke laut, bisa jadi di point sunset cafe ini, atau mencoba sajian seafood di kafe yang lain yang berjajar sepanjang kawasan sunset land ini.
Jika suatu hari Anda berkunjung ke Lombok, sempatkanlah datang menjelang sore. Biarkan senja, laut, dan sajian seafood berpadu menciptakan cerita indah yang akan selalu ingin dikenang.


Namanya sesal ya belakangan hehe, tapi jadi kuncian pas besok² Kak Nanik datang lagi ke Sunset Land Lombok, udah tahu tuh tempat duduk yang asiknya di bagian mana, biar pas menatap sunset dan suasana pasir pantai makin gereget lagi, tssaaahh
duh mix seafoodnya, bikin ngecesss..
hehehe penasaran dengan rasa tempe yang besem, mungkin mirip tempe agak bosok ya?
Impian banget Lombok ini, ternyata indah banget ya?
kayanya saya bakal betah sebulan di sini Mbak, hehhehe
Kapan ke sana lagi langsung pilih duduk di pantai berpasir aja. Hehe… Biar ga ada penyesalan nya lagi
Pantas ya Lombok banyak dikunjungi wisatawan, pemandangan sangat bagus. Itu sunset begitu indah bagai dalam lukisan aja…
Sungguh indah pemandangannya. Apakah dalam rangka perjalanan dinas kak? Lombok memang mempesona.
Duduk di bean bag di atas pasir, di bawah payung warna-warni, ada meja kecil kayu, dilengkapi dengan kopi atau juice segar tanpa gula, lalu ada banyak makanan/camilan, terus muncul sunset, wwoaaah sempurna sudah. Lihat foto-foto di atas sih semua tampak sempurna dan menyenangkan. Beruntung banget Mbak Nanik bisa berada di Point Sunset Cafe di Lombok ini. Kalau saya di sana, kamera gak bakalan lepas dari genggaman. Menikmati waktu memotret dan bikin video sepuas mungkin.
Lombok memang secandu itu ya. Keindahan alamnya the best. Sunset, Laut, dan Seafood Lezat di Point Sunset Caf beneran bikin momen liburan jadi makin bermakna dan indah di kenang dalam ingatan.
Meski ada sedikit sesal karena tidak memilih tempat duduk di lantai satu, gapapa. Ini tanda kapan-kapan harus kesana lagi mbak.
Memang kalau di tempat-tempat seperti ini, makanan (baik rasa, porsi, harga, ragam) adalah nomor kesekian, karena mereka menjual tempat dan suasana. Noted banget rekomendasinya. Saya habis dari Bali, sunsetan di Kuta yang sekarang sudah kotor. Nanti kalau ke Lombok, saya sudah tau mau sunsetan di mana.
Sayang banget tempat yang menghadap lautnya sudah terisi. Kalau belum kan asyik ya, Kak. Bisa menikmati seafood langsung menghadap laut lepas.
Mana duduknya di beanbag warna-warni pula. Bersantap seafood yang nikmat dengan nyaman dong pasti.
Tuan rumahnya paham bener ya milihin tempat makan malamnya, Kak.