Epidose Kasih Sayang Kakak Beradik; Makan di Rumah Saja

Pagi ini hati saya menghangat, bukan semata karena langit yang bersih dari mendung, dan matahari yang mulai menampakkan diri di ujung timur dalam jangkauan mata. Namun karena pagi ini, Toto mau menemani saya jalan kaki, lumayan jauh hingga ke area bandara Abdul Rachman Saleh. Bukan hanya soal menemani, tapi bagaimana sikapnya saat saya ajak mampir beli minum.

Mampir Minimarket

Karena terlihat dia lelah, saya ajak Toto mampir ke minimarket yang baru saja buka, minimarket ini buka mulai pukul 06.00. Maksud saya, istirahat dulu, beli minum dan roti, terus diminum di depan minimarket yang memang ada tempat duduknya.

Masuklah kami ke minimarket, pertama ke rak roti. Toto mengambil roti dengan isian coklat. Setelah itu, saya pikir akan beranjak ke rak minuman. Namun dia tetap berdiri di depan rak roti, berpikir sebentar lalu mengambil roti dengan isian selai kacang. Saya pikir, wah lapar bener nih anak, jadi beli rotinya 2.

Eh, nggak cuma 2 dong, karena dia ambil satu lagi, yang isian coklat. Waktu saya tanya kenapa belinya 3, dia jawab buat Kakak dan Babang. Ok, bagus lah kalau dia ingat kedua saudaranya.

Lanjut ke rak minum. Roti diserahkan pada saya, minta tolong untuk dibawakan. Dia mengamati jejeran botol aneka jenis minuman. Mengambil satu, katanya untuk dia. Mengamati sejenak, lalu ambil minuman lain, untuk kakaknya. Mencari-cari agak lama, baru deh menentukan pilihan ambil satu botol minuman lagi, buat abangnya.

Iseng saya tanya, mana minuman buat Mama?

Dia jawab, tangannya cuma 2, udah susah bawa botol minuman. Jadi mama harus milih dan bawa sendiri aja.

Singkat cerita, saya pun membeli satu botol minuman. Kami pun segera ke kasir untuk membayar. Selesai urusan bayar, saya ajak Toto duduk di kursi depan minimarket.

Saya ambil minuman saya, membuka dan bersiap meminumnya. Tapi Toto cuma duduk diam saja, tak mengikuti apa yang saya lakukan.

“Toto gak minum”

Dia menggeleng

“Kenapa?” lah naik dong nada bicara saya. Kan kami mampir ini karena saya lihat dia lelah, dan waktu saya tawari buat istirahat dan beli minuman dia setuju. Sekarang udah beli, kok dia nggak mau minum.

“Nanti di rumah aja, bareng Kakak sama Babang”

Jawaban yang langsung membuat saya terdiam. Menutup kembali botol minum saya, tak jadi minum, lalu kembali meletakkan di tas belanja. Menghela napas, dan ada sedikit rasa sesak di dada. Saya, yang nggak begitu haus dan lelah, dengan entengnya mau minum, tanpa ingat kedua anak yang di rumah. Sementara si bocah kecil ini, malah mengingat kedua saudaranya di rumah. Sebuah tamparan kecil buat saya.

Di satu sisi, saya senang dengan jawaban itu. Solidaritas pada kedua saudaranya cukup tinggi, dia nggak mau makan minum sendirian. Walaupun dia juga membelikan kedua saudaranya, tapi dia nggak mau menikmati makanan itu duluan.

Tak ada pelajaran parenting yang terasa lebih nyata selain momen kecil seperti itu. Kasih sayang kakak beradik sering kali tumbuh tanpa kita sadari.

Di sisi lain, ada rasa jengkel juga. Mode emak-emak irit pun muncul. Tahu gini kan tadi nggak usah beli minum. Lah minumnya juga di rumah, jadi minum aja minuman yang ada di rumah.

Mode emak irit ini, mesti saya buang jauh. Jangan sampai hangat di hati ini berganti dengan panas emosi. Setelah kami rasa cukup istirahat, saya dan Toto melanjutkan jalan kaki menuju rumah.

Bagaimana Kasih Sayang Kakak Beradik bisa Tumbuh?

Kalau dari beberapa artikel yang saya baca, kasih sayang antara kakak dan adik biasanya bermula dari kedekatan emosional yang terbangun sejak dini. Mereka berbagi ruang, waktu, orang tua, bahkan perhatian. Dari situlah rasa kasih sayang kakak beradik mulai tumbuh.

Anak-anak bertengkar, sering membuat saya jengkel bagaimana cara mendamaikan mereka. Apalagi Babang dan Kakak tuh selisih usinya cuma setahun. Rebutan mainan, teriak, saling pukul, lalu keduanya nangis. Saya gendong Kakak, si Babang cemburu. Saya gendong Babang, eh si Kakak merajuk.

Tapi setelah diperhatikan, periode mereka bertengkar itu nggak lama kok. Karena berikutnya mereka akan saling melirik, lalu mendekat, dan akhirnya ketawa bersama. Dan seiring waktu, karena kami selaku orang tuanya, selalu berusaha menjadi penyeimbang, frekuensi pertengkaran makin berkurang. Beralih jadi saling memperhatikan.

Bermain bersama, makan bersama dalam satu wadah akhirnya mengajarkan mereka untuk saling berbagi, bukan saling rebutan. Anak-anak akan kompak saling mendukung, saling membela kalau saya memarahi salah satunya. Bukan malah menimpali dan menyalahkan. Jika ada yang sakit, mereka akan saling menunggui dengan raut wajah cemas, memberikan pelayanan, menawari makanan/bantuan apa yang diperlukan.

kasih sayang kakak beradik

Kadang saya dengar anak-anak ngobrol di ruangan sebelah, saat saya datang mereka langsung diam. Saling kasih kode. Sepertinya mereka sedang saling berbagi rahasia, atau ngobrolin sesuatu yang tak boleh saya ketahui. Saya biarkan saya, saya tak berusaha memancing untuk mengorek untuk mencari tahu apa yang mereka bicarakan. Biarlah mereka saling mempercayakan rahasianya. Walau sebenarnya saya sangat penasaran dengan apa yang mereka obrolkan. Ntar juga, mereka bakal cerita dengan sendirinya kalau mereka merasa saya harus tahu.

Peran Orang Tua dalam Menjaga Kerukunan Anak

Orang tua memegang peran kunci dalam membentuk dan mempertahankan kasih sayang kakak beradik. Berikut beberapa tips dan trik agar anak-anak selalu rukun:

1. Hindari Membandingkan Anak

Kalimat seperti “Kakak kok nggak bisa seperti adik?” tanpa disadari bisa melukai. Setiap anak unik. Bandingkan anak dengan dirinya sendiri, bukan dengan saudaranya.

Jangankan anak-anak, orang dewasa pun tidak suka dibanding-bandingkan. Tentu saja untuk tak membandingkan anak, ini perlu proses dan latihan terus menerus untuk menahan mulut agar tak keluar kalimat perbandingan. Apalagi kalau orang tua sedang jengkel.

Dan jika pun akhirnya keluar kalimat membandingkan, biasanya saya akan segera minta maaf pada anak-anak begitu emosi negatif saya sudah reda.

2. Berlaku Adil, Bukan Sama Rata

Adil bukan berarti semuanya harus sama. Kebutuhan kakak dan adik berbeda sesuai usia dan kondisi. Jelaskan alasan di balik setiap keputusan agar anak merasa dihargai.

Kalau saya, cara paling gampang mengajarkan berlaku adil ini adalah dengan porsi makan. Karena si kecil pasti tak akan habis kalau porsi makannya sama dengan kakaknya. Karena kemampuan perutnya untuk menampung jumlah makanan itu berbeda, perut adik kecil, sementara perut kakak lebih besar.

3. Ajarkan Empati Sejak Dini

Kadang, saya sengaja meminta anak untuk mencubit saya. Saya pasti akan meringis kesakitan. Lalu gantian, saya akan mencubit dia. Nggak keras sih menurut saya, tapi cukup bikin anak meringis. Dari situ lalu ngobrol deh, bahwa ternyata di cubit itu sakit, jadi jangan suka mencubit.

4. Libatkan Kakak dalam Peran Positif

Libatkan kakak untuk membantu adik, bukan sebagai kewajiban berat, tapi sebagai bentuk kepercayaan. Membukakan bungkus snack, mengambilkan minum, menggandeng saat jalan licin.

Demikian pula sebaliknya, adik pun sesekali bisa diminta untuk membantu kakak. Mengambilkan handuk, Memegang ujung kertas sementara kakaknya menggunting.

5. Jangan Selalu Turun Tangan Terlalu Cepat

Biarkan anak mencoba menyelesaikan konflik kecil sendiri. Orang tua cukup menjadi penengah jika situasi sudah memanas atau berpotensi menyakiti.

Ini memang butuh kesabaran. Sabar lihat muka anak-anak cemberut, sabar ikut dijutekin sama anak. Tapi percayalah, pertengkaran mereka ini tak akan berlangsung lama, mereka akan segera lupa kalau pernah bertengkar.

6. Ciptakan Waktu Kebersamaan

Aktivitas sederhana seperti makan bersama, bermain board game, atau membersihkan rumah bersama dapat memperkuat ikatan emosional antar saudara.

Pagi hari, orang tua ngopi sementara anak-anak menikmati teh manis. Ditemani sepiring pisang goreng dan obrolan ngalor ngidul. Akan menjadi momen manis yang terekam diingatan mereka.

Kakak adik rukun

Waktu kebersamaan tak harus pergi ke tempat wisata yang jauh, bukan mesti makan di restoran mewah. Cukup dilakukan di rumah, ataupun sekitar rumah.

7. Jadilah Contoh

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua menunjukkan kasih sayang, saling menghargai, dan komunikasi yang sehat, anak pun akan menirunya. Karena anak-anak adalah peniru ulung

Menanam Kasih Sayang, Menuai Kebersamaan

Kasih sayang kakak beradik bukan tentang tidak pernah bertengkar. Justru dari pertengkaran itulah mereka belajar memaafkan, memahami, dan mencintai dengan cara yang lebih dewasa.

Suatu hari nanti, ketika anak-anak tumbuh besar dan menjalani hidup masing-masing, kenangan tentang rumah, tentang tawa, tangis, dan pelukan di ruang keluarga, akan menjadi benang tak terlihat yang tetap mengikat mereka.

Baca yang ini juga

6 thoughts on “Epidose Kasih Sayang Kakak Beradik; Makan di Rumah Saja

  1. Anak itu peniru ulung. Saya yakin Toto begitu hormat dan sayang sama keluarga karena memang di keluarga terlah tercipta lingkungan yang menyediakan tempat seperti itu. Karenanya Toto mengikuti.
    Semoga adik kakak bertiga ini sehat selalu, saling menjaga dan jadi anak soleh solehah penyelamat kedua orang tua kelak di akhirat. Aamiin…

  2. Bener sih. Banyak orang berpikir bahwa kebersamaan akan terjalin kalau bepergian bersama. Ke tempat wisata, kulineran, dan lain sebagainya.

    Padahal, makan bersama, nonton tv di ruang keluarga, atau sekedar bercengkerama bersama saja ‘kan sudah cukup ya.

  3. MashaAllah. Mata saya jadi berkaca-kaca Mbak Nanik. Saya rasa kedekatan itu timbul karena ibunya sibuk dengan urusan kantor dan sering dalam perjalanan ke luar daerah. Mereka jadinya membangun bonding dan menguatkan rasa kebersamaan saat Mbak Nanik gak di rumah. Been there Mbak. Kalau soal “gelut” sih keknya memang “hobinya” anak-anak hahaha. Mau berdua, bertiga, berempat, ya tetep rame aja. Tapi kalau ada salah satu gak di rumah, pasti tetap kehilangan. Ditanya-tanyain.

    Kalau soal makanan memang saling mengingat. Sulung saya tuh jarang banget mau diajak makan di luar. Jadi kalau saya, suami, dan si bungsu jajan di luar, si bungsu pasti kepikiran bawa makanan buat abangnya. Dan si bungsu sudah hafal apa yang pasti diinginkan oleh abangnya.

    Semoga ya Mbak anak-anak kita senantiasa akur dan saling mendukung satu sama lain.

  4. Alhamdulilah 3 anak kompak ya Mbak Nanik

    bekal ketika mereka dewasa kelak, karena setiap orang punya perjuangannya sendiri

    tatkala itulah support system kerasa banget manfaatnya

    Auto senyum bangga baca tentang Toto, karena saya baca tentang Toto udah dari 6 tahun silam, sejak grup BW berdiri. Gak kerasa ya? Time Flies.

  5. Ada-ada saja ya Kak kelakuannya,
    apalagi Toto yang polos serta bukan lagi setiakawan sih namanya tapi setia saudara.
    Jadi kayak saya sama kakak-kakak saya hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *