Memperoleh penugasan ke Lombok seminggu sebelum gelaran MotoGP Mandalika tuh bener-bener butuh perhatian ekstra untuk masalah transportasi dan penginapan. Karena penginapan di sekitar Mandalika ataupun di kota Mataram, pasti sudah penuh. Kalaupun masih ada, harganya jadi sangat mahal, bisa 2 kali lipat dari harga di hari biasa. Harga kamar naik, sementara jatah biaya per kamar saya tak ada kenaikan. Jadilah mesti mencari alternatif tempat menginap yang harga kamarnya masih terjangkau anggaran.
Setelah mencari-cari di beberapa aplikasi pemesanan hotel online, rekan seperjalanan saya menemukan hotel yang posisinya dekat pantai, tapi memang jauh dari lokasi tempat saya bertugas. Butuh perjalanan sekitar 1 jam dari hotel ke tempat bertugas. Tapi nggak apa-apa, yang penting harga masih terjangkau, transport darat bisa di reimburse asal ada kuitansinya, dan yang paling penting dekat pantai. Jadilah dua malam saat bertugas di lombok, kami menginap di Mango Lodge yang posisinya dekat dengan pantai Selong Belanak.
Datang Malam, Langsung di Kasih Kunci Kamar
Sudah gelap saat pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara lombok. Tak ada barang bawaan di bagasi, sehingga kami bisa langsung keluar bandara dengan cepat. Mobil sewaan yang menjemput sudah menunggu. Karena sedang menjelang event MotoGP Mandalika, di bandara pun terdapat beberapa booth pameran beberapa merk sepeda motor ber CC besar, bahkan menawarkan test drive pula.

Dari bandara, kami mampir makan terlebih dahulu, setelah itu baru menuju ke Mango Lodge yang posisinya ada di Selong Belanak, Kec. Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Sepi sekali saat kami tiba di Mango lodge. Tak ada penjaga, hingga kami harus tengak tengok. Jika tak menemukan tulisan Mango Lodge di salah satu dinding, kami sudah berpikir kayaknya salah tempat. Ada beberapa sepeda motor terparkir, tapi suasana sangat sepi, tak ada sama sekali nampak ada orang, baik suara maupun wujudnya.
Driver membantu kami dengan masuk mencari penjaga, lalu tak lama kembali bersama seorang pemuda. Pemuda tersebut mengambil kunci, lalu mengarahkan kami untuk naik ke lantai 2 karena kamar kami ada di lantai 2. Tak ada pertanyaan pesanan atas nama siapa, tak dimintai kartu identitas pula. Langsung di kasih kunci.
Karena sudah capek, kami pun menerima saja kunci kamar tersebut. Lalu mengikuti arahannya untuk naik tangga menuju lantai 2 dan menemukan kamar sesuai nomor yang tertera pada gantungan kunci.
Kamar Luas dan Nyaman
Begitu membuka kamar, mata yang semula sudah berat langsung melek seger lagi. Kasur besar, linen putih, gulungan handuk putih di atas kasur. Di sisi kiri ada sebuah sofa empuk, yang bisa juga dipakai untuk merebahkan tubuh.

Sementara di sisi kanan, sebuah rak kayu besar, sebagai tempat menaruh barang bawaan para tamu. Terdapat beberapa gantungan baju juga, dan space untuk menggantung baju. Di dinding ada beberapa hiasan berbahan rotan. Yang keesokan harinya, saya ketahui bahwa ada pusat kerajinan rotan di dekat tempat saya melaksanakan tugas di Lombok, dan Mango Lodge adalah salah satu konsumennya.

Sebuah televisi layar datar dengan saluran TV internasional menempel di dinding. Kalau pas santai, bisa rebahan sambil nonton TV. Yang tidak menyenangkan adalah meja di bawah TV yang sangat sempit. Hanya cukup untuk menaruh perintilan. Tidak nyaman buat bekerja menggunakan laptop. Sepertinya memang kamar ini didesain untuk yang berlibur, tanpa harus membawa beban pekerjaan kantor.

Yang sangat menyenangkan justru kamar mandinya. Kamar mandi luas, terutama di area kering, bahkan ada meja yang ukurannya lumayan besar.

Pagi saat keluar kamar, saya menemukan satu hal lagi yang menyenangkan, ada sebuah dipan di depan kamar dengan beberapa bantal duduk. Jadi kalau mau kerja pakai laptop, emang lebih enak duduk di depan kamar ini. Pencahayaan juga lebih bagus dibanding di dalam kamar.

Sarapan di Restoran Rooftop
Lokasi resto untuk sarapan ada di atas kamar yang saya tempati, restoran rooftop. Cukup siang waktu sarapan di sini, menu sarapan baru tersedia mulai pukul 06.30 WITA. Jadi saat kami naik pukul 06.15, kemi di minta untuk menunggu terlebih dahulu.

Dari atas ini, kami bisa melihat jajaran perbukitan dan banyak sekali pohon kelapa. Ada areal persawahan juga. Saya lihat ada beberapa petani yang menggelar terpal di area sawah tersebut, dan tumpukan berwarna hijau di beberapa titik.
Bukan padi yang siap di jemur, melainkan irisan daun tembakau. Masa itu, memang sedang masanya petani di sana panen tembakau.

Akhirnya, waktu sarapan tiba. Satu persatu tamu memasuki area resto. Dan tamunya bule semua. Dari driver yang mengantar kami, barulah saya memperoleh informasi bahwa memang jarang ada turis lokal yang menginap di mango lodge. Rata-rata tamu di Mango Lodge Lombok adalah wisatawan asing.


Irisan buah dan minum bisa diambil bebas. Sementara untuk menu makan berat, kami dipersilakan melakukan pemesanan pada petugas resto. Rekan saya memesan nasi goreng, sementara saya memilih smoothie.

Semangkok smoothie pisang dan buah naga, dengan irisan pisang di atasnya, irisan kelapa muda chia seed sudah cukup membuat saya merasa kenyang pagi itu. Yang menarik adalah mangkok sajiannya yang terbuat dari batok kelapa. Mengingatkan saya pada jaman SD dulu, ada pelajaran ketrampilan dan salah satu produknya adalah membuat mangkok dari batok kelapa, seperti yang digunakan di Mango lodge ini.

Mango Lodge, Penginapan di Tengah Sawah
Pagi saat hendak meninggalkan penginapan, barulah kami bertemu dengan petugas saat hendak menitipkan kunci. Dari petugas, barulah saya peroleh informasi, bahwa pukul 22.00 Mango lodge ini sudah tutup. Di meja ada informasi no hp yang bisa dihubungi jika sampai di sana di atas pukul 22.00.

Jangan bayangkan area lobby yang nyaman ber AC ya. Lobbynya tuh di kecil, bahkan malah mirip gardu jaga. Ada dua kursi rotan di di lobby, berhadapan dengan meja resepsionis. Duduk di sini, saya bisa melihat lalu lalang para tamu, dan beneran tak ada warga lokal Indonesia. Bule semua! Rupanya sepeda motor, dan juga sepeda onthel yang terparkir di situ adalah kendaraan yang disewakan bagi para tamu.

Saat menunggu jemputan, ada warga negara asing yang menyapa saya, menggunakan bahasa Indonesia. Ikut duduk, menanyakan tujuan saya ke lombok dan bagaimana kesan saya menginap di situ. Saya lupa siapa namanya, tapi dari salah satu staf mango lodge, saya memperoleh informasi bahwa beliau adalah owner dari Mango Lodge.
Semalam saat sampai di sini, suasana gelap dan saya pun tertidur dalam perjalanan. Jadi tak tahu bagaimana suasana sekitar penginapan. Pagi saat keluar menuju tempat bertugas, barulah nampak bahwa Mango lodge ini posisinya di pinggir sawah. Depan dan kiri terhampar area persawahan, sebelah kanan barulah nampak beberapa rumah penduduk.

Bisa Jalan Kaki ke Pantai Selong Belanak
Pagi pertama menginap di sini, saya sempat berpapasan dengan beberapa tamu, mereka berjalan hanya berbalut handuk. Saya pikir mereka baru selesai berenang di kolam renang yang memang tersedia di situ.

Ternyata, saya salah dong. Mereka emang habis berenang, tapi bukan di kolam renang hotel, melainkan di Pantai Selong Belanak. Dan mereka jalan kaki dari hotel ke pantai.
Hari kedua menginap di Mango Lodge, barulah saya bisa berjalan kaki menuju pantai Selong Belanak. Cuma mesti hati-hati jalan di sini, karena beberapa kali saya berpapasan dengan anjing liar. Bahkan sempat hampir lari karena mendengar gonggongan anjing ramai sekali.
Beneran deket banget, sekitar 5 menit jalan, saya sudah sampai di Pantai Selong Belanak. Dan karena masih pagi, sepi sekali di pantai ini, serasa jadi area privat.


Bakalan Menginap di Mango Lodge Lagi?
Tentu dong!
Berawal dari mencari hotel yang harga kamarnya masuk di pagu anggaran kantor, ternyata malah menemukan hotel yang sangat menyenangkan dengan suasana yang tenang seperti ini.


Pengennya sih ke sini tuh beneran buat piknik, bersama keluarga, bukan dalam rangka melaksanakan tugas kantor. Apalagi dari beberapa artikel, saya memperoleh informasi kalau di pantai Selong Belanak tuh kita bisa lihat rombongan kerbau yang melintas di pantai.

Lumayan nyaman ya buat rehat selama berwisata. Apalagi ada dipan di depan. Deket pantai tapi dikelilingi sawah. Mantap deh bisa dapat view macem-macem. Mana menunya menggoda lagi
Saya suka lihat MANGO LODGE ini deh. Kesan private nya dapat tapi fasilitas nya juga cukup lah. Malah enak gak terlalu rame Mbak. Pemandangannya juga menyenangkan. Masih terlihat luasnya penghijauan yang bertebaran di hadapan mata. Kamar juga fasilitas nya lengkap.
Wah rezeki ketemu owner nya Mbak. Bule yang fasih bahasa Indonesia. Kalau saya pasti ngobrol nya sudah sampe Merauke itu hahahaha. Betah saya mah ngobrol berjam-jam.
Dah tak catet nih, kapan ada rezeki ke Lombok, pengen nyobain Mango Lodge ini.
Bakalan Menginap di Mango Lodge Lagi?
Saya yang cuma membaca aja pasti jawab, Yess!!
Dari namanya dari awal saya bisa tebak ini pasti tamunya bule semua nih. eh beneran…
Mmebaca deskripsi dan ngeliat beberapa fotonya, mengingatkan saya dengan suasana di Bukit Lawang, Medan. Salah satu destinasi pavoritnya bule2. Dan emang vibesnya mirip. Keknya mereka emang suka suasana penginapan seperti ini sih
Enaknya ya mbak, menikmati sarapan sambil melihat sawah dan pemandangan yang masih asri.
waw bagus banget
recommended nih, kalo ke Lombok mau tidur di Mango Lodge ah
kamarnya nyaman , vibesnya bikin betah dan dekat pantai
seminggu cukup gak ya? 😀