Mempersiapkan kematian

Mempersiapkan Kematian dari Sudut Pandang Seorang Ibu

Saya dan beberapa teman sedang berkumpul di ruangan, berkoordinasi untuk segera menyelesaikan pekerjaan, ketika kabar itu datang. Salah satu teman kami, meninggal dalam perjalanan kembali dari menunaikan tugas di luar kota.

Saat itu, tak ada yang memperoleh informasi detail di mana dan bagaimana meninggalnya, kami semua diam, mengenang sosoknya dan mendoakan. Lalu kembali larut, entah dengan pekerjaan, entah dengan pikiran yang lain.

Saya sendiri, jadi merenung setelah mendengar kabar tersebut. Pasti kaget dan sedih sekali keluarganya. Dipamiti berangkat menunaikan tugas, pekerjaan di luar kota dapat diselesaikan dengan lancar, keluarga di rumah sudah siap menyambut kepulangan, tapi hanya jasad terbujur kaku yang sampai di rumah.

Semoga Lancar Perjalanan Berangkat dan Pulang

Saya jadi merefleksi ke diri saya sendiri, yang juga cukup sering mendapatkan tugas ke luar kota. Setiap kali selesai menunaikan tugas, pihak yang saya datangi sering mendoakan “semoga perjalanan Ibu lancar, dapat bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga tercinta”.

Saya selalu mengaminkan. Namun karena seringnya memperoleh doa semacam itu, jadi saya anggap kayak rutinitas. Memang mesti disampaikan, sebagai bagian dari keramahan yang mencirikan budaya masyarakat kita.

Setelah kejadian teman yang meninggal dalam perjalanan pulang, saya jadi disadarkan kembali, bahwa itu bukanlah cuma rutinitas. Itu adalah pengharapan sesungguhnya, karena tak ada yang tahu bakal ada kejadian apa nanti dan juga esok. Barangkali, karena doa tulus pihak-pihak yang saya datangilah, sehingga perjalanan pulang saya selalu lancar. Kalaupun ada delay pesawat, tak sampai 1 jam. Karena doa mereka lah, saya bisa sampai rumah dengan selamat, bertemu kembali dengan suami dan anak-anak, dalam suasana yang ceria.

Mempersiapkan Keluarga untuk Kemungkinan Terburuk

Saya jadi teringat salah satu kenalan. Beliau ini termasuk pegawai senior, kami kenal karena satu kamar dalam sebuah kegiatan yang sama-sama kami ikuti. Ibu dengan seorang putri.

Saat istirahat di kamar, kami ngobrol banyak hal, lebih tepatnya sih, Beliau yang banyak bercerita, dan saya menggali banyak informasi dan pengalaman Beliau.

Satu hal yang saya ingat sampai sekarang dari percakapan kami adalah tentang mempersiapkan kematian, baik bagi dirinya maupun keluarga. Beliau beragama nasrani, jadi tentu punya keyakinan bahwa ada alam lain setelah alam dunia ini, dan sudah mempersipkan menurut keyakinannya tersebut.

Khusus untuk keluarga, setiap kali hendak bertugas ke luar kota dengan menggunakan pesawat, Beliau selalu memberitahukan putrinya nama pesawat, nomor penerbangan, jadwal berangkat dan tiba di tujuan serta nomor kursinya.

Sebelum berangkat, beliau selalu berpesan pada putrinya. Jika suatu saat putrinya menonton televisi, ada informasi kecelakaan pesawat dengan nomor penerbangan sesuai yang ditumpanginya, jangan panik. Segeralah pergi ke rumah sakit terdekat, katakan pada petugas, bahwa ibumu adalah penumpang pesawat tersebut, ada di kursi sekian. Nanti petugas di rumah sakit, sudah paham apa yang harus dilakukan.

Sejujurnya, saya begidik setelah Beliau menceritakan hal ini. Beliau juga menyarankan saya untuk melakukan hal yang sama. Sesaat saya berpikir, benar juga ya. Saya memang harus mempersiapkan kemungkinan terburuk tersebut, dan bertekad untuk melakukan hal yang sama pada anak-anak jika suatu saat saya akan bepergian naik pesawat.

Namun, sampai sekarang, tak pernah saya lakukan. Ah, mental saya tak cukup kuat untuk membincangkan hal ini pada anak-anak, bahkan pada suami. Jika akan bertugas naik pesawat, saya hanya bilang naik pesawat jam berapa, mengabarkan saat sudah masuk pesawat dan mengabarkan saat pesawat sudah mendarat di bandara tujuan.

Kematian memang hal yang pasti, namun banyak orang yang tak suka kalau diajak berbincang tentangnya, bagaimana mempersiapkan kematian bagi diri sendiri maupun keluarga yang ditinggalkan.

Mempersiapkan Kematian bagi Diri Sendiri

Dalam Islam, mengingat kematian bukan untuk membuat hati takut berlebihan, melainkan agar hidup menjadi lebih terarah. Ada kesadaran bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara.

Saya pelan-pelan belajar bahwa mempersiapkan kematian bisa dimulai dari hal-hal kecil dan realistis. Sebagai muslimah, bekal terbaik menuju akhirat tentu bukan harta atau jabatan, melainkan amal.

mempersiapkan kematian

Namun menjadi ibu membuat saya sadar bahwa amal tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar. Kadang justru hadir dalam rutinitas sederhana:

  • bersabar ketika emosi sedang tinggi, baik pada rekan kerja maupun keluarga
  • memasak dengan niat memberi asupan makanan halal untuk keluarga
  • mengajari anak membaca doa harian
  • membangunkan mereka untuk sholat subuh

Saya mulai berusaha memperbaiki hubungan dengan Allah sedikit demi sedikit. Tidak langsung sempurna, tetapi berusaha untuk konsisten. Ada masa ketika saya mulai:

  • berusaha mendirikan sholat tepat waktu
  • membiasakan membaca Al-Qur’an seusai sholat, meski hanya beberapa ayat
  • belajar ikhlas dalam pekerjaan kantor dan rumah yang tidak pernah selesai,
  • memperbanyak sedekah dan infaq

Belajar Melepaskan Dunia Sedikit Demi Sedikit

Semakin bertambah usia, saya sadar bahwa hidup tidak pernah benar-benar bisa kita kendalikan. Apalagi setelah saya mengalami kecelakaan lalu lintas 1,5 tahun yang lalu. Saya menyadari bahwa ada orang yang pergi terlalu cepat, ada rencana yang gagal tiba-tiba, ada perpisahan yang datang tanpa aba-aba.

Karena itu, mempersiapkan kematian bagi saya, juga berarti belajar tidak menggenggam dunia terlalu erat. Belajar menerima bahwa:

  • barang dan kendaraan yang saya sukai bisa rusak bahkan hilang,
  • anak-anak akan tumbuh dewasa dan punya dunianya sendiri,
  • tubuh akan menua, badan makin lemah dan mudah lelah, daya ingat menurun
  • dan suatu hari nama kita mungkin hanya menjadi doa di bibir keluarga.

Anehnya, ketika mulai menerima kenyataan itu, hidup justru terasa lebih ringan. Saya jadi lebih mudah bersyukur. Lebih ingin menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. Lebih berhati-hati menjaga lisan. Dan lebih sadar bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling sibuk mengejar dunia.

Bagi seorang ibu muslim, mempersiapkan kematian bukan berarti berhenti menikmati hidup. Justru sebaliknya, menjalani hidup dengan lebih sadar, lebih bermakna, dan lebih dekat dengan Allah.

Sebagaimana ajaran islam mengajarkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, seluruh amalan pahalanya terputus, kecuali tiga perkara yang pahalanya akan terus mengalir. 

Ketiga amalan tersebut adalah:

  1. Sedekah Jariyah: Harta atau wakaf yang diberikan dan dimanfaatkan terus-menerus oleh orang banyak (seperti mewakafkan Al-Qur’an, membangun masjid, atau menyediakan fasilitas umum).
  2. Ilmu yang Bermanfaat: Ilmu agama atau ilmu dunia yang diajarkan kepada orang lain, kemudian terus diamalkan dan disebarluaskan oleh orang tersebut.
  3. Anak Saleh yang Mendoakannya: Doa dari anak yang saleh dan berbakti kepada kedua orang tuanya, baik semasa hidup maupun setelah keduanya wafat. 

Hal ini menunjukkan pentingnya mempersiapkan bekal akhirat semasa hidup dengan meninggalkan jejak kebaikan dan mendidik keluarga

Kita tidak pernah tahu kapan akan dipanggil pulang. Tetapi setidaknya, kita bisa berusaha agar ketika hari itu tiba:

  • ada doa anak-anak yang terus mengalir,
  • ada keluarga yang tetap mampu bertahan,
  • dan ada amal sederhana yang menjadi cahaya di alam kubur dan perjalanan menuju akhirat.

Karena mungkin, cinta seorang ibu tidak benar-benar berhenti saat kematian datang. Ia tetap hidup dalam doa, dalam didikan, dan dalam jejak kebaikan yang ditinggalkan.

Baca yang ini juga

11 thoughts on “Mempersiapkan Kematian dari Sudut Pandang Seorang Ibu

  1. “Nanti petugas di rumah sakit, sudah paham apa yang harus dilakukan”
    Nah ini saya jadi penasaran, mbak, emang prosedurnya begitu ya? Itu maksudnya rumah sakit tempat kita tinggal atau rumah sakit dimana kita mengalami musibah ya? Dan apa tindakan pihak RS setelahnya?
    Serius penasaran deh, soalnya baru dengar ini…

    1. Rumah sakit terdekat saja seharusnya bisa mbak, untuk diambil sampel DNA nya.Sering dengar istilah antem mortem kan ya.
      Tapi kalau di Indonesia ini, biasanya pihak keluarga mendatangi rumah sakit dekat lokasi kecelakaan hehe

  2. Baca ini saat baru pulang takziah, tetangga beda 3 rumah saat sedang mengaji tetiba jatuh dari duduknya dan meninggal dunia, di usia 66 tahun. Al Fatihah…
    Memang ya kematian adalah kepastian yang sering terlupakan di tengah kesibukan. Dari sudut pandang seorang ibu, mempersiapkan kematian bukan hanya soal bekal untuk diri sendiri, tetapi juga tentang menyiapkan keluarga menghadapi kemungkinan terburuk dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Pada akhirnya, cinta seorang ibu akan terus hidup melalui doa, didikan, dan jejak kebaikan yang ditinggalkan untuk keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

  3. Ya Allah… Mak deh aku baca ini mbaaa🥺🥺
    Bener banget setiap langkah mesti kita jaga, berusaha menuntaskan tugas, baca doa sebelum keluar rumah.
    Karena kita nggak tau gimana kondisi di jalan yang bakal kita hadapi…

  4. Agak sulit memang membicarakan hal ini pada anak-anak, kecuali jika tandanya udah dekat. Paling ya cuma berusaha melakukan yang terbaik sebagai ibu agar anak siap saat waktunya tiba

  5. setuju Mbak, setiap orang pasti mati, waktunya yang kita gak tahu, karena itu lebih baik mempersiapkan diri, dunia akhirat.

    Bahkan sejak tahun 2010 saya udah menyiapkan foto supaya anak-anak gak repot, hehehe receh banget ya?
    Dan sekarang saya nyiapin buku catatan yang berisi pernak-pernik seperti PIN ATM, password email dll supaya mereka bisa deactive akun-akun saya

  6. Saya sampai di titik ini sekitar 10 tahun yang lalu dan saat kritis terkena virus Covid-19. Terkurung di ruang ICU lalu berakhir di kamar anak di lantai 2 rumah, saya banyak sekali merenung soal kemungkinan dan nafas saya yang akan habis. Saat di ruang ICU dan melihat satu persatu orang masuk dalam keadaan hidup dan keluar dalam keadaan tak bernyawa, saya sudah berpasrah diri. Duh jadi ingat masa-masa itu.

    Tapi memang ya Mbak, seiring dengan bertambahnya usia, kita perlu mengingatkan diri sendiri. Setidaknya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ibadah lebih baik. Habbluminnas pun dijaga. Paling tidak BERUSAHA. Karena toh tidak ada seorang pun yang sempurna.

  7. Baca artikel ini, auto merembes mata. Sedih sekaligus terharu. Di tengah dunia yang sangat riuh, penting banget untuk mengingat dan mempersiapkan kematian.

    Tiga perkara yang tidak akan putus pahalanya, Masha Allah bagi para ortu yang punya anak. Semoga mereka menjadi anak Soleh/Solehah, aamiin.

    Keberanian mempersiapkan kematian, memang dimulai dengan perbaiki hubungan dengan Allah, melepaskan keterikatan duniawi. Semoga kita semua di panggil dalam keadaan Husnul khatimah, aamiin.

  8. Sejak papah saya wafat mendadak, padahal kondisi kesehatan sedang prima, saya semakin yakin kalau kematian adalah nasihat terbaik. Kematian adalah sesuatu yang harus disiapkan. Bener-bener gak tau kapan akan datang.

  9. Aku setuju banget dengan point belajar melepaskan dunia sedikit demi sedikit karena sejatinya kita sebagai umat Muslim mati pun tidak boleh membawa apa apa kecuali kafan yang melekat di badan setelah dimandikan. Kak, artikel ini jadi pengingat saya untuk selalu ingat mati di usia yang tidak muda lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *