Istirahat siang, seperti biasa usai sholat Dhuhur saya video call suami. Kami ngobrol receh, tentang saya yang siang ini nggak makan dikantin, karena dapat kiriman nasi kotak dari salah satu teman yang ulang tahun. Tentang aktivitas saya tadi pagi, mau bikin nasi goreng, tapi ternyata telur habis. Ada juga cerita saya dapat kiriman coklat dari salah satu peserta diklat dari Makassar yang kini sedang pelatihan di kantor.
Demikian juga suami, cerita gimana cuaca hari ini di sana, di tempat yang berjarak ratusan km dari Malang. Cerita semalam dapat kiriman banyak nasi berkat karena bertepatan dengan malam nisfu syaban, tentang belum sholat dhuhur tapi mata udah ngantuk. Tak ada bahasan penting, segala obrolan kami adalah tentang aktivitas remeh yang sebenarnya sudah biasa kami lakukan.
Saat saya selesai video call, seorang teman, yang juga menjalani long distance marriage, berujar
“Enak banget mbak, di telpon suami. Aku juga pengenlah kayak gitu”
Yang langsung membuat saya menoleh. Karena bagi saya dan suami, video call di saat istirahat itu adalah rutinitas kami. Bahkan bisa sehari 3 kali, udah kayak minum obat aja. Biasanya sih pagi setelah sholat subuh, siang saat jam istirahat kantor, dan malam setelah maghrib. Namun rupanya, teman saya ini frekuensi ngobrol dengan suaminya tidak sesering saya.
Teknologi sebagai Jembatan Rindu
Menjalani hubungan suami istri dengan jarak yang memisahkan memang bukan pilihan mudah. Ada yang terpisah karena tuntutan pekerjaan, pendidikan, atau kondisi tertentu yang belum memungkinkan untuk tinggal bersama. Rindu menjadi tamu harian, dan sepi kadang datang tanpa permisi. Namun, di tengah jarak itulah komitmen diuji dan kedewasaan hubungan tumbuh.
Beruntung, kita hidup di era teknologi informasi yang semakin maju. Jarak ratusan, bahkan ribuan, kilometer kini bisa dipangkas hanya dengan sentuhan jari. Telepon, pesan instan, hingga video call menjadi jembatan utama yang menghubungkan dua hati yang terpisah ruang.
Dalam long distance marriage, komunikasi bukan lagi sekadar menanyakan kabar pagi dan malam. Ia menjadi napas dari hubungan itu sendiri. Teknologi memungkinkan suami dan istri tetap hadir dalam keseharian masing-masing, meski secara fisik berjauhan.
Pagi, saat saya memasak, biasanya ditemani suami dari jauh. Mengingatkan cabenya jangan terlalu banyak kalau bikin sambel, karena Toto nggak begitu suka makan pedas. Hati-hati menggoreng, karena beberapa kali saya kecipratan minyak panas saat menggoreng.
Kadang, sebuah video call singkat sambil menemani pasangan memasak atau bersiap tidur sudah cukup untuk mengobati rindu. Tidak harus selalu obrolan berat tentang masalah besar atau keputusan penting. Justru cerita-cerita sederhana tentang kejadian lucu hari ini, keluhan kecil tentang pekerjaan, atau sekadar membahas menu makan siang bisa membuat hubungan terasa tetap hidup.
Pasangan sebagai Teman Bercerita Terbaik
Dalam pernikahan, pasangan sejatinya adalah teman bercerita terbaik. Tempat pulang paling aman untuk segala rasa, baik senang, lelah, kecewa, hingga bahagia. Jarak seharusnya tidak menghilangkan peran itu.


Telepon atau video call pasangan bisa dilakukan kapan saja, bukan hanya saat ada masalah. Obrolan remeh-temeh sering kali justru menjadi perekat hubungan. Cerita tentang hujan sore hari pas pulang kerja, tentang lama banget nunggu ojol saat pulang kerja, atau tentang hal-hal kecil yang mungkin terdengar sepele, namun memiliki makna besar, yaitu kehadiran.
Dengan berbagi cerita rutin, pasangan merasa tetap dilibatkan dalam hidup satu sama lain. Tidak ada jarak emosional yang tercipta, meski jarak fisik tak terhindarkan.
Menjaga Keintiman di Tengah Jarak
Menjalani long distance marriage juga mengajarkan arti keintiman yang lebih luas. Keintiman tidak selalu tentang sentuhan, tetapi tentang keterhubungan emosional. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh, merespons dengan empati, dan meluangkan waktu khusus untuk pasangan adalah bentuk cinta yang nyata.
Menjadwalkan waktu khusus untuk video call, saling mengirim pesan penyemangat, atau sekadar mengucapkan “aku rindu” tanpa alasan khusus dapat memperkuat ikatan. Teknologi hanyalah alat, namun ketulusan dan konsistensi adalah kuncinya.
Jika rindu, keluarlah nanti malam, tataplah rembulan, ada aku di sana. Halah gombal banget ya. Tapi gombalan ini masih sering kami lakukan. Sama-sama keluar rumah dimalam hari saat purnama, lalu videocall, saling membuktikan kalau malam ini kami sudah memandang bulan. Tapi tak ada wajah suamiku di sana, adanya malah di layar handphone.
Jarak Boleh Memisahkan, Hati Tetap Satu
Pada akhirnya, long distance marriage bukan tentang seberapa jauh jarak memisahkan, tetapi seberapa kuat komitmen yang mengikat. Dengan komunikasi yang terbuka, pemanfaatan teknologi informasi secara bijak, dan kebiasaan berbagi cerita setiap hari, hubungan suami istri tetap bisa hangat dan penuh makna.
Rindu memang tak pernah benar-benar hilang, namun ia bisa dirawat. Lewat suara di ujung telepon, lewat wajah yang muncul di layar, dan lewat obrolan sederhana yang mengingatkan bahwa meski berjauhan, hati tetap berjalan beriringan.