Menantang Terik Siang di Tebing Breksi, Yogyakarta

Usai menunggu suami selesai menunaikan sholat Jumat di masjid Al Aqsa, Klaten, kami pun meluncur menuju ke Tebing Breksi. Jaraknya nggak terlalu jauh, dari Masjid Al Aqsha kami tinggal mengarah ke barat hingga sampai di pertigaan sebelah candi Prambanan. Mengambil arah belok kiri, barulah saya membuka aplikasi google maps sambil melihat kanan kiri jalan. Banyak saya temukan penunjuk arah ke Tebing Breksi, jadi walau tanpa panduan GMaps pun, mudah untuk sampai ke sana.

Tengah hari, sebenarnya bukan waktu yang pas buat berwisata ke wisata alam begini, karena sinar matahari sedang terik. Tapi gimana lagi, cuma waktu ini yang kami miliki, menyempatkan usai sholat jumat ke sana.

Sebelum masuk ke kawasan wisata ini, kami harus membeli tiket masuk terlebih dahulu. Harga tiket untuk libur (jumat pertengah Mei 2026, hari libur cuti bersama), sebesar 15 ribu per orang. Ditambah biaya parkir mobil 5 ribu rupiah.

tiket tebing breksi

Ada area parkir untuk bus, berada di seberang loket pembelian tiket. Sementara untuk kendaraan kecil, area parkir posisinya lebih di atas, lebih dekat ke kawasan wisata. Tapi saat itu, suami memilih memarkir mobil di area parkir bus, karena melihat slot parkir yang teduh, dibawah pohon.

Dari Tambang Batu, Menjadi Destinasi Wisata

Sebelum dikenal sebagai objek wisata populer, Tebing Breksi dulunya merupakan area penambangan batu kapur yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Aktivitas penambangan berlangsung selama bertahun-tahun hingga akhirnya para ahli geologi menemukan fakta menarik bahwa batuan di kawasan ini memiliki nilai ilmiah yang tinggi.

Batuan di Tebing Breksi merupakan endapan abu vulkanik dari aktivitas gunung api purba jutaan tahun lalu. Karena memiliki nilai geologis yang penting, pemerintah kemudian menetapkan kawasan ini sebagai situs warisan geologi yang harus dilindungi. Aktivitas penambangan pun dihentikan.

geosite tebing breksi

Alih-alih menjadi kawasan yang terbengkalai, masyarakat setempat melihat peluang baru. Bekas area tambang disulap menjadi destinasi wisata kreatif dengan sentuhan seni dan penataan yang menarik. Hasilnya adalah Tebing Breksi yang kita kenal saat ini, perpaduan antara keindahan alam, sejarah geologi, dan kreativitas masyarakat.

Menikmati Pesona Tebing Breksi

Area bekas tambang ini luas juga ternyata, dengan beberapa tebing batu yang mesih kokoh menjulang tinggi. Walau dalam keadaan panas terik, tak menyurutkan langkah kami untuk menapaki jalan berbatu, bahkan anak tangga untuk bisa menikmati keindahannya.

Hal menarik pertama yang tertangkap oleh pandangan mata saya adalah tulisan “TEBING BREKSI DULU KINI & NANTI” yang ada di salah satu tebing batu. Sementara di depannya, sebuah area terbuka dengan beberapa tempat duduk yang melingkari area tersebut.

tebing breski yogyakarta

Usai berfoto berlatar tulisan itu, kami pun melangkah lalu menemukan lagi sebuah ukiran wayang disalah satu dindingnya. Saya tak menemukan ada penjelasan siapa nama tokoh wayang tersebut.

Walau cuaca panas, ternyata pengunjungnya banyak juga, nampak antrian pengunjung yang ingin berfoto di depan ukiran wayang di dinding tebing tersebut. Ada juga beberapa lelaki mengenakan rompi yang warnanya saya, menyandang kamera DSLR yang menawarkan jasa untuk memotret di spot tersebut.

Berseberangan dengan dinding berukir wayang tersebut, ada sebuah cekungan berisi air, bolehlah saya sebut sungai. Airnya berwarna hijau pekat, nampak ada banyak ikan yang berenang. Beberapa anak kecil berkerumun memberi makan ikan-ikan tersebut. Ada sebuah jembatan kecil juga, yang menjadi tujuan pengunjung untuk berfoto.

Spot Foto Kekinian di Ketinggian Tebing Breksi

Di sebelah dinding tebing berukir wayang, terdapat anak tangga. Pas memandang ke ujung anak tangga di atas, ada rasa penasaran, ada juga rasa malas untuk menapakinya. Cuaca panas, mesti menaiki anak tangga pula. Namun rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa malas, jadilah kami dengan pelan-pelan melangkah menapaki anak tangga satu demi satu. Di ujung anak tangga, saya menemukan informasi peta area Tebing Breksi

Saat sedang mencermati peta tersebut, saya mendengar gelak tawa rombongan ibu-ibu, yang membuat kepala saya menoleh ke arah sumber suara. Kaki pun lalu melangkah menuju ke sumber suara. Rupanya ibu-ibu itu sedang berfoto di salah satu spot foto yang ada, menuruti arahan gaya dari lelaki berompi hitam. Saya lihat ada juga beberapa spot foto lain, dan beberapa lelaki mengenakan rompi hitam juga.

Usai ibu-ibu itu selesai berfoto, saya pun tertarik juga untuk mengabadikan kehadiran saya di Tebing breksi. Saya hampiri lelaki itu, menanyakan apakah spot foto itu boleh untuk umum, ataukah mesti menggunakan jasanya? Karena saya amati, disetiap spot foto, ada satu lelaki berompi hitam yang berjaga di dekatnya.

spot foto tebing breksi

Lelaki itu menjawab, bahwa kami boleh berfoto di situ, dia akan membantu mengarahkan gaya dan sekaligus memotret menggunakan kamera handphone pengunjung. Bayar seikhlasnya saja. OK, saya pun mengambil beberapa posisi dan berfoto di dua spot foto yang ada.

spot foto tebing breksi

Cuaca yang terik, rupanya malah membuat langit nampak bagus saat di foto. Tapi tergantung jenis kameranya juga sih ya, dan juga orang yang motret, supaya bisa menghasilkan gambar yang bagus. Foto yang dibawah ini, diambil menggunakan kamera handphone yang berbeda, orang yang motret juga beda.

spot foto tebing breksi

Masih ada beberapa spot foto menarik lainnya, tapi antriannya mulai banyak, dan saya sudah malas mengantri. Anak saya juga sudah mengeluh kehausan. Iya, kami nggak bawa bekal air minum, dan tadi nggak mampir beli minum sebelum menaiki tangga, padahal cuaca panas dan ada beberapa stand penjual minuman di bawah.

Tapi sebelum turun, saya abadikan dulu beberapa titik di area Tebing Breksi dari ketinggian. Nampak ada panggung yang lumayan besar. Saat hendak meninggalkan area parkir, saya lihat beberapa mobil pick up membawa peralatan musik dan sound system. Sepertinya nanti malam bakal ada pertunjukan di panggung tersebut.

kawasan tebing breksi

Setelah merasakan sendiri teriknya siang hari di Tebing Breksi, saya punya satu rekomendasi penting. Jika ingin menikmati suasana yang lebih nyaman, datanglah pada pagi atau sore hari.

Baca yang ini juga

12 thoughts on “Menantang Terik Siang di Tebing Breksi, Yogyakarta

  1. Seru sekali cerita ke Tebing Breksi. Saya belum pernah berkunjung ke sana, tapi baca tulisan Mbak Nanik ini jadi punya bayangan bekal apa saja yang harus disiapkan kalau nanti saya main ke sana, pagi atau sore waktu terbaiknya.

    Btw, foto-fotonya bagus banget, Mbak! Setuju sih, cuaca terik memang sering kali memberikan bonus langit biru yang kontras dan estetik kalau difoto. Seru juga ya ada jasa foto bayar seikhlasnya, sangat membantu buat pengunjung yang datang bareng keluarga.

  2. Anak2 yang sempat main ke sini bareng keluarga ipar. Aku enggak ikut. Seingatku waktu itu hujan. Jadi, bukan opsi bagus juga tapi tetep hasil fotonya layak dikejar, sih

  3. Temen-temen yang udah pada ke sana, dan pamer foto di Tebing Breksi. Waktu itu masih baru, kayaknya bagus banget, putih gitu tebingnya. Noted, kalau mau ke sana mending pagi atau sore yah. Pas sunset keren juga kalik ya…
    Mengadakan acara musik di sini, sepertinya aman nyaman, sound systemnya engga mengganggu lingkungan deh.

  4. Tebing Breksi memang salah satu destinasi yang menarik di Yogyakarta. Dari cerita dan foto-foto yang dibagikan, suasananya terlihat begitu indah dan cocok untuk bersantai sambil menikmati pemandangan. Artikelnya juga enak dibaca karena detail dan membuat pembaca serasa ikut berkunjung ke sana. Terima kasih sudah berbagi pengalaman yang menyenangkan ini!

  5. Sepakat, kalau wisata alam emang waktu terbaik datangnya pas pagi hari. Tapi gapapa, mbak dan keluarga memang punya waktunya siang tersebut, jadi it’s oke sesekali menantang terik matahari.

    Jujurly, aku kagum dan takjub sama Tebing Breksi, cakep banget ya.

  6. wah keren, bekas kawasan tambang jadin tempat wisata

    penduduk setempat juga bisa dapat penghasilan

    walau gak kebayang panasnya, bakal bercucuran keringat kalo saya di sana

    Jadi ingat bekas penambangan kapur di Padalarang, oke juga juka dijadiin destinasi wisata ya?

  7. Ini kunjungannya kapan Mbak Nanik? Kalau baca di atas sih sepertinya baru Mei 2026 ya? Beberapa spot sudah beda banget dengan kunjungan saya di pertengahan 2025. Cepat sekali ya perubahannya. Kolam yang bulat di depan dudukan theatre itu sepertinya sudah ditutup jadi tanah rerumputan. Tulisan BREKSI DULU KINI & NANTI juga belum ada pas saya ke sana. Sama spot foto yang di bukit itu.

    Dan yang terbarukan adalah jalan aspal menuju Tebing Breksi. Dari beberapa postingan di medsos, jalannya sudah apik betul. Waktu saya ke sana sedang dalam proses pembangunan. Wah jadi pengen balik lagi hahahahaha. Mudah-mudahan sempat tak sambangi di next trip to Jogja dalam waktu dekat.

    1. 15 Mei kemarin mbak.
      Kolam di depan amphitheatre masih ada kok.
      yang di depan tulisan BREKSI DULU KINI & NANTI ini kayaknya theatre yang baru.

  8. Vanasnyaa.. mashaAllah yaah..
    Tapi kalau sedang hujan, juga jadi gak bisa dikunjungi kan yaa.. ((rawan gitu ga, ka Nanik??))
    Tebing Breksi ternyata memiliki jasa panjang untuk masyarakat Jogja yaa.. ((pernah jadi tabang batu)) dan kini, dilestarikan.

    Suka banget karena keseimbangan alam, kudu tetap dijaga agar kita semua bisa hidup beriringan dengan tetap mengambil manfaat dari alam.

    Suka banget sama hasil fotonya, ka Nanik..
    So beautiful!

  9. Wah .. sayang waktu dulu ke sana saya belum liat ada spot spot foto cantik kayak gini.. tapi memang ngga ada yang menyangka kalau tebing breksi dulu adalah penambangan batu kapur yaa

  10. Ke tempat wisata alam, kayak Tebing Breksi siang-siang beneran kayak menantang sang raja siang beneran. Tapi, rerata emang gitu ya. Tempat yang dulunya pernah digunakan untuk menambang batu, akhirnya dijadikan sebagai tempat wisata.

    Tempat wisata yang mirip kayak gini di Madura juga ada. Di Bangkalan sih persisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *