PengalamanKu

Curhat Bloger Pemburu Hadiah

 

Semalam, saya kedatangan tamu. Teman dari dunia ngeblog sejak beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah, bisa berlanjut dengan beberapa kali ketemu dan silaturahmi ke rumah.

Teman saya itu bercerita kalau dia sedang galau, pasalnya masih punya hutang satu postingan. Hutang posting aja galau, gimana kalau hutang duit yak!

Bukan karena dia tak ada waktu. Bukan karena dia tak punya bahan tulisan. Tapi karena yang dituntut untuk dituliskan tidak sesuai dengan pengalaman yang dia peroleh.

Jadi ceritanya, dalam sebuah kegiatan diluar kota, dia ini mendapatkan fasilitas menginap di hotel. GRATIS 3 hari 2 malam. Syaratnya, dia harus menuliskan review tentang pengalamannya menginap di hotel itu. Sudah ada rambu-rambunya, apa saja yang harus dia tuliskan. Jika ternyata reviewnya dinilai oleh pihak hotel tidak sesuai dengan rambu-rambu, maka konsekuensinya adalah, dia harus membayar full biaya selama dia menginap.

Ya udah, tinggal tuliskan aja review hotelnya, selesai kan. Sudah ada rambu-rambunya. Kenapa mesti galau segala.

Masalahnya, ada beberapa pengalaman tak menyenangkan selama dia menginap disana. Dan itu tidak hanya dia sendiri yang mengalami. Dari hasil berbincang dengan beberapa tamu yang menginap disana, juga mengalami hal yang sama. Nah, apakah pengalaman tak menyenangkan itu harus dituliskan juga? Kalau iya, berarti kan tidak sesuai pesanan pihak hotel. Kalau tidak, bisa jadi dia akan menyesatkan para pembaca nantinya. Inilah yang membuat jadi galau.

Dulu, waktu masih mahasiswa sih ok saja. Menulis berdasar pesanan. Mengikuti berbagai lomba bagi bloger. Hadiahnya kan lumayan. Tapi sekarang setelah bekerja, dia menyatakan tak berminat lagi “berbohong” lewat tulisan. Bukan saatnya lagi kini menulis untuk memburu hadiah.

Hmmm…. repot juga ya kalau begitu. Resiko menjadi bloger “pesanan”

Setelah berbincang panjang lebar, saya berikan usulan supaya dia tidak usah menuliskan pengalaman baik maupun buruknya selama menginap disana. Tuliskan saja fasilitas apa saja yang dimiliki, rate kamar, transportasi menuju ke sana de el el yang berkaitan dengan “fisik” hotel, bukan berkaitan dengan “rasa” para tamu.

Sampai dia pamit pulang, teman saya belum mengambil keputusan. Semoga saja segera menemukan solusi yang tepat.

***

Curhat teman saya itu, kembali menjadi pengingat bagi saya. Menulislah dengan hati, maka akan sampai ke hati. Jika memang ingin menulis dengan rekayasa, maka buatlah puisi, buatlah cerpen. Tulisan bisa menghibur, dan bukan sebuah kebohongan. Itu cuma khayalan.

Tulisan ini bukannya mau menyalahkan bloger pemburu hadiah, bloger spesial review, bloger spesial reblog ataupun copy paste. Bukan. Apalah hak saya ini untuk menyalahkan mereka. Semua akan ada saatnya. Ada saatnya menulis untuk mencari kepuasan batin. Ada saatnya menulis untuk mencari penghasilan. Ada saatnya menulis untuk menggerakkan pembaca. Ada saatnya menulis untuk mengisi waktu luang. Ada saatnya menulis untuk menumpahkan perasaan.

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis