desa adat penglipuran

Tata Ruang dan Rumah Adat Warga Penglipuran Bali

Selamat memasuki 2022, semoga kita selalu sehat dan rejeki juga lancar di tahun ini. Membuka 2022, saya masih mau melanjutkan cerita tentang desa adat Penglipuran, salah satu desa adat di kabupaten Bangli yang banyak menjadi tujuan wisatawan kala berkunjung ke Bali. Kali ini, saya mau membagi cerita mengenai tata ruang desa adat Penglipuran.

Tata Ruang Desa Adat Penglipuran

Desa adat Penglipuran memiliki 3 pintu masuk bagi wisatawan yang ingin berkunjung. Pintu masuk di sebelah utara, berdekatan dengan Pura, pintu masuk di bagian tengah dan di ujung sebelah selatan. Tiket masuknya sendiri 25 ribu untuk wisatawan lokal dan 50 ribu untuk wisatawan asing.

Saya merekomendasikan untuk masuk melalui pintu utara, lalu berjalan menyusuri desa dari utara menuju selatan. Di pintu masuk utara, tersedia areal parkir yang cukup luas. Kalau masuk lewat pintu tengah, tak ada area khusus parkir, jadinya parkir kendaraan di sepanjang pinggir jalan. Kalau lewat pintu selatan, juga tak ada area parkir khusus, selain itu jalannya jadi mendaki kalau ingin menyusuri Penglipuran.

desa adat penglipuran
Pemandangan penglipuran dari pintu masuk utara
desa adat penglipuran
Pintu masuk tengah

Di sebelah utara, posisi tanahnya lebih tinggi, jadi kalau kita masuk dari pintu utara, menyusuri desa jalanannya menurun. Di ujung pemukiman sebelah utara ada Pura desa, sementara diujung pemukiman sebelah selatan, ada kebun dan sawah milik petani. Di tengah-tengahnya pemukiman penduduk. Tata ruang ini memenuhi konsep arsitektur tri mandala (konsepsi tiga area) yang terdiri dari parahyangan (tempat pemujaan), pawongan (penduduk/penghuni rumah) dan palemahan (lingkungan).

konsep tri mandala
Konsep tata ruang desa adat penglipuran

Parahyangan

Parahyangan terletak dibagian yang memiliki dataran tertinggi dan diposisikan sebagai zona yang disucikan. Pada zona Parahyangan terdapat :

  1. Pura Penataran
  2. Pura Puseh
  3. Pura Dukuh
  4. Pura Ratu Rambut Sri Sedana
  5. Balai Kulkul
  6. Balai Patok
  7. Pura Empu Aji
  8. Pura Penaluah
  9. Hutan Kayu dengan luas 1,5 Hektar
  10. Hutan Bambu dengan luas 45 Hektar
Pura Penataran
Pintu masuk Pura Penataran

Hutan bambu memiliki luas 45 hektar, di dalam hutan bambu terdapat dua Pura yaitu, Pura Empuhaji Dan Pura Empunaluhan yang disucikan oleh Desa Adat Penglipuran. Warga desa adat Penglipuran berkomitmen untuk tetap menjaga kelestariannya, untuk itu hutan bambu tidak boleh dialihfungsikan serta lahannya dilarang dijual kepada warga luar desa Penglipuran. Hasil bambu banyak dimanfaatkan sebagai bahan utama untuk membuat atap angkul-angkul, atap dan dinding dapur masing masing rumah, dan berbagai manfaat ekonomis lainnya.

Kawasan hutan bambu
Kawasan hutan bambu

Sayangnya, saat ke hutan bambu, kami nggak sampai mengunjungi kedua Pura yang ada di area hutan bambu. Kami hanya berjalan masuk sekitar 2 km saja, setelah itu berbalik pulang menuju ke kawasan pemukiman lagi. Saya juga tidak bisa begitu menyimak pemaparan dari pak Muneng, ketua adat desa penglipuran, karena sambil ngezoom memberi bimtek pada peserta ujian seleksi PPG. Begini deh kalau jaman online, pekerjaannya bisa di dobel dengan melaksanakan tugas lain. Untung sinyal di kawasan hutan bambu ini bagus, jadi zoomnya tetap bisa lancar.

kawasan hutan bambu
Ngezoom dari kawasan hutan bambu

Pawongan

Pawongan terletak dibagian tengah yang diposisikan sebagai pemukiman terdiri dari 72 pekarangan. Pada zona Pawongan terdapat :

  1. Pemukiman
  2. Pura Catuspata
  3. Pura Ratu
  4. Pura Dalem Tampuagan
  5. Balai Kulkul
  6. Balai Banjar Adat
  7. Balai Gardu
  8. Balai Masyarakat
  9. Karang Memadu
Zona Pawongan
Zona Pawongan
Balai Banjar Adat
Balai Banjar Adat

Palemahan

Palemahan terletak dibagian bawah diluar Parahyangan dan Pawongan. Pada zona Palemahan terdapat :

  1. Tugu Pahlawan
  2. Pura Pelapuan ( Dalem Gede)
  3. Pura Dalem Pingit (Raja Pati)
  4. Pura Ratu Mas Manik Melasem
  5. Pura Ratu Sakti Gede Tungkub
  6. Kuburan
  7. Lahan Pertanian
Tugu Pahlawan
Gerbang Tugu Pahlawan

Desa adat Penglipuran memiliki kuburan, karena upacara ngaben di sini berbeda dengan di desa lain di Bali. Di Penglipuran, mayat tidak dibakar, melainkan di kubur dengan orientasi arah matahari tenggelam. Mayat perempuan di kubur dalam posisi telentang, sementara mayat lelaki di kubur dengan posisi tengkurap.

Rumah Adat Penglipuran

Rumah warga penglipuran di sisi barat dan timur jalan desa adat memiliki tata ruang yang berbeda. Kalau kita berjalan dari sisi utara, maka di sebelah kiri, kita bisa langsung melihat rumah warga. Ada yang menjajakan aneka dagangan, souvenir, makanan, kopi. Sementara di sebelah kiri, kita bisa melihat bangunan seperti pura, disebut dengan istilah sanggah. Rumah-rumah di sebelah kiri pun ada yang menjajakan makanan atau kopi, tapi letaknya agak di belakang. Sehingga kita mesti melongok ke dalam angkul-angkul, baru deh terlihat banner nama warungnya.

Semuanya seragam, karena memang tata ruang pekarangan di Penglipuran mengikuti aturan rumah adat, yang susunannya bisa dilihat di gambar berikut ini

tata ruang pekarangan
Tata ruang pekarangan

Seperti sudah saya tuliskan di artikel sebelumnya mengenai kunjungan ke desa adat Penglipuran, rumah warga memiliki 4 pintu. Pintu depan (angkul-angkul), pintu belakang untuk lewat kendaraan dan dua pintu samping untuk ke pekarangan tetangga.

Orientasi rumah adalah menghadap matahari terbit, sehingga sanggah berada di sebelah timur. Rumah-rumah modern di sebelah timur yang bagian depan, biasanya kecil, sementara di bagian belakang lebih luas.

Angkul Angkul

Angkul angkul ini semacam gapura/gerbang untuk masuk ke halaman rumah. Bangunannya terbuat dari batu padas, ada yang pondasinya batu padas lalu bagian atas menggunakan beton. Hal ini sekaligus menunjukkan strata sosial warga Penglipuran. Bagi yang bangunan angkul-angkul dan sanggah menggunakan batu padas, bisa dipastikan pemiliknya/leluhurnya adalah orang kaya. Saya bilang leluhur, karena ada yang angkul-angkulnya sudah berusia ratusan tahun.

Atapnya terbuat dari bambu. Bambu di belah, lalu disusun dan diikat menggunakan tali. Oh iya, semua bahan penyusun bangunan di penglipuran aslinya alami semua. Batu padas, bambu, ijuk, kayu. Akhir-akhir ini saja ada yang menggunakan paku, semen maupun seng/baja.

angkul-angkul

Sanggah

Sanggah merupakan pura keluarga, digunakan untuk beribadah sehari-hari bagi anggota keluarga. Kalau muslim, semacam musholla gitu lah ya. Tapi sanggah ini ada di setiap rumah.

sanggah
Gerbang sanggah

Karena ini bangunan suci, sehingga wanita yang sedang haid tidak diperkenankan masuk ke dalam sanggah. Berhubung saat berkunjung ke Penglipuran, saya dalam kondisi haid, jadinya saya hanya bisa memandang dari luar saja, tidak boleh masuk.

Oh iya, saat itu kelompok kami melakukan observasi ke rumah no 47, sisi timur jalan desa adat. Karen di sisi timur jalan, maka begitu memasuki angkul-angkul, yang tampak pertama adalah bangunan rumah modern. Setelah itu barulah dapur tradisional dan balai saka enam berjajar, dan bangunan sanggah di belakangnya. Di belakang bangunan sanggah, terdapat bangunan rumah modern yang lebih besar. Rumah ini adalah milik ibu Wayan Murni. Ibu ini menjual berbagai macam souvenir khas penglipuran lho, jadi kalau berkunjung ke Penglipuran mampir saja ke sini, beli souvenir sekalian melihat-lihat ke pekarangan belakang.

Di dalam Sanggah, terdapat 5 buah pelinggihan. Pelinggihan ini memiliki fungsi sendiri-sendiri, setiap rumah bisa jadi jumlah pelinggihannya berbeda ya. Rata-rata jumlahnya antara 4-6, tergantung kepercayaan pemilik rumah.

pelinggihan sanggah
Pelinggihan di dalam sanggah

Sanggah di rumah ibu Wayan Murni memiliki 5 pelinggihan. Pelinggihan yang tampak seperti ada 3 pintu kecil di bagian depannya itu, untuk bersemayam Batara Guru. Pelinggihan dengan 1 pintu, untuk melakukan pemujaan terhadap Ratu sakti persimpangan Gunung Agung . Pelinggihan dengan dua pintu untuk melakukan pemujaan terhadap Ratu Rambut Sri Sedana. Sementara pelinggihan yang hanya ada rangka dan atapnya, untuk melakukan pemujaan terhadap dewi yang bersemayam di Pura Besakih. Jadi walau keluarga ini tidak bisa melakukan pemujaan secara langsung ke Pura Besakih, bisa melakukan pemujaan di sanggah rumahnya saja.

desa adat penglipuran
Berbincang dengan ibu Wayan Murni

Dapur Tradisional

Dapur tradisional, tidak semata-mata digunakan untuk memasak. Dapur tradisional difungsikan sebagai rumah bagi warga di jaman dulu. Bangunannya terbuat dari anyaman bambu, atapnya juga dari bambu.

dapur tradisional
Bangunan dapur tradisional

Di dalam dapur tradisonal, terdapat dipan tempat tidur, tungku untuk memasak, persediaan kayu bakar, gentong persediaan air mentah untuk memasak, serta meja untuk menyimpan berbagai peralatan maupun makanan/minuman.

dapur tradisional
Isi dapur tradisional

Sampai saat ini, ibu Wayan Murni masih menggunakan dapur tradisional ini jika memasak dalam jumlah besar, misalnya kalau sedang ada perayaan. Sedangkan untuk memasak makanan sehari-hari, Beliau sudah menggunakan kompor gas, posisinya ada di bagian belakang dapur tradisional ini. Selain untuk memasak dalam jumlah besar, Beliau juga menggunakan untuk memasak makanan babi peliharaannya.

Balai Saka Enam

Balai saka enam, merupakan bangunan yang memiliki 6 tiang, tanpa memiliki pintu depan. Sementara tiga sisi dindingnya terbuat dari batu padas, atap dari rakitan batang bambu.

balai saka enam

Balai saka enam ini digunakan untuk upacara ngaben, pernikahan dan potong gigi.

Karang Memadu

Ada satu bagian lagi yang menurut kami unik dan hanya ada di Penglipuran, yaitu karang memadu. Karang memadu, hingga saat ini merupakan tanah kosong yang terletak di sisi selatan area desa adat penglipuran.

Karang memadu merupakan tempat untuk memberikan sangksi sosial bagi pelaku poligami/poliandri di Penglipuran. Jadi warga Penglipuran sangat menentang adanya poligami maupun poliandri, sehingga jika ada warga yang melakukan itu, ia akan di kucilkan. Pelaku ada dibuatkan rumah sangat sederhana di area karang memadu, tidak boleh melewati jalan utama desa, tidak boleh melakukan peribadatan di Pura desa. Dikucilkan sampai pelaku berhenti melakukan poligami (menceraikan salah satu pasangannya).

Sampai saat ini belum pernah ada kejadian poligami/poliandri di Penglipuran, sehingga karang memadu ini masih tetap merupakan tanah kosong, belum ada bangunannya. Area karang memadu ini bisa dibilang “area hitam” atau “area negatif” sehingga hasil bumi yang ada di dalamnya (bunga dan buah-buahan) tidak boleh digunakan dalam upacara persembahan.

karang memadu
Berfoto di depan area karang memadu

Penutup

Demikian cerita saya mengenai tata ruang desa adat penglipuran. Jika suatu saat kamu berkesempatan untuk mengunjungi Penglipuran, saya sarankan jangan cuma fokus berfoto di sepanjang jalan utama desa saja. Masuklah ke pekarangan rumah penduduk, ngobrol dengan mereka. Mereka seneng kok kalau ada yang masuk dan bertanya mengenai kebudayaan mereka. Sudah disosialisasikan juga ke warga, bahwa Penglipuran adalah desa wisata, jadi sudah biasa ada wisatawan masuk ke pekarangan rumah. Jangan lupa permisi dulu dengan pemilik rumah ya.

Berfoto usai observasi

Di pekarangan rumah juga kita bisa kok dapat spot foto yang cakep. Bisa pinjam properti tuan rumah juga hehehe… atau bisa menyewa pakaian adat Bali dan digunakan untuk berfoto.

pekarangan warga penglipuran
Numpang foto dan pinjam topi untuk berfoto

Bagi yang muslim, tidak tersedia tempat sholat di sini. Di toilet sih ada pancuran air untuk berwudhu, tapi tak ada tempat khusus untuk sholat. Karena toiletnya memang sudah dibangun memenuhi standar desa wisata. Jadi kalau kira-kira kunjungan menabrak waktu sholat, sholat aja dulu baru ke sini. Tapi kalau terpaksa sudah di sini dan mau sholat, bisa aja memanfaatkan balai banjar adat untuk tempat sholat.

Hati-hati juga karena kadang ada anjing yang tiba-tiba mendekat. Sebenarnya sudah ada aturan, bagi yang memiliki anjing supaya mengikat anjingnya, atau di taruh kandang supaya tidak berkeliaran.

Bagaimana dengan tatanan sosial masyarakatnya? Nanti saya bahas di tulisan lain ya, jadi tungguin update tulisan baru di blog ini.

50 comments

  1. Seingat desa Panglipuran ini desa wisata dan bagus dikunjungi, tiga tahun lalu berkunjung ke Bali salah satunya di tempat tersebut. Bali keren.

  2. Wow keren banget kakak reviewnya. Aku tertarik dengan dapur tradisional yang sampai sekarang masih terjaga kelestariannya ya.Memasak dengan kayu bakar itu wangi loh.Zaman masih kecil orangtuaku melakukannya. Bali memang memiliki pesona tersendiri ya

  3. Bersih banget desanya.

    Aku belum pernah ke Bali, dan kayaknya beberapa temenku pernah kasih liat saat mereka berada di desa ini. Jadi masuk wishlistku kalau nanti berkesempatan ke Pulau Dewata. Mau foto di rumah adatnya yang autentik dan cuakeeeeep itu.

    1. Ke Balinya udah sih..tapi belum kesampaian ke desa ini.. Desa yang keren banget..gak sabar nih nunggu ulasan tentang tatanan sosial masyarakatnya

  4. Tata ruangnya bagus. Rapi gitu ya. Orang-orangnya yang tinggal di sana nggak pingin apa ya membangun rumahnya sesuai dengan keinginan hati masing-masing. Kudu sesuai tata ruang yang sudah ada gitu. Tapi jadinya cakep banget….

  5. Dua tahun lalu, saya sekeluarga berkunjung ke desa wisata ini. Sayang sekali pas gak ada guide nya.
    Makasih ya kak, review lengkap dan informatif banget.
    Jadi pingin ke sana lagi…

  6. Aku terpesona dengan tungku dapur tradisionalnya, modelnya panggung sudah modern meski pake kayu bakar

  7. Minggu lalu baru aja saya dari sini. Rencananya pengen banyak motret tapi ternyata hujan deras turun berjam-jam. Akhirnya jadi cuma sempat motret bunga-bunga dan pameran tanaman serta produk kreatif UKM yang ada di pintu masuk bagian tengah.

    Nanti jika tulisan tentang Penglipuran sudah siap, saya ijin mencantumkan backlink tulisan Mbak Nanik di blog saya ya.

    1. siap mbak, silakan.

      Saya kemarin naksir tanaman cabe yang buahnya besar-besar banget dan aneka warna itu. Pengen beli tapi repot gimana bawanya

  8. seru sekali yaaa mba berkunjung ke desa adat penglipuran yang sangat apik tertata rapi dan kebayang udaranya juga pasti masih fresh.. salah satu wishlist aku kalo jalan-jalan ke Bali nih

  9. Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke Bali, jadi ingin liburan kesana dan berkunjung ke rumah adat Penglipuran Bali ini. Keren banget rumah adatnya yah, punya ciri khas.

  10. duh pinginnnn…..

    destinasi impian banget nih

    liburan di Bali dengan suasana yang Bali banget

    kayanya saya betah berminggu minggu di sini 🙂

  11. Apik suasana di sana ya mbak.
    Terasa sejuk dan segarnya udara. Bisa betah liburan di sana, apalagi sambil belajar sejarah budaya juga.
    Semoga terus dilestarikan dan terawat dengan baik

  12. Nah iya akhirnya kebun bambunya update juga di lanjutan tulisannya ini ya. Senang tuh anak saya main di kebun bambunya. Adem tidak panas. Meski kebun bambu tapi tidak ada kesan menyeramkan sama sekali.

  13. Jadi rindu sama Bali saya Mbak, hehehe. Apalagi kemarin kan saya ada update foto story di Pantai Balikpapan yang memang sengaja dikonsep mirip Bali gitu, trus teman kuliah saya waktu di sana langsung kirim pesan, nanyain saya ada dimana? Hihihii, dipikir saya lagi ada di Bali. 😂😂😂

  14. Khas dapur tradisional, ya. Selalu ada bale-bale. Jadi mengingatkan dengan rumah almh nenek. Biasanya bale-bale gitu juga buat bersosialisasi. Ngobrol dengan keluarga atau tetangga sambil masak 😀

  15. Desa panglipuran Bali ini sangat keren banget ya mbak, pas banget reviewnya runut Dan lengkap. Aku tertarik banget bisa berwisata ke sana. Semoga someday bisa ke Bali yang memang memiliki pesona tersendiri ya

  16. Masing-masing zona banyak juga ya Pura-nya..daerahnya juga asri. Pengen deh suatu saat kesini..apalagi lihat foto mbak Nanik pakai properti yang bisa dipinjam..mantul

  17. Main ke Karang Memadu gak Mba Nanik? Wkwkwkwkwk. Banyak juga itu penduduk desa sana zaman dulu yg ketahuan selingkuh, atau poligami akhirnya dikeluarkan dari desa, ketimbang mereka harus diasingkan di Karang Memadu.

  18. suasana desanya menenangkan yaa, Mba. Nuansa tradisionalnya dapat banget, udah gitu bersih pula, bikin betah pengunjung yang datang ke sana

  19. Cakep banget ya desa wisata Panglipuran ini..Pengen banget main ke sini kalo pas ke Bali.. Apalagi bisa berinteraksi dengan warga ..makin menyenangkan pastinya..

  20. seingat saya memang dulu pernah ada teman org bali, beliau bercerita kalau tiap rumah di bali yg punya org bali asli, punya ketentuan buat bangunan2 di dalam pekarangannya. dan tiap bangunan ada namanya. luarbiasa budaya yg di jalankan oleh warga bali ini

  21. Waah masuk.bucketlist nih kalau ke Bali, kereen yaa desa panglipuran ini karena masyarakatnya masih menjaga adat istiadat. Saya sukaa wisata budaya dan sejarah seperti ini

  22. Keren bgt. Jadi tambah pengen berkunjung ke Desa Panglipuran deh. Ternyata mereka menentang poligami & poliandri ya..mpe ada sanksi sosial begitu rupa. Syukurlah jd minim drama rumah tangga dong ya

  23. Saya baca cerita Mbak Nanik, berasa berkunjung sendiri ke Desa Adat Penglipuran. Begitu banyak keunikannya…beneran wajib didatangi, dan enggak cuma pepotoan saja, mesti berinteraksi dengan masyarakat lokal agar kita tahu budaya aslinya.
    Ditunggu kelanjutannya, Mbak:)

  24. Puas banget lihat foto foto di rumah adat penglipuran Bali ini mbak. Jadi tahu ternyata boleh ya masuk ke dalam dan berbincang dengan penduduk. Malah dapat banyak insight dari ngobrol sama penduduk ya mbak dan fotonya benar benar hidup, gak sekadar foto saat kita traveling yang numpang lewat hehe

  25. Struktur bangunan dan rumah sudah ada aturannya semua ya ternyata mba. Di beberapa daerah dengan kebudayaan yang masih kental, hal seperti ini masih dipegang teguh sepertinya. Misal pintu harus menghadap kemana, letak kamar harus seperti apa, dan lain sebagainya.
    Jadi pengin banget nih bisa ke Desa Panglipuran dan menikmati kebudayaan mereka serta keasrian tempatnya.

  26. Aku tertarik nih dengan adat terkait ttg mayat di Desa Penglipuran. Ternyata dikubur ya. Umumnya yg masyarakat tau biasanya ada ngaben di mana mayat tersebut dibakar.

  27. Masya Allah cantik banget sih desanya mana bersih lagiii, betah deh berkeliling di sini, gara-gara lihat foto-fotonya di blog seorang travel blogger jadi bercita-cita pengen ke sini deh mbak smeoga terwujud aamiin..

  28. Sugguhan keren banget tata ruang desa adat penglipuran.
    Apakah dulu sebelum desa ini ada saat sekarang ini memang ada perencanaannya sedemikian detil yaa..?
    Kepikiran sampa dari mana arah matahari datang dan baiknya untuk bangunan apa.
    Gak sabar membaca next post kak Naniek.

  29. Bagus ya desa nya mba. Nuansa Bali nya kuat banget. He eh, ke desa wisata paling suka klo bisa ngobrol sama penduduk setempat…

    Btw, klo ke panglipuran ini bisa nginep di rumah penduduk lokal kayak di desa2 wisata di Jogja gitu nggak sih mba?

  30. Main ke ruang Desa Adat Penglipuran ini kayanya gak cukup sehari. Semua tempat tuh menarik sampai dapurnya juga. Semoga bisa berkunjung ke sana deh. Penasaran banget

  31. Bali ini ya, rasanya semua halnya menarik. Ya budayanya, alamnya, masyarakatnya, bahkan ini desa adatnya. Gak heran deh kalo Bali jadi destinasi favorit orang untuk berwisata. Huhu kangen Bali.

  32. ini desa yang sering banget dikunjungi wisatawan, dimana tempatnya nyaman dan sarat kebudayaan ya mak. aku dulu masih kecil pernah ke sini tapi ga serapi ini juga sih dulu kayaknya. jadi pengen ke sini lagi

  33. Unik mbak… Banyak hal bisa dipelajari ya. Berarti rata-rata halaman rumah orang bali luas ya. Karena pernak pernik bangunannya banyak banget.. Baru tahu lho, ternyata tidak semua orang bali jenazahnya dibakar. Ada yg dikubur juga…

  34. Belum pernah ke Desa wisata ini tapi pastinya sangat menarik ya belajar budaya dan tolerasinya asri sekali. Pas ke Bali aku pun merasakan asri dan damai sepanjang perjalanan di kotanya.

  35. Penasaran pengen ke Desa Adat Penglipuran. Di sana kelihatan segar dan alami banget. Jadi kalau ke Bali gak hanya main di seputaran Kuta beach.

  36. Jadi kangen bali niiihhh.. Cakep dn rapi banget tata desa panglipuran ini ya maaaak.. Penduduk Bali juga ramah ramah sekalii.. duh, semoga tahun ini bisa ke Bali! Aamiin..

  37. Salah satu desa wisata yang paling ingin dikunjungi deh. Bersih dan beneran buat nyaman ya dengan suasana yang sejuk dan pemandangan yang indah. Tata ruangnya memang mengikuti aturan rumah adat ya sehingga memang menjadi rapi dan teratur nih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *