PengalamanKu

Refleksi Hari Tani Nasional 2018 : Bertani itu Seperti Merawat Bayi

Pagi ini ada pesan wa masuk ke handphone saya. Pesan yang sempat membuat kening saya berkerut.

“Selamat memperingati hari tani nasional ya… Semoga nasib petani makin baik di negeri ini”

Hari tani nasional? Ada gitu? Sejak kapan? Kok saya baru tahu ya. Jangan-jangan para petani pun malah nggak tahu kalau hari ini adalah hari mereka. Kalaupun para petani tahu, ada gitu pengaruhnya buat mereka. Hari ini mungkin akan di lalui sama seperti hari-hari kemarin. Bangun pagi, menunaikan kewajiban sholat subuh, menyeruput kopi, lalu pergi ke sawah. Tak ada yang spesial di hari ini.

Beruntung saya punya paman yang baik. Iya, paman google. Bertanyalah saya padanya, benarkan hari ini adalah hari tani? Dan jawaban yang saya peroleh membuat saya agak kaget juga.

“peringatan hari tani diambil dari hari lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada 1960, yang menjadi titik penting sejarah bangsa dalam memandang arti penting petani dan hak kepemilikan atas tanah serta keberlanjutan masa depan agraria di Indonesia.”

Apa, sudah ada sejak tahun 1960. Bahkan sejak saya belum lahir. Kemana saja saya selama ini, sampai nggak tahu peristiwa ini?

Baiklah, tak perlu menyalahkan dan mencari penyebab ketidaktahuan saya. Lebih baik saya cerita sedikit tentang kehidupan petani.

***

“Suami dinas dimana, Bu?”

Pertanyaan yang sering diajukan kala bertemu dengan orang baru. Saat saya jawab kalau suami bukan orang kantoran, tapi petani, reaksinya beragam. Ada yang langsung diam, namun raut mukanya berubah, tatapannya gimana gitu ke saya. Banyak yang nggak percaya.

Emang kenapa, apa masalahnya kalau suami saya petani?

Jadi gitu deh, yang namanya petani itu masih dianggap sebelah mata. Bukan profesi idaman lah pokoknya. Bahkan, para petani pun tak banyak yang berharap anaknya kelak akan jadi petani. Lulus sekolah, langsung dicarikan duit, dicarikan relasi, disuruh pergi ke kota. Disuruh cari kerja di kota, entah di pabrik, entah di toko, entah jadi pembantu rumah tangga. Asal jangan jadi petani.

Hal ini terjadi, karena selama ini, yang namanya petani itu susah buat bisa sejahtera. Pupuk dan obat-obatan mahal, eh pas panen malah harga jualnya murah. Upah buruh tani juga mahal, itupun susah cari orang. Adanya yang sudah tua, yang muda udah pergi ke kota semua. Jadi ya wajarlah kalau banyak orang yang tak ingin generasi penerusnya menjadi petani. Padahal kalau tak ada petani, bagaimana ketahanan pangan di negara kita ini akan terjaga?

Menjadi petani, merawat tanaman, itu seperti merawat bayi. Butuh banyak persiapan, dan juga ilmu. Pengetahuan yang sudah dipersiapkan pun, kadang tak sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Secara teori, tak boleh ikut nangis atau bahkan marah kalau bayi rewel dan kita tak tahu apa yang diinginkannya. Teorinya begitu, nyatanya? Banyak yang makin bingung dan akhirnya ikutan emosi kala bayi terus-terusan nangis tanpa diketahui sebabnya.

Secara teori juga, tanaman yang dirawat dengan baik, dalam waktu sekian hari sudah akan menghasilkan. Hitung-hitungan di kertas, kalau 1 tanaman  bisa berbuah sekian kilo, dengan harga jual terendah pun, sudah akan dapat untung. Tapi kenyataannya? Tanaman bisa saja tak tumbuh, tanaman bisa kena penyakit, buah tak sebanyak perkiraan, harga jual ambles jauh di bawah perkiraan.

Petani bekerja mulai dari menyiapkan lahan. Kalau lahannya luas, tak mungkin diselesaikan sendiri. Tanah sudah di traktor, tapi untuk membentuknya menjadi seperti pematang yang siap tanam, tetap butuh tenaga manusia. Disinilah buruh tani berperan.

Cangkul… cangkul… cangkul yang dalam

Setelah lahan siap, sudah tertata dengan rapi, pekerjaan selanjutnya adalah memasang mulsa. Tujuannya agar nutrisi dapat terserap maksimal oleh tanaman karena tak ada rumput dan gulma penganggu. Jika tertutup mulsa, maka kecil kemungkinan rumput akan bisa tumbuh di area yang tertutup mulsa.

Mulsa sudah terpasang, lanjut dengan membuat lubang untuk tempat menanam benih. Pekerjaan ini, bisa lah dilakukan sendiri. Kalau lubang-lubang sudah siap, pekerjaan selanjutnya adalah menanam benih. Kalau pengen cepet selesai, lagi-lagi butuh jasa para buruh tani.

Cabe di tengah, kacang buncis di pinggir

Bibit sudah ditanam. Pekerjaan masih banyak. Menyirami, menyemprot hama, memberi pupuk, memasang bambu untuk tempat tanaman menjalar. Hingga akhirnya tanaman pun berbuah. Pas sudah muncul bunga, pak tani udah girang banget, apalagi kalau bunga-bungan ini menjadi buah.

Kacang buncis tumbuh subur

Tomat pun mulai berbuah

Cabe pun berbuah lebat

Itu gambar-gambar yang menyenangkan. Membuat lelah seakan hilang. Kala di tinggal pulang, rasanya tak sabar untuk kembali ke sawah keesokan harinya. Duduk di gubuk, menikmati sepiring nasi sambil melihat tanaman-tanaman ini, mampu membuat damai di hati. Sama seperti memiliki bayi yang sedang lucu-lucunya. Rasanya rindu jika sehari saja tak berjumpa.

Namun ada kalanya, pemandangan menyedihkan yang di dapat. Benih tak tumbuh, tanaman yang layu, atau diserang ulat ataupun serangga. Sedih tentunya. Sama seperti sedihnya jika si bayi terkena demam. Segala cara diupayakan untuk membuatnya ceria kembali.

Jika benih tak tumbuh, maka harus segera di sulami. Jika tanaman layu dan mati sebelum berbunga, maka harus di cabut dan dibuang. Jika serangga dan ulat menyerang, maka dosis pestisida harus ditingkatkan.

Layu sebelum berkembang

Ulat dan serangga berpesta.

Kala mengajak bayi jalan-jalan, ada saja yang gemas lalu dengan seenaknya mencubit pipinya. Si orang tua mau melarang juga nggak enak, ntar dikiranya sombong. Menangislah sang bayi, hingga kita kadang repot menenangkannya kembali. Sementara si oknum pencubit malah ketawa-tawa dan berlalu tanpa merasa bersalah.

Kadang-kadang ada teman main ke sawah. Lihat tanaman hijau segar dan mulai berbuah, lalu ingin membawakan buat oleh-oleh istri di rumah. Merasa pak tani itu temannya, dengan seenaknya saja memetik buah. Pilih yang besar-besar dan jumlahnya banyak. Pak tani cuma bisa melongo, mau menegur juga nggak enak. Nanti malah bisa merusak pertemanan, dikira pelit.

Oleh-oleh buat istri di rumah

Merawat anak sedari bayi, harapannya kelak kala dewasa bisa membanggakan kedua orang tuanya. Bisa mandiri dan tak lagi merepotkan.

Merawat tanaman, puncaknya adalah masa panen. Tanaman yang sudah dirawat sejak dari berupa biji, bisa menghasilkan buah yang bagus dan jika dijual, harganya pun bagus.

Siap dipetik dan dipasarkan

Jika buahnya bagus dan harga jualnya bagus, maka pak tanipun bisa tersenyum gembira. Bisa ngajak anak istri belanja.

 

Pak tani dengan latar belakang buncis dan cabe

Begitulah, bertani itu pekerjaan yang tak ada habisnya. Selesai satu pekerjaan, disambung pekerjaan berikutnya. Semoga saja bukan hanya lelah yang di dapat. Semoga saja di momen hari tani ini, pemerintah makin memperhatikan nasib para petani.

8 thoughts on “Refleksi Hari Tani Nasional 2018 : Bertani itu Seperti Merawat Bayi

  1. Ada gitu ya mbak yang tega minta hasil panen. Aduh terlalu sih. Sekarang ketika banyak pabrik dibangun di daerahku, orang-orang desa banyak ke kota. Mereka memilih menjadi buruh pabrik daripada bertani. Sebagai buruh pabrik sudah jelas penghasilannya, sementara petani…
    Semoga nasib petani lebih diperhatikan pemerintah.

    1. Kalau yang sesama petani sudah saling tahu susahnya mbak, dan biasanya kalau panen saling berbagi. Nah, yang bukan petani ini, yang nggak ngerti susahnya, kadang main petik aja. Udah petik baru minta ijin

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis