Dialog Pagi (2)

Sudah setengah 7 dan saya belum mandi, masih membereskan sedikit pekerjaan di dapur. Tiba-tiba datanglah dedek ke dapur, bilang kalau ingin makan mie soto. Padahal nggak ada persediaan mie soto di rumah. Lalu dia minta ganti menu, mau telur dadar. Lha kok ya pas telur di kulkas juga habis. Saya tawarkan makan pakai rawon saja, karena memang saya masak rawon, dia bilang nggak mau.

Ya sudah, kalau nggak mau saya juga nggak memaksa. Saya tengok dedek sudah kembali ke ruang tengah, lalu mengambil roti tawar dan meminta tolong papanya buat mengoleskan susu coklat diatas roti tawarnya. Jadi urusan sarapan dedek sudah beres.

Selesai mandi, dan saat saya sedang bersiap-siap, masuklah dedek ke kamar.

D : Ma, aku mau mie soto

M : Mie nya habis dek, mama belum beli (sebenarnya memang nggak mau punya persediaan mie instan di rumah, biar anak-anak nggak terbiasa makan mie instan. Jadi kalau sesekali pengen masak mie, ya harus ke warung dulu beli mie)

D : Kalau gitu, makan pakai endog (telur) aja

M : Telurnya juga habis, ajak papa ke pasar ya, beli telur. Memangnya dedek belum kenyang, kan barusan makan roti

D : Tapi aku itu mau mi soto, Ma. Nggak pakai kuah. Nggak pakai telur. Pakai bakso aja

M : Ya tapi kita nggak punya mie, Dek (Nada suara mulai meninggi dan tegas. Mulai jengkel deh, karena sudah beberapa kali dibilang, masih minta hal yang sama juga. Sudah jam 7 pula, sudah telat ke kantor. Anak-anak sudah hapal, kalau nada suara saya sudah tinggi, itu artinya saya nggak mau dibantah dan mereka harus nurut)

D : kanak-kanak itu disayang, bukan dimarah! (lalu dedek berlalu meninggalkan saya sendirian di kamar)

Saya langsung tertegun mendengar pernyataan dedek. Pernyataan yang dikutipnya dari ucapan salah satu pemeran dalam serial upin ipin.

Saya hampiri dedek, lalu saya dudukkan dalam pangkuan saya.

M : Mama nggak marah dek. Mama sayang dedek kok.

D : Kalau nggak marah, kenapa suara mama keras-keras?

M : (Masih mencoba bersabar, sambil mata sebentar-sebentar melirik ke arah jam dinding) Ini kan sudah jam 7, sudah waktunya mama ke kantor. Kalau mama nggak ke kantor, nanti orang-orang cariin mama. Kan sudah mama bilang dari tadi, kita nggak punya mie dan telur, tapi adik masik minta terus.

D : Kan, aku itu pengen makan mie, Ma. Aku itu nggak mau rawon. (Hiyaaa…. kok diulangi lagi sih!)

M : Mama bilangkan papa ya, biar papa belikan mie dulu.

D : Aku nggak mau masakan papa, aku maunya mama yang masak

P : Masakan papa itu nggak enak ya, Dek. Yang enak itu masakan mama! (Ini lagi malah membumbui, bukannya mengalihkan perhatian dedek)

M : Gimana kalau makan mie nya nanti siang aja. Sekarang pakai rawon dulu. Nanti siang mama mampir toko beli mie, ok?

D : (setelah terdiam beberapa saat) Ok! (dan senyumnya kembali mengembang, lalu berpindah duduk dipangkuan papanya)

***

*Dan barusan di sms suami, dedek sudah makan pakai rawon, habis dua piring

Hmmm…. jadi sebenarnya, dedek bukan mau mie, tapi mau perhatian dari mamanya.

Comments

Add a Comment
  1. Wahhh … pinternya sidedek … hahaha … si mama jadi terlambat laksanakan deh … korupsi waktu gara2 dialog sama sidedek … itulah suka duka wanita karir … nice … 🙂

    1. hehehe… begitulah. tapi kan ada toleransi keterlambatan sampai 30 menit 🙂

  2. wah kicik2 udah suka rawon heheh

    1. padahal makannya cuma sama kuahnya lho mbak, dagingnya nggak doyan 🙂

  3. harus pandai-pandai menangkap apa yang tersirat kalau begini 😀

    1. betul, jadi orang tua memang harus menyelami ada apa dibalik kata-kata mereka

  4. aku seriiing banget ngalamin begini saat waktu sudah mepet ke kantor, anak-anak memang kritis yaa

    1. iya mbak, kadang suka mikir, klo pas mamanya longgar, kok mereka tenang-tenang saja, giliran mamanya terburu-buru malah minta macam-macam 🙂

  5. Cerita pagi yang selalu berulang…di dapurku juga Mbak Nanik….waktu mepet tapi si Adek minta perhatian emaknya…. 🙁

  6. Hahahaha…si dedek lucu banget, mbak 😀

  7. Hi Dedek yang calon diplomat, dialog pagi penuh diplomasi. Selalu dituntut berbagi peran sesuai keadaan ya Jeng. Salam manis buat Dedek dan Babang….

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis