kapal express bahari 1E

Pengalaman Naik Kapal Express Bahari 1E Rute Ambon – Masohi

Melanjutkan cerita saya mengenai perjalanan menuju Masohi, kali ini khusus mengenai pengalaman naik kapal cepat. Kapal yang kami naiki adalah Express Bahari 1E dengan rute pelabuhan Tulehu di Ambon menuju pelabuhan Amahai di Masohi.

Bagi yang belum membaca tulisan saya sebelumnya, dan belum pernah dengar nama Masohi, perlu diketahui Masohi ini adalah ibukota kabupaten Maluku Tengah. Lokasinya ada di pulau Seram. Jarak kedua pelabuhan ini sekitar 74 km.

jarak tulehu ke amahai
Perkiraan rute Pelabuhan Tulehu menuju Pelabuhan Amahai
Pintu masuk pelabuhan tulehu
Pintu masuk pelabuhan tulehu

Ada dua jenis kapal yang melayani rute Ambon menuju Masohi. Kapal cepat untuk angkutan orang dan kapal feri untuk angkutan barang. Dengan menggunakan kapal cepat, waktu yang dibutuhkan antara 2 – 2,5 jam, menempuh rute pelabuhan Tulehu menuju pelabuhan Amahai. Jam keberangkatan setiap hari pukul 08.00 dan 16.00 WITA.

Sementara kalau menggunakan kapal feri waktu tempuhnya antara 4 – 5 jam, menempuh rute pelabuhan Tulehu menuju pelabuhan Ina Marina.

Harga Tiket Kapal Express Bahari 1E Rute Tulehu – Amahai

Tempat penjualan tikel kapal cepat Express Bahari 1E berada di sebuah ruko di luar area pelabuhan Tulehu. Jadi kemarin itu, sopir yang mengantar kami menghentikan kendaraan di sebuah bangunan ruko, lalu memberi tahu kami untuk membeli tiket terlebih dahulu di situ. Jaraknya sekitar 200 meter dari pintu masuk area pelabuhan Tulehu.

Di depan meja yang digunakan untuk pembelian tiket, tertempel keterangan mengenai harga tiket kapal. Harga kapal cepat rute Tulehu – Amahai untuk kelas eksekutif 148 ribu, VIP 330 ribu dan VVIP 355 ribu. Harga tiket ini berlaku mulai 5 September 2022, jadi sejak adanya kenaikan harga BBM tahun ini.

Tak ada kursi untuk kelas ekonomi!

Bendahara di kantor sudah wanti-wanti untuk selalu menggunakan alat transportasi kelas ekonomi kalau kami bepergian dalam rangka menjalankan tugas negara. Berhubung kapalnya nggak ada kelas ekonomi, saya foto saja daftar harga tiketnya dan saya kirimkan pada bagian keuangan di kantor. Kami lalu disarankan untuk pakai yang kelas eksekutif.

Sampai depan kasir loket, saya sodorkan KTP karena untuk pertanggungjawaban ke kantor. Jadi nama di tiket mesti sesuai nama di KTP. Petugasnya menanyakan apakah untuk keperluan dinas, saya pun mengangguk mengiyakan.

Lalu petugasnya menyambung lagi, bahwa biasanya kalau untuk keperluan dinas, pakai yang kelas VIP. Tapi karena kata bagian keuangan suruh pakai yang eksekutif, saya tetap beli tiket kelas eksekutif. Tak lupa minta tempat duduk di dekat jendela.

tiket kapal express bahari 1E
Tiket kapal Express Bahari 1E

Kondisi Ruang Tunggu Pelabuhan Tulehu

Sudah punya tiket, sudah kenyang makan nasi padang, kami pun lalu menuju ke ruang tunggu penumpang di pelabuhan Amahai.

Ruang tunggu bagian luar terdapat dua deret kursi memanjang, banyak sekali pedagang asongan yang menawarkan dagangan. Nasi bungkus, aneka keripik, minuman, biskuit dan jajanan lain. Saya perhatikan ibu-ibu semua, tak ada lelakinya. Suara lantang menawarkan dagangannya. Sesekali menyapa “Keripiknya kakak….” sambil menyodorkan dagangannya.

terminal penumpang pelabuhan tulehu
Ruang tunggu penumpang

Ruang tunggu di bagian luar ini panas, dan bising sekali dengan suara para penjual, tak ada kursi kosong pula. Semua kursi sudah ada yang menduduki. Jadi kami memutuskan untuk masuk ruang tunggu di bagian dalam.

Bagitu membuka pintu ke ruang tunggu bagian dalam, saya temui mesin pemindai orang dan juga barang. Tapi tak ada petugas yang berjaga. Saya tengok kanan kiri sambil bersiap melepas tas ransel dalam gendongan untuk dimasukkan ke pemindai barang, tapi urung saya lakukan. Nampak ada penumpang yang langsung jalan saya melewati mesin pemindai tanpa melepas barang bawaannya. Saya pun mengikuti. Ternyata mesin pemindai itu tak difungsikan.

Ruang tunggu bagian dalam ini nyaman. Ruangan ber AC dan tak ada bising suara para pedagang. Tempat duduk yang tersedia juga banyak, malah banyak yang kosong saat kami masuk. Dan tetap kosong sampai kami bersiap untuk naik ke kapal.

Saat di ruang tunggu ini ada petugas yang melakukan pemeriksaan dengan memindai barcode di tiket yang kami pegang. Setelah itu meminta kami untuk menyimpan tiket dengan baik karena akan ada pemeriksaan lagi di atas kapal.

Saatnya Masuk ke Kapal

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30, kami berdua memutuskan untuk naik ke kapal. Di depan pintu masuk ke kapal, terdapat beberapa pedagang yang menggelar dagangannya. Sebelum naik kapal, tak lupa berfoto dulu.

Agak takut saya saat akan masuk ke lambung kapal. Takut kepeleset dan nyemplung, karena penghubung dari dermaga ke dalam kapal hanyalah dua papan kayu saja. Ada dua petugas di sisi kanan kiri kedua papan kayu, siap membantu para penumpang untuk masuk ke dalam kapal.

“Awas kepala kakak!”

Berulangkali terdengar suara perempuan mengingatkan dari arah dalam kapal. Tapi saya nggak ngeh. Saya meniti kedua papan kayu, dengan berpegangan tangan pada petugas yang membantu, dan lalu “dug!” kepala saya terantuk bagian atas pintu kapal. Untung nggak terlalu keras, jadi sakitnya segera hilang.

pintu masuk kapal
Para pedagang sudah siap menyambut begitu menginjakkan kaki di kapal

Jadi kalau mau masuk kapal ini, karena posisi pintu masuk lebih rendah dibanding dermaga, dan papan kayu itu menurun, memang badan mesti membungkuk. Kalau badan tak membungkuk, kejadian deh kayak saya tadi, jidat kejedug bagian atas pintu.

Kelas Eksekutif dalam Kapal

Menginjakkan kaki di kapal, disambut mbak-mbak yang menanyakan nomor kursi. Setelah saya beritahu, dia menunjukkan kursi saya. Tadinya saya kira, mbak-mbak tuh petugas dalam kapal, ternyata pedagang asongan.

Jadi di dalam kapal ini pun ada banyak sekali pedagang asongan yang masuk. Silih berganti menghampiri, menawarkan dagangan. Karena perut sudah kenyang, sudah punya persediaan air minum, kami nggak tergoda dengan penawaran mereka.

Oh iya, kelas eksekutif yang ini posisinya ada di satu lantai dengan pintu masuk tadi. Tempat duduknya nyaman, kayak tempat duduk di bus. Satu deret ada 11 tempat duduk terbagi menjadi 3 bagian, terpisah 2 buah lorong. Ada kursi di tepi dan 5 kursi di tengah. Sudah tertera angka di setiap kursi, jadi memudahkan penumpang untuk mencari tempat duduk sesuai yang tertera di tiketnya.

Di bagian atas sisi kanan kiri terdapat banyak sekali pelampung terlipat rapi. Saya berharap pelampung itu akan tetap tersimpan rapi di atas, tanpa pernah digunakan.

kursi kelas eksekutif kapal express bahari 1E
Kursi penumpang kelas eksekutif

Ada empat pendingin ruangan, dia di depan sisi kanan dan kiri serta dua di belakang. Satu toilet di bagian belakang. Saya nggak masuk ke toilet disini, jadi nggak tahu bagaimana kondisi di dalamnya.

Yang bikin nggak nyaman adalah banyaknya pedagang yang ada di dalam. Lalu saat saya turun, mendapati banyak sekali sampah berserakan. Saya amati emang nggak ada tempat sampah sih, jadi memang butuh kesadaran para penumpang untuk membawa serta sampahnya saat turun.

Karena ini pengalaman pertama naik kapal, dan saya duduk di sisi yang ada jendelanya, jadinya antusias melihat ke luar saat kapal mulai berjalan. Buih yang tercipta karena air yang terterpa badan kapal yang melaju, riak-riak air laut. Pepohonan di daratan di kejauhan, deretan rumah penduduk nampak dari laut. Kadang juga tak nampak daratan sepanjang mata memandang, hanya air laut yang tenang, nampak kayak hamparan lantai yang baru dilapisi semen.

Ini sebagian obyek yang sempat saya jepret dari balik jendela kaca saat kapal melaju.

Balik dan Beli Tiket VIP

Dua hari saja saya melaksanakan tugas di Masohi, lalu bersiap untuk kembali ke Malang. Dari Masohi ke Ambon kami naik kapal yang jadwal pagi, yaitu pukul 08.00 WITA. Masih dengan kapal Express Bahari 1E juga, tapi kali ini kami pilih beli tiket kelas VIP.

Nggak apa-apa kalau memang nggak diganti sama bagian keuangan, yang penting kami dapat pengalaman berharga. Jadi saat berangkat itu, kami amati bahwa kelas VIP tempat duduknya satu lantai di atas kelas eksekutif. Jadi kami yakin pemandangannya bisa lebih bagus di banding di kelas eksekutif yang posisinya di bawah.

kapal express bahari 1E
Senengnya pegang tiket VIP

Kelas VIP ini kursinya lebih lapang dan nyaman di banding kelas eksekutif, dalam satu deret hanya ada 6 kursi. Ada 1 lorong di tengah sebagai pemisah antar 3 kursi. Sudah ada nomor kursi di setiap kursi, jadi penumpang bisa dengan mudah menemukan kursinya masing-masing sesuai yang tertera di tiketnya.

Lantai kapal dilapisi karpet. Ruangannya bersih. Sayangnya, saat saya turun masih terlihat ada sampah yang ditinggal di kursi. Emang sih nggak dibuang sembarangan ke lantai kayak di kelas eksekutif, tapi tetap aja salah kan ya.

Ruang VIP Kapal express bahari 1E
Ruang VIP Kapal express bahari 1E

Saat masuk ruang VIP ini belum ada penumpang selain kami berdua. Dan sampai kapal berangkat, kursi-kursi di ruang VIP terisi tak sampai setengahnya. Tapi sebelum kapal berangkat, tetap ada juga pedagang asongan yang masuk, walau tak seramai di ruang eksekutif.

Ada 4 pendingin ruangan juga, dua di depan dan dua di belakang. Satu toilet di belakang. Toiletnya bersih, Stok air tawar juga banyak, sayangnya tak ada tissue. Ada tempat tissuenya, sementara tissuenya tak tersedia.

Dan benar saja, dari ruang VIP ini kami bisa mendapat pemandangan yang lebih bagus, karena posisinya lebih tinggi. Inilah sebagian hasil jepretan dari balik jendela kapal.

Masuk Ruang Nakhoda Kapal Express Bahari 1E

Ruang VIP di kapal express bahari 1E ini tepat berada di belakang ruang nakhoda. Ada beberapa petugas yang keluar masuk ruang ini. Di pintu tertulis ada larangan bagi penumpang untuk masuk ruang nakhoda. Padahal saya penasaran banget pengen bisa masuk dan lihat kondisi di sana. yakin juga pemandangannya pasti bakal lebih bagus.

Nah, saat petugas mulai melakukan pemeriksaan tiket, saya beranikan diri untuk bertanya, apakah diperbolehkan masuk ruang nakhoda karena saya baru pertama kali naik kapal dan pengen tahu. Ternyata diperbolehkan. Saya pun segera mengajak rekan saya untuk menuju ruang nakhoda.

Ada beberapa petugas di ruang nakhoda, dua orang berdiri di belakang kemudi mengendalikan kapal. Sesekali mengarahkan gerakan kapal dengan memutar kemudi, sesekali menggunakan teropong untuk melihat arah depan. Ada dua pintu di sisi kiri dan kanan ruang nakhoda ini. Pintunya terbuka sehingga angin lumayan kencang sibuk mengobrak-abrik kerudung yang saya pakai.

ruang nakhoda kapal express bahari 1E
Kondisi di ruang nakhoda

Apalagi saat saya bertanya, bolehkah keluar pintu itu dan diiyakan oleh petugas. Apa ya namanya, buritan kali ya. Seneng deh bisa berdiri di situ, melihat lautan lepas dan deretan daratan di kejauhan. Dari posisi ini juga kelihatan air laut yang warnanya berbeda. Kata petugasnya, perbedaan ini menandakan perbedaan kedalaman air laut.

Di beberapa bagian yang warna air lautnya berbeda ini, terdapat tiang tinggi. Kata petugas, namanya saaru. Kalau malam akan ada lampu yang menyala dipuncak tiangnya. Ini sebagai pertanda bahwa di sekitar situ air lautnya dangkal, sehingga kapal tak melewati daerah itu.

Saaru

Di belakang petugas yang mengendalikan kapal, ada tempat untuk duduk. Ada dua petugas yang sedang duduk di situ. Puas terkena angin di buritan, saya pun pindah ke dalam dan duduk di situ, mencoba ngobrol dengan petugasnya.

Ngobrol dengan Awak Kapal Express Bahari 1E

Sekali berlayar, kapal express bahari 1E ini membawa 14 orang petugas. Kapal berlayar 7 hari seminggu, nggak pernah ada liburnya. Para awak kapal istirahatnya ya di atas kapal saja. Seperti kapal yang saya naiki ini, berangkat dari Amahai pukul 08.00, sekitar pukul 10.30 sampai di Tulehu. Nanti pukul 16.00 akan berangkat lagi menuju Amahai. Bermalam di Amahai dan besoknya berangkat lagi ke Tulehu.

Lebaran libur?

Nggak. Lebaran maupun Natal nggak ada liburnya, justru penumpang malah ramai di hari raya. Oh iya, sekali jalan, kapal ini bisa mengangkut hingga 300 an penumpang.

Para awak kapal bisa mendapat libur 1 hari dalam sebulan, itupun nggak bisa bersama-sama, mesti diatur bergiliran supaya kapal bisa tetap beroperasi.

Dalam kondisi hujan deras pun kapal tetap berangkat. Perairan dari Ambon menuju seram ini ombaknya tak terlalu tinggi, jadi tidak membahayakan bagi kapal saat berlayar walau ada hujan angin.

Para awak kapal adalah lulusan dari sekolah/akademi pelayaran. Saya dulu suka lho lihatin cowok-cowok mahasiswa akademi pelayaran. Kan badannya bagus-bagus tuh, tinggi tegap dan kekar. Tapi setelah kerja ternyata ya sama aja dengan dibidang pekerjaan lain, ada yang perutnya bertambah volume lemaknya hehehe…Udah kenal rokok pula.

Ruang nakhoda ini nggak ada pendingin ruangan. Para awak kapal bebas menghisap rokok di sini. Ternyata, beberapa penumpang yang sudah sering naik kapal ini pun, kalau nggak tahan ingin merokok, mereka perginya ke sini. Menuju buritan lewat ruang nakhoda. Jadinya larangan di pintu masuk ruang ini tuh bisa dilanggar, nyatanya penumpang bisa dan boleh kok masuk ruang nakhoda ini. Asal jangan menganggu nakhoda yang sedang mengemudikan kapal.

Bersiap Berlabuh

Pelabuhan Tulehu sudah nampak dikejauhan. Pintu di kanan kiri ruang nakhoda pun di tutup, para petugas mulai sibuk mempersiapkan kapal untuk berlabuh. Kami pun kembali menuju ke kursi penumpang.

pelabuhan tulehu
Pelabuhan Tulehu sudah dekat

Oh iya, saat menuju ruang nakhoda, barang bawaan kami tinggal begitu saja di kursi. Saya ke ruang nakhoda cuma bawa handphone saja. Alhamdulillah aman, tak ada yang bergeser posisinya. Ada dua CCTV juga sih di ruang VIP ini.

Begitu kapal berlabuh, terdengar derap langkah kaki berlari. Rupanya para kuli angkut menawarkan jasa untuk membawakan barang bawaan para penumpang. Banyak yang masih anak-anak juga. Bawaan kami tak banyak, jadi kami tak membutuhkan jasa mereka.

jemput penumpang di pelabuhan tulehu
Para penjemput di pelabuhan Tulehu

Cukup lama kami mengantri untuk keluar. Karena malas berjubel diantrian, kami memilih keluar kapal agak belakangan saja.

Alhamdulillah perjalanan berangkat dan pulang Ambon – Masohi berjalan lancar. Pengalaman pertama naik kapal yang saya harap bakal di susul pengalaman kedua ketiga dan seterusnya. Pengen ngerasain naik kapal dengan jarak yang lebih jauh.

Selesai nih kisah naik kapalnya. Nantikan cerita selanjutnya tentang kota Masohi ya!

Baca yang ini juga

40 thoughts on “Pengalaman Naik Kapal Express Bahari 1E Rute Ambon – Masohi

  1. Saya belum pernah naik kapal ferry yg beli tiket tempat duduk gitu mbak. Udah pernahnya yg bis atau mobil masuk. Ternyata tempat duduk di kapal bagus bagus ya. Kayaknya juga nyaman. Tapi sayang juga ya sebagus itu nggak ada tempat sampahnya. Harusnya pengelola menyediakan tempat sampah. Jadi tetep bersih kapalnya.

  2. Aku jadi penasaran yg VVIP mbaaa, tempat duduknya lebih lega lagi yaaa.

    Tempat duduknya ingetin aku pas naik Ferry ke Macau dari Hong Kong. Mirip2 yg ekonomi. Dan jujur aku pusing naik kapal apalagi kalo sampe LBH dr 1 jam. Kalo boleh di luar, aku LBH suka di luar biar hirup udara segar, jadi ngilangin mual.

    Ya ampuuun sebulan cuma 1 hari cuti?? Luar biasa loh, pengabdiannya 😅..

    Sayang Yaa msh banyak sampah. Kenapa gitu ga disediain tong sampah :(.

    1. Saya pun awalnya udah sedia antimo dan kantong kresek juga mbak, mengantisipasi mabuk laut.
      Tapi ternyata alus tuh pergerakannya, nggak kerasa ada guncangan di kapal karena ada ombak

  3. Saya belum pernah naik kapal laut. Pernah juga naik ferry yang hanya setengah jam. Penasaran gimana rasanya di tengah laut sembari menikmati pemandangan… Seru pastinya kalau bareng keluarga ya…

  4. aduh Mbak Nanik, saya ngiriiiiii…..

    pingin banget solo traveling ke sini

    nyobain jarak dekat dulu kali ya?

    dan jangan lupa bookmarks tulisan ini hehehe

  5. Agak gelap ya mbak kondisi di dlm kapalnya kelas ekonominya.

    Kasihan para nakhodanya ya ketika hari raya pun tdk mendapat jatah libur. Tp malah rezeki mereka disaat itu ya.

  6. Ini kapalnya berukuran besar ya, Mbak? Saya pernah naik kapal ukuran kecil, sukses mabok laut hahaha. Sama sekali gak menikmati perjalanan kalau udah mabok laut.. Tapi, waktu naik kapal yang besar, saya merasa nyantai. Gak mabok sama sekali.

  7. Perjalanannya melewati selat ya mba, dari Ambon ke Amahai. Saya jadi membayangkan betapa kuatnya arus laut di selat itu. Biasanya goncangannya lebih terasa, ketimbang kita naik kapal lewat laut lepas. Aku nyeberang dari Kupang ke Rote aja stres. Goyang dombrettttt di dalam kapal.

  8. Perjalanan naik kapal express-nya seru mba.
    Pemandangannya juga bagus, daerah kepulauan Indonesia memang keren banget view baharinya.
    Fasilitas yang disediakan di kapal memang sesuai dengan kelasnya ya.

  9. Seneng banget deh baca artikel ini. Saya jadi langsung browsing Masohi. MashaAllah membuat kerinduan saya bereksplorasi di Maluku makin membuncah.

    Bicara soal Indonesia bagian timur, sejatinya area ini memang memiliki banyak tempat-tempat yang masih murni, bersih, dan terselimut akan keindahan asli yang mengagumkan. Setiap tempat (desa/kampung) masih tampil sederhana dengan teknologi seadanya yang justru merefresh kita-kita, orang yang hidup di perkotaan, untuk kembali kepada masa-masa asal, belasan atau mungkin puluhan tahun yang lalu. Naik ferry, kapal laut, bahkan kapal ketinting sekalipun, pasti menorehkan kenangan yang tak akan terlupakan.

    Iri loh saya sama Mbak Nanik, diberikan kesempatan menyentuh banyak tempat di tanah air. Sembari bekerja, membaktikan diri pada negara, selalu mendapatkan masa yang pas untuk mengukir kenangan tersebut dalam sebuah tulisan yang apik dan menarik.

  10. Kapal eksekutif ama VIP keliatan bedanya. Gimana dalemnya yang VVIP ya Mba? Paling seneng naik kapal terus lihat pemandangan air laut yang Biru. Adem mandangnya. Saya pernahnya naik kapal ke Pulau Tidung aja Mba. Ini hanya bentar. Kalau naik kapal begini belum pernah

  11. Baru liat kapal aku dah auto mual, paling g bsa klo naik kapal model bgitu..padahal kayaknya seru dan indah bgt ya liat pemandangan lautnya

  12. Wah iya yng paling mendebarkan klo naik kapal itu salah satunya pas mau masuk melewati jembatan. Disaat itu kapal.udah berayun2 ngeri2 sedap.

    Keren mbk naik kapal masih fit. Kalau saya udh mabok

  13. Akunaik kapal paling menyebrang aja 1-2 jam aja. lebih dari itu belum pernah, seru juga ya.
    Ada tiket VIP dan VVIP juga ya ternyata kapal express bahari.

  14. Hadeuh pas kepalanya terantuk au ikutan meringis mbak hehe 😛 .
    Wah asyik banget mbak diizinkan masuk ruang nahkoda. Aku jg selama ini liatnya di tipi doank blm pernah masuk. Sama satu lagi tuh cita2ku masuk ruangan pilot hehe.
    Mungkin krn diliat mbk pendatang dr jauh ya kapan lg dikasi kesempatan gtu kali yaaa makanya diizinkan :D.

  15. Saat pendidikan mereka pola hidup dan makanan dijaga ya. Setelah terjun ke dunia kerja, wah amburadul lagi apalagi sistem perkapalan di kita ini ya bisa dibilang … Tahu sendiri lah. Gak heran jadi pada kucel lagi apalagi di kapal mereka sepertinya gak perawatan hehehe

  16. Pengalaman naik kapal itu seru dan menyenangkan ya mba. Aku pernah naik kapal dari Surabaya ke Balikpapan sekitar 3 hari, pas ombak besar aku mabuk laut heuheu..

  17. Wah, seru banget mbak. Aku beberapa kali naik kapal expres dari Batam ke Riau, juga sebaliknya. Paling enak memang duduk di kursi dekat jendela. Senang aja gitu bisa lihat langsung pemandangan luar.

  18. Excited banget naik kapal laut menyeberang ke Masohi, kak..
    Rasanya kaya apa naik kapal di kelas eksekutif? Eh, ternyata ada yang lebih keren lagi, kelas VIP.
    Apakah dapat makan sepanjang perjalanan?
    Rasanya paling enak di kapan tuh makan Pop Mie, hhaha.. andalan banget.

  19. Kena angin di kapal ini awalnya sejuk gitu yaa.. Tapi lama-lama berasa bikin badan ga enak, heheh.. Memang paling damai tuh lihat warna hijau dan biru begini…
    Naik kapal yang gak terlupakan.

  20. MasyaAllah pemandangan di tengah lautan lepas tuh indah banget ya mba. Tapi mungkin lain lagi kalau pas kena badai laut, sejauh mata memandang adalah ombak-ombak tinggi. Alhamdulillah selamat sampai tujuan dan sekembalinya, pun penuh pengalaman tak terlupakan di atas Kapal Bahari Express…

  21. ah, senangnya sekarang kapal ekspress sudah dipisah berdasarkan kelas ya. jadi nanti di dalam juga tempat duduknya berdasarkan kelas itu.
    aku pernahnya naik kapal ekspress ke lampung, tapi gak dipisah kelas begini, jadi duduknya siapa cepat dia dapat aja, ahaha

    dan beda ruangan sebetulnya beda fasilitas, makanya cepet2an akhirnya. yang masuk kapal duluan bisa dapet tempat enak buanget dan cozy ada mejanya. tapi kalau belakangan ya terima di kursi biasa deh, hehe

  22. Pemandangan yang diperlihatkan semuanya bagus dan bikin kangen pantai deh jadinya. Kapal Ferry yang pernah saya naiki cuma di selat Sunda sama Selat Bali saja

  23. Ada harga ada rupa ya maak…sama dg pengalaman aku bakau – merak pp cobain naik standart alias ekonomi sama yg express berbedaa….
    Lihat sampah bikin aku sebel juga,.kapal.skrg kan bagus2 yaa…

  24. Saya belum pernah naik kapal gitu. Jadi pengen mencobanya. Apalagi pemandangan dari kapal luar biasa indahnya.

    Kudu sabar juga ya nunggu antriannya. Kalau bawa barang banyak, kudu kuat nih membawanya.

  25. Wiyy Mba Nanik jauh aja dinasnya sampai ke Ambon. Seru nih mengikuti catatan perjalanan dan pengalaman naik kapalnya. Selama ini baru naik kapal ferry aja aku mba, nyebrang ke Lampung dna nyebrang ke Bali.

  26. Seru kali kak perjalanan naik kapal expressnya. Aku ngakak yang bagian awak kapal yang waktu sekolah badannya tegap-tegap, setelah kerja ya sama aja dgn bapak-bapak pada umumnya. hahhaha…

  27. Masyaallah mbak pemandangan di atas lautnya keren banget ya. Btw pelabuhan Tulehu ini dekat dengan tempat kelahiran suami saya hehehe. Dulu mertua saya merantau ke Ambon. Senang deh baca pengalaman perjalanan mbak Nanik

  28. Perjuangan awak kapal Bahari meninggalkan anak dan keluarga agar penumpang bisa mencapai tujuannya dengan selamat, semangat terus ABK agar kita para penumpang happy berlayar hingga ke tujuan

  29. Waaahh asiik banget mba… Aku belum pernah ke Indonesia Timur, huhuhu, kemana aja nih akunya. Menggunakan kapal express sepertinya asik juga ya, izin simpan ya ceritanya, semoga ada kesempatan menjelajah Indonesia Timur, aaminn

  30. Minta duduk samping jendela.. Xixixi.. Tetiba ingat lagi project pop mba.

    Ternyata yang VIP ga jauh beda ya sama eksekutid. Cuma beda tempat duduk agak empuk dikit.

    Nggak kayak ferry yg ke sumatera, bedanya mayan jauh.

    Dan lama juga yaa.. Sampai 2 jam. Padahal kapal cepat ya. Jadi mau main ke Ambon deh. Mau lihat tmp tinggal nenek buyut saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: