menjaga marwah diri

Menjaga Marwah Diri walau Berbaur dengan Banyak Lelaki

Menjaga marwah diri, tulisan pertama di blog Kisah Keluarga Nara di 2023 ini berawal dari obrolan dengan teman kantor beberapa waktu yang lalu.

“Sampeyan (Anda) kan sering ke luar kota, nggak kepikiran tuh buat cari kesenangan dengan lelaki selama di luar kota? Nggak ada lelaki yang di temui yang menarik hati?”

Eh, pertanyaan macam apa ini? Pertanyaan yang langsung membuat mata saya beralih dari menatap laptop menjadi menatap mata lawan bicara saya. Tadinya memang kami berdua sedang mendiskusikan pekerjaan.

“Nggak lah, karena saya nggak mencari itu! Keluar kota itu melaksanakan tugas negara, kalau dapat kesenangan dengan mampir tempat wisata atau makan hidangan khas, anggap saja bonus”

Udah rada ngegas aja nih ngomongnya. Untungnya yang mengajukan pertanyaan tadi termasuk teman dekat, jadi nggak kaget lah kalau nada suara saya naik dikit.

“Tapi kalau aku lihat, fotonya lho sama cowok terus kalau pas di luar kota”

“Kan cuma foto, Pak. Lagian nggak pernah kan fotonya cuma berdua? Pasti rame-rame, walau emang kadang saya perempuan sendiri”

menjaga marwah diri
Bersama teman-teman guru SMK Ibrahimy Sukorejo, Situbondo

Apa yang Kau Cari, Itu yang Kau Dapat

Sedikit pembicaraan dengan teman kantor itu mengingatkan saya pada ceramah yang pernah saya dengarkan dulu saat saya kecil. Ceramah yang di sampaikan oleh Kyai Haji Zainuddin MZ, kurang lebih begini.

Ada seorang ulama yang bepergian ke San Fransisco, sepulang dari sana, ada umat yang bertanya apakah sang ulama ketemu pelacur selama di sana.

“Tidak” jawab sang ulama.

“Kok bisa, padahal di sana kan kota metropolitan yang terkenal dengan kehidupan bebasnya?”

Lalu sang ulama itu menjawab “Jika niatmu mencari pelacur, di kota suci Mekah pun bisa jadi kamu akan menemukannya. Dan jika niat saya tidak mencari pelacur, walau katanya di San Fransisco itu banyak pelacur, saya tak akan ketemu salah satunya”

Miriplah dengan kasus pertanyaan teman saya tadi. Kalau niatnya mau cari teman lelaki khusus, teman tapi mesra, nggak harus pas dinas luar kota. Di Malang pun pasti bisa saya dapatkan. Tapi karena saya nggak ada niat untuk cari teman tapi mesra, pergi ke luar kota, bahkan ke luar pulau pun saya nggak dapat.

Kalau perihal foto dengan para lelaki, saya memang nggak menolak foto bersama untuk dokumentasi kegiatan. Tapi kan rata-rata pose resmi, kalaupun ada gaya bebas, nggak sampai lah nempel gitu posisinya, tetap dalam batas normal dan wajar.

sosialisasi tracer study
Bersama guru-guru SMKN 2 Tegalsari, Banyuwangi

Lingkunganku Memang Kebanyakan Lelaki

Sebagai anak kuliahan jurusan teknik elektro, memang lingkungan saya tuh kebanyakan lelaki. Jaman saya kuliah dulu, jumlah mahasiswa perempuan dan lelaki itu 1 : 10. Jadi biasa aja saya kuliah duduk di antara deretan para lelaki, jajan ke warung serombongan dengan para lelaki, ngerjakan praktikum dan tugas kuliah sekelompok dengan para lelaki.

Di dunia kerja pun begitu. Sebagai unit pelaksana teknis kemdikbudristek, instansi tempat saya bekerja itu membawahi SMK bidang teknologi rekayasa. Otomatis guru-gurunya kebanyakan lelaki, jadi yang sering diundang pelatihan ke Malang dan saya berkesempatan mengajar pun banyak lelakinya. Rekan kerja saya di kantor, bagian teknis juga mayoritas lelaki.

suasana workshop
lebih banyak lelakinya kan…

Yang banyak perempuannya di bagian administrasi saja. Saya jarang berbaur dengan teman-teman di bagian administrasi. Gedungnya juga terpisah, paling saling sapa aja kalau pas ketemu di parkiran, atau saya ada keperluan ke bagian administrasi sehingga harus mendatangi gedungnya.

Saat saya ke daerah, ke SMK pun lebih banyak guru lelaki yang berbaur dengan saya. Belajar bersama ataupun keluar ke lokasi wisata.

Tapi hubungan kami sebatas teman. Tapi sejujurnya saya lebih merasa nyaman berbaur dengan para lelaki, nggak banyak dramanya.

Upayaku Menjaga Marwah Diri

Godaan dari para lelaki, ada juga lah. Tapi kalau saya nggak menanggapi, akhirnya mereka bosan sendiri. Nggak asyik menggoda saya, karena nggak ada reaksi sesuai yang mereka harapkan.

Berada di lingkungan lelaki, kadang malah jadi satu-satunya perempuan, memang saya harus kuat dan teguh dalam menjaga kehormatan diri. Dan inilah beberapa upaya saya untuk menjaga marwah diri :

  1. Menutup aurat, kemana-mana pakai kerudung. Walau masih pakai celana panjang, sering juga nggak pakai kaos kaki, tapi saya selalu mengupayakan memakai pakaian yang longgar. Kerudung pun di urai menutup data.
  2. Tidak berdandan berlebihan. Eh saya malah lebih sering bermuka polos aja sih kalau ke kantor, bahkan juga kegiatan ke luar kota. Ini juga upaya untuk meminimalisir daya tarik pada kaum lelaki, karena pada dasarnya lelaki itu senang lihat perempuan cantik. Udah tampil dengan muka polos aja, kadang masih ada lelaki yang menggoda, apalagi kalau pakai make up lengkap.
  3. Tidak menanggapi jika ada candaan dari teman lelaki yang mulai mengarah ke hal yang berbau pornografi, candaan mesum dan sebangsanya. Lebih baik saya segera pamit meninggalkan arena obrolan. Bapak-bapak tuh kalau ngumpul, ada aja yang usil melontarkan candaan ke arah situ. Apalagi kalau pas ngumpul terus ada perempuan cantik lewat, apalagi kalau permpuan cantik itu mengenakan pakaian kurang bahan. Duh risih saya dengar candaan mereka.
  4. Menjaga diri untuk tak bersentuhan berlebihan dengan lelaki. Berjabat tangan saya masih mau kok, jabat tangan sebentar aja dengan posisi tangan kaku. Tak sampai menggenggam erat terus saling pandang dan tebar senyum, lalu lama melepaskannya. Jabat tangan formal saja. Yang saya maksud bersentuhan berlebihan itu, bisa jadi saat bercanda tangan ikut bergerak, entah menepuk bahu atau memukul bagian tubuh yang lain saking gemasnya.
  5. Menjaga nada bicara tetap datar saat berbincang dengan para lelaki, baik secara langsung maupun melalui telepon. Jangan bicara mendayu-dayu, dengan nada manja, apalagi berbisik ataupun mendesah. Bicara dengan nada manja ke suami aja.

Alhamdulillah sejauh ini lingkungan teman-teman lelaki saya paham dan bisa mengerti prinsip saya dalam bergaul. Bahkan ada satu teman lelaki di kantor yang di kenal cablak, biasa plak plek gitu tangannya memukul bahu teman perempuan kalau lagi bercanda, tapi kalau sama saya tangannya bisa diam saja.

“Nggak berani kalau sama mbak Nanik” begitu dia biasa di ledek oleh teman-teman yang lain.

Di acara-acara outbond kantor pun, saat sesi team building yang mengharuskan ada gandengan tangan dalam satu tim, saya bakal diposisikan di tengah 2 teman perempuan. Jika pun nggak ada teman perempuan lain dalam satu kelompok mereka akan bilang permisi dulu, minta maaf karena harus menggandeng tangan saya.

Saya pun punya beberapa teman perempuan yang walau berkerudung, plak plek aja tangannya kalau ngobrol dengan lelaki. Akhirnya para lelaki pun biasa pegang tangan atau bahunya.

Jadi menurut saya, para lelaki itu akan memperlakukan para perempuan dengan baik, menjaga dan melindungi jika kita sebagai perempuan memang layak untuk dilindungi menurut mereka. Jika kita menetapkan batasan dalam bergaul, mereka akan menghormati kita. Bisa jadi malah kita punya nilai plus dalam pandangan mereka.

Sebagaimana hukum Fisika tentang aksi dan reaksi. Bagaimana reaksi /perlakuan para lelaki itu tergantung pada aksi para perempuan.

Saya karena dasarnya introvert, lebih sering jadi penyimak, sering juga kok dapat cerita ataupun curhatan dari teman-teman lelaki. Cerita-cerita berkaitan dengan perempuan yang sama-sama kami kenal. Kadang meng ghibah juga hehehe… sekedar ingin tahu gimana sih pandangan para lelaki terhadap sosok si A, B atau C.

“Mbak Nanik jangan begitu ya” begitu pesannya kalau yang kami ghibahkan itu menurut kami adalah hal yang tidak baik.

kerja kelompok
Pernah juga kok fotonya khusus perempuan

Itulah pengalaman dan upaya saya untuk tetap menjaga pergaulan dengan para lelaki sebatas teman, bukan teman tapi mesra. Kalau pengalamanmu bagaimana untuk menjaga marwah diri?

Baca yang ini juga

38 thoughts on “Menjaga Marwah Diri walau Berbaur dengan Banyak Lelaki

  1. semuanya balik sama diri masing2 ya, untuk menjaga diri. Karena namanya saja pekerjaan, kita tidak bisa milih2 maunya sama temen yg mana, maunya dpt temen yg bagaimana.

  2. Kak Naniiikk..
    Aku yakin banget kalau biasa gaulnya sama lakik (dari mulai kuliah jurusan teknik) biasanya uda paling sebel sama laki yang dempet-dempet, deketin perempuan.
    Soalnya bagi anak teknik, perempuan tuh kayak bukan perempuan. huhu… maafkan kak Naniek. Maksudku tuh lebih ke yang “Biasa aja” gitu..

    Soalnya jurusanku juga 50:50.
    Tapi untuk jurusan tertentu, banyakan lakik. Jadi kayak yang “Gausa dibawa kesana-sana mikirnya.. Jadi cringe sendiriii..”

    Tapi memang dasarnya karakter kak Naniek yang tegas, membuat seseorang (lawan jenis) bisa saling menjaga dan gak keterlaluan dengan lawan jenis.

    Sukaaa, kak Naniek.
    Nasihat yang luar biasa untuk perempuan yang kerja di ranah publik.

  3. I’ve been there mbak Nanik, sebagai manager di sebuah retail company, aku ditugaskan justru di bagian fix and repairing – jadilah berkutat dengan aneka peralatan besar (termasuk beberes dan “mengakali” HVAC) dan itu yaa seluruhnya mekanik pria, anak-anak lulusan SMK jurusan Mesin.

    Untung kuliah juga udah di teknik jadi ngga terlalu awkward berurusan dengan para pria. Intinya memang : TIDAK CARI CARI apa yang tidak perlu dicari ya mbak Nanik, aku suka banget kalo mbak Nanik sharing … daging semua nih isinya

  4. Selama masih bisa membatasi sih insya Allah aman ya mak masih tetap bisa menjaga marwah sebagai muslimah meskipun berbaur dan berinteraksi dengan para lelaki.

  5. Lha itu yang nanya luuk amat siiihh, kayak curigation gitu wkwk. Ada2 aja yaa.
    Aku pun dulu ngantor di perusahaan yang 90 persen adalah laki2 ya biasa aja gak kepikiran jg ngegodain atau gmn2 wkwk, pdhl masih jomblo blm bersuami jg pas itu. Malah kyk ngrasa dijagain aja pas itu dah anggap kyk saudara2 sendiri.
    Apalagi kalau dah jd ibu2 malah kyk biasanya tmn2 kantor yg cowok lbh respek gtu gak sih πŸ˜€
    Tp ya bener kitanya jg kudu usaha jaga diri ya, teman ya teman, tapi gak yg ikrib melebihi suami πŸ˜€

  6. Jurusan teknik electro ga beda ama teknik mesin ya mbak. Banyak lakinya, perempuannya minim sekali. Persis kayak suamiku pas kuliah (teknik mesin), yang perempuan cuma 1 orang (aku kebetulan kenal sama ybs). Dan ya itu tadi, karena udah biasa gaul dengan laki-laki, jadinya kayak lebih nyaman sama laki-laki aja. Ga banyak dramanya katanya. Eh pas lulus kuliah, nikahnya sama temen sejurusanπŸ˜†

    Suka sama mbak Nanik, pandai menjaga marwah diri walau berbaur dengan banyak lelaki. Nasihat yang baik sekali πŸ‘πŸ»

  7. Seringkali kembali ke kitanya juga. Kalau kita tetap berusaha baik, laki-laki pun akan respek. Malah terkadang suka jadi banyak yang jagain. Ya, saya sependapat dengan Mbak Nanik yang tentang hukum fisika aksi dan reaksi itu

  8. Mba Nanik..setuju, tergantung kita..kalau kita bisa menjaga kehormatan diri,laki-laki juga engga berani. Semangat selalu Mbak Nanik saat menjalankan tugas negara yang mulia.
    Sepakat juga sebagai perempuan, bekerja dengan lelaki lebih enak, enggak banyak drama haha,pengalaman dulu kerja terakhir tuh dari 16 orang di divisiku ceweknya cuma aku, dan itu seruu..

  9. Kembali pada diri kita masing-masing ya Mbak. Kalau kitabisa menjaga diri, mereka juga akan segan. Saya setuju sama pendapat Mbak Nanik, bekerja dengan laki-laki lebih enak karena tanpa drama.

  10. selayaknya aku yang cukup sering bekerjasama dengan lelaki dan menjaga marwah diri sudah menjadi prinsipku. Ya, lebih enak sih kerja bareng laki-laki karena gak ribet dan gak banyak drama hahahaha

  11. Yess betull banget semua tergantung pada pembawaan diri kita. Saya juga sama mbaa dulu kerja di bidang IT, nyambi kerja ketika kuliah jd guru stm smua murid cowok. Alhamdulillah kalau kita bisa menjaga diri ga maaf menye2 mereka segan bahkan melindungi kita kok.

  12. Marwah itu memang wajib dijaga ya mak walaupun bekerja di lingkungan pria. Kembali tergantung kita ya mak pintar membawa diri. Saat kita tegas dan menjaga sikap priapun jadi segan ya

  13. Wow
    Kok pertanyaannya gitu banget ya mbak
    Tuntutan pekerjaan seringkali membuat kita sering berinteraksi dengan lawan jenis
    It’s okay selama kita bisa jaga marwah diri ya mbak

  14. Setuju banget sama mba Nanik, persis sikapku. Sejak dulu aku pun nggak suka plak plek sama laki-laki. Jadi nya teman SMA dan kuliah pun malah menghormati apa yang udah aku gariskan ini. Semua tergantung pada diri kita, kalo dulu demi diri sendiri. Sekarang setelah menikah ya untuk menjaga marwah diri dan kehormatan suami.

  15. Zaman muda dulu meski banyak teman perempuan tp sy juga punya banyak teman laki2.
    Memang ga banyak diamankan sih.
    Tp sejak menikah ya bener2 teman sekedar teman gak seikrub dulu.
    Tp insyaallah sih so far krn lingkungan pekerjaan jg ga bs membatasi dg laki2 atau perempuan kita berinteraksi yg jd biasa aja selayaknya dan secukupnya aja

  16. Setuju mbak tentang hukum aksi dan reaksi. Kalau kitanya lenjeh ya bakal disalahartikan laaahh.. Jadi inget dulu jaman masih kuliah, ikut naik gunung kan 80 persen temannya lelaki. Dalam pendakian pun barengan dg laki2. Tapi ya ga kenapa2 klo kitanya emang tidak niat mencari ‘huru-hara’ dalam pergaulan.

  17. Masya Allah… aku pun setuju sekali ini sebagai perempuan harus menjaga marwah kita saat berada diluar rumah ya mak. jadi ingat jaman kerja pun aku kebanyakan main sama laki-laki bahkan teamku dulu laki-laki semuanya.

  18. Salah satu yang membuat saya malas dandan (sampai sekarang) juga karena jaman dulunya banyak teman laki-laki. ISekarang kalau ngumpul sama ibu2 pun saya gak bisa menanggapi guyonan yang “menjurus” gitu, karena juga dari dulu menjaga tetap lempeng kalau ada yg kasih guyonan begitu. Bukan apa-apa, khawatir disalahartikan dan kebablasan.

  19. Agree… Saya termasuk yang polosan juga waktu ngajar. Sampai ditegur yayasan utk minimal menggunakan lipstik.. Hahaha.. Sampai skrg pun saya jarang tersenrmtug make up, kecuali nikahan keluarga yg wajib jadi panitia.

    Tapi apa yg mba nanik jabarkan bener banget semua tergantung kita. Saya malah mulai dr keluarga ga ada sodara perempuan. Sekolah pun teman saya banyak laki2. Saya baru mulai akrab dengan perempuan ketika saya ngajar. Krn ngajar SD dan TK dominan perempuan.

    Semua balik ke niat diri kita masing2 sih ya. Spt kata ust zainudin mz

  20. Pasti rada kaget ya mbak ujuk ujuk dikasih pertanyaan makjleb gitu. Insya Allah kalo nggak ada niatan apapun, seperti kata ust Zainudin jalannya nggak belok, gitu istilahnya ya mbk.

  21. Aku tuh kalau lihat wajah Mbak Nanik, meski belum pernah ketemu langsung, berasa gitu tegasnya. Bayangin kalau bicara ya datar gitu, hehehe.
    Jadi mungkin memang teman-teman lelaki lebih menghargai dan menghormati Mbak Nanik karena Mbak juga tegas, baik dalam prinsip pergaulan maupun sikap dan kata-kata.
    Sukaaa deh sama postingan ini. Bisa jadi nasihat buat para perempuan yang kerja di luar sana, yang berbaur dengan para lelaki πŸ™‚

  22. Masya Allah barokallah mbk menjaga pergaulan laki-laki dan perempuan, salut di zaman sekarang masih ada yang menjaga karena di era kantor itu banyak orang dan bisa tugas ke luar kota juga ya. Semoga terus istiqomah ya Mbk.

  23. Pasti ya bekerja dilingkungan para bapak2 ada aja gangguan dan godaan. Tapi kalau kita jaga jarak dan jaga diri serta iman pasti tak terjadi apa2.

  24. Intinya kembali pada kita ya Mbak. Bagaimana dan apa yang kita pikirkan serta lakukan, itulah yang akan menjadi cermin kita. Selama lingkungan kita baik, kualitas kita baik, inshaAllah semua akan berjalan dengan semestinya. Orang akan menghormati kita, jika kita juga menghormati diri sendiri.

    Saya juga mengalami hal yang sama di pekerjaan terakhir Mbak (sebelum saya pensiun). Jadi minoritas di lingkungan pekerja laki-laki di pabrik. Mbak Nanik masih mending, teman-teman lelakinya berpendidikan setara. Lah saya di lingkungan buruh. Cara berbicara, menjelaskan apapun mengikuti kebiasaan mereka. Kalo gak gitu akan tugas-tugas tak tersampaikan dengan baik hahahaha.

  25. setuju Mbak Nanik

    selingkuh gak selalu terjadi karena harus kerja dinas bareng

    ada teman (pria) yang membongkar istrinya selingkuh justru dengan teman suaminya.

    Jadi kembali ke niat ya?

  26. Rada ngeri juga pertanyaannya ya mbak. Kalau di sirkel saya ada sih banyak orang yg tanya gitu dari POV laki-laki dan untung saya jg belum berminat. Semangat, Mbak!

  27. In syaa Allah selalu dalam penjagaan Allah ya, kak Naniek..
    Karena kalau dari kitanya uda menjaga sebaik-baik yang bisa dilakukan, gakkan membuat orang lain melangkah lebih jauh juga.
    BIsmillah..
    berkah selalu perjalanan dinasnya, kak Nanieeek.. Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dan kak Naniek ceritakan di blog ini.

  28. Bener banget, mbak. Saya juga pernah kerja di kebun sawit sebagai staff direksi. Otomatis para staff kebanyakan kaum Adam.

    Tapi, aku merasakan banget. Gimana para staff bergaul denganku daripada staff cewek lain yang memang agak berlebihan.

    Kalau sama dia suka bercanda tentang hal-hal yang menjurus. Tapi kalau ke aku malah nggak.

    Kayak emang menjaga gitu. Karena aku memang membatasi. Bukan yang nggak mau bercanda juga.

  29. Alhamdulillah ya kak tetep bisa menjaga marwah, apapun itu ya harus dari diri sendiri sih ya , karena kendali ada di tangan kita . Sukses selalu kak

  30. Setuju sekali. Semuanya tergantung kitanya.
    Saya pun sejak kecil lebih banyak bermain dengan laki-laki. Apalagi saya memang lebih tomboi. Udah SMA saja pakai jilbab, sebelumnya pakaian selalu samaan dengan adik bungsu satu-satunya yang memang cowok.
    Saat masuk penampungan TKI, semua rambut dipotong pendek seperti laki-laki. Bahkan banyak yg lesbi, wuih, segitunya. Tapi yaitu tadi, yg saya cari kan uang dan pengalaman. Jadi dapat nya ya itu. Hehehe… Semangat selalu Bu Nanik
    ibu keren!

  31. Keren Mba ^^
    Menjaga dan mempertahankan prinsip memang tantangannya gak mudah, semua kembali ke pribadi masing-masing dan bagaimana kita membentengi diri.
    Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan dan penjagaan terbaik untuk Mba Nanik ^^

  32. Daku pun waktu kuliah perempuannya hanya 3 dari satu fakultas, hahah.
    Terus ketika bekerja satu tim eh malah daku sendiri perempuannya, hihi.
    Pokoknya semangat selalu dan ikuti kata hatimu kak..

  33. Semua tergantung niat ya, Mba. Kan niatnya juga kerja, bareng ama lelaki juga untuk urusan kerjaan. Foto juga barengan, masih sewajarnya kok menurut saya. Sebenarnya nggak perlu dipermasalahkan ya, kecuali kalau fotonya nggak ada jarak, deketan banget misalnya.

  34. saat di kantor lama, rekan laki-laki lebih banyak dari rekan wanita tapi alhamdulillah 10 tahun berkarir di sana gak ada cerita cinta-cintaan di kantor, hehehe. Alhamdulillah suami memberikan kepercayaan penuh dan saya menjaga kepercayaan itu. Intinya kalo gak ada niat dari kita, apa yang ditakutkan gak akan terjadi

  35. Keren banget mbaknya dari Teknik Elektro. Aku setuju mba, orang lain (laki-laki) akan memperlakukan kita sebagaimana kebiasaan. Kalau kayak mbanya gitu, yang salaman cuma formal aja salaman biasa pasti mereka juga segan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: