Menulis Karya Tulis Ilmiah, Tidak Sulit!

Hari ini, saya mendadak mendapat tugas untuk mengikuti kegiatan workshop penulisan karya tulis ilmiah. Kegiatannya dilakukan di BPMTPK (Balai Pengembangan Media Televisi Pendidikan dan Kebudayaan) yang terletak di Sidoarjo. Kegiatannya sendiri dimulai jam 9, tapi karena jam 8 lewat saya baru dapat kepastian perintah untuk berangkat, jadinya jam 9 baru berangkat. Beruntung ada tol Malang-Surabaya sehingga perjalanan lancar, menjelang pukul 11 saya sampai di lokasi dan langsung bergabung di ruangan.

Pembicara pertama adalah Prof Mustaji dari UNESA. Pas saya masuk ruangan sudah masuk sesi tanya jawab. Materinya berkaitan dengan teori tentang karya tulis ilmiah.

karya tulis ilmiah

Foto bersama Prof Mustaji

Pembicara kedua adalah Pak Sudirman Siahaan, dari LIPI. Saya sudah beberapa kali mengikuti kegiatan yang menghadirkan beliau sebagai pembicara.

Pak Dirman memaparkan best practice bagaimana menulis artikel ilmiah. Beliau terlebih dahulu memberikan brainstoorming, bahwa tidak susah untuk membuat artikel ilmiah. Bahwa kita harus menanamkan dalam benak kita, bahwa KITA BISA menulis artikel ilmiah. Tak ada yang tak bisa. Jika mulut kita mengatakan tidak bisa, maka pasti kita akan kesulitan. Namun jika kita yakin kita bisa, maka kita pasti akan bisa menuliskannya. Walau mungkin dalam perjalanan menulis itu menemui berbagai kesulitan, kita tak akan menyerah untuk terus menulis.

Pada waktu S1, kita sudah mampu menulis skripsi. Saat S2 kita menulis tesis. Itu adalah bukti bahwa sebenarnya kita bisa menulis karya ilmiah. Saat mau masuk kuliah, kita kan nggak pernah bilang dalam hati “Saya nggak bisa nulis skripsi/tesis”. Kita jalani saja penulisan skripsi, dan nyatanya bisa. Demikian juga dengan artikel ilmiah. Jangan pernah bilang dalam hati “Menulis artikel ilmiah itu susah…. Saya nggak bisa nulis artikel ilmiah”

Tulisan ilmiah itu yang bagaimana sih? Apakah yang pakai bahasa tingkat tinggi sehingga sulit dipahami oleh orang awam? Sehingga ada guyonan yang mengatakan “makin sulit dipahami, makin ilmiah”

Menurut Beliau, tulisan ilmiah itu tulisan yang substansi maupun bahasa yang digunakan mudah dipahami. Ada empat kriteria sebuah tulisan dikatakan ilmiah :

  • disajikan secara obyektif
  • menggunakan metode ilmiah
  • ditulis secara sistematis
  • memberi nilai kemanfaatan bagi masyarakat

Beliau menganalogikan kegiatan menulis artikel ilmiah itu seperti seorang anak yang belajar berjalan atau belajar naik sepeda. Seorang anak yang belajar naik sepeda, pasti tidak langsung bisa. Mungkin dia terjatuh sekali, bangun dan menaiki sepedanya, lalu jatuh lagi. Berulangkali dia jatuh, namun dia tak menyerah, dia mencoba lagi menaiki sepedanya itu.

Analoginya, yang bisa kita pelajari dari anak yang jatuh bangun belajar naik sepeda, dan diterapkan dalam pembuatan karya tulis ilmiah :

  1. Semangat, tak putus asa. Jika tulisan belum diterima/dimuat di jurnal ilmiah, jangan putus asa. Tulislah lagi, perbaiki sedikit dan coba kirim ke jurnal lain. Jangan menyerah hanya karena tulisan di tolak. Para penulis terkenal itu, dulunya juga pasti tulisannya pernah ditolak media/penerbit. Namun mereka pantang menyerah. Terus menulis dan mengirimkan tulisannya.
  2. Ada nilai tambah yang bisa dipelajari dan dimanfaatkan dalam kegiatan belajar selanjutnya. Misal saat terjatuh karena ngerem mendadak, maka anak belajar bahwa lain kali dia tak boleh ngerem mendadak agar tak jatuh lagi. Saat mengirim artikel ke jurnal ilmiah, biasanya tulisan akan di review oleh tim review, yang dikenal dengan nama mitra bestari. Nah, saat tulisan kita dikembalikan, disertai dengan hasil review, itulah kesempatan kita untuk belajar lagi. Kita perbaiki tulisan sesuai masukan dari mitra bestari. Masukan ini bisa jadi juga akan bermanfaat saat dimasa datang kita menulis karya ilmiah dengan topik lain.
  3. Ada target. Target si anak adalah dia bisa naik sepeda. Kalau bisa naik sepeda, dia pergi ke mana-mana dengan cepat dan tak merepotkan orang lain. Nah, begitu juga dengan menulis artikel ilmiah, kita harus punya target. Misal, targetnya adalah tulisan bisa di muat di jurnal X.

Beliau memberikan kiat agar kita bisa menulis karya tulis ilmiah

  1. Jadikan menulis sebagai kebutuhan. Bukan hanya makan minum saja kebutuhan sehari-hari, tapi jadikan pula menulis sebagai sebuah kebutuhan. Jika kegiatan menulis sudah menjadi kebutuhan, maka akan terasa ada yang kurang jika sehari saja tidak menulis. Jika punya target menulis 12 halaman, dan anggap saja dalam satu halaman ada 4 paragraf, cobalah menulis 1 paragraf setiap hari. Maka dalam waktu sekitar satu setengah bulan, kita sudah bisa menghasilkan 1 artikel ilmiah. Tidak berat bukan?
  2. Jika kita telah menjadikan menulis itu sebagai kebutuhan, maka kita akan memiliki komitmen yang tinggi untuk menulis. Akan terasa ada yang kurang jika kita sehari saja tak menulis.
  3. Untuk bisa menulis, tentu saja kita harus banyak membaca. Karena menulis pada dasarnya adalah menuangkan isi kepala kita. Kalau tak banyak membaca, bagaimana isi kepala kita akan bertambah? Untuk itu, kita harus banyak membaca, terutama artikel ilmiah yang berkaitan dengan bidang tugas kita sehari-hari.
  4. Saat kita membaca tulisan orang lain, catatlah hal-hal penting yang ada dalam tulisan tersebut. Jangan lupa tuliskan juga sumbernya (artikel yang kita baca). Hal ini sangat bermanfaat saat kita akan mulai menulis, kita tak perlu lagi membuka-buka banyak jurnal. Kita bisa langsung pada catatan kita, dan jika masih merasa kurang, tinggal membuka lagi sumbernya.
  5. Perhatikan hal-hal penting yang ada dalam artikel ilmiah yang kita baca. Misal masalah yang belum tertangani oleh penulis atau saran yang disampaikan oleh penulis. Masalah dan saran ini bisa kita jadikan obyek penelitian tersendiri, kita kembangkan dan jadi deh tulisan baru.

Menurut saya, kiat-kiat ini tak cuma berlaku bagi tulisan ilmiah saja, tapi berlaku untuk tulisan pada umumnya. Termasuk tulisan dalam media blog.

Masih banyak materi yang beliau sampaikan, tapi karena sudah sangat teknis berkaitan dengan pedoman penulisan karya tulis ilmiah, jadi nggak saya tuliskan di sini. Biar pembaca nggak bosan

21 Comments

Add a Comment
  1. Betul mbak nanik, menulis tentu tidak sekali jadi, trus perbaik dan perbaiki

  2. Setuju. Nggak ada yang nggak mungkin selama kita yakin kita pasti bisa. Dulu rasanya skripsi itu super berat tapi begitu harus ngejalanin, mau nggak mau ya belajar gimana caranya biar bisa. Eh bisa beneran kan

  3. Wihh, mantaapp mbaa
    Kalau ngga terbiasa, memang bakal sulit yaaa
    tapi kalo udah passionate, jadinya gampil kok
    –bukanbocahbiasa(dot)com–

  4. Benar sekali menulis tanpa banyak membaca sama dengan menyaring air. Dengan membaca banyak kosakata dan diksi yg bisa kita kitaulkan dalam benak kita.

  5. Tapi ..sesuai minat juga. Udah melewati skripsi hingga disertasi ..masih merasakan kesulitan.

    Kalau udah hobi, dan passion kesana ..biasanya lancar jaya bikin jurnal atau karya ilmiah lainnya .

  6. Bener, Mbak. Walaupun menulis blog memang lebih bebas. Tetapi, kalau ada aturannya sepertinya lebih enak untuk dibaca

  7. Setuju, tata cara penulisan karya ilmiah sebenarnya nggak berbeda jauh dan bisa dilakukan juga pada saat penulisan blog. Walau untuk karya ilmiah sendiri harus melalui proses lebih panjang untuk sampai pada tahap final 🙂

  8. Jadi punya pandangan baru, jadikanlah menulis sebagai sebuah kebutuhan. Sepertinya prinsip ini bakal saya pegang terus supaya semangat menulis.

  9. Harus disugesti dulu ya kalau kita bisa menulis karya ilmiah, jangan kalah sebelum bertanding. Mungkin banyak orang yang seram dengan kata ilmiahnya ya padaha bisa disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami dengan modal banyak membaca pula

  10. Ku harus banyak belajar mba buat nulis karya ilmiah, biar enak gitu dibacanya dari awal sampai akhir dan pesannya tersampaikan

  11. waah..teringat dulu pas skolah/kuliah, rasanya langsung ngeper kalau dengar LKIR. harusnya semua siswa/mahasiswa dapat motivasi semacam ini yaa…jd ga minder duluan kalau dengar kata karya ilmiah

  12. harus dibiasakan memang mba..dan refeensi yang dipakai harus jelas agar terhindar dari plagiarism yaaa

  13. setuju mba semangat itu emang perlu dan juga banyak baca ga cuman nulis karya ilmiah aja sih tapi nulis blog aku butuuh ini heheh

  14. Menulis sebagai kebutuhan. Betul banget nih. Kalau mindset sudah seperti ini, menulis menjadi lebih ringan tidak terbebani.

  15. Betul mba.. tidak sulit sebenarnya ya.. hanya saja mungkin banyak yang lebih senang menulis secara informal. Padahal keinginan saya banget bisa nukis ilmiah lagi selain skripsi dl

  16. tipsnya bisa dipakai untuk menulis di blog nih, mba…
    setuju banget kalau kita harus banyak membaca biar bisa lancar menulis..
    karena membaca adalah makanan buat penulis kan? 🙂

  17. Setuju banget. Menulis karya ilmiah gak sulit tapi kadang kita yang bikin itu ribet. Inget jalam sekolah selalu ikut KIR sampe kuliah ketagihan hehe

  18. Di karya ilmiah belajar teknikal ya mak, jadi buat blog juga bisa berlaku sama. Tapi banyakin baca itu penting emang buat suatu tulisan apapun. Ga fast reading kayak aku 😢

  19. Wah keren banget deh kalo bilang nulis karya tulis ilmiah itu gak susah. Aku mah nyerah, Mak. Studi literaturnya sangat banyaaaak. Dan aku tuh pemalas untuk hal-hal begini.

  20. Menulis ilmiah?
    Hihii…bacaanya harus jurnal dari Elsevier yaa…
    Lengkap di sana ada berbagai macam tulisan penelitian ilmiah yang terbaru.

  21. memang yang sudah terbiasa menulis ilmiah itu kentara sekali struktur tulisannya mbak. Saya belum pernah nulis ilmiah karena emang gak ngerasain kuliah hehehe

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis