pelatihan guru informatika

Pelatihan Guru Informatika, Mengasah Kompetensi dan Konten Keilmuan

Pelatihan guru informatika yang diselenggarakan di BBPPMPV Bidang Otomotif dan Elektronika, Malang, alhamdulillah telah selesai dilaksanakan. Pelatihan diselenggarakan secara blended, 3 hari secara daring dan 5 hari secara tatap muka. Peserta pelatihan adalah guru yang mengajar mata pelajaran informatika di SMK wilayah Jawa Timur dan Sulawesi, berjumlah 100 orang dan terbagi ke dalam 5 kelas. Saya bersama seorang rekan diberi tugas untuk memfasilitasi di kelas D.

Pelatihan Guru Informatika secara Daring

Kegiatan pembelajaran secara daring dilaksanakan selama 3 hari, yaitu 5 – 7 Juni 2024 mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Materi yang dibahas selama kegiatan pembelajaran daring adalah kedudukan mata pelajaran informatika dalam kurikulum merdeka, literasi digital dan pembelajaran berbasis Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK)

pelatihan guru informatika BBPPMPV BOE
Salah satu sesi pembelajaran daring

Hari pertama, setelah sesi perkenalan, kami membahas posisi mata pelajaran Informatika dalam struktur kurikulum merdeka. Sesuai dengan Permendikbudristek no 12 tahun 2024, tentang kurikulum pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan menenga, Informatika di SMK berada dalam kelompok mata pelajaran kejuruan. Diajarkan pada fase E (kelas 10) dengan alokasi waktu 108 jam pelajaran.

Kami juga membahas capaian pembelajaran (CP) mapel informatika dan bagaimana merumuskan tujuan pembelajaran (TP) dan prinsip penyusunan alur tujuan pembelajaran (ATP).

Hari kedua, kami membahas literasi digital. Ini adalah hal yang dekat dengan kehidupan guru dan para siswa, sehingga saat pembahasan di sini, kami lebih banyak sharing pengalaman.

Hari ketiga, pembahasan mengenai TPACK. Bagaimana guru mengintegrasikan pengetahuan terkait dengan teknologi, pedagogi dan konten materi dalam kegiatan pembelajaran. Hal yang sudah biasa dilakukan sebenarnya oleh para guru Informatika dalam melakukan pembelajaran di kelas, namun istilahnya baru mereka kenal saat ini. 

Kegiatan Pembelajaran Tatap Muka

Pelatihan guru Informatika secara tatap muka dilaksanakan di Malang, 10 – 15 Juni 2024 mulai pukul 07.30 hingga 16.00 WIB. Ada lebih banyak lagi materi yang di bahas di sini, sehingga waktu 6 hari memang rasanya tak cukup. Tapi paling tidak, kami sudah berusaha memberikan pondasi pada para peserta pelatihan guru informatika, selebihnya mereka akan mengembangkan lebih lanjut saat kembali ke sekolah masing-masing.

Masih Membahas CP, TP dan ATP

Karena ada beberapa sekolah yang baru akan mengimplementasikan kurikulum merdeka di tahun ajaran 2024/2025 ini, maka walau sudah dibahas di sesi daring, perlu dilakukan penguatan kembali saat sesi tatap muka.

Bahasan utama tentu saja mengenai capaian pembelajaran (CP) mapel informatika. Sesuai dengan SK BSKAP Nomor 032/H/KR/2024 tentang capaian pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan menengah pada kurikulum merdeka, tujuan mata pelajaran Informatika adalah untuk mengantarkan peserta didik menjadi well-being and wise digital citizen dan computationally literate creators yang menguasai konsep danpraktik informatika.

Ada empat elemen dalam mata pelajaran informatika yang saling terkait, yaitu berpikir komputasional, literasi digital, analisis data, serta algoritma dan pemrograman.

Setelah memperoleh CP terbaru, selanjutnya peserta merumuskan tujuan pembelajaran (TP). TP diturunkan dari CP, memuat kompetensi dan konten materi.

pelatihan guru informatika
Mengerjakan tugas merumuskan TP

Setelah masing-masing CP dari elemen dirumuskan menjadi TP, selanjutnya adalah menyusun alur tujuan pembelajaran (ATP). ATP merupakan urutan dari TP yang di susun dalam satu fase, menggambarkan urutan materi yang akan disampaikan pada peserta didik. Urutannya bisa mulai dari hal yang mudah menuju hal yang susah, dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang umum menuju yang khusus.

Berpikir Komputasional

Materi kedua yang dibahas adalah berpikir komputasional. Berpikir komputasional merupakan kemampuan pemecahan seseorang ketika menguraikan masalah rumit menjadi beberapa bagian kecil yang lebih sederhana (decomposition), mengenali pola berulang dari masalah yang telah diuraikan (pattern recognition), menyusun abstraksi dengan tujuan menemukan konsep l ebih umum yang dapat digunakan dalam penyelesaian masalah yang dihadapi (abstraction), dan mengembangkan tahapan solusi sistematis dan logis dari masalah yang dihadapi (algorithm)

Berpikir komputasional memuat aktivitas analisis data serta aktivitas untuk melakukan otomasi yang membutuhkan kemampuan menyusun algoritma. Dalam kurikulum informatika, ketiga elemen yaitu berpikir komputasional, analisis data, serta algoritma dan pemrograman diintegrasikan menjadi satu. Analisis Data serta algoritma dan pemrograman dipelajari untuk memperkuat kemampuan penyelesaian masalah mempergunakan cara berpikir komputasional.

Ada beberapa perangkat/media yang dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas untuk mengasah kemampuan berpikir komputasional ini, media tanpa komputer dan media yang di akses menggunakan komputer.

Mengenal Bahasa ALGO untuk Belajar Algoritma

Untuk melatih algoritma siswa tanpa menggunakan komputer, para peserta pelatihan guru Informatika di kenalkan dengan kartu ALGO dan bahasa ALGO. Harapannya, para guru nanti dapat mengajarkan konsep serta praktik algoritma dengan cara yang menyenangkan.

Untuk kebutuhan ini, telah tersedia kertas plano dan post it berwarna-warni. Peserta diberikan kasus dan diminta menyelesaikan kasus tersebut. Urutan penyelesaian kasus dituliskan pada post it dan ditempel di kertas plano.

Bagi para guru yang kalau diberikan kasus, langsung buka aplikasi dan menuliskan kode program, diminta untuk menuliskan alur pemecahan masalah dengan bahasa ALGO ini menjadi tantangan tersendiri. Karena mereka harus memposisikan diri sebagai siswa yang belum mengenal bahasa pemrograman, baru belajar tentang algoritma.

Setelah mempraktikkan menyusun algoritma pemecahan masalah menggunakan kartu-kartu ALGO, peserta pelatihan mengakui bahwa cara ini sepertinya akan cukup efektif saat diterapkan dalam pembelajaran mengenai algoritma kepada para siswa. Karena mengajarkan siswa untuk menuliskan setiap tahapan pemecahan masalah hingga ketemu solusinya, bukan cuma menghapal kode program.

Belajar Algoritma dengan Flowgorithm

Setelah lancar menyusun algoritma pemecahan masalah tanpa bantuan komputer dengan menggunakan kartu ALGO, selanjutnya peserta pelatihan guru informatika dikenalkan dengan Flowgorithm.

Flowgorithm merupakan aplikasi berbasis dekstop yang dapat digunakan sebagai salah satu media pembelajaran untuk dalam menyampaikan materi algoritma.

Dengan flowgorithm, seseorang dapat menulis dan menjalankan program menggunakan diagram alur. Diagram alur (flowchart) biasanya dimanfaatkan untuk mengajarkan logika pemrograman pada siswa. Dengan menggunakan flowgorithm, diagram alur yang dibuat, bisa langsung coba dieksekusi/dijalankan. Apabila ada alur yang tidak tepat/salah, maka akan langsung ditunjukkan dimana letak kesalahannya.

Alur program untuk menampilkan deret bilangan genap
Alur program untuk menampilkan deret bilangan genap

Diagram alur yang dibuat menggunakan flowgorithm dapat membuat penggunanya berkonsentrasi pada konsep pemrograman tanpa harus dipusingkan dengan sintaks bahasa pemrograman. Diagram alur yang telah dibuat, dapat dikonversi ke dalam beberapa bahasa pemrograman.

Memadukan Perangkat Keras dan Perangkat Lunak

Setelah menguasai pembuatan algoritma dengan kartu ALGO dan membuat diagram alur dengan flowgorithm, kini saatnya para peserta dikenalkan dengan bahasa pemrograman Phyton. IDE yang digunakan adalah Thonny.

Alasan pemilihan Thonny adalah karena dalam pelatihan guru Informatika ini akan dikenalkan juga penggunaan Raspberry sebagai antarmuka antara perangkat lunak dengan perangkat keras, dan Thonny mampu mengakomodir pengguna untuk menuliskan kode-kode program dan disimpan pada Raspberry secara mudah.

Setiap peserta memperoleh seperangkat Algorithm Kits Trainer, yang menjadi hak milik mereka dan bisa dibawa pulang setelah selesai mengikuti pelatihan.

Ini adalah bagian yang paling menyenangkan, menurut saya, semoga demikian juga menurut para peserta pelatihan. Menyenangkan karena memadukan antara penguasaan terhadap perangkat lunak dan perangkat keras. Mengendalikan perangkat keras menggunakan kode-kode program yang diberikan pada Raspberry.

Ada beberapa simulasi yang berhasil dibuat oleh peserta, antara lain membuat 1 buah lampu led hidup dan mati (kerkedip-kedip). Membuat beberapa lampu led hidup dan mati baik secara bersamaan dan bergantian. Membuat simulasi lampu rambu lalu lintas di perempatan jalan.

peserta pelatihan guru informatika
Asyik semua membuat simulasi lampu lalu lintas

Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan sensor suhu dan sensor cahaya. Dengan sensor cahaya, peserta mampu membuat program untuk menyalakan lampu saat suasana gelap dan mematikan lampu saat suasana terang.

Peserta juga belajar menampilkan tulisan pada layar OLED yang ada di kits trainer. Mengatur posisi tulisan, bahkan ada yang berhasil menampilkan tulisan berjalan.

pelatihan guru informatika
Mode serius

Keamanan Data

Materi terakhir yang diterima oleh peserta adalah tentang keamanan data. Bagaimana cara mengamankan data-data kita di era digital ini.

Karena waktunya tinggal sedikit, untuk sesi ini fokus pembahasan adalah pada tanda tangan elektronik.

Pernah kan kamu lihat atau bahkan memiliki dokumen penting yang tidak ditandatangani oleh pejabat yang berwenang, dan sebagai penggantinya terdapat QR code pada dokumen tersebut?

Apabila kita memindai QR code ini, maka kita bisa menuju sebuah link yang menyediakan beberapa informasi tentang dokumen tersebut, sebagai validasi terhadap kebenaran isi dokumen.

Rencana Tindak Lanjut Pelatihan Guru Informatika

Hari terakhir, para peserta diminta untuk membuat rencana tindak lanjut terhadap pelatihan yang telah diikuti. Apa yang akan dilakukan sekembalinya ke sekolah masing-masing.

Kami sih berharap, sekembalinya para peserta ke sekolah, mereka akan menularkan apa yang telah dipelajari selama pelatihan ini kepada rekan-rekan gurunya, dan lebih penting lagi adalah kepada para siswa.

Masih banyak sebenarnya materi yang belum dibahas dalam pelatihan ini. Kami belum membahas mengenai analisis data, belum memperkenalkan aplikasi Sratch sebagai salah satu tool untuk mengajarkan algoritma secara visual.

Semoga para peserta pelatihan guru informatika terus belajar untuk mengembangkan kompetensinya terhadap penguasaan konten materi bidang informatika, terus mengasah kemampuannya untuk menyampaikan pengetahuannya tersebut pada anak didiknya.

Dihari terakhir, kami juga sempat membuat konten video lho. Semoga bisa menjadi kenangan bahwa kami pernah belajar bersama.

Baca yang ini juga

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: