Catatan Kecil Keluarga Nara

Abadikan lewat tulisan agar jadi kisah klasik di masa depan



Kala Si Bocah Melek Internet

Satria dan Nayla sudah mulai menggunakan internet sebagai salah satu sumber belajarnya. Andalannya adalah “OK Google …” setiap kali mencari informasi yang mereka inginkan. Suatu kali, saya minta mereka mengetikkan kata babang dan dedek di mesin pencari. Kagetlah mereka karena menemukan beberapa foto mereka di internet. Bagaimana bisa google mendapatkan foto-foto mereka? Apa google minta foto itu ke mamanya?

Berawal dari kejadian ini, saya kenalkanlah blog ini ke mereka. Antusias mereka membaca. Kadang terlihat serius, kadang cekikikan berdua. Oh, rupanya mereka jadi teringat beberapa kelakuan mereka waktu masih kecil dulu. Sekarang juga masih kecil sih hehehe…. Setiap kali ada kesempatan, Satria jadi sering mengunjungi blog ini, membaca-baca lagi kisah tentang mereka berdua yag banyak dituliskan oleh mamanya.

Kadang anak-anak seolah tak percaya bahwa mereka dulu pernah seperti yang saya tuliskan. Kadang mereka protes kenapa saya tulis, kan mereka jadi malu. Kadang juga protes kenapa foto yang ini atau itu yang di pajang. Jadi sekarang, saya selalu bertanya kalau mau pajang foto mereka di medsos. Kalau mereka OK, baru deh saya upload.

(more…)

Sunyi yang Mencurigakan

Suatu sore saya sedang mencoba asyik di depan laptop sambil memangku Okto. Sementara kedua kakaknya bermain di halaman. Mereka main petak umpet dan berkejar-kejaran. Lepas suara tawa mereka, membuat saya tak perlu bolak-balik keluar rumah untuk menengok keberadaan mereka. Jika terdengar suara tawa, berarti mereka masih di areal halaman rumah.

Mendadak suara tawa mereka berhenti. Lalu Satria masuk rumah dan duduk di dekat saya. Sementara Nayla berlalu begitu saja, masuk ke ruang tengah. Hmm… kok begini akhir permainan mereka. Mungkinkah mereka bertengkar?

(more…)

Mengajarkan Perbedaan Sejak Dini

Suatu malam, kami bersilaturahmi ke rumah saudara. Pas sampai di sana, sudah ada juga beberapa tamu yang sudah duluan sampai. Usai bersalaman dengan tuan rumah dan beberapa tamu, saya dan anak-anak masuk ke ruang tengah, sementara suami di teras bersama tuan rumah dan tamu lelaki. Jadi, para lelaki ngobrol di teras. Sementara para perempuan dan anak-anak di ruang tengah. Nyonya rumah, kadang ke teras, kadang juga di ruang tengah menemani kami mengobrol.

Sepulang dari rumah saudara itu, karena belum ngantuk, kami pun bersantai di rumah. Suami dan Satria berkolaborasi main game di tablet. Sementara Nayla bermanja-manja di pelukan saya sambil bertanya ini itu. Lalu obrolan kamipun menjadi sedikit lebih serius.

(more…)

Ternyata Mudah Mengajak Anak Berpuasa

IMG_20170328_164047

Jalan-jalan di pagi hari hari, walau puasa tetap semangat

Memasuki hari ke 13 ramadhan, alhamdulillah Satria dan Nayla puasanya nggak pernah bolong, bisa tuntas sampai maghrib. Bahkan saat saya tinggal tugas keluar kota pun, mereka tetap semangat berpuasa. Alhamdulillah…

Nggak ada drama sama sekali?

Ada lah. Siang-siang terkadang bocah-bocah bilang “Ma, aku lapar”… “Aku mau cepat maghrib”… “Aku mau makan”. Biasanya saja jawab, sebentar lagi maghrib. Semangat yaa… kan mau dapat pahala.

Drama kedua, emaknya ini harus ekstra sabar saat membangunkan untuk makan sahur. Bocah-bocah mesti di peluk-peluk, diciumi, dibisiki suruh bangun. Kadang setiap lima menit harus membangunkan. Sudah dua kali Satria nggak mau bangun makan sahur. Alhamdulillah walau tak makan sahur, tetap kuat puasa sampai maghrib.

(more…)

Kala Guru Tak Lagi Bisa digugu lan ditiru

Genap dua bulan sudah saya berkeliling kota. Berkunjung ke SMK dan berinteraksi dengan para guru disana. Namanya bertemu dengan banyak orang, pasti banyak hal yang bisa saya peroleh. Ada yang positif, ada pula yang negatif menurut pandangan saya. Bisa jadi yang negatif menurut saya itu biasa saja, atau malah positif menurut orang lain. Beda kepala bisa beda pandangan. Jadi, ijinkan saya menuliskan berdasar pandangan saya.

Seusai pelatihan peserta akan mendapatkan pengganti biaya transport yang telah mereka keluarkan. Jadi biasanya peserta menggunakan uang pribadi dulu untuk membeli tiket berangkat ke lokasi pelatihan. Kalau sesama di Jawa sih mungkin tak masalah, karena pagunya adalah angkutan darat. Tapi kalau sudah antar pulau, pastinya menggunakan pesawat. Nah, biasanya, bendahara akan mengecek kebenaran tiket pesawatnya. Apakah harganya sesuai dengan yang dikeluarkan oleh maskapai, atau ada rekayasa antara agen tiket dengan pembeli.

(more…)

Menularkan Virus Membaca pada Anak

Habis borong buku, ngajak mampir ke foodcourt. Emaknya disuruh makan, sementara mereka berdua numpang duduk lalu asyik baca buku

Kadang-kadang, saya agak jengkel, ketika anak-anak sudah menghadapi piring masing-masing dan bersiap makan, eh tiba-tiba mereka berdiri dan meninggalkan piringnya. Berjalan menuju rak buku, mengambil buku, lalu kembali duduk menghadap piringnya. Membuka halaman buku, lalu mulai deh ritual makan dengan mata terpaku pada halaman buku. Tangan kanan menyuap, tangan kiri membuka halaman buku. Kalau sudah begini, makannya jadi lambat.

(more…)

Belajar dan Mengajar, itulah Hidupku

Setelah berbulan-bulan vakum, bulan ini saya kembali punya tugas untuk mengajar. Nggak tanggung-tanggung, selama 2 bulan harus berkeliling ke beberapa kota. Untungnya  masih di wilayah Jawa Timur, jadi seminggu sekali masih bisa pulang. Kali ini saya mengajar untuk program keahlian ganda. Ini merupakan program dari pemerintah pusat, untuk melatih guru normatif dan adaptif dan mempersiapkan mereka untuk mengajar materi produktif di sekolah menengah kejuruan. Program ini dilaksanakan dengan sistem on-in-on-in, ada 10 modul yang harus dipelajari. Para peserta sudah menyelesaikan tahap on-1, dan kini saatnya mereka menempuh in-1 yang akan berlangsung selama 2 bulan. Iya, selama 2 bulan mereka harus meninggalkan sekolah dan anak didiknya, demi belajar ilmu baru lagi.

(more…)

[Trip] Sorong

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 16-18 Februari, saya dapat tugas untuk survey ke salah satu SMK di Kota Sorong, Papua Barat. Pesawat dari surabaya jam 20.35, nyampe Makassar jam 23. sekian menit. Penerbangan ke Sorong sekitar jam 03. sekian menit dini hari. Jadilah malam itu “ngemper” di ruang tunggu bandara.

Saat “ngemper” ini lah, saya dapat kenalan bule dari Perancis. Namanya Seh Van, begitu dia melafalkan namanya, kalau tulisannya entah begitu atau bukan. Orangnya asyik di ajak ngobrol. Ini adalah kali ketiga dia berkunjung ke Indonesia. Pertama ke Bali, kedua ke Lombok, dan yang ketiga ini, dia mau ke Raja Ampat. Kami bertukar cerita tentang pekerjaan, pengalaman travelling dan juga tentang keluarga. Kaget dia waktu saya bilang, saat itu saya meninggalkan bayi yang baru berusia 4 bulan. Duh, bikin saya merasa bersalah kembali ninggalin okto di rumah. Satu pertanyaannya yang membuat saya gelagapan menjawab “kenapa belum pernah ke Bali?” sementara banyak sekali orang dari luar negeri ingin mengunjungi Bali. Padahal saya terhitung dekat posisi tempat tinggalnya dengan Bali. Kami berpisah saat panggilan boarding datang.

(more…)

Biarkan Anak Bereksplorasi dan Mengoptimalkan Potensinya dengan Berkata "Iya, Boleh"

Dulu semasa kecil, saya termasuk anak yang sering di larang untuk melakukan sesuatu oleh kedua orang tua saya. Sehingga saya sering sembunyi-sembunyi melakukan hal yang ingin saya lakukan, mandi di sungai, mandi air hujan, ikut “angon” kambing tetangga, main pasir. Tapi makin di larang, saya makin sering mencuri-curi untuk melakukannya. Jika ketahuan, sudah pasti saya akan di marahi. Keseringan di marahi, akhirnya saya pun menuruti saja larangan kedua orang tua. Mengikuti saja tanpa pernah mempertanyakan atau membantah, karena pasti saya tak akan mendapat jawaban yang memuaskan. Saya, si anak kecil ini, kewajibannya hanyalah menurut saja apa kata orang tua. Dan, ini berdampak hingga saya dewasa. Saya jarang mengambil inisiatif untuk melakukan sesuatu. Saya lebih sering menjadi pendengar dan pelaksana tugas.

(more…)