Prakerin Siswa SMK, Mengasah Kompetensi dan Ketrampilan Komunikasi




Prakerin, Praktek Kerja Industri, merupakan kegiatan yang wajib dilakukan siswa SMK diluar sekolah. Pelatihan dan pembelajaran yang dilaksanakan di dunia industri atau dunia kerja dalam upaya mengenalkan dunia kerja dan tempat siswa mempraktekkan apa yang sudah dipelajari di sekolah. Jadi memang prakerin siswa SMK, diharapkan bisa mengasah kompetensi dan ketrampilan komunikasi

Kegiatan prakerin ini biasanya dilakukan saat siswa berada di kelas XI selama 3 bulan. Ada juga beberapa sekolah yang mewajibkan kegiatan prakerin selama 6 bulan.

Selama di industri ini, harapannya siswa akan belajar bekerja, mempraktekkan pengetahuan yang telah diperolehnya di sekolah, dengan arahan dari pembimbing industri. Dalam kenyataannya, ternyata yang ada didunia industri bisa jadi sangat berbeda dengan apa yang telah dipelajari di sekolah. Nah, disinilah kesempatan siswa untuk belajar hal baru, di sini juga kekuatan mentalnya di uji.

Sebelum memulai prakerin, biasanya guru akan mengantar siswa. Guru menyerahkan siswa ke industri untuk di bimbing dan diajari bekerja.

Nah, kondisi di tempat kerja itu kan macam-macam ya. Kadang seharian sibuk banget, kadang pula seharian cuma satu dua kerjaan, atau bahkan nggak ada kerjaan sama sekali. Eh ini kalau di tempat saya.

Kebetulan di tempat saya juga saat ini ada dua siswa prakerin, mereka ini dari SMK jurusan administrasi perkantoran, jadi lebih banyak membantu pekerjaan sekretaris yang berkaitan dengan administrasi. Bekal dasar yang sudah mereka miliki adalah kemampuan mengoperasikan komputer, yaitu aplikasi office (word dan excel).

Tentu saja sekretaris di tempat saya tak begitu saja kasih kerjaan, karena nyatanya sekretaris malah harus banyak ngajarin mereka dulu. Ada yang nggak tahu bagaimana cara mencetak dokumen. Ada yang belum bisa menggunakan rumus-rumus sederhana di excel. Ada yang belum tahu cara menggunakan scanner, cara fotocopy dokumen dan masih banyak lagi. Setelah diajari, barulah sedikit-sedikit diberi kerjaan. Kerjaan ini juga sebenarnya sarana mereka untuk latihan.

Para siswa ini juga sebelumnya sudah diberi pesan, kalau nggak tahu jangan diam saja, harus aktif bertanya. Walau sudah sering dibilangi begitu, tetap ada lho yang diam aja walau nggak tahu. Setelah di tanyakan dan dikonfirmasi tentang tugas yang diberikan, baru deh bilang kalau belum selesai karena nggak tahu cara mengerjakannya. Hadeuh… tepok jidat deh jadinya. Memang ya, selain ketrampilan bekerja, mereka juga harus diajari cara untuk berkomunikasi. Eh, mereka juga diajari cara menelpon dan menerima telpon lho.

Tujuan Prakerin

Kalau dari desain awal programnya, kegiatan praktek kerja industri ini memiliki tujuan antara lain :

  1. Mengimplementasikan materi yang selama ini diperoleh di sekolah
  2. Melatih siswa untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara profesional didunia kerja yang sebenarnya
  3. Memperdalam dan mengembangkan ilmu dasar yang telah diperoleh di sekolah
  4. Menambah jenis ketrampilan yang dimiliki oleh siswa
  5. Menjalin kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan dunia usaha/dunia industri

Bagus banget kan ya tujuan program prakerin ini. Karena memang lulusan SMK itu kan dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja di level operator, sehingga pengetahuai dunia kerja itu sesungguhnya seperti apa, sangat dibutuhkan sebelum mereka lulus. Saat mereka lulus sudah siap deh terjun ke dunia kerja dan tidak akan kaget lagi.

Selama prakerin, siswa mengisi jurnal harian. Isinya kegiatan apa saja yang dilakukan setiap hari. Jurnal ini  akan menjadi catatan bagi pihak sekolah maupun industri sebagai bahan evaluasi, berhasil tidaknya program prakerin yang dilaksanakan oleh siswa. Di akhir kegiatan, siswa membuat laporan dan mempresentasikan hasil prakerin pada pihak sekolah mau pihak industri.

Program Prakerin Berjalan tak Sesuai Harapan

Suatu kali saya pernah ngobrol dengan guru SMK, membahas tentang program prakerin ini. Obrolan ini bermula, saat saya bilang kalau pernah ketemu anak-anak berseragam hitam putih di supermarket besar, berdiri diam saja sementara didekatnya ada pengunjung yang tampak kebingungan. Iya, anak-anak itu adalah siswa prakerin. Apakah begini kegiatan prakerin yang diharapkan?

Terus guru itu bilang bahwa dia juga suka gemas kalau ada anak prakerin kayak gitu. Lebih ekstrim, dia bilang lebih baik kalau anak-anak itu disuruh magang ke tukang bakso keliling selama 1 minggu. Jadi seminggu itu dia nginap di rumah tukang bakso, pagi-pagi ikut ke pasar berbelanja. Lalu ikut membantu membuat bakso, ikut keliling dan sore/malamnya ikut menghitung pendapatan tukang bakso dalam sehari.

Dari kegiatan magang ini, siswa bisa belajar tentang berapa modal yang dibutuhkan, berapa keuntungannya, bagaimana harus menentukan harga jual. Dia juga belajar tentang pemasaran, kemasan, pengendalian mutu produk.

Bagus juga ya idenya. Tapi lalu terbentur pada sebuah pertanyaan “Apa iya orang tua siswa itu akan mengijinkan anaknya bersusah-susah membantu tukang bakso?”

Jadi ya, sering siswa prakerin itu tidak mencapai tujuan yang diharapkan dari kegiatan prakerin. Kompetensinya tidak bertambah. Sering melakukan kegiatan yang tak sesuai dengan bidangnya. Misalnya saja, siswa jurusan teknik komputer dan jaringan, tapi prakerinnya malah ngurusi administrasi. Siswa jurusan tata niaga, prakerinnya jadi pramuniaga di toko pakaian. Dan kasus seperti ini banyak banget lho terjadi.

Kadang, kalau ada siswa prakerin baru datang, saya bertanya “tujuanmu ke sini apa?”

Dijawabnya prakerin. Hehehe… iya juga sih, baiklah pertanyaannya lalu saya ubah.

“Tujuanmu di kegiatan prakerin ini apa? apa yang ingin kamu peroleh dalam 3 bulan ke depan?”

Kalau pertanyaannya seperti ini, biasanya para siswa sudah mulai bingung. Karena mereka juga nggak tahu, entah apakah ada pembekalan dari sekolah atau tidak sebelum mereka ini berangkat.

Kalau pihak dunia usaha/dunia industri juga tidak memahami tujuan prakerin, ya wassalam jadinya. Akhirnya siswa prakerin diminta tolong membuatkan kopi, membelikan makan siang ke kantin. Pokoknya, siswa prakerin itu bagian yang bisa dimintai tolong apapun, entah ada atau tidak ada hubungan dengan kompetensi yang hendak diraih sesuai jurusan masing-masing di sekolah. Pihak sekolah dan si siswa juga nggak bisa menolak, bagi siswa yang penting masa 3 bulan sudah terlampaui dan dia dapat sertifikat bahwa sudah melaksakan prakerin

Jadi memang, kalau pemerintah ingin program prakerin ini berhasil, pemerintah juga harus terus memberikan brainstorming ke dunia industri tentang tujuan dari prakerin. Guru pembimbing, saat pertama kali datang mengantar siswanya juga harus memberikan rambu-rambu apa saja yang sudah dipelajari siswa di sekolah dan harapan tugas-tugas apa saja yang sebaiknya diberikan pada siswa di industri. Guru pembimbing juga harus melakukan monitoring saat pelaksanaan prakerin sudah berjalan. Misalnya setelah sebulan siswa di industri, guru pembimbing datang lagi untuk mengecek kondisi siswanya. Pekerjaan apa saja yang telah dilakukan, bagaimana perilaku siswa selama disana, bagaimana perlakuan karyawan pada siswa dan sebagainya.

Memang harus ada komitmen dari pihak sekolah dan juga dunia industri agar program prakerin ini bisa berhasil. Sehingga siswa prakerin diberi tugas sesuai dengan kompetensinya.

Kalau kamu, pernah punya pengalaman dengan siswa prakerin?

23 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *