anak belajar membaca

Cara Cepat dan Praktis Mengajari Anak Belajar Membaca

Gimana sih, Bu cara supaya anak bisa belajar membaca dan cepat lancar bacaannya? Ibu terima les nggak di rumah, biar anak saya ikut dan belajar membaca di rumah Ibu?

Demikianlah pertanyaan beberapa tetangga saat masa pandemi kemarin, saat anak-anak harus belajar dari rumah. Pertanyaan yang muncul karena mereka sudah jengkel anak-anaknya belum juga lancar membaca. Terbiasa mengandalkan guru di sekolah untuk mengajari anak membaca, dan tak siap kala harus menerima kenyataan di masa pandemi, walau sudah mendaftarkan anak ke TK atau SD, tapi si anak tetap belajar dari rumah. Dan para ibu dan bapak yang harus jadi pembimbingnya di rumah.

Karena mereka tahu saya bekerja di institusi pendidikan, jadi mereka menganggap saya bakal lebih telaten mengajari anak-anak mereka membaca kalau membuka semacam bimbingan belajar di rumah saya. Peluang bagus sih sebenarnya, tapi saya merasa nggak bakal punya waktu, jadi saya tolak keinginan mereka. Mereka nggak tahu sih, kalau Toto aja belum bisa membaca. Kalaupun tahu, saya nggak yakin mereka bakal bisa jadi lebih tenang juga, nggak khawatir anaknya juga belum bisa membaca. Yang ada malah bisa jadi bakal muncul banyak pertanyaan kenapa Toto belum bisa membaca.

Tahun ini Toto berusia 6 tahun, dan dia belum bisa membaca! Tapi saya dan suami santai aja sih. Walau ada aja yang bertanya, kok sampai usia segini Toto belum bisa membaca. Apalagi Toto nggak masuk playgroup maupun TK, tidak bersekolah formal.

Yang paling ribut tuh kedua kakak saya, alias budhenya anak-anak, masa udah mau 6 tahun belum bisa baca. Kok beda dengan kedua kakaknya dulu, seusia Toto sudah lancar membaca. Di kiranya saya nggak ngajari Toto membaca.

Padahal memang iya sih, saya masih malas ngajari Toto membaca hehehe…. Saya masih nunggu ada sinyal Toto pengen belajar membaca. Soalnya kalau keinginan itu dari dia sendiri, saya yakin nggak bakal butuh waktu lama dia akan lancar membaca. Saya juga nggak repot nyuruh dia duduk anteng belajar baca.

Flashback ke Masa Babang dan Kakak Belajar Membaca

Babang dulu memang usia 5 tahun sudah saya ajari untuk membaca, sementara kakak sejak usia 4 tahun. Keduanya saya ajari membaca dalam waktu bersamaan, waktu itu saya mikirnya biar praktis aja sih, toh usia mereka cuma selisih 1 tahun. Jadi sekalian capeknya, sekalian belajarnya, karena selama ini memang mereka selalu belajar sama-sama. Kalau untuk pengenalan huruf dan angka sih sudah sejak Babang usia 3 tahun.

Waktu itu memang Babang sendiri yang minta diajari untuk membaca, soalnya Mama Papanya sibuk jadi jarang punya waktu lagi untuk bacain buku buat mereka. Malam sebelum tidur, mereka bawa buku minta dibacain. Belum juga satu halaman tuntas di baca, saya sudah ngantuk duluan dan bacaan pun mulai ngaco. Lebih parah lagi, saya bisa tertidur juga kala sedang membacakan buku buat mereka.

Karena kemauan anak-anak sendiri untuk bisa membaca, dan mereka sudah kenal huruf, jadinya dalam waktu 2 minggu belajar, mereka sudah lancar membaca. Setelah mereka lancar membaca, saya bisa agak santai karena tak perlu lagi membacakan buku untuk mereka. Mereka sudah bisa baca sendiri, jadi saya pun punya waktu untuk membaca buku-buku saya yang lama terlantar.

Aktivitas membaca buku lalu menjadi rutinitas kami. Duduk bersama dalam satu ruangan, asyik dengan bacaan masing-masing. Sebulan sekali kami ke toko buku, saya bebaskan mereka untuk memilih buku yang ingin di beli. Biasanya anak-anak akan memilih seri edukomik, jadi bisa dapat hiburan sekaligus pelajaran dari apa yang dibaca.

Saya juga langganan Bobo, Donald dan juga National Geographic Kids untuk mereka. Saking banyaknya bacaan mereka, saya sampai harus menambah membeli satu rak buku lagi, khusus untuk menyimpan buku-buku mereka.

Cara Anak Belajar Membaca dan Cepat Lancar

Berdasarkan pengalaman saya mengajari anak-anak membaca sejak usia dini, berikut ini saya bagikan tips cara supaya anak bisa cepat belajar membaca.

1. Buat Anak Mencintai Buku

Banyak orang bisa membaca, tapi tak suka membaca, atau bahkan malas membaca. Di beberapa group wa, saya sering menemui orang yang menanyakan suatu hal, padahal yang ditanyakan itu sudah ada di deskripsi group, yang ditanyakan baru saja ditanyakan.

“Maaf, tugasnya terakhir di upload ke LMS kapan ya?”

Padahal di LMS sudah dituliskan batas akhir pengiriman tugas, padahal sehari sebelumnya sudah diingatkan tentang batas akhir pengumpulan tugas ini.

Buku adalah jendela dunia, ini yang dulu sering disampaikan oleh guru SD saya. Dari buku kita bisa memperoleh banyak pengetahuan, dari buku kita bisa “berjalan-jalan” ke suatu kota atau daerah yang jauh, lewat kalimat-kalimat yang mendeskripsikan suatu wilayah, kita sebagai pembaca bisa membayangkan daerah itu.

Walau kini teknologi internet, dengan fasilitas audio dan videonya sudah canggih, keberadaan tulisan tetap banyak pengaruhnya. Tetap banyak orang yang mencari referensi berupa teks.

Kecintaan pada buku harapannya dapat menumbuhkan kecintaan pada membaca. Bukan sekedar membaca lalu setelah buku ditutup lupa apa yang dibaca. Tapi membaca dan bisa memahami isinya, syukur bisa menceritakan kembali apa yang sudah pernah dibacanya, dengan bahasa sendiri.

2. Libatkan Anak dengan Aktivitas Membaca

Cara paling efektif untuk menyurh anak melakukan sesuatu adalah dengan memberikan contoh nyata perilaku yang kita ingin anak melakukannya. Percuma kita ingin dan menyuruh anak rajin membaca, kalau anak tak pernah melihat kedua orang tuanya membaca.

Sedari bayi, saya suka membacakan buku untuk anak-anak. Buku apa saja, tak terbatas pada buku anak. Membaca dengan suara nyaring, terutama saat sambil menyusui di malam hari. Ini sebenarnya trik juga supaya saya bisa bertahan dari mengantuk dan tak tertidur kala sedang menyusui.

Saat anak sudah bisa membaca, saya upayakan untuk membaca buku-buku yang mereka baca, sehingga saya bisa mengajak mereka ngobrol untuk menceritakan apa yang baru dibacanya. Kalau saya tak pernah membaca buku-buku mereka, bagaimana saya bisa nyambung atau memberikan pancingan-pancingan pertanyaan?

Awalnya mudah saat buku anak-anak masih beberapa. Tapi saat buku mereka sudah puluhan, saya pun kewalahan. Akhirnya taktiknya di ubah, mereka membaca nyaring dan saya menyimak. Sambil menyimak, saya sesekali berkomentar atau memberikan pertanyaan.

3. Kenalkan dengan Huruf

Mengenalkan huruf ke anak-anak jangan dengan cara anak diminta duduk diam lalu ditunjukkan dan ini huruf apa dan mereka diminta menirukan. Baru beberapa menit, mereka sudah nggak betah.

Saat sedang jalan-jalan dan melihat rambu lalu lintas, kadang ketemu huruf P atau S. Ini bisa jadi cara mengenalkan pada anak-anak.

Bisa juga dengan menggunakan papan peraga huruf yang ditempel di dinding. Dengan permainan menyebut nama benda dan huruf pertamanya.

“Ini apel, huruf pertamanya A. Ayok kita balapan siapa yang duluan menemukan huruf A, dia bakal dapat hadiah”

Maka Toto akan semangat berlari menuju papan peraga dan menunjuk huruf A. Nggak usah diberi hadiah pun dia sudah senang, karena berhasil mengalahkan saya dalam lomba lari. Senang karena bisa duluan sampai di depan papan peraga dan menemukan huruf A.

Kalau Babang dan Kakak dulu saya kenalkan huruf dengan menonton tayangan DVD mengenal huruf dan angka dari Kastari Animation. Melihat animasi dengan karakter Diva dan kucing putihnya dan tanpa disadari mereka sudah belajar mengenal huruf. Saya dulu belinya 1 DVD seharga 25 ribu. Beli saat ada pameran buku di Malang.

Diva menghafal huruf kastari animatioan

Isi video dalam DVD ini mengisahkan petualangan Diva bersama kucing putihnya yang bernama Pupus untuk menemukan huruf-huruf. Setelah ketemu hurufnya, dilanjutkan dengan mencari benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari yang berawalan huruf tersebut.

4. Jangan Mengeja, Langsung Kenalkan dengan Suku Kata

Kalau saya dulu saat kecil, belajar membaca dengan cara mengeja.

i n-i ni ini. b-u bu d-i di budi.

Saat mengajari anak-anak membaca, saya tak lagi menggunakan cara mengeja ini, melainkan langsung mengenalkan dengan suku kata.

ba-ta

ba-ca

Mirip kayak anak belajar membaca Al Qur’an dengan menggunakan buku iqra’. Jadi pengenalan suku katanya juga dimulai dari huruf-huruf konsonan awal diikuti vokal a, lalu konsonan dan vokal i. lanjut konsonan dan vokal u, vokal e dan juga vokal o.

belajar membaca suku kata

Setelah lancar, dikenalkan dengan kata berakhiran konsonan, ny dan juga ng. ny dan ng ini yang butuh waktu agak lama. Kadang ketemu ny tapi n dan y nya dipisah. Misalnya banyak, bisa dibaca ban-yak. Padahal kan bukan itu maksudnya.

Untuk mengajarkan ini, saya menggunakan buku Balita langsung Lancar Membaca

buku balita lancar membaca

5. Jangan Pedulikan Omongan Orang

Nah yang kelima nih, jangan mudah terpengaruh omongan orang. Apalagi yang membanding-bandingkan anak kita dengan anaknya atau anak orang lain. Karena kemampuan setiap anak itu berbeda.

Butuh mental kuat nih buat ngadepin omongan orang. Apalagi momen lebaran gini, dimana ketemu orang-orang yang jarang ketemu dan nggak tahu keseharian kita. Senyumin aja kalau ada yang berkomentar buruk atau bertanya sekedar kepo.

Toto Mulai Tertarik Belajar Membaca

Toto ini anak generasi alpha, yang sejak keluar dari perut saya sudah kenal hp. Baru keluar sudah di jepret dengan kamera hp oleh papanya. Dia tumbuh dengan sering melihat kedua orang tuanya dan kedua kakaknya asyik dengan hp dan laptop.

Jari-jemarinya sudah lincah menari di atas layar hp, Tontonannya youtube, suka main game roblox juga. Suka ngobrol dan tanya-tanya pada google kalau kedua orang tuanya nampak sibuk dan tak bisa meladeni pertanyaannya yang terus sambung menyambung. Kenapa begini, kenapa begitu. Tapi belum bisa baca. Itulah salah satu hebatnya anak generasi alpha, walau belum bisa baca tapi sudah akrab menggunakan teknologi informasi.

Kalau menemukan tulisan dalam game yang dimainkan, dia akan bertanya pada saya atupun kedua kakaknya, “ini bacaannya apa?”

Lama-lama kedua kakaknya malas bacain, kalau Toto tanya, selalu mereka jawab “Makanya belajar baca!”. Jadi Toto malas tanya pada kedua kakaknya, akhirnya tanyanya ke saya atau papanya.

Akhir-akhir ini kalau tanya ke papanya, malah disuruh belajar baca. Jadilah tempat bertanyanya tinggal saya. Saya tawari untuk belajar membaca, biar sewaktu-waktu kalau nemu kata bisa langsung baca, nggak usah nunggu saya, dia menggeleng. Ya sudah lah.

Nah, kemarin Toto download game di playstore, game Words Story, tugasnya merangkai huruf menjadi kata. Disediakan beberapa huruf dan kotak kosong untuk meletakkan huruf, jumlah huruf yang di acak lebih banyak di banding jumlah kotaknya. Gamenya berbahasa Inggris pula.

game words story

Karena belum bisa baca, jadi dia asal aja masukin huruf-huruf ke kotak kosong. Penasaran karena salah terus, akhirnya dia minta bantuan saya.

Ok lah sambil belajar mengenal kosakata bahasa Inggris juga, saya bantu dia. Saya sebutkan hurufnya dan dia yang masukkan huruf ke kotak kosong. Kalau benar, saya ucapkan katanya dan artinya dalam bahasa Indonesia.

Tapi kan saya nggak bisa nemani dia main game itu terus. Udah ngerasa kali ya, minta bantuan kedua kakaknya dan papanya, bakal percuma, akhirnya dia minta diajari membaca.

Yes! akhirnya dia merasa butuh untuk bisa membaca.

Akhirnya saya dibantu kedua kakaknya ngubek-ubek rak buku. cari buku yang dulu dipakai untuk mengajari kedua kakaknya membaca.

Semoga libur lebaran seminggu ini, saya bisa fokus nemani Toto belajar membaca. Semoga seminggu ini bisa lancar, soalnya kan dia lagi semangat, jadi maunya sepanjang hari tuh belajar terus biar cepet bisa.

Jadi bu ibu, kalau anaknya belum lancar membaca, jangan berkecil hati. Akan ada saatnya kok dia merasa butuh untuk bisa membaca. Saat dia merasa butuh, pasti semangat belajarnya akan besar.

Baca yang ini juga

23 thoughts on “Cara Cepat dan Praktis Mengajari Anak Belajar Membaca

  1. Setuju mba, emang yang paling dulu harus dilakukan adalah menciptakan suasana yang menyenangkan saat belajar. Buat anak suka dulu, kalau anak udah suka mau diajari membaca dengan metode apapun bakal bisa.
    Mendidik anak sebetulnya buka kompetisi sebaiknya ya, sesuai kan dengan prinsip dan kondisi masing-masing aja. Omongan orang? Bye

  2. Parenting sekarang keren-keren ya. 5 tahun udah diajari membaca itu keren banget sih. Makannya anak-anak zaman sekarang pinter-pinter banget.

  3. Zaman sekarang anak2 TK aja udah diajari calistung. Apakah ini sebuah tuntutan? Padahal duluuu sih anak SD kelas 1 baru mempelajarinya hihihihi. Anak2ku alhamdulillaah sejak TK A dan B sudah mau belajar membaca dengan cara menyenangkan, tidak dengan paksaan. Sudah banyak cara agar membaca lebih mudah dan asyik bagi anak2.

  4. Anakku pas lulus TK juga belum bisa membaca. Saat masuk SD, pas pandemi dan pembelajaran secara online. Kebayang dong gimana repotnya ortu mengajari anak lulus TK yang belum lancar membaca dan harus mengerjakan tugas sekolah dari gurunya. Ampun repotnya. Suara udah naik beberapa oktaf. Tapi sekarang, anakku udah bisa membaca lancar dan itu by proses. Harus dari anaknya ada niat dan orangtua memberi contoh dengan senang membaca buku..

  5. Orangtua memang menjadi sebaik-baik tempat anak-anak untuk tumbuh dan berkembang yaa.. Bukan sekolah.
    Jadi yang paling santuy tapi tetap berusaha maksimak untuk memberikan stimulus membaca terbaik, sebaiknya dimulai dari orangtua.
    Barakallahu fiik, kak Nanik.
    Jadi insight yang baik sekali untukku, agar tidak menggegas anak-anak untuk segera bisa. Yang penting, mencintai aktivitasnya dulu.

  6. Orang tua juga harus jadi role modelnya juga ya mbak, karena memang jadi PR juga untuk aku dulu. ketika anakku sudah mulai bisa baca dan kita ngajarin pelan-pelan menggunakan buku2 yang visualnya disukai anak-anak.

  7. Mengenalkan anak dengan buku atau mengajarkan membaca perlu diusahakan semenjak dini. Ada flash card dahulu buat stimulus anak membaca semenjak balita.

  8. Biasanya di desa tempatku tinggal nih yang begini. Kalau ada anak yang sampai usia 6 tahun belum bisa baca udah dapat label. Dan labelnya itu yang bikin nggak enak hati orang tuanya. Duh gemas aku jadinya.

  9. Waah iya ya langkah awal pastinya kudu bisa bikin anak suka dan cinta baca buku. Anak saya yg pertama karena udah saya kenalkan buku dr usia 8 bulan, sampai usianya yg menuju 5 th ini suka sekali buku. Belum bs baca tapi sudah hafal alpabet

  10. Semirippp. Aku seringnya mereka bisa baca sendiri sebenarnya tapi ttp bantuan guru. Cuma setuju banget sama ngajarin anak cinta baca, ngaruh banget pas sd kepake

  11. Seru banget pengalamannya mengajari anak membaca. Memang sebaiknya nunggu sinyal dulu ya dari anak, kapan dia mau mulai belajar membaca. Waktu anakku belajar membaca, aku juga belikan di buku belajar membaca yang untuk balita itu. Dikasih challange untuk baca setiap hari, eh nggak kerasa tahu-tahu bisa baca dengan lancar.

  12. salah cara aku mengajak anak untuk menyukai baca sama dengan tipsnya kakak, mengenalkan buku dan mengajak membaca bersama. aku juga sengaja beli buku ABACA yang membacanya suku kata gitu, emang anak jadi mudah dan lancar membaca

  13. Agree! Poin no 5 setuju banget jangan pernah membandingkan anak karena pada dasarnya semua anak pintar, tinggal kita ajari dan tuntun ya mbaak

  14. Mengajari anak anak itu paling mudah sambil bermain jd cepat masuk. Dulu aku pernah jadi guru les mulai tk sampai sma, nah yg anak2 kecil belajarnya sambil main jugaa dan cepet masuk memorinya.

  15. Lebih baik mengajari anak mencintai aktivitas membaca buku ketimbang sekadar cepat pinter membaca ya Mbak,, setuju banget saya,, sebaiknya langsung kenalkan dengan suku kata, ga usah mengeja ya, noted. Tfs Mba,,

  16. Tips yang keren. Ini penting banget: buat anak mencintai buku. Meskipun sederhana tapi kadang susah. Hehe.. tapi harus diupayakan.. makasih Kak artikelnya….

  17. ternyata usia Toto sama dengan usia anak pertama aku, mbak. oiya, kalau pengenalan per suku kata sama ejaan biasa itu hasilnya beda ya, mbak?

  18. Wah catatan banget nih kak. Terutama tentang poin jangan pedulikan omongan orang. Tiap anak kan beda beda ya kemampuannya. Kita sebagai orang tua harus sabar dan bisa mengarahkan.

  19. sepakat, saya juga begitu mbak, anak tengah usia 6 th belum lancar membaca, saya tidak memaksanya, tapi saya ajak membaca buku, lama kelamaan dia tertarik juga. Menurut saya lebih penting anak cinta buku daripada bisa membaca, karena jika anak cinta buku, dia akan membaca dengan sendirinya, sedangkan jika dia bisa membaca belum tentu dia suka membaca

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: