Menginap di Hotel Arcadia Surabaya di Masa Pandemi

menginap di hotel arcadia surabaya di masa pandemi

Walau masih masa pandemi, menjelang akhir tahun gini, banyak pekerjaan yang mengharuskan saya untuk pergi ke luar kota. Kalau kerjanya di luar kota, otomatis nginapnya di hotel, kerjaannya juga dilakukan di hotel. Apa nggak khawatir tuh nginap di hotel di masa pandemi gini?

Sebenarnya khawatir juga sih. Tapi ya gimana lagi, tugas harus tetap dilaksanakan. Yang penting, protokol kesehatan ketat jangan sampai ditinggalkan. Dan, inilah pengalaman saya menginap di hotel Arcadia Surabaya di masa pandemi

Antara Surabaya dan Semarang

“Nan, mau refreshing? Pilihannya antara Surabaya atau Semarang”

Begitulah pimpinan menawarkan pilihan tugas pada saya. Dia bilangnya “refreshing” karena tahu anak buahnya pasti sudah jenuh di rumah terus. Biasa ngider ke mana-mana, dan tahun ini harus di rumah aja, selang-seling antara WFH dan WFO.

Tahun 2020 udah hampir sampai diujungnya dan saya belum naik pesawat! Jadi nggak salah juga kalau pimpinan saya bilang “refreshing” untuk menggantikan pemberian tugas ke luar kota.

Surabaya atau Semarang?

Dengan berbagai pertimbangan saya memilih ke Surabaya saja. Surabaya lebih dekat dari Malang dibanding Semarang. Kalau ke Surabaya, saya bisa numpang teman yang bawa mobil, jadi meminimalisir interaksi dengan orang banyak. Kalau ke Semarang, saya harus naik angkutan umum. Belum berani juga bepergian naik angkutan umum.

Jadilah, 16-19 Oktober 2020 saya menerima untuk ditugaskan ke Surabaya.

Rapid Test Sebelum Masuk Hotel

Tempat tugas saya selama di Surabaya adalah di Hotel Arcadia yang terletak di jalan Rajawali no 9 – 11. Hotelnya ini terletak di daerah semacam “kota tua” gitu. Di daerah ini banyak bangunan gedung yang usianya sudah tua. Kalau nggak masa pandemi, pasti saya bakal keluyuran di sekitaran hotel, mencari obyek yang bagus buat di foto. Tapi karena masa pandemi, saya cuma bisa menikmati dari dalam mobil saja.

Perjalanan dari Malang sampai di hotel lancar, sebagian besar perjalanan lewat jalan tol. Kami keluar tol dan masuk wilayah Surabaya saat sudah mendekati hotel.

Sampai hotel, kami nggak langsung masuk pintu utama. Dekat pintu utama, ada papan petunjuk ke arah ruangan untuk rapid test. Rapid test dilaksanakan di sebuah ruangan kecil yang pintu masuknya di sebelah kanan pintu utama hotel. Jadi ke ruangan itulah saya bersama teman-teman seperjalanan menuju.

Usai menaruh tas, kami pun antri dengan membawa KTP ke petugas registrasi. Setelah di data, pindah antrian untuk diambil darah. Ada tiga petugas di situ, dua petugas mengenakan APD lengkap. Keduanya bertugas mendata para peserta rapid serta mengambil sample darah. Satu petugas lagi pakai masker saja, dia bekerja di depan laptop. Dia ini bertugas mengetik surat keterangan hasil rapid test.

Dari cerita beberapa teman yang sudah pernah mengikuti rapid test, darah di ambil dari pembuluh darah di lipatan siku. Tapi disini, darah diambil dari ujung jari. Mirip kayak tes darah saat mau donor darah.

Setelah beberapa saat mengantri, tibalah giliran saya. Saya sodorkan tangan kiri. Sekali tusuk diujung jari tengah, saat petugas mau ngambil darah, ternyata darahnya nggak keluar. Ganti jarum, tusuk lagi, baru deh darahnya keluar.

rapid test
rapid test

Darahnya diambil, lalu di taruh di alat tes. Saya pun dipersilakan menunggu hasilnya.

Reaktif atau non reaktif ya? Deg deg an juga nunggu hasilnya. Selama ini saya merasa sehat-sehat saja sih, jadi yakin kalau hasilnya non reaktif.

Tapi, tetep dag dig dug juga nunggu hasilnya, walau merasa sehat, siapa tahu OTG kan? Saya juga baru pertama kali ini melakukan rapid test.

Dua teman saya sudah di panggil, di beri hasilnya. Non reaktif. Padahal saya duluan yang diambil darahnya tadi. Duh, jadi makin deg deg an aja. Rasanya lamaaaa banget nunggu nama saya di panggil.

Akhirnya tiba giliran nama saya di panggil. Petugas yang memanggil berbeda dengan petugas yang memanggil kedua teman saya.

Saya pun mendekat. Petugasnya memandang ke arah saya, memegang kertas yang di dekap di dada. Makin dag dig duh deh. Kenapa kertasnya seolah disembunyikan gitu? Kenapa petugas yang manggil beda dengan yang manggil kedua teman saya.

Saya segera menghela nafas lega, begitu petugas menerangkan bahwa hasilnya Non Reaktif.

Setelah mendapat surat keterangan yang dilampiri hasil test, saya pun masuk hotel dan langsung menuju resepsionis. Ambil kamar. Di masa pandemi ini, satu orang satu kamar.

Protokol Kesehatan di Hotel Arcadia

Ada petugas di depan pintu utama, membawa thermo gun, mengecek suhu para tamu yang hendak masuk hotel. Karena barusan di rapid dan hasilnya non reaktif, suhu badan saya nggak di cek sama petugasnya. Dia langsung bukain pintu dan mempersilakan kami untuk masuk.

Di resepsionis, ada plastik mika sebagai pembatas interaksi dengan tamu. Petugas menggunakan masker dan sarung tangan. Tersedia pula hand sanitizer di meja resepsionis.

resepsionis hotel arcadia
Resepsionis

Setelah memperoleh pintu kamar, saya menuju lift. Di depan lift tersedia hand sanitizer. Di dalam lift di sediakan cotton bud untuk memencet tombol lantai yang dituju, disediakan tempat sampah kecil juga.

Cotton bud untuk memencet tombil lift

Lift dibatasi hanya untuk 4 orang. Terdapat penanda di lantai untuk posisi berdiri tamu di dalam lift. Posisi berdiri dan juga arah berdirinya. Pas lihat kotak-kotak tanda itu, kok otomatis pengen main engklek ya hehehe…. Kalau pas sendirian di dalam lift, bisa tuh sambil mainan lompat-lompat.

protokol kesehatan dalam lift
protokol kesehatan dalam lift

Fasilitas di Kamar

Kamarnya bersih, lumayan luas. kasurnya juga besar (kebesaran malah) kalau cuma di pakai tidur sendiri. Ada 2 guling dan 2 bantal yang pastinya akan membuat tidur jadi nyaman.

Ada kursi dan meja kerja di dekat jendela. Kebetulan jendela di kamar saya ini menghadap ke timur. Jadi saat pagi hari, saya bisa menikmati pemandangan langit saat matahari mau terbit.

Bekerja sambil nunggu matahari terbit

Ada kursi 1 sofa juga, bisa buat bersantai sambil nonton TV. Eh, tapi kalau di kamar, nonton tv nya enakan sambil rebahan.

Dua botol air mineral, dua bungkus teh, kopi dan gula, lengkap dengan gelas dan pemanas airnya. Malam-malam kalau pengen minuman hangat, bisa bikin sendiri.

Kamar mandi standar lah. Wastafel, kloset duduk dan shower untuk mandi. Handuk dan perlengkapan mandi lengkap.

Protokol Kesehatan di Santan Restaurant

Santan restaurant, itulah nama ruang makannya. Pas pertama lihat, saya kok jadi ingat pernah nginap di hotel yang nama ruang makannya saya. Saya ingat-ingat lagi. Ah, bener santan restaurant di hotel horison Ciledug.

Ternyata hotel Arcadia ini masih sekelompok dengan horison. Terus saya jadi penasaran, apakah kelompok hotel horison di kota lain, nama ruang makannya santan restaurant juga?

Menu makannya macam-macam. Prasmanan menu utama nasi dan sayur serta lauknya. Menu tambahan aneka macam bubur, pecel, soto, siomay. Puding dan buah pasti ada di tambah aneka macam minuman.

pecel komplit
Pecel komplit

Ada petugas yang berjaga di setiap stand. Mengambilkan makanan yang diinginkan oleh tamu hotel. Bagus juga ini, jadi cuma petugas saja yang memegang centong nasi ataupun sendok sayur. Tamu tinggal tunjuk saja apa yang diinginkan.

Protokol kesehatan di ruang makan
Protokol kesehatan di ruang makan

Karena pilihan menunya banyak dan tamu yang menginap juga tak begitu banyak, walau makanan harus diambilkan oleh petugas, tidak sampai menimbulkan antrian.

Siomay kesukaan saya

Buah sudah di kemas dalam piring kecil. Jus buah juga sudah dituang ke dalam gelas, jadi tamu tinggal ambil saja.

buah segar
aneka buah
jus buah segar
Aneka minuman

Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat begini, jadi tenang dan nyaman makan di sini.

Begitulah pengalaman saya menginap di hotel Arcadia Surabaya di masa pandemi. Kamu, sudah nginap di hotel di masa pandemi ini?

38 Comments

  1. Nah ini baru bener, setiap tamu di rapid test dulu kalau mau menginap. BUkan sekedar tes suhu saja. Tapi soal makan prasmanan, ini masih jadi pro dan kontra, dan aku lebih pro kepada menu makan yang tidak prasmanan. Sewaktu menginap di resort di Bandung dua minggu lalu, awalnya makan pagi prasmanan, tapi besoknya dan seterusnya makanan hanya dihidangkan berdasarkan pesanan tamu. Jadi tidak ada lagi yang ke meja. Bahkan boleh minta di antar ke kamar jika mau. Pilihan menu tetap banyak seperti prasmanan.

  2. Kangen suasana gathering, seminar, FGD, dll yg diadakan di hotel dan sejenisnya. Semoga covid-19 segera berlalu.
    Ini baca artikel dan lihat foto hotelnya jadi kangen semua kegiatan di luar sebelum pandemi

  3. Kalau hotel nyediain rapid test berarti harga rapid tes cukup terjangkau ya. Kebetulan juga ada klinik kecantikan yang menyediakan rapid tes gitu buat pelanggannya. Bagus nih kalau hotel semua gini

  4. Meskipun perlu waktu khusus, rapid test justru memberikan rasa nyaman untuk menginap ya Mbak Nanik. Kita jadi tau bahwa hotel tempat kita menginap peduli akan kesehatan para tamunya.

    Baca ini saya jadi tambah kangen traveling dan hotel staycation. Terakhir menginap itu persis sekitar 1-2 minggu sebelum negara mengumumkan soal penyebaran Covid-19.

  5. Tentu disituasi seperti ini sedikit khawatir ya mba,tapi melihat jarak lokasi jauh dari rumah ya mau gak mau nginap di hotel merupakan alternatifnya.
    Dan tentunya meski rasa khawatir ada,pastinya pihak hotel pun juga menerapkan protokol kesehatan yang udah sesuai prosedur kesehatan agar semua tamu hotel aman.

  6. Rasa khawatir tentu ada ya mba, mengingat kondisi seperti sekarang. Tapi mau gak mau mengharuskan kita bepergian karena urusan pekerjaan.
    Dan tentunya hotel merupakan alternatif terbaik mengingat jarak tempuh yang cukup jauh dari rumah, tapi pastinya hotel pun juga sudah mempersiapkan protokol kesehatan supaya tamu hotel juga merasa nyaman.

  7. Mbak ini rapid test untuk semua tamu hotel atau yang hadir di acara Mbak Nanik saja?
    Senang jika hotel menjalankan protokol kesehatan dengan baik begini
    Kalau rapid test, saya menemani suami yang wajib rapid tes tiap dua minggu sekali secara drive thru di kantor. Jadi kita tetap di atasmobil, didatangi petugas untuk ambil darah di ujung jari…Jalan lagi, parkir 15 menit nunggu,baru ke tempat yang sama, ada petugas nyamperin kasih hasilnya.
    Semoga sehat selalu dan semua segera membaik jadi bisa tugas ke luar kota dan jalan-jalan kita ya

  8. Serba repot ya kalo nginep saat pandemic, tapi berhubung tugas, ya mau gimana lagi. Harus wajib ikut aturan. Serem juga ya, rapid test dulu sebelumnya, tapi demi kepentingan bersama.

    Udah lama gak liburan ya Allah…. Sedih liatnya

  9. Ikutan deg-degan saya pas baca yang bagian Mbak Nanik di rapid Test, Soalnya putri sulung saya pas mau balik ke ponpesnya di RT ternyata reaktif, fyuhh jantungan deh… lanjut ke SWAB Alhamdulillah negatif. Sedang flu bikin hasil RT reaktif yak. Btw Hotel Arcadia melaksanakan protokol kesehatan dg baik ya

  10. Jadi sekarang gak perlu khawatir lagi ya mba,saat menginap di hotel. Karena mereka pun juga udah mempersiapkan segala sesuatunya sesuai protokol kesehatan supaya semua aman.
    Apalagi sampai disediain cotton bud tuk semua tamu memencet tombol lift nya, ehh tapi itu menu pecel komplit nya bikin ngilerrr deh.

  11. gak kemana mana mbak. di rumah aja. kalau pergi, paling ke tempat makan. ngereview makanan dan gak jauh jauh alias di dalam kota aja. duh jadi kangen staycation ya. tapi dirapid ya. haduh takut suntik aku

  12. kereen mbak. ketat protokolnya. jd mengurangi rasa was was ya. harusnya memang ketat bgini, nggak sekadar aturan yg ditempel di mana2 tp tidak dilakukan.

  13. Aku juga awal bulan Oktober kemarin akhirnya refreshing sama keluarga, staycation dan mencari hotel yang menerapkan protokol kesehatan. Ini bagus nih tamunya harus rapid dulu sebelum menginap ya mbak, jadi kitanya juga lebih aman dan gak was-was juga selama liburan.

  14. MasyAllah Bun keren ya itu hotelnya sampai sebelum masuk hotel harus di rapid test dulu. Kayaknya jarang banget lho ada hotel sebelum masuk diperiksa sampai seperti itu. Salut aku. Harusnya semua tempat umum itu diberlakukan begini menurut aku. Seklian harusnya di mall begini juga ya. Biar lebih aman dan orang nggak seenaknya ke mall kecuali untuk yang penting aja

  15. Wah kreatif juga itu idenya ya, Mba menyediakan cutton bud buat nekan tombol lift. Seandainya semua hotrl menyediakan fasilitas rapid test di lobinya sebelum nerima tamu. Aman deh ini ya insya Allah.

  16. Iya, lebih aman ya kalau penyajian makannya nggak prasmanan ya walau kurang bebas hihi tapi yang penting aman..aku juga dua kali staycation hotel pilih yang bagus protokolnya

  17. Atasannya tahu aja kalau kerja sambil refreshing itu menyenangkan. Hihihi
    Terbayang sih dag-dig-dugnya kalau bepergian sekarang. Nginep hotel juga ribet ada rapid tes segala. Mau makan juga kudu hati-hati.
    Yah, dinikmati saja, ikhtiar bekerjanya, yo Mbak.

  18. Bosnya baik banget, kasih pilihan mau dinas kemana.
    Kalau ke Surabaya lagi, cobain kuliner asik, kak…macam rujak cingur, lontong balap, tahu campur, atau sate klopo.
    Hehehe…apalagi yaa..??

    **kangen Surabayaaa…

  19. Udah mba, sudah pernah staycation di Ungaran pas pandemi ini.
    Prosedur makannya sama ya, nggak boleh ambil sendiri-sendiri, harus diambilkan petugas agar minim kontak dengan tubuh berbagai macam orang ya sendoknya.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan ini, ditunggu komentarnya. Please... jangan meninggalkan link hidup ya