mitos alergi

Mewaspadai Alergi dengan Mengenal Mitosnya

Mewaspadai Alergi dengan Mengenal Mitosnya. Hah, alergi pun ada mitosnya? Ya, ampun, begitu banyak mitos dalam kehidupan kita ini, bahkan untuk masalah kesehatan sekalipun.

Yah memang begitulah. Makanya kita harus juga mengenali mitos tentang alergi ini. Bukan untuk mempercayai lalu mengikuti dan bahkan menyebarkannya. Melainkan untuk menghentikan sampai di kita saja. Agar kita bisa memberitahu orang lain juga, bahwa itu cuma mitos, bukan fakta.

Penyebab dan Gejala Alergi

Kemarin, saya berkunjung ke rumah tetangga, niatnya mau nitip uang arisan. Kebetulan saya ada pekerjaan ke luar kota, jadi nggak bisa datang ke arisan.

Saat tetangga membukakan pintu, saya kaget melihat anak yang sedang digendongnya. Benjol-benjol banyak banget, mukanya jadi kayak lebam dan bengkak. Ya ampun, bocah imut itu kok mukanya jadi kayak gini. Ada apakah gerangan?

Baca juga : Cegah Antimicrobial Resistenace dengan Bijak Menggunakan Antibiotik

Rupanya, si bocah habis makan siomay. Ibunya nggak tahu bahwa itu siomay udang, dikiranya siomay ayam. Memang, bocah ini punya alergi terhadap udang. Begitu makan udang, walau cuma sedikit, tak berapa lama, mukanya pasti jadi gatal terus muncul benjolan-benjolan. Sangat menganggu tentunya kan. Apalagi anak kecil, pasti jadi rewel.

mitos alergi
Akibat alergi (sumber gambar halodoc.com)

Alergi adalah reaksi sistem kekebalan tubuh manusia terhadap benda tertentu, yang seharusnya tidak menimbulkan reaksi di tubuh orang lain. Reaksi tersebut dapat muncul dalam bentuk pilek, ruam kulit yang gatal, atau bahkan sesak napas.

Baca juga : 5 Tanda Alergi Dingin yang Perlu Diketahui

Contohnya, anak tetangga saya tadi, kalau makan udang maka langsung deh muncul ruam dikulitnya. Padahal kalau anak saya makan udang, nggak ada pengaruh apa-apa.

Udang, dalam kasus ini di sebut alergen, yaitu benda yang bisa memicu respons alergi. Benda ini dapat berupa makanan ataupun benda-benda di sekitar kita, misalnya debu, bulu binatang.

Mitos tentang Alergi

Para penderita alergi tentu akan merasa tidak nyaman dengan masalah alergi yang dimilikinya. Sebab, alergi bisa menghambat aktivitas yang dijalaninya dan membuatnya harus menghindari alergen yang berbahaya bagi tubuhnya. Meskipun sudah ada obat yang bisa mengatasi alergi tersebut seperti obat pilek untuk bayi aman, namun peredaran mitos tentang alergi di masyarakat tetap tidak bisa dilepaskan. Beberapa mitos bahkan tidak beralasan hingga diragukan kebenarannya. Berikut ini beberapa diantaranya

Alergi tidak bisa diatasi

“Banyak orang mengatasi alergi dari waktu ke waktu,” kata Putri Ogbogu, MD , seorang spesialis alergi dan imunologi di Pusat Medis Wexner University Universitas Ohio di Columbus. Menurut Mayo Clinic, sekitar 60 hingga 80 persen anak kecil mengalami alergi terhadap susu atau telur pada usia 16 tahun.

Penelitian telah menunjukkan bahwa sensitisasi alergi, atau reaksi tubuh terhadap alergen, lebih tinggi pada orang yang lebih muda. Sebuah studi yang diterbitkan pada Juni 2016 Journal of Allergy and Clinical Immunology menemukan bahwa penuaan dikaitkan dengan tingkat kepekaan yang lebih rendah, khususnya terhadap debu tungau dan kucing.

Obat alergi hanya digunakan setelah mengalami alergi

Faktanya adalah bahwa reaksi alergi dapat dicegah jika minum obat sebelum gejala berkembang. “Banyak orang dengan alergi musiman hanya minum obat ketika mereka memiliki gejala,” kata Ogden. “Hal terbaik yang harus dilakukan adalah memulai pengobatan sebelum Anda memiliki gejala apa pun untuk melindungi sistem kekebalan tubuh Anda dari serangan serbuk sari.”

Obat yang dikenal sebagai penstabil sel bekerja dengan menghalangi pelepasan bahan kimia sistem kekebalan tubuh yang memicu reaksi alergi pada mata atau lorong hidung. Obat-obatan ini diberikan kepada penderita alergi musiman mulai sekitar dua minggu sebelum musim alergi dimulai.

Demikian 2 mitos yang perlu dipahami tentang alergi. Selalu lengkapi pengetahuan Anda seputar dunia kesehatan dengan rutin membaca tips kesehatan terkini dan terpercaya untuk mendapatkan panduan cara pakai obat semprot hidung yang Anda beli di apotik terdekat. Semoga bermanfaat.

8 comments

  1. Sebagai ibu dua anak yang keduanya alergi, aku sering galau kalau alerginya pada kambuh. Dulu anak pertama alergi susu sapi. Sebelum 1 tahun kalau minum sufor langsung kambuh sesak nafasnya. Setelah setahun disuruh dokter diselang-seling sufor non alergi dengan yang alergi, kini sudah nggak alergi. Anak kedua alergi mangga. Aku sempat nggak tahu, kukasih mangga, hasilnya adalah mulut mangga. Bibir atasnya kayak jontor gitu. 😭😭

  2. Aku dulu alergi coklat, hidung gatel-gatel. Sekarang sih engga lagi, asal makannya engga banyak. Sesekali aja…Kalau anakku dulu alergi susu sapi, jadi pilek-pilek.
    Alergi suka tak disadari ya sebabnya…Karena tiap orang bisa beda-beda…

  3. Zaman sekarang generasi kita setidaknya pasti punya satu alergi. Anak-anak saya semua ikut anaknya, alergi udang. Jadi kalo saya masak udang, yang makan ya saya sendiri. Suami dan anak-anak gak ikut makan. Hehehe. Nah, keluargaku emang agak jarang mba minum obat alergi sebelum alerginya datang. Seringnya sih menghindari penyebab alergi tersebut lebih dulu. Kadang kalo suami udah pengen banget makan udang, ya siap-siap deh minum obatnya. Hehehe.

  4. Mestinya minum obatnya sebelum alerginya datang ya, noted. Kalau saya selama ini menghindarinya dengan cara menjauhkan alergen atau pencetus energinya, misalnya debu. Maka menjaga jangan sampai rumah berdebu agar alergi anak saya gak kambuh

  5. Saya termasuk yang kadang kena mitosnya alergi. Karena alergi pada hawa dingin. Atau ini sugesti, saya sendiri tidak tahu. Dan ya, selama ini hanya mengobati saja, bukan mencegah. Terima kasih tulisannya bagus dan pas bagi saya

  6. mitos yang beredar emang beraneka macam ya, bahkan tentang kesehatan sekalipun, kalau yang menelan mentah-mentah, duuh bakalan kemakan mitos pasti tuh, padahal dunia medis semakin berkembang ya termasuk obat tuk alergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *