Kesehatan

Mewaspadai Alergi dengan Mengenal Mitosnya

Kemarin, saya berkunjung ke rumah tetangga, niatnya mau nitip uang arisan. Kebetulan saya ada pekerjaan ke luar kota, jadi nggak bisa datang ke arisan.

Saat tetangga membukakan pintu, saya kaget melihat anak yang sedang digendongnya. Benjol-benjol banyak banget, mukanya jadi kayak lebam dan bengkak. Ya ampun, bocah imut itu kok mukanya jadi kayak gini. Ada apakah gerangan?

Rupanya, si bocah habis makan siomay. Ibunya nggak tahu bahwa itu siomay udang, dikiranya siomay ayam. Memang, bocah ini punya alergi terhadap udang. Begitu makan udang, walau cuma sedikit, tak berapa lama, mukanya pasti jadi gatal terus muncul benjolan-benjolan. Sangat menganggu tentunya kan. Apalagi anak kecil, pasti jadi rewel.

mitos alergi

Akibat alergi (sumber gambar halodoc.com)

Para penderita alergi tentu akan merasa tidak nyaman dengan masalah alergi yang dimilikinya. Sebab, alergi bisa menghambat aktivitas yang dijalaninya dan membuatnya harus menghindari alergen yang berbahaya bagi tubuhnya. Meskipun sudah ada obat yang bisa mengatasi alergi tersebut seperti obat pilek untuk bayi aman, namun peredaran mitos tentang alergi di masyarakat tetap tidak bisa dilepaskan. Beberapa mitos bahkan tidak beralasan hingga diragukan kebenarannya. Berikut ini beberapa diantaranya

Alergi tidak bisa diatasi

“Banyak orang mengatasi alergi dari waktu ke waktu,” kata Putri Ogbogu, MD , seorang spesialis alergi dan imunologi di Pusat Medis Wexner University Universitas Ohio di Columbus. Menurut Mayo Clinic, sekitar 60 hingga 80 persen anak kecil mengalami alergi terhadap susu atau telur pada usia 16 tahun.

Penelitian telah menunjukkan bahwa sensitisasi alergi, atau reaksi tubuh terhadap alergen, lebih tinggi pada orang yang lebih muda. Sebuah studi yang diterbitkan pada Juni 2016 Journal of Allergy and Clinical Immunology menemukan bahwa penuaan dikaitkan dengan tingkat kepekaan yang lebih rendah, khususnya terhadap debu tungau dan kucing.

Obat alergi hanya digunakan setelah mengalami alergi

Faktanya adalah bahwa reaksi alergi dapat dicegah jika minum obat sebelum gejala berkembang. “Banyak orang dengan alergi musiman hanya minum obat ketika mereka memiliki gejala,” kata Ogden. “Hal terbaik yang harus dilakukan adalah memulai pengobatan sebelum Anda memiliki gejala apa pun untuk melindungi sistem kekebalan tubuh Anda dari serangan serbuk sari.”

Obat yang dikenal sebagai penstabil sel bekerja dengan menghalangi pelepasan bahan kimia sistem kekebalan tubuh yang memicu reaksi alergi pada mata atau lorong hidung. Obat-obatan ini diberikan kepada penderita alergi musiman mulai sekitar dua minggu sebelum musim alergi dimulai.

Demikian 2 mitos yang perlu dipahami tentang alergi. Selalu lengkapi pengetahuan Anda seputar dunia kesehatan dengan rutin membaca tips kesehatan terkini dan terpercaya untuk mendapatkan panduan cara pakai obat semprot hidung yang Anda beli di apotik terdekat. Semoga bermanfaat.

Setiap jejak yang Anda tinggalkan akan sangat berarti bagi sang penulis

%d bloggers like this: