Panen Timun, Menyenangkan Sekaligus Melelahkan

Panen timun, menyenangkan sekaligus melelahkan. Iya, menyenangkan karena setelah penantian selama 40 harian dari pertama tanam, setelah merawat tanamannya, akhirnya bisa memetik hasilnya. Melelahkan, karena harus membungkuk terus saat memetik buah-buah timun itu.

Sabtu kemarin, 18 Januari, kami panen perdana timun. Jam 5 kami sudah meluncur menuju sawah. Jarak rumah ke sawah sekitar 10 an km. Sekarang jam 5 itu sudah terang banget. Babang sama kakak masih ngantuk, jadi bawa bantal aja. Bisa lanjut tidur diperjalanan. Oh iya, kami bawa pick up. Saya dan Toto duduk depan, sementara Babang dan Kakak di belakang. Jadi bisa leluasa rebahan di bak belakang. Ini salah satu enaknya tinggal di pinggiran kota, masih bisa bawa penumpang di bak belakang tanpa kena tilang. Eh, bagian ini jangan di tiru ya.

tanaman timun
Siap di petik

Karena masih pagi, kami dapat pemandangan yang bagus di sawah. Biasanya saya ya langsung jalan aja di pematang. Tapi kemarin itu, tengok kanan kiri, dan baru sadar kalau pemandangannya bagus. Langsung deh ambil handpone dan jepret beberapa kali.

pemandangan sawah
Pemandangan sawah di pagi hari

Proses Panen Timun

Tak berapa lama setelah kami sampai, datang dua emak buruh tani. Mereka yang akan membantu kami memanen timun. Untuk memetiknya pakai gunting. Bagian sawah yang kami tanami timun ini sekitar seperempat hektar.

Peralatan untuk memetik adalah gunting dan juga tas belanja yang terbuat dari karung, atau bisa juga ember karet. Penuh satu tas/ember, diangkut ke depan gubuk.

Sebagian hasil panen

Setelah terkumpul banyak, timunnya di masukkan ke dalam karung. Yang bertugas memasukkan ke karung adalah anak buah dari pedagang yang membeli timun kami. Jadi sehari sebelum panen, kami sudah kasih tahu pedagang itu bahwa besok akan panen. Maka besok dia akan kirim anak buahnya untuk membantu panen di sawah. Kami nggak menanggung upah mereka, paling sediakan kopi sama camilan aja. Upah mereka ditanggung si pedagang.

pengemasan timun
Pengemasan timun

Dibutuhkan keahlian tersendiri untuk menyusun timun-timun itu ke dalam karung, sehingga bisa muat banyak dan tersusun rapi.

Tersusun rapi (tampak samping)
Tersusun rapi (tampak atas)

Oh iya, yang dimasukkan ke dalam karung ini hanya timun yang bentuk lurus saja. Sementara timun yang mlungker alias ujungnya bengkok, nanti dikumpulkan tersendiri. Timun yang mlungker ini biasanya karena buahnya dalam posisi berdiri dan menyentuh tanah, sehingga pertumbuhannya tidak optimal. Timun-timun kayak gini harganya beda, kadang setengah dari harga timun biasa, kadang juga cuma dihargai sepertiganya. Jadi misal timun yang bagus per kilonya 3 ribu, maka timun yang bentuknya nggak bagus di hargai seribu aja per kilonya. Biasanya timun sortiran ini kami bawa pulang, dibagikan pada para tetangga.

Pelajaran untuk Anak dari Kegiatan Panen Timun

Anak-anak jadi tim hore aja, melihat proses panen timun. Saya kasih ijin juga untuk memetik timun yang ada di bagian pinggir. Kalau ke tengah, khawatirnya malah nyenggol-nyenggol bunga-bunga timun yang lain. Saya sih nggak khawatir kaki dan tangan mereka bakal gatal kena rerumputan dan daun timun. Hihi… masih eman timunnya dibanding anaknya.

Tapi tetap dong pelajaran harus di sisipkan dalam kegiatan ini. Dan ini kesempatan untuk menerapkan matematika realistik pada mereka. Misalnya nih, satu kilo timun itu rata-rata isinya 3. Kalau seember ada 20 timun, dalam satu ember itu isinya berapa kilo? Kalau sekilo timun harganya 3 ribu, seember timun harganya berapa?

Kalau modal tanam dulu untuk untuk beli bibit A rupiah, upah tanam B rupiah, beli obat dan pupuk C rupiah. Kalau sekarang dapat sekian kwintal dan harga perkilonya X rupiah, apakah sudah untung atau masih rugi. Untung/ruginya berapa?

Biarkan anak-anak mencoba menghitungnya. Pakai kalkulator boleh lah. Karena kalkulator kan cuma alat bantu. Yang penting mereka paham cara penghitungannya.

Pelajaran lain yang bisa dikenalkan pada anak-anak tentu saja proses bagaimana dulu dari sebiji timun yang ditanam itu bisa tumbuh menjadi sebatang pohon. Bagaimana proses pertumbuhannya, bagaimana dia berbunga, bagaimana bunga itu bisa berubah menjadi buah.

Timun siap diangkut

Makan Siang Nikmat

Jam 10 an kegiatan memetik timun sudah selesai. Semua timun sudah dimasukkan ke dalam karung dan sudah diangkut. Kini saatnya istirahat, berarti saatnya makan.

Karena lagi panen timun, menu makannya pasti ada unsur timunnya. Menu siang ini adalah sambal terong lengkap dengan lalapan daun pepaya Jepang, dan timun. Sambal terongnya di kasih sama tetangga di sawah. Ada juga gulai ikan patin dan tahu tempe. Gulai ikan dan nasinya bawa dari rumah.

lalapan timun
Menu makan siang

Untuk anak-anak, mereka pilih makan mie instan. Jadi salah satu hal yang membuat anak-anak senang kalau diajak ke sawah itu adalah karena mereka boleh makan mie instan kalau di sawah. Soalnya di sawah itu bawaannya laper terus, makan apa pun terasa nikmat.

Usai makan, babang dan kakak cuci piring dan peralatan masak. Oh iya, di gubuk sawah ini lengkap ada kompor gas dan beberapa panci serta wajan lho. Piring gelas pasti ada.

Mimpi Besar Kami

Jaman sekarang ini lagi marak adanya agrowisata, wisata kekinian ke areal pertanian. Sebenarnya kami punya mimpi suatu saat sawah kami ini bisa juga jadi tujuan wisata.

Bisa nginap di sawah, menikmati sarapan ditemani pemandangan pagi yang indah. Bisa belajar bercocok tanam, bisa ikut memanen. Kegiatan kayak gini pasti menarik bagi orang kota. Kalau bagi kami sih, hal kayak gini udah biasa. Iya, dulu sebelum Toto lahir, kami sering juga menginap di sawah.

Saya jadi ingat, dulu pernah ada bapak-bapak ke sawah, minta ijin pengen makan siang di gubuk kami. Katanya istrinya sedang ngidam dan pengen makan di tengah sawah. Dia juga tanya, biayanya berapa untuk semua hal itu.

Tentu saja kami ijinkan. Silakan aja kalau pengen makan di sawah, apalagi bagi yang sedang ngidam. Nggak perlu pakai biaya.

Jadilah mereka beneran datang, menikmati makan siang di sawah. Mereka bahagia, kami pun ikut senang. Kecipratan juga dibawain makan siang. Lumayan, bisa menghemat jajan hehehe….

Luas sawah kami saat ini satu hektar. Luamayan lah kalau mau dikembangkan jadi kawasan wisata, bisa kerja sama juga dengan tetangga. Saat ini kendalanya adalah modal. Kali aja ada investor yang baca tulisan ini, terus pengen berinvestasi, kami pasti senang sekali.

Hahaha… namanya mimpi, boleh aja kan. Terkadang berawal dari mimpi, bisa terlaksana.

timun hibrida
Mau dilempar pakai ini?

Demikianlah cerita akhir pekan kami kemarin. Apa cerita akhir pekanmu?

129 Comments

  1. Itu timunnya yang buat acar, panjang-panjang. Aku pernah ikut manen juga, tapi bukan buat bakul. Ibuku jual sendiri. Ambilnya secukupnya, langsung jual gitu. Beneran kudu teliti karena kadang pada ngumpet

  2. huwooo menyenangkan sekali ikutan panen timun. Dan melihat skill menata timun yang rapi itu. Lauk maksi kurang sambel ngga sih mbak? kan seger dicolek sama timun seger πŸ™‚

    semoga mimpi besarnya tercapai ya

  3. Masya Allaaaah .. daku tergerak untuk mengikuti jejakmu iniiiii…
    sejak beberapa bulan terakhir senang aja tanam labu siam, terong mungil, cabe dan pepaya sama tomat. Suami malah kecil-kecilan bikin rumah jamur, ya walau hasilnya ama nanamnya gedean ongkos nanamnya bahahhahaa

    Iya ya, kenapa ga sekalian kita galakkan agrowisata ala kita yaaa? Setujuuu

    • hehehe gitulah kalau lahan terbatas, ongkos nanam lebih besar dibanding hasilnya. Tapi kan rasa senang dan bahagia bisa metik tanaman sendiri itu harganya tak ternilai

  4. MasyaAllah … Satu hektar, Mbak? Kalkulator di kepalaku langsung menghitung nih andaikan tanah satu hektar itu ada di daerah sini. Muahalnya luar biasa. Membaca cerita Mbak mengemas timun ke dalam karung, jadi ingat tetangga satu kelurahan (hahaha) di sini yang suka mengemas hasil pertanian juga. Kalau dia jagung manis yang setelah itu dikirim ke supermarket besar seperti Giant.

    Aku salut lho sama teman-teman yang masih bertahan di sektor pertanian. Sedih banget, kalau di kampung halaman ibuku, semua sawah sudah habis dijual. Sekarang berganti dengan beraneka ragam bangunan.

    Semoga terkabul ya impiannya mengembangkan lahan yang ada menjadi kawasan agrowisata. Aamiin …

  5. Baru tau mbak kalau harga timun yg lurus dengan yg bengkok itu beda. Suka beli timun tp di tukang sayur jarang ada timun yg lurus, kebanyakan timun yg rada melungker. Enak ya mbak kalo panen gini, aku kl mudik ke kampung ibu ku juga kl pas panen jagung, suka ikutan ke sawah jd tim hore.

  6. Jangankan anak-anak, orang besar kayak aku aja paling semangat kalau diajak manen.. Bagus untuk edukasi anak-anak. Sekayak belajar sambil bermain gitu ya mbak.

  7. Bibit timunnya beli dimana Mbak? Pupuknya organik bukan nih?
    Saya suka nanam juga, tapi skala rumahan saja. Di halaman. Beli bibit biasanya di KUD, kali aja ada info baru? πŸ™‚
    Salam
    Okti

    • Di toko pertanian mbak. Kami pakai pupuk organik biar lebih hemat hehehe….
      Sebelum benih di tanam, dilubangi dulu terus di kasih pupuk yang berasal dari kotoran ayam. Kebetulan disini banyak peternak ayam petelur, jadi kotoran ayamnya bisa beli di mereka. Sekarung harganya 10 ribu.

      Untuk masa pertumbuhan tanaman, kami pakai pupuk hasil fermentasi bawang merah, air kelapa plus bahan-bahan lainnya. Bisa cari infonya di youtube banyak

  8. Wah menarik banget kegiatannya. Ternyata banyak sekali yang bisa dipelajari dari TIMUN ya. Menarik juga kisah suami – istri yang makan siang di gubuk di sawah itu … in syaa Allah dapat pula pahalanya, Mbak πŸ™‚

  9. Baru tahu kalo timun itu panennya dalam 40 hari soalnya ngga pernah nanam timun mbak.πŸ˜‚

    Semoga suatu saat sawahnya bisa menjadi tempat agro wisata mbak.πŸ˜ƒ

  10. Mbak, apakah ini timun Jepang?
    Aku suka banget makan timun, buat acar atau hanya di irius dan direndam es dulu biar segar.
    Kadang timun juga aku masak tumis pakai ayam dangen ayam fillet tak marinate dulu.
    Kadang timun juga amu kasukkan ke dalam sup ikan, hm…yummy.

    Langsung terjun ke amal seperti panen timun begini emang jadi sarana edukasi bagus buat anak-anak, Mbak,. Sungguh beruntung ini adek-adek mendapatkan kesempatan buat memanen mentimun.

    • Bukan, Mbak. Ini timun lokal. Kalau timun Jepang harga bibitnya lebih mahal, dan masih lebih susah pemasarannya kalau di kampung

  11. Ya ampun serunya ya panen timun. Aku suka banget mbak makan timun, diapain aja aku suka.

    Sepakat mbak, makan di gubug sawah selalu terasa lezat ya. Makan pake rantang, nasi bungkus, apalagi menunya lalapan segar gitu yaaa sedappp

  12. Langsung ijo lihat timun hihihi. Jadi ingat dulu pematang sawahnya bapak sering ditanami kacang panjang ijo juga cuma lebih langsing. Kadang dipetikin untuk lalap di rumah hehehe. Memanen memang menyenangkan sekaligus melelahkan ya mbak. Salam kenal

  13. Serunya pengalaman ini buat anak-anak. Cakep juga nih caranya, Mom..ntar kalau aku punya kebun, calon anakku mau aku giniin juga .

  14. semoga sawahnya bs jadi salah satu tempat wisata unggulan. saya juga suka makan di sawah tetangga. sepoi2 gitu semilir anginnya. apalagi tetangga jg punya kolam lele, jd lucu sambil kasih makan ikannya

  15. Di rumah tu aku, suami, anakku yang pertama suka timun, apalagi buat lalapan sambel.
    Penasaran ini nanamnya pakai biji timun atau ada bibitnya sendiri beli gtu ya? Bisa gak sih kita nanam timun di lahan yang kyk terbatas gtu dan butuh berapa lama nanemnya? hehe

    • bibitnya beli mbak, di toko pertanian. Atau kalau tinggalnya di kota, kayaknya banyak juga yang jual online bibitnya. Bisa banget di tanam di halaman, dia nggak butuh lahan yang luas kok, butuhnya area untuk merambat ke atas, biar buahnya bagus. Jadi cocok ditanam di halaman, dekat pagar, biar nanti merambat ke pagar. Butuh waktu sekitar 40 hari, buahnya sudah siap di petik

      • Oh begitu mbak, jd bisa nih ya di lahan yg sempit.
        Btw pas sblm panen naik di bak terbuka tu kyknya emang seru mbak. Memberi kenangan manis buat anak2 jg ya haha.
        Aku abis makan timun nih mba,sbg lalapan 🀣

  16. Aku juga punya tanaman timun di rumah, cuma lahan terbatas sih..
    Blm panen, kayaknya ntar lagi..
    Seru juga ya klo ajak anak2 memanen nanti

  17. Wahh…kalo panennya sebanyak itu pasti melelahkan sih… tapi aku penasaran pengen deh ngajakin anak2 ngerasain panen sayuran yang ditanam sendiri rasa serunya seperti apa.

  18. Mba sawahnya luas banget hwaaa. 1 hektar. Aku suka takjub sama yang nyusun timun di karung bisa serapi itu hehehe. senengnya, selain panen, anak-anak jadi sambil belajar Biologi dan Matematika ya mba. Mana pemandangannya masyaallah seger banget di tengah sawah, anginya sepoi-sepoi … Semoga suatu hari nanti sawahnya betulan jadi tempat agrowisata ya mba aamiin πŸ™‚

  19. Mbaaa, lihat timunnya bagus bagus segar dan gede banget mbaa. Senangnya bisa liat langsung dan anak juga senang ya liat langsung

  20. Wahhh… bisa kenyang aku kalau diajak ke situ. Wkwkwk… lalapan kesukaanku ini. Dulu takut makan banyak2 secara tensi rendah. Sekarang alhamdulillah udah sehat. Makan sepiring sendiri juga alhamdulillah gpp

    • kalau sudah sampai di pedagang sayur emang ada yang dijual bijian.
      Dulu kami pernah coba bawa sendiri ke pasar, dijual eceran gitu. Tapi ternyata capeknya luar biasa, dan lakunya juga nggak banyak. Keburu timunnya tua di pohon dan malah jatuh harganya. Jadinya ya udah, biar diambil langsung ama pedagang besar aja

    • sawi sama jagung mbak.
      Kalau disini memang khusus buat nanam sayuran mbak, jadi walau musim penghujan nggak pernah nanam padi. Penghujan maupun kemarau tetap nanam sayuran

  21. Oww ternyata timun tuh hanya perlu 40 hari ya mba untuk sampai ke masa panen? Cepat juga ya mba kalau gitu. Anak-anak seneng banget nih pasti diajakin ke sawah.

    Semoga aja postingan ini terbaca oleh pihak yang sekiranya punya modal mba dan mengembangkan wisata sawah gini. Bisa untuk anak-anak, bisa juga untuk orang kota yang belum pernah lihat sawah. Karena memang damai banget loh berada di tengah-tengah alam nan hijau gini.

  22. Masya Allah Mbak, seru banget bisa panen timun dari kebun sendiri. Anak-anak tentu akan mendapat banyak pelajaran berharga dari proses panen ini.

    • iya mbak, semoga pengamatan terhadap proses penanaman, pemeliharaan hingga ke masa panen ini menjadi pelajaran buat anak-anak, bahwa segala sesuatu itu butuh proses, nggak bisa instan

  23. Mauuu timun. Udah beberapa bulan ini, kalau di rumah, aku makan siangnya timun dan buah. Skip nasi. Supaya bb engga naik boo….Soalnya makmal kan nemenin suami. Nasi pula…Haha…
    Enak seger dipotong-potong campur buah, dimakan mentah aja semangkok udah kenyang.

  24. wah, mbak Nanik kaya tuan tanah ya, punya ladang 1 hektar. semoga mimpinya terwujud, mbak.. punya agrowisata yang banyak pengunjungnya. jadi selain dapat hasil dari bercocok tanam juga dapat dari wisatanya

  25. Mba Nanik, seru sekali itu di sawah bisa main sambil belajar.

    Aku jadi pengen cerita, adekku kepengen banting stir jadi petani.
    Jadi bentaran lagi dia bakal pindah ke kebun sawit di area Riau.
    Selain bertani dia pengen berternak. Makanya aku bilang sama dia, nanti anakku kalo udah cukup umur mau kukirim ke dia biar latihan. Grand design ku kepengen anak-anak jadi petani swasta. Haha, petani swasta maksudnya bertani yang ada edukasinya. Biar jadi ladang belajar buat orang banyak.

  26. Seru banget ya ampun timunnya gitu banyak banget jadi pengen ikutan panen timun juga anak ikutan happy gitu ya mak

  27. Keluarga saya dulu pernah menanam timun juga di ladang. Sehari bisa sampai 10 karung pas panen, sekarungnya waktu itu seratus ribuan. Jadi sehari dapat lebih dari 1 juta kami. Timunnya dijemput oleh toke atau pengepul langsung ke rumah. Tapi ya, perjuangan menanam dan merawat timun memang tidak mudah

  28. Wah, pemandangannya indah sekali mbak. Betul, bagi orang kota seperti saya menginap dan makan ditengah sawah itu menjadi pengalaman menarik. Semoga ada investor yang lirik ya mbak.

  29. Seru banget panen timunnya, aku diajak mbak sesekali hihihi belum pernah lihat. Oh ya hasil timun sebanyak itu dari berapa banyak pohon?
    Bagian yang jangan ditiru malah paling seru itu mbak, aku juga pernah thu waktu pindahan nyobain duduk2 di belakang mobil kaya gitu

    • pohonnya dulu nanamnya sekitar 1500 mbak. Tapi ada yang nggak tumbuh, ada yang mati. Masih ada lah sekitar seribuan.

      Kalau pas ke Malang mampir mbak, nanti tak ajak panen

  30. Banyak banget, timunnya. Wuih, langsung jadi juragan timun, dong. Setelah ini mau ditanam apa, Mbak?
    Menyenangkan sekali menjadi petani. Meski lelahnya juga sangat terasa. Entah kenapa kalau berkebun, keringat sangat deras bercucuran di dahi bahkan sampai menetes-netes. Jadi lebih sehat, jadinya.

  31. Seru sekali panenn mak. Timun, sambel, nasi hangat dan kerupuk enakkkk. Aku isa nambah berkali-kali. Tapi milih timun yang baik itu kepiye ya mak? Kadang luar bagus pas dimakan pait

  32. keren ya. level bercocok tanam saya, baru sebatas nanem pohon mangga dan bikin vertical garden yg ditanami cabe, sayuran, tapi gagal hahahaha

  33. Barakallah mba 1 hektar terus jadikan tanah yg produktif y mba,, timun lalapan kesukaan ku nti klo kesana aku mampir ya.. please tanahny jngn dijual😜😜

  34. Bonteeng…
    Hehhe…kalau di Sunda, gak afdol kalau makan ga pake lalapan.
    Dan timun ini memang seger banget kalau dimakan sama sambel dan nasi haneeuut.
    Jangan lupa usus dan kol gorengnya , hehhehe…jadi ngebotram.

    Btw,
    Aku baru tau kak…kalau timun mlungker harganya turun.
    Sedih yaa…susah banget nanem-merawat hingga panen.

  35. senangnya…sawahnya eh ladangnya lumayan jauh juga ya. tapi perjalanan ke sana seru! saya belum pernah ikut panen cm sering lihat tetangga panen. waah heboh

  36. Di Kendari dulu kakekku punya kebun timun
    Kami sering ikut panen di kebun saat liburan sekolah
    Timun yang baru panen gitu khan masih berbulu-bulu halus gitu ya
    Trus yang kocak, kami sering banget diomelin kakek, karena saat panen kami juga suka sambil ngemilin timunnya
    Bukan pelit sih, tapi khan timunnya harus dipilih dulu, yang lurus-lurus dipisahin dengan yang bengkok, nah yang bengkok itulah yang dimakan di rumah
    Dasar kami masih bocah, malah ngemilin yang lurus hahaha

  37. Aku jd inget masa kecil aku, karena alm Bapak Ibu punya 2 petak sawah … ikut ke sawah untuk beraktivitas sangat menguatkan bonding dengan orang tua.

    Terus maju ya mbak bertaninya. SUKSESS!

  38. Senengnya yang bisa panen timun bareng keluarga, seruu banget ya mbak.
    Belajari anak mulai mengenal sisi bisnis dan bercocok tanam.
    Btw bener kah Mb Nanik Nara dulunya tidur di gubug sawah mbak, sampai malam begitu?
    Wuihh gmn sensasinya, ya mbak?
    Hihi jadi pengen jg mbak

    • iya mbak, gubugnya eksklusif kok, lengkap dengan kasur, almari, dapur dan sumur. Yah, tipe rumah papan RSS lah hehehe…
      Sensasinya? karena sudah capek ya lelap aja tidurnya, bangun pagi baru deh kerasa kedinginan, nggak berani sentuh air

  39. Senang banget sih bisa panen timun sendiri. Aku paling suka banget sama timun buat lalapan waktu makan. Tiap hari selalu sedia timun di kulkas. Kalau habis pasti beli lagi. Apalagi kalau buat rujak. Widih bisa ngabisin banyak.

    Aku baru ngerti nih bedanya timun lurus sama bengkok, kirain jenisnya beda. Soalnya tiap kali beli timun suka beda tuh harga timun yang lurus dan bengkok. Hehe

  40. Mbak, aku salut lho sama Mbak dan keluarga, masih bergerak dan aktif dalam bidang pertanian (atau perkebunan ya ini?). Kebayang tidak sih bagaimana nasib orang-orang yang seperti aku, bisa makan tak bisa menanam, jika tak ada lagi yang mau berkarya di sektor pertanian. Terima kasih ya dan semoga semua impian Mbak Sekeluarga tercapai

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan ini, ditunggu komentarnya. Please... jangan meninggalkan link hidup ya